Martabak Bangka (2019)

Tulisan ini bukanlah review tentang makanan manis aneka toping yang biasa dijual abang-abang di tepi jalan di sore hari itu. Namun, judul sebuah film. Bukan film tentang kuliner macam Tabula Rasa, melainkan sebuah road movie.


Poster film Martabak Bangka, pinjam dari sini

Film ini saya dengar pertama kali dari cece Sen, teman CS di Bangka yang bercerita tentang sebuah film bertema kuliner khas Bangka yang dibintangi Ramon Y. Tungka pada tahun 2018 dan diluncurkan tahun 2019. Sayang, filmnya sendiri tak terlalu terdengar gaungnya. Ketika saya upload poster film Martabak Bangka di medsos, banyak yang menanyakan film apa yang saya tonton.

Di masa pandemi, film ini muncul dengan durasi penuh di YouTube.

Melihat posternya yang dominan berwarna kuning kecokelatan, dengan animasi potongan martabak pada huruf A pada kata martabak seolah-olah mengajak penonton menyantap seporsi martabak Bangka yang legit, hangat dan manis itu. Di tengah-tengah poster ditampilkan dua sosok utama, Jaya (Ramon Y. Tungka) dan Asep (Ario Astungkoro). Mereka berdua berdiri di tepi jalan dengan sebuah motor di samping mereka.

Sinopsis

Martabak Bangka bercerita tentang Jaya, seorang pedagang martabak Bangka yang cukup sukses di Jakarta. Jaya adalah anak angkat koh Acun. Sepeninggal koh Acun, Jaya mewarisi resep martabak Bangka milik ayahnya. Di ruko, Jaya bekerja dengan dibantu Asep.

Masalah mulai timbul sejak seorang pengusaha (Ajul Jiung) mencoba membeli rumah koh Acun. Pacar Jaya yang bernama Laras meminta Jaya menjual rumah itu. Jaya merasa ia tak berhak menjual rumah itu karena ia merasa koh Acun masih memiliki keluarga di pulau Bangka.

Demi meminta izin kepada keluarga koh Acun di Bangka, Jaya bersama Asep pergi ke Bangka. Jaya punya misi tambahan untuk mengantar abu jenazah koh Acun ke keluarganya ke Bangka. Misi Jaya ke Bangka tak semudah yang ia kira karena dengan hanya membawa foto koh Acun tanpa alamat lengkap menyulitkan misi Jaya dan Asep.

Sejarah Martabak di Bangka

Sejak penemuan timah di Bangka pada awal abad ke-18, emas hitam ini mengundang banyak orang untuk datang ke Bangka termasuk perantau dari Tiongkok bagian selatan. Orang Bangka sendiri awalnya tak terlalu tertarik menambang timah karena mereka lebih suka bertani atau menjadi nelayan.

Mayoritas perantau dari Tiongkok tersebut berasal dari suku Hakka/Khek dan Hokkian/Hok Lo. Para perantau tersebut membawa serta kebudayaan dan cara hidup di tempat asalnya ke Bangka, salah satunya kue yang bernama Hok Lo Pan (dalam bahasa Hokkian berarti “kue orang Hok Lo”. Orang Bangka sendiri selain menyebut dengan hok lo pan menyebut dengan pandekok dari bahasa Belanda yang bermakna roti yang ditekuk dan dipotong-potong.

Awalnya, hok lo pan dibuat dengan hanya satu toping yaitu wijen. Setelah hok lo pan menyebar ke seluruh Nusantara, hok lo pan dibuat dengan beragam toping: keju, cokelat, jagung, dan lain-lain. Namanya tak lagi hok lo pan, melainkan martabak manis atau martabak Bangka.

Review

Berdurasi 105 menit, Martabak Bangka disutradarai oleh Eman Pradipta yang merupakan film keduanya setelah Anak Kos Dodol pada tahun 2015. Martabak Bangka mengambil latar di Jakarta, Tangerang dan sejumlah tempat di pulau Bangka, termasuk kota Pangkal Pinang, Sungai Liat dan sebuah pantai cantik bernama Batu Bedaun.

Saya pernah mengunjungi pulau Bangka dalam misi mencoret list 10 provinsi di Sumatera beberapa tahun silam. Dari Palembang, saya menyeberang ke Muntok, lalu ke Pangkal Pinang. Bangka dalam memori saya adalah pulau yang cukup sepi, tetapi penduduknya ramah dan punya kuliner lezat macam otak-otak, mie Koba, dan martabak.

Menit-menit awal, martabak Bangka menyajikan cerita yang menjanjikan. Ketidaksetujuan Jaya pada Laras yang memintanya menjual rumah koh Acun, berlanjut pada petualangan Jaya dan Asep mencari alamat keluarga Koh Acun yang menemui banyak rintangan. Salah satu yang cukup menegangkan ketika abu jenazah Koh Acun sempat hampir terbawa orang lain dan Jaya salah alamat dalam upaya menemukan rumah Koh Acun.

Ketika adegan yang melibatkan penduduk lokal Bangka, tampak sekali masih ada kecanggungan dalam berakting di depan kamera. Masih tampak kaku, termasuk tokoh penting yaitu keluarga koh Acun. Akting natural justru diperlihatkan gubernur Bangka Belitung bersama istri yang tampil sebagai cameo di sebuah warung kopi.

Deretan para komika seperti Anyun Cadel, Abah Yusep dan Ajul Jiung meski tampil cukup memikat tak diberikan porsi tampil yang cukup, kecuali Abah Yusep.

Terlepas dari kekurangan, Martabak Bangka mampu menampilkan kekayaan kuliner, wisata alam dan harmoni kultur Melayu dan Tionghoa di Bangka. Lumayan!

Jadi, tak hanya Belitung yang punya pantai-pantai cantik. Bangka juga punya meski tak sebanyak pantai di Belitung. Rasanya saya pengen ke Bangka lagi.


2 respons untuk ‘Martabak Bangka (2019)

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s