Kerkhof Dezentje – Ampel, Boyolali


Kerkhof Dezentjé, Ampel, Boyolali

Gajah di pelupuk mata tak terlihat. Tapi kuman di seberang lautan tampak. Saya mungkin terlalu percaya tak ada apa-apa di kampung saya, termasuk peninggalan bersejarah. Hingga membuat saya asyik mengulik sejarah di kampung orang, termasuk kota dimana saya tinggal saat ini.

Dari data resmi yang dikeluarkan instansi pemerintah di bidang cagar budaya, di wilayah kecamatan Ampel, Boyolali hanya tercantum Makam Syekh Ibrahim Maghribi, Makam Pantaran dan beberapa situs lingga dan yoni.

Atas informasi secara tidak langsung dari mas Halim (JejakBocahilang), di tahun 2018 saya mendengar ada situs makam Belanda (kerkhof) tak jauh dari rumah orang tua saya di Ampel, Boyolali. Hasil penelusuran di dunia maya dengan kata kunci “kerkhof” dan “Ampel” membuahkan beberapa artikel dan blog.

Pertama tentang Johannes Augustinus Dezentjé atau Tinus Dezentjé, raja perkebunan pertama di Vorstenlanden (istilah bagi wilayah eks-Kesultanan Mataram, baik Surakarta dan Yogyakarta). Tulisan berikutnya tentang upaya Salatiga Urban Legend, Boyolali Heritage Society dan Komunitas Roemah Toea dari Yogyakarta di tahun 2017 membersihkan makam keluarga Dezentjé (dibaca dizince) di Ampel. Saya jadi makin merasa kudet. Tahu sejarah kampung orang, tapi tak paham sejarah kampung sendiri.

Lebaran Idul Adha kemarin saya mengunjungi “rumah” terakhir Tinus Dezentjé tak jauh dari pasar Ampel. Tepatnya di dukuh Gondang, Candi, Ampel. Berada di samping lapangan Gondang, persis di sebelah timur lapangan. Lapangan ini jika tidak dipakai bermain bola, biasa dipakai untuk upacara bendera tingkat kecamatan Ampel. Pawai kemerdekaan biasa dimulai dari lapangan ini dan berakhir di lapangan belakang Polsek Ampel.

Sungguh saya tak menduga ada warisan sejarah Indonesia di tempat ini. Di tempat yang bahkan sering saya lewati.

Di dalam makam, beberapa pekerja tampak sibuk membuat pagar keliling makam, membersihkan areal makam dan membuat gazibo beratap joglo. Saya bertemu dengan pak Susilo, seorang juru kunci makam.  

Siapa Tinus Dezentjé?

Jika di abad 19 ada Oei Tiong Ham, sang raja gula dari Semarang. Jauh sebelumnya, di Ampel ada Tinus Dezentjé. Ia adalah anak August Jan Caspar Dezentjé, seorang perwira militer yang ditugaskan Belanda di Keraton Surakarta. Ia menyewa lahan perkebunan milik keraton seluas total 1275 hektar yang tersebar di 18 desa mulai dari Salatiga hingga Boyolali. Pada tahun 1836, ia telah mempekerjakan sebanyak 38.717 karyawan yang bekerja di kebun kopi miliknya. Saat itu Jan Caspar adalah pengusaha terbesar di Vorstenlanden.

Sepeninggal Jan Caspar, perkebunan ia wariskan ke Tinus Dezentjé. Tinus lahir di Ampel tanggal 12 April 1797. Mengikuti jejak ayahnya, Tinus juga menjadi perwira militer dengan membentuk kesatuan dengan prajurit 1.500 orang dan ikut terjun membantu Belanda pada Perang Diponegoro. Tak hanya itu, Tinus berhasil membujuk Pakubuwono IV agar bersikap netral menghadapi perang tersebut.

Atas prestasinya yang dianggap luar biasa pada perang terbesar di Hindia Belanda itu, ia dianugerahi gelar Ridder in de Orde van de Nederlandse Leeuw (Ksatria Ordo Singa Belanda). Penghargaan ini merupakan penghargaan Belanda tertua dan tertinggi yang diberikan kepada anggota militer Belanda. Fotonya saat ini masih dipajang di Museum Veteran Perang di Bronbeek, negeri Belanda.

Setelah perang usai, ia kembali menekuni bisnis warisan ayahnya. Selama hidup, Tinus menikah 3 kali. Istri pertama dan keduanya berdarah Belanda bernama Johanna Dorothea Boode dan Henriette van den Bergen.

Istri pertama Tinus meninggal setelah melahirkan anak pertama pada usia 16 tahun. Istri kedua meninggal pada umur 28 tahun dengan meninggalkan 2 anak. 

Tinus lantas menikah dengan seorang ningrat keraton Surakarta yang bernama RA Condro Kusumo, putri Pakubuwono IV dengan seorang selir. Di luar ketiga istri resminya, Tinus mempunyai beberapa hubungan di luar nikah dengan beberapa perempuan pribumi berjumlah total 6 orang. Beberapa nama istrinya yang tercatat adalah Langeningsih, Retno Diwati dan Ringok Nisig. Hal yang biasa bagi orang Belanda di masa itu mengambil beberapa orang pribumi sebagai istri.

Awal menikah, ia tinggal di rumah ayahnya di Solo yang kini menjadi Loji Gandrung atau rumah dinas Walikota Surakarta. Ia lantas pindah ke Ampel. Istrinya yang berdarah Jawa lantas dibaptis dengan nama Sarah Helena.

Dari ketiga pernikahannya, Tinus dikaruniai 9 anak. Beberapa anaknya diberi nama dengan awalan huruf A seperti Arnold, Alphonse, Augustinus, Annipelma dan Amppellius. Hal ini karena kecintaannya pada Ampel. Menurut catatan yang berhasil dihimpun oleh Paula Lopes, salah seorang keturunan Tinus yang juga pemilik blog dengan nama sama, jumlah anak Tinus adalah baik dari pernikahan resmi maupun bukan adalah 28 orang yang terdiri dari 14 orang laki-laki dan 14 perempuan.

Salah satu cucu Tinus yaitu Ernest Dezentjé adalah pelukis istana pada zaman Soekarno. Usai proklamasi, ia memilih menjadi warga negara Indonesia ketimbang kembali ke kampung halaman di Belanda. Beberapa lukisan karya Ernest diberikan oleh Bung Karno sebagai hadiah untuk para pemimpin negara salah satunya Presiden Yugoslavia Yosep Bros Tito. Ernest meninggal tahun 1972 di Jakarta. Tropenmuseum di Amsterdam dan Museum Adam Malik di Jakarta adalah rumah bagi karya-karya Dezentjé,

Kembali soal Tinus, sebagaimana kecintaannya pada budaya Jawa, di Ampel ia menempati kediaman yang dibuat mirip dengan dalem khas bangsawan Jawa beratap joglo, lengkap dengan benteng, kolam pemandian (tamansari) dan patung-patung bergaya Eropa.


istana Tinus Dezentjé di Ampel, foto dari blog Paula Lopes

Tinus meninggal di usia muda pada umur 42 tahun. Masih menurut Lopes, ia tewas secara misterius saat menunggang kuda. Mewariskan perkebunan teramat luas, nyatanya bisnisnya mampu bertahan hingga seabad kemudian.

Kedatangan Jepang di Hindia Belanda menjadi awal petaka bagi keluarga Dezentjé. Takut orang-orang Belanda dihabisi tentara Jepang, keluarga besar Dezentjé terpaksa meninggalkan Indonesia dan berpencar ke seluruh penjuru dunia. Rumah mereka dibakar. Perkebunan dikuasai Jepang. Untungnya rumah orang tua Tinus Dezentjé di Solo tidak dihancurkan dan bisa dijumpai hingga kini dan dikenal dengan nama Loji Gandrung.

Sisa Kejayaan Dinasti Dezentjé

Selain Loji Gandrung, nyaris tak ada yang tersisa dari kebesaran nama Dezentjé selain makam. Nama Dezentjé-pun sudah hilang dari ingatan masyarakat. Pak Susilo menceritakan awalnya makam ini tidak terurus. Rumput gajah dan semak setinggi dua meter tumbuh subur. Warga memilih untuk menghindari melewati makam ini jika sore hari. Hingga akhirnya ahli waris Dezentjé yang tinggal di Belanda datang ke Ampel untuk mencari makam nenek moyangnya dan meminta bantuan warga desa untuk membersihkan areal makam. Permintaan ini direspon pemerintah desa dan komunitas peduli cagar budaya. Sayangnya niat mulia ini sempat menemui kendala oleh pemkab dan balai cagar budaya.

Ibu saya pernah bercerita tentang pabrik teh peninggalan Belanda yang kini menjadi kompleks Puskesmas Ampel. Masih menurut pak Susilo, bekas kediaman Dezentjé kini sudah menjadi hunian warga, berada tak jauh dari puskesmas.


Pabrik teh yang kemungkinan milik Dezentjé   

Ada sekitar 50 makam di kompleks makam Dezentjé. Makam-makam berbentuk kubus kecil beