Jalan dan Jajan di Jambi

Selama pandemi, keselamatan pegawai menjadi prioritas nomor satu. Jika tidak penting-penting amat atau di luar urusan kantor, kami dianjurkan tidak bepergian ke luar kota. Jika terpaksa harus keluar kota termasuk pulang kampung, sebelum balik ke kantor wajib menyerahkan hasil rapid test atau swab PCR

Minggu lalu saya pergi ke Jambi bersama rombongan kantor. Awalnya agak ragu ikut apa nggak. Demi kesehatan jiwa karena bosan #DiRumahAja rasanya hati ini perlu jalan-jalan biar nggak stres. Apalagi setelah saya pikir perjalanan ini cukup aman sehingga saya memutuskan untuk ikut. Kami akan memakai kendaraan pribadi, membawa masker dan sanitizer dalam jumlah memadai, serta melakukan rapid test sepulang dari Jambi untuk meminimalisir risiko.

Tujuan utama pergi ke Jambi karena ada barang yang mau dibeli. Selebihnya kami hanya kulineran. Tidak ada tempat wisata tertentu yang saya datangi. Di postingan kali ini saya akan lebih banyak bercerita tentang makanan dan tempat makan yang saya coba selama di Jambi. Beberapa tempat belum pernah saya coba sebelumnya.

Jumat malam: nasi goreng Muara Tebo

Jumat sore kami berangkat dari Muara Bungo. Singgah di Muara Tebo buat makan malam. Awalnya mau makan ikan bakar di dekat jembatan Muara Tebo, rupanya kalau malam tutup. Jadinya kami singgah di KP2KP Muara Tebo dan minta bang Sigit, security KP2KP Muara Tebo untuk membelikan makan malam.

Bang Sigit beli nasi goreng. Nasi gorengnya enak dan yang bikin kaget harganya hanya Rp 10k.

Lewat tengah malam baru tiba di Jambi. Sebelum masuk hotel berhenti sejenak di jembatan Makalam. Dulu jembatan ini berwarna merah dan hitam, mungkin karena mau pilkada jadinya dicat ulang menjadi biru kuning.

Udah lama sekali nggak nginap di hotel sejak pandemi. Tidur di kasur yang empuk, dingin, dengan pemandangan Jambi di waktu malam. Ah, menyenangkan sekali.

Sabtu pagi: Kopi Hokki

Pagi hari boss saya rencana mau sarapan bubur ikan. Info di Google bubur ikan ada di Kopi Hoki. Ohya, kami hanya menyewa kamar tanpa membeli sarapan supaya bisa icip-cicip sarapan di luar hotel.

Beberapa kali memutari simpang Jelutung baru tiba di Kopi Hoki. Kopi Hoki ini tidak jauh dari Kopi Ahok, kedai sarapan paling terkenal di Jambi. 

Dua porsi bubur kakap, seporsi bubur gabus, mie pangsit dan minuman habis 152k. Cukup mahal menurut saya, tapi kata boss saya bubur kakap memang segitu harganya.

Saya pesan mie pangsit. Dari dulu suka penasaran mie pangsit di Jambi seperti apa rasanya. Eh rupanya mie pangsit di Jambi kurang micin menurut saya. Kuahnya juga hambar kurang micin dan diberi toge. Nilai plusnya, potongan ayamnya gede dan pangsit gorengnya juga gede.

 

Siang: nasi liwet Sunda

Siang hari kami ke rumah kang Mimin, kawan pak boss yang bekerja di KPP Jambi. Lewat depan bekas puing hotel Novita yang terbakar dan belum buka lagi. Hotel bintang empat ini dulunya merupakan hotel terbesar di Jambi pada masanya. Sepertinya sedang dibangun ulang.

Kang Mimin tinggal di rumah dinas kantor di kawasan Sipin, tak jauh dari hotel Aston. Rumahnya bergaya tahun 80-an. Kabarnya banyak orang tak mau tinggal di rumah ini karena horor. Disini kami makan siang ala Sunda. Nasi liwet yang dihampar di alas berupa daun pisang, dengan lauk dan sayur khas Jawa Barat seperti tahu tempe goreng, teri goreng, ayam goreng, sambal peda, sambal terasi dan lalapan. Endul. 

