Banda the Dark Forgotten Trail (2017)


Buah pala, emas hitam dari Banda 
foto dipinjam dari sini

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut

Beta Pattirajawane
Ketika lahir dibawakan
Datu dayung sampan

Beta Pattirajawane, menjaga hutan pala
Beta api di pantai. Siapa mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama

Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!

Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan api membakar pulau…

Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu

Puisi Cerita Buat Dien Tamaela karya sastrawan Chairil Anwar dibawakan dengan sangat apik oleh Reza Rahadian, yang juga menjadi narator pembawa cerita sejak awal film. Didukung visualisasi hitam putih alam Banda, gunung, laut dan ditutup dengan adegan anak-anak Maluku yang mengayuh sampan bercat merah putih. Terdengar suara anak-anak menyanyikan lagu kebangsaan dan film beranjak dari bernuansa gelap kembali “berwarna”.

Melupakan masa lalu adalah sama dengan mematikan masa depan bangsa ini (epilog).

Ah, tak terasa satu jam setengah sudah mata, telinga dan hati ini dimanjakan dengan film yang menurut saya salah satu film dokumenter tentang sejarah Indonesia terbaik yang pernah saya tonton. Bagus!

Visualisasi alam Banda yang luar biasa indah, sejarah kelam yang dilukiskan dengan tone warna hitam dan musik mencekam. Ah, saya kehabisan kata melukiskan bagaimana indahnya film ini. 

Saya pertama kali melihat cuplikan film Banda tatkala duduk di dalam studio menunggu film diputar di bioskop. Berani sekali pikir saya dalam hati, Sheila Timothy selaku produser memasarkan film dokumenter ke dalam bioskop. Genre film yang barangkali biasanya hanya berpesiar dari satu festival ke festival lain.

Tahu-tahu film ini di masa pandemi film ini nongol di beranda YouTube saya. Wah, kesempatan langka nih menyaksikan film dokumenter sejarah Indonesia. 

Sejarah ibarat untaian benang yang terjalin menjadi kain. Sebelum mencari referensi tentang sejarah Banda, saya lebih dulu dibuat penasaran mengapa puisi Cerita Buat Dien Tamaela tersebut yang dijadikan salah satu penutup film.

Rupanya puisi tersebut karya sastrawan era kemerdekaan Chairil Anwar yang salah satu puisinya berjudul Karawang-Bekasi pernah saya bacakan waktu ada tugas ekskul drama waktu SMP. Dan faktanya lagi, Dien Tamaela sang gadis Maluku dalam puisi tersebut bukanlah sosok fiktif. Ia ada dan pernah hadir dalam kehidupan Chairil. Meski tak terlalu tersibak jelas hubungan Dien Tamaela dan Chairil Anwar karena keduanya sama-sama mati muda terpapar TBC, penyakit yang dianggap sangat berbahaya pada abad ke-20.

Saya mengenal beberapa karya Chairil Anwar, tetapi tidak dengan sejarah hidupnya. Ia adalah anak Bupati Tulus, pemimpin Kab. Indragiri yang gugur bersama ribuan warga Rengat saat agresi militer Belanda tahun 1949. Saya pernah tinggal di Kepulauan Riau dan beberapa kali ke Pekanbaru. Nama Rengat dan nama jalan Bupati Tulus beberapa kali saya dengar. Namun, tak pernah saya mendengar kisah tragis ayah Chairil Anwar.

Kembali tentang film ini. Mengapa Banda? Mengapa bukan daerah lain?

Banda adalah nama kepulauan di selatan kota Ambon. Kini masuk dalam wilayah Kab. Maluku Tengah sebagai nama sebuah kecamatan. Banda terdiri dari beberapa pulau: Lontar, Banda, Gunungapi, Ai, Run, Syahrir, Hatta dan Karaba. Selain pulau berpenghuni, beberapa pulau tidak dihuni seperti Suanggi, Naljalaka dan Batukapal.

