Jingga Coffee

“Namanya Herman. Ibunya guru. Ibunya mau dia jadi guru tapi dia sekarang jualan kopi.” Obrolan pembuka dari boss saya tentang seorang barista di kedai kopi Jingga. Sekian lama tinggal di Muara Bungo, saya tak pernah mendengar nama kedai kopi itu hingga pesan singkat masuk ke gawai.

Boss saya meminta saya datang ke Jingga, persis di sebelah SMAN 1 Muara Bungo. Tempatnya tidak terlalu luas. Berupa mini kontainer box dengan tempat duduk di halaman sebuah rumah.

Saya bertemu dengan Herman, sang pemilik sekaligus barista dan berkenalan dengan Ade dan Nilam, karyawan di Jingga. Boss saya yang penikmat kopi banyak berdiskusi soal kopi dengan Herman. Saya datang, duduk dan hanya mendengarkan. Saat itu lidah saya belum terlalu familiar dengan kafein. Baru sekedar coba-coba V60 di kantor.

***

Diskusi hangat antara Wak Ojad, pemilik Umah Kopi dengan Herman terjadi di Umah Kopi. Kali ini mereka membahas asal usul suku Anak Dalam yang tinggal di rimba di hampir semua daerah di Jambi terutama di bagian tengah provinsi Jambi. Saya yang sedari awal duduk dekat mereka jadi ingin bergabung dengan pembicaraan wak Ojad. Saya lantas berkenalan dengan Herman.

Herman Pelani, nama lengkap Herman. Seketika saya ingat artis lawas favorit ibu saya haha. Ia lulusan pendidikan sejarah sebuah universitas di Padang. Meski pernah mengajar sebagai guru, ia akhirnya lebih mengikuti kata hatinya sebagai wirausahawan dengan membuka kedai kopi. Pilihan yang tak sepenuhnya salah disaat menjadi wirausahawan dinilai mampu mendatangkan rupiah lebih cepat dibanding menjadi pendidik.

Meski tak lagi berkecimpung di dunia pendidikan, Herman tetap ingin memajukan dunia pendidikan di kampungnya dengan membuka pojok baca keliling.

Herman menyukai kegiatan mendaki gunung dan penikmat senja. Ia buat nama Jingga terinspirasi dari warna  matahari terbit yang sering ia lihat di gunung.

Sejak pertemuan itu, saya beberapa kali ke Jingga. Baik untuk sekedar nongkrong atau berdiskusi dengan Herman. Herman juga seorang petualang dan blogger. Beberapa kali ia mengajak saya liburan di Bungo, tetapi ada saja halangan hingga belum terlaksana hingga sekarang.

Awal September Herman membuka kedai baru yang lebih representatif di sebuah ruko di jalan Sultan Thaha. Beberapa hari sebelum pembukaan toko baru, saya sempatkan datang ke tokonya.

Jingga kini menempati rumah baru berupa ruko tiga lantai di lokasi baru yang lebih strategis. Lantai pertama adalah tempat ngopi dan kasir. Lantai kedua merupakan toilet dan kamar Herman. Lantai ketiga merupakan rooftop yang juga difungsikan sebagai tempat ngopi outdoor. 

 

Dari atas tampak deretan ruko di Pasar Bawah dan menara Masjid Raya Muara Bungo.

Herman mengatakan jika senja, matahari terbenam akan terlihat jelas dari atas. Di sini, Jingga menemukan jingga yang sesungguhnya. Jingga yang tak ada di tempat sebelumnya. Dengan demikian, Jingga akan menjadi satu-satunya kedai kopi di Muara Bungo yang punya rooftop.

Habis mengikuti room tour bareng Herman, kami kembali ke lantai bawah. Warna dominan putih dipilih menyiasati ruangan yang tidak terlalu luas. Lampu berwarna temaram dipilih untuk menimbulkan kesan hangat.

Kali ini Herman dibantu Gio dan Nadia, pegawai baru di Jingga. Nilam dan Ade tak lagi bergabung dengan Jingga. Ade merantau ke Jakarta sejak beberapa bulan silam. 

Nadia membuatkan saya lemon tea dan kebab. Gratis kata Herman selama sebelum pembukaan. Cukup senang dapat memberikan komentar dan masukan terkait kebab yang nanti akan disuguhkan.  

Di kedai lama, Herman hanya menjual minuman dan kadang-kadang ada indomie dan donat. Kini selain kopi, Herman akan menjual kentang goreng, kebab, nuget, sosis dan croissant (koa-song). Resep croissant ini didapat dari istri pak boss waktu Herman ke Bandung.

Demi mengisi pernak pernik toko barunya, Herman rela terbang ke Bandung untuk membeli langsung berbagai perlengkapan toko termasuk lampu gantung dan lampu display kedai kopinya.

Sebuah pengalaman Herman selama ia melakukan perjalanan ke Bandung ia torehkan di lantai tiga. 

1 September Jingga resmi buka. Tak ada seremoni yang menimbulkan kerumunan, potong pita atau pertunjukan musik yang berlebihan. Doa dan pengharapan dilantunkan salah satunya pada logo baru Jingga yang menampilkan tunas yang sedang bertumbuh. Meski tak ada acara khusus, Herman tetap mengundang semua pelanggan untuk datang ke kedai kopi barunya.

Saya sengaja datang di sore hari jam 5 sore. Kebetulan cuaca cerah. Sunset nanti sore sepertinya akan bagus.

Beberapa mobil dan motor berderet rapi di depan toko. Hari pertama buka Jingga kebanjiran tamu. Termasuk di rooftop yang dipenuhi karyawan sebuah bank BUMN. Beruntung tamu pulang waktu matahari hampir terbenam dan masih dapat memotret sisa-sisa senja begitu tamu pulang. 

Saya mencoba yuzu, minuman dingin dengan potongan daun mint dan irisan lemon segar. Unik dan menyegarkan. Tak bisa mencoba croissant karena habis diborong orang bank.

Selamat atas toko baru Jingga dan sukses selalu ya!

Jingga Coffee
Jl. Sultan Thaha, Sebelah RM Salero Bundo/Resto 2D Best, Muara Bungo
Buka: 17.00 – 24.00 


8 respons untuk ‘Jingga Coffee

  1. perlahan menuju puncak, bisa dibilang merintis dari bawah tapi udah segede ini ya istilahnya
    punya rooftop biar bisa liat view waktu senja, cakepp,
    apalagi ada croissant yang dinikmati sambil ngopi gitu, nikmatnyaa

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s