Sore: Simon & Son’s

Habis dari rumah kang Mimin lanjut ke Informa Jamtos nemanin Herman beli meja dan kursi untuk Jingga. Agak lama di Informa. Kelar dari Informa lanjut nongkrong di Simon & Son’s yang berada di beranda mall Jamtos. Simon’s & Sons ini usaha lain dari anak pemilik toko roti Saimen. Saya pesan kembang tahu dan es susu kedelai. Lucunya, botolnya bertuliskan Dine and Chat.

Kentang goreng mozarelanya enak. Sunset di sini bagus banget karena restonya menghadap ke arah matahari terbenam.

Malam: Martabak India Roxy

Makan malam kami jalan ke WTC mau makan di D’Coz, eh jam 9 tutup. Geser ke Transmart mau ke The Imperial Kitchen juga tutup. Saya sarankan untuk makan nasi minyak di Martabak India Roxy dekat hotel di Kampung Manggis.

Dulu, tempat ini adalah andalan kalau makan malam di Jambi. Pernah juga bawa omnduut (blogger Palembang) makan di sini. Kami pesan nasi minyak kari kambing.

Minggu pagi: Kopi Ahok

Lebih tepatnya pagi menjelang siang soalnya jam 10 baru keluar hotel. Kami penasaran dengan kopi Ahok, kedai sarapan yang kemarin kami lewati. Ini konsepnya mirip foodcourt sehingga ada banyak gerobak dengan beragam menu. 

Tempat makan di bawah ramai sekali. Seluruh kursi penuh dengan pengunjung sehingga kami melipir ke atas. Sepi. 

Teman saya pesan nasi gemuk dan mie celor. Nasi gemuk di Jambi pakai potongan ayam dan sambel tomatnya nggak kira-kira banyaknya.

Saya kembali pesan mie pangsit. Kembali, kuahnya pakai toge dan rasanya hambar seperti di kopi Hokki. Mienya juga seperti kurang micin. Namun, potongan ayam cincangnya cukup banyak sih. Dua kali makan mie pangsit di Jambi, menurut saya mie pangsit di Muara Bungo jauh lebih berbumbu.

Habis sarapan balik ke hotel buat check out. Mungkin karena lagi sepi jadi boleh check out jam 1 siang.

Siang: Chatime

Window shopping di WTC. Keluar masuk toko baju dan sepatu hingga bosan wkwkw. Mampir di Chatime beli es matcha.

Sore/malam: Chop Buntut Cak Yo

Sebelum pulang ke Muara Bungo jemput dua orang teman kantor di bandara. Keluar dari bandara sengaja cari tempat makan yang agak sepi. Jadilah kami melipir ke restoran Chop Buntut Cak Yo dekat tugu penari Sekapur Sirih di Palmerah. Tempatnya eksklusif, harga makanannya cukup tinggi tapi rasanya tidak mengecewakan. Saya pesan bakso dan pangsit.

Pulang ke Muara Bungo, mobilnya pecah ban di jalan Ness! Mana seluruh desa mati lampu. Untunglah di kegelapan masih ada satu-satunya tukang tambal ban yang buka. Berhenti dulu sekitar sejam di desa itu. Sampai di Muara Bungo jam 1 pagi.


18 respons untuk ‘Jalan dan Jajan di Jambi

  1. Hahaha dasar kita ini generasi micin. Tapi dari penampilan, bakmi-bakminya menggoda. Ah aku jadi kangen sama kopi-kopi Sumatera, disajikan tubruk disesap di kala pagi di dalam kedai peranakan sederhana.

    Staycation sambil kulineran gini memang niqmat ya mas 😀

  2. wuiih mantul kulineran.

    itu sunset view dari Simon and Son’s keren bgt..

    btw,, tau gak bung, ada rumah makan dendeng batokok kerinci di muara bulian, lupa namanya,, tau gak yang dimaksud?? dendengnya enak, tiap lewat bulian pgn ke sana tapi lupaaa. dulu ke sana 2015 pas ada tugas..

    1. Ada nih di gmaps Bar, hampir tiap kota di jambi ada dendeng batokok. Di bangko aja ada paling gak 4 rm dendeng batokok kerinci, aku sarankan cobain dendeng batokok yg di Kerinci bener Bar hehehe… Nama daerahnya Siulak Deras

  3. kalau isinya makan makan terus begini, dari awal nggak bakalan nolak pergi hehehe
    aku pengen kentang mozarella nya nih. di jember sini ada, duh namanya apa ya lupa aku, tapi dibuat ala ditusuk kayak sate, kalau dinikmati waktu panas enakk banget , kejunya lumer 😀
    nahh tuh mie celor mie apalagi nih, mau cobain juga deh

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s