Danau Baru Bersama Bintang

“Ini pohon rengas.”

“Kami bilangnya mengkarung”

“Buah keduduk”

Pagi itu saya seperti sedang belajar nama-nama tumbuhan dan satwa bersama Bintang.

Namanya Bintang dan ia junior saya di kantor. Saya bersama Bintang sedang menyusuri tepian danau Baru. Bintang adalah satu dari sedikit pegawai di kantor yang merupakan putera daerah Muara Bungo. Ia berdarah Muara Bungo dari ibu sedangkan ayahnya keturunan Palembang.

Obrolan dengan Bintang saat menjenguk seorang kawan kantor di rumah sakit membuka kesempatan bagi saya untuk jalan bareng Bintang ke danau Baru.

Berawal dari “penemuan” perairan menyerupai danau tak jauh dari Simpang Jambi di Google Maps, membuat saya mengajak Bintang menelusuri danau Baru. Tak ada akses jalan yang jelas menuju danau. Untungnya Bintang tahu akses jalan ke danau Baru.

Sabtu pagi Bintang tak ada kesibukan sehingga ia berkenan menemani saya jalan ke danau. Rumah Bintang tak jauh dari danau.

Sebelum jam 9 saya sudah meninggalkan rumah menuju rumah Bintang yang berada di belakang kantor lurah Manggis, tidak terlalu jauh dari Simpang Jambi. Tiba di rumah, Bintang sedang mengurusi ikan-ikannya. Di kala senggang, Bintang menjual ikan hias. Penjualannya sudah menembus pasar di Padang dan Jambi.

Kami sarapan nasi gemuk di sebuah warung sederhana tak jauh dari rumah Bintang. Seporsi nasi gurih dengan toping mie, sambel teri, sambel tomat dan kerupuk hanya 5k saja. Padahal menu serupa di dekat rumah dijual 8k. Menariknya lagi, ada tambahan toping keripik kentang.

Bintang duduk di jok belakang motor saya. Menuju jalan raya, saya menjumpai lapangan yang becek dengan bangunan terbengkalai di tepi jalan raya Muara Bungo-Jambi. Kata Bintang, dulu gedung dua lantai tersebut dibangun sebagai gedung Kodim yang baru. Namun, batal ditempati karena masih ada sengketa lahan.

Menyusuri jalan lintas ke Jambi, kami belok kanan di simpang tiga di depan PT Bungo Pantai Bersaudara. Belok kanan lagi di simpang mushola. Jalan yang tadinya aspal berubah menjadi tanah, lalu berubah menjadi rumput dan akhirnya hilang ditelan banjir akibat hujan tadi malam. Air setinggi mata kaki menggenangi jalan. Kiri kanan saya adalah kebun sawit.

Bintang turun dari motor dan berjalan di belakang. Motor saya kendarai dengan sangat pelan.


jalan berumput dikepung air hujan


banjir setinggi mata kaki

Setelah jalan setapak terlihat kembali, Bintang kembali saya bonceng. Kini kiri dan kanan saya adalah kebun karet. Motor saya letakkan di ujung jalan setapak di tepi danau.

Danau Baru namanya kata Bintang. Bintang kecil sering bermain ke tepi danau ini mencari ikan dan memancing. Ikan nila mudah ditemui di danau ini. Meski air terlihat tenang, mandi dan berenang tak disarankan karena masih banyak pacet dan lintah. Hujan membuat air danau naik dan keruh berwarna kecokelatan.

Kami berjalan di tepi danau. Sepi tak ada orang. Bintang menunjukkan batang pohon cukup besar dimana ia sering memancing. Namanya pohon rengas atau rengeh dalam dialek setempat. Dari tempat ini, pantulan awan dan langit membuat danau terlihat cantik.

Bintang berjalan di depan sebagai pemandu saya. Kembali berjalan menelusuri jalan setapak, ia menunjukkan tumbuhan pandan liar yang berukuran super dibanding pandan biasa dan mangga hutan atau disebutnya mempelam. Ukuran buahnya lebih kecil dari mangga pada umumnya. 

Di Bungo, pandan liar diambil daunnya sebagai bahan baku kerajinan seperti tikar dan lapik (tikar kecil tempat duduk lesehan). Desa Teluk Pandak dikenal sebagai sentra kerajinan pandan.

 
tepi daun pandan liar yang berduri menyerupai naga

Beranjak ke sisi danau yang lain seorang nelayan berlayar dengan sampan. Bintang melihat kadal atau mengkarung. Di rumah, selain ikan Bintang juga memelihara panana atau kadal sisik ular, kura-kura dan burung hantu.

Kembali berjalan dan saya melihat rumpun bambu kuning dan pohon durian. Di ujung danau, rerumputan terlihat menutupi permukaan. Herannya, masih ada satu rumah berdiri di tepi danau ini.

Kami kembali ke titik semula dimana saya memarkirkan motor. Menikmati suasana tenang dan sunyi. Melihat aneka tumbuhan yang dulu saya lihat semasa kecil. Buah hutan atau keduduk yang bisa dimakan, bunga telang yang bisa dipakai sebagai pewarna biru alami dan lain-lain.

Usai menakhlukkan jalanan yang tergenang, sepasang angsa dengan seenak hati nongkrong asyik di tengah-tengah jalan. Agak gusar karena hewan ini dikenal agresif dan suka menyerang. Saya berhasil lolos dari sergapan angsa tersebut tetapi Bintang nyaris digigit si angsa. Hufff!

Sebelum pulang Bintang menawari saya untuk singgah di rumah om Bintang, tak jauh dari simpang mushola. Setelah melewati kebun karet, kami tiba di rumah om Bintang. Om Bintang selain menanam karet juga menanam kakao dan duku. Tiap musim duku, berkarung-karung duku dijual ke Muara Bungo.

Kakao adalah buah penghasil cokelat. Biji kakao yang telah masak akan dijual kepada toke (tengkulak) sebelum dibawa ke pabrik pengolahan cokelat. Uniknya buah kakao sendiri tak berwarna cokelat, melainkan berwarna merah dan kuning. Sedangkan biji kakao berwarna ungu.

Daging buah kakao berwarna putih. Rasanya agak mirip srikaya, tetapi daging buahnya agak sulit dimakan karena menempel dengan biji kakao.

Untuk mengusir sepi, om Bintang memelihara anjing dan ayam. Ayam berbulu putih mulus tersebut katanya blasteran antara ayam hutan dengan ayam kampung. Tiap pagi, monyet-monyet liar acap terlihat bergelantungan di pohon karet.

Ketika akan menyadap karet, petani karet seperti om Bintang akan menyalakan racun nyamuk bakar dan diletakkan di belakang punggung untuk mengusir nyamuk.

Terimakasih Bintang buat jalan-jalan serunya! Semoga bisa main kesini lagi pas panen duku hehe.


8 respons untuk ‘Danau Baru Bersama Bintang

  1. Asyik ya Kang, serasa lagi bertualang. Saya serasa memasuki novelnya Tere Liye. Sewaktu kecil saya juga sering memungut buah coklat yang jatuh di balai pertanian Bogor. Dulu saya kira rasanya enak kaya coklat, ternyata eh… Pahit! Hahaha… 😂😂

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s