Naik Pesawat Saat Pandemi

Saya pandangi luar jendela. Awan putih kecil-kecil terbang tak terlalu tinggi di atas daratan berwarna biru kehijauan. Sungai yang mengular berujung ke muara. Saya tak tahu apakah itu Musi atau Batanghari. Yang jelas saya masih di atas Sumatera.

Penumpang di sebelah saya yang duduk tepat di sebelah koridor tertidur. Buat sebagian orang, naik pesawat itu ya tidur, tidak demikian dengan saya. Seletih apapun, saya hanya bisa tertidur waktu lepas landas. Begitu ada aba-aba boleh melepas sabuk pengaman, saya pasti terbangun.

Tujuh bulan saya tak pulang menengok Quinna dan Kiara. Rindu. Terpaksa melewatkan Lebaran Idul Fitri di kampung halaman.

Setelah proses panjang mulai dari mengajukan permohonan Work from Homebase ke kepala kantor, kesana kemari mencari informasi tempat rapid test, enam setengah jam perjalanan darat ke bandara Jambi, kini saya berada di dalam pesawat.

Nyaris tak ada perbedaan naik pesawat sebelum dan selama pandemi. Hanya saja setiap penumpang wajib menjalani rapid test, mengisi aplikasi e-Hac dan mengenakan masker atau penutup muka. Duduk di dalam pesawat diatur. Penumpang hanya duduk di kursi A, C, D, F. Bangku di tengah dikosongkan. Tak bisa melihat sepenuhnya wajah pramugari karena semua mengenakan masker.

Saya membekali diri dengan masker dan penutup muka demi perlindungan ekstra. Ketakutan jatuh naik pesawat terkadang saya rasakan. Namun, kali ini ketakutan terjangkit Corona turut membayangi hampir setiap orang yang bepergian keluar rumah.

Pandemi membuat orang membatasi kegiatan bepergian, termasuk naik pesawat. Dari layar tv yang menayangkan jadwal keberangkatan, dari 5 trip penerbangan maskapai merah, hanya ada 1 trip pada pagi hari.

Jadwal penerbangan saya Jambi-Jakarta awalnya 09.50-11.15 dimajukan menjadi 8.00-9.10 sementara yang Jakarta-Semarang tetap 14.50-15.50. Tidak seperti biasanya, saya tidak dikenakan biaya sepeser pun saat saya meminta jadwal yang ke Semarang turut dimajukan menjadi 12.10-13.00.

Awan-awan di luar sana terlihat semakin menggumpal. Dalam beberapa saat lagi saya akan tiba di Soekarno-Hatta.

Di Jakarta saya turun di terminal 2E. Tidak ada pengecekan e-Hac dan rapid test, saya langsung menuju ke terminal keberangkatan.

Sebelum masuk pesawat tujuan Semarang, setiap penumpang diberikan tisu basah antiseptik. Pas balik dari Jakarta ke Jambi, selain tisu basah, setiap penumpang juga diberikan penutup muka yang wajib dikenakan sebelum masuk pesawat. Kali ini penumpang cukup banyak, beberapa bangku tengah di bagian belakang diisi penumpang. 

Setiap penerbangan baik ke Semarang, Solo atau Jogja saya selalu meminta kursi F untuk dapat mengamati gunung-gunung di Jawa. Entah mengapa saya tidak mengecek waktu check in di bandara Jambi saya diberikan bangku A dengan pemandangan laut Jawa.

Selama penerbanga nyaris tak ada awan. Hijaunya laut Jawa dan birunya langit menemani saya kali ini.

 

Penerbangan ke Semarang berjalan lancar. Terdapat pemeriksaan aplikasi e-Hac oleh petugas KKP di terminal kedatangan. Masih banyak penumpang yang tak paham bagaimana mengisi e-Hac, terutama lansia.


mendarat di atas mengrove, Semarang

Saya baru sadar kalau cuaca cerah, di belakang bandara tampak gunung Ungaran. Yang di tengah itu adalah menara ATC lama yang kini dipakai oleh Angkatan Udara.

Adik saya sudah menunggu di parkiran kedatangan. Kali ini ia datang sendirian. Sengaja saya larang orang tua dan keluarga untuk datang menjemput. Biasanya mereka rutin menjemput setiap saya pulang. Tak ada kegiatan salaman dengan adik. Mampir dulu di masjid tak jauh dari bandara untuk mandi dan ganti baju. 

Masuk wilayah Bawen saya meminta adik saya masuk ke tol Bawen-Salatiga. Beberapa kali melewati ruas tol berpanorama indah ini, tetapi jarang mendapat foto bagus karena awan.

Jalan yang naik turun, membelah perbukitan, gunung Merbabu di sebelah kanan menjadi pemandangan yang menakjubkan di ruas tol Bawen-Salatiga. Beberapa kali terjadi kecelakaan karena justru orang menjadi terlena dan tidak fokus berkendara.

 

Masuk wilayah Salatiga ada papan petunjuk dan tulisan Salatiga raksasa di sebelah kanan. Tak sampai lima menit memasuki wilayah Salatiga kembali masuk Kab. Semarang.

Awan menyelimuti kota Salatiga. Saya belum beruntung berjumpa pemandangan gunung Merbabu yang kata orang menjadikannya sebagai pintu tol tercantik di Indonesia. Meski sebenarnya pintu tol ini berada di pinggiran kota Salatiga, tepatnya di perbatasan Salatiga dan Tengaran, Kab. Semarang.

Selamat jalan Salatiga.


4 respons untuk ‘Naik Pesawat Saat Pandemi

  1. senengnya bisa pulang kampung ya mas isna, meskipun di kondisi pandemi seperti ini, tapi mau gimana lagi
    aku belum ngerasain lewat tol di kawasan jawa tengah, penasaran sama view gunung yang sempet viral itu, memang keren sih viewnya,

  2. kalau ambo belum berani bepergian naik pesawat,, dan ini belum juga belum mudik sejak Januari tahun ini.. Rencana Desember nanti mudik juga mau jalan darat euy, ke Lampung, lalu ke Jawa. Perjalanan akan sangat panjang tapi rasanya lebih aman daripada naik pesawat..

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s