Taman Rimbo Wisata Al Inayah

“Setunggal, Bu.”
“Oh, pengunjung tho”
Ibu-ibu berkerudung lebar penjaga loket tersebut tampak keheranan melihat saya datang sendirian naik motor jam 5 sore. Satu jam lagi taman ini akan tutup.

Ibu penjaga loket tersebut menanyakan nama saya dan nomor ponsel dalam bahasa Jawa. Saat saya tanya untuk apa, katanya jika ada kegiatan atau lomba-lomba, saya akan di-broadcast oleh pengelola taman. Oohhh…. Nama dan no.hp saya lantas ditulis pada sebuah buku tamu yang tebal. Tidak ada kertas tiket.

Saat ditugaskan di Rimbo Bujang tahun 2018, saya merasa di kota ini tak ada apa-apa yang bisa dinikmati selain kuliner. Masuk tahun 2019 terasa mulai ada perkembangan di sektor pariwisata meski perlahan.

Bulan Mei 2019 mulai dibuka taman bunga Celosia Muna di Unit 9 Sukadamai, beberapa bulan kemudian dibuka taman pemandian alam dan pemancingan Rivera Amarta Swarna Dwipa atau Rivera Park di Jalan 12 Unit 1 Perintis. Terakhir ada taman bunga milik pondok pesantren Al Inayah di Jalan Lesmana Unit 1 Perintis yang diberi nama serupa.

Taman ini resmi dibuka oleh bupati Tebo pada bulan Desember 2019. Selain taman, ponpes Al Inayah juga membuka sekolah dengan nama serupa.

Dari jalan lintas Simpang Somel-Simpang Lopon, taman ini tidak terlalu jauh. Setelah melewati ponpes Al Inayah, terdapat gedung workshop dan pintu gerbang taman yang berada di sebelah kanan. Masuk melewati lahan berumput yang belum digarap, saya tiba di pintu masuk tempat penjualan tiket.

Di sebelah kanan di samping loket penjualan tiket terdapat kolam renang anak dengan ember tumpah sederhana berwarna kuning yang airnya sedang dibersihkan.

Setelah menyerahkan uang Rp 10.000,- saya diijinkan masuk. Ketika saya menanyakan dimana tempat parkir motor, si ibu menyuruh saya membawa motor masuk ke dalam. Saya tak paham dimana parkir motor seharusnya, bisa jadi di lahan kosong berumput yang tadi saya lewati. Pikir saya, mungkin karena saya datang sendirian dan sudah sore, sehingga lebih amannya saya bawa motor ke dalam. 

Selain ibu-ibu penjaga tiket masuk dan saya, tak ada pengunjung lain kecuali seorang bapak yang sedang bertugas menyirami tanaman.

Tamannya tidak terlalu luas. Di tengah-tengah terdapat menara putih yang dapat dinaiki hingga ke atas. Tampak taman ini bunganya belum terlalu banyak, masih jarang-jarang. Masih banyak tanah yang kosong. Tanaman yang ada didominasi tanaman hias biasa  yang saya tak tahu namanya dan rumput hijau. 

Turun dari menara, berjalan lurus ke depan terdapat gambar dinding berlatar berbagai pemandangan dunia. Ada Taj Mahal, pantai berpasir putih di Maladewa, bunga sakura, hingga kuil di Tiongkok. Dari Indonesia tak lupa ada latar rumah adat Jambi, Melayu Kepulauan Riau dan rumah Gadang dari Sumatera Barat buat berfoto.

Tak jauh dari gambar dinding saya menjumpai perosotan dan ayunan anak. Perosotannya masih bagus. Kondisi ayunan tidak bisa dipakai. Ada rumah pohon juga dekat pagar. Beberapa kata mutiara bernuansa religius bisa dijumpai di beberapa sudut. Beberapa ungkapan ala anak muda ditulis dalam bahasa Jawa. 

Meski bunga-bunga di tempat ini belum terlalu banyak, hal menarik yang saya jumpai justru dengan adanya  jasa foto baju Korea/Jepang dan playgrouund tempat bermain anak.

Di sebelah kiri dekat pintu keluar saya menjumpai tempat karaoke, spot-spot selfie ala Jepang dan Korea lengkap dengan bunga sakura palsu dan lampion. Bisa juga menyewa baju kimono ala Jepang dan hanbok. Tak jelas berapa tarifnya. Setelah berfoto, hasilnya bisa langsung dicetak di tempat ini. Apapun yang berbau Korea sedang laris manis di pasaran dan digilai anak zaman now. Musik k-pop, mie korea, roti korea, apapun tentang negeri ginseng tersebut akan laku.

Dari beberapa foto yang dipasang, yang berminat foto ala Korea ini tak hanya muda-mudi. Warga senior pun tak mau ketinggalan berfoto menggunakan kimono/hanbok.

Di sebelah kanan dari pintu keluar merupakan kolam bola, playground tempat bermain anak, taman edukasi dan taman lalu lintas. Kalau baca pengumuman di sudut taman, ada pasar tradisional tiap hari Jumat minggu ke-2 dan minggu ke-4. Tersedia persewaan sepeda dan mobil-mobilan yang bisa dipakai berkeliling di taman lalu lintas.

 

Rimbo Bujang ini nyaris tak ada tempat wisata. Seandainya bunga-bunganya dipercantik lagi dan diperbanyak, mainan anaknya ditata lagi pasti akan semakin banyak warga datang kesini. Matahari hampir hilang ditelan sore, saatnya pulang.

Taman Rimbo Wisata Al Inayah
Jl. Lesmana, Perintis (Unit 1) Rimbo Bujang
Buka: setiap hari jam 08.00 -18.00

HTM: Rp 10k/orang
Permainan anak: 5k/anak
Mandi bola: 5k/anak
Tersedia persewaan baju Jepang/Korea


6 respons untuk ‘Taman Rimbo Wisata Al Inayah

  1. lumayan juga tamannya mas
    untuk melepas lelah dan santai sejenak

    aku tapi salfok sama tulisan bahasa jawanya
    kukira yang masih terpengaruh banyak jawanya cuma di Lampung
    ternyata di Jambi juga ya

  2. Tamannya nampak sederhana. Seperti taman di halaman sekolah.
    Tapi saya salut dengan ide pembuatan taman itu karena selain bisa menambah ruang hijau untuk umum, juga bisa menghidupkan roda ekonomi di sekitar taman.
    Kalau lagi ramai, mungkin tamannya akan penuh sesak ya, bang.

    Tapi yang bikin saya penasaran, kok quote di papan kayu itu menggunakan bahasa Jawa ya. Apakah warga masyarakat sana memang banyak pendatang dari Jawa?

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s