Dalam sekelebat ingatan yang tipis tentang pelajaran IPS, Banda adalah daerah tempat pengasingan beberapa tokoh pejuang kemerdekaan seperti Bung Hatta dan Bung Syahrir. Melalui visualisasi grafis, musik, potongan-potongan footage bernuansa gelap, ditimpa dengan suara dari Reza Rahadian serta wawancara dengan berbagai pihak yang paham sejarah Banda, film dokumenter ini dihantar ke penonton.

Sejarah Pilu Banda

Pada akhir abad ke-15, tepatnya tahun 1494, dalam upaya mencari dunia baru, dua bangsa penjelajah yakni Spanyol dan Portugal menandatangani Perjanjian Tordesillas. Poin kesepakatannya, wilayah sebelah timur Eropa dimiliki oleh Portugis dan sebelah barat Eropa dikuasai oleh Spanyol.

Tahun 1511, Alfonso de Albuquerque berhasil menguasai kota Melaka di Malaya. Setahun kemudian, kapal Antonio de Abreu dan Fransesco Serrao berhasil mendarat di Banda dan Ternate. Dua pulau penghasil rempah dimana Ternate merupakan penghasil cengkeh dan Banda adalah penghasil pala satu-satunya di dunia saat itu. Saat itu, harga pala sebanding dengan emas sebagai bahan pengawet alami makanan.

Penemuan pulau penghasil rempah menyulut perseteruan antara Portugis dan Spanyol sebelum akhirnya disudahi dengan perjanjian Zaragoza tahun 1529. Spanyol harus meninggalkan Maluku lantas menguasai Filipina.

Nilai tinggi pala Banda memicu Inggris dan Belanda untuk datang ke Banda. Inggris, Portugis, dan Belanda saling bersaing untuk mendapatkan rempah-rempah dari Maluku. Demi bisa menguasai Banda, Belanda rela menukar Nieuw Amsterdam (pulau Manhattan di New York) dengan pulau Rhun di Banda.
Sejarah Banda tak hanya diisi dengan persaingan penjajah, tetapi juga genangan darah orang asli Banda. Jan Pieteszoon Coen, gubernur VOC datang ke Banda sebagai penjajah yang ingin melampiaskan dendam dengan membunuh hampir seluruh penduduk asli Banda. Dari total 15 ribu penduduk Banda saat itu, hanya tersisa 480 orang.
Kisah pilu konflik SARA di Ambon rupanya menjalar hingga Banda. Tak urung tanah Banda kembali merah dengan darah.
Selain sejarah yang gelap, kini Banda juga terlupakan. Pala tak lagi menjadi komoditas utama, meski masih ditanam oleh orang Banda. Kehidupan di pulau Rhun yang dulu harum karena nilainya sebanding dengan Manhattan masih jauh dari kata maju. Padahal Banda pernah berperan penting sebagai tempat pengasingan sejumlah tokoh perjuangan seperti Hatta, Syahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo dan Iwa Kusuma Sumantri. Untuk mengenang mereka, dua buah pulau di Banda dinamai Pulau Hatta (menggantikan nama Pulau Rozengain) dan Pulau Sjahrir (dulu dikenal dengan nama Pulau Pisang).
Selain sejarah Banda yang dinarasikan dengan apik oleh Reza Rahadian (belakangan saya tahu, Reza berdarah Maluku dari sang bunda), beberapa orang turut terlibat sebagai narasumber film dan bercerita bagaimana Banda tempo doeloe, saat ini dan harapan untuk Banda di masa depan.
Tak melulu sejarah, penonton diajak mengenal tanaman pala dan manfaatnya, adat dan tradisi serta kesenian Banda serta nilai toleransi warga Banda dari penuturan orang-orang dan pakar yang paham segala sesuatu tentang Banda.
Terimakasih kepada Jay Subyakto yang sudah mengangkat (kembali) Banda kepada dunia. Dan jika suatu saat nanti saya mendapat kesempatan mengunjungi timur Indonesia, khususnya Maluku, saya ingin menyapa Banda!
Seandainya sejarah Indonesia disajikan dengan apik seperti film ini, pasti para siswa akan tertarik belajar sejarah.

2 respons untuk ‘Banda the Dark Forgotten Trail (2017)

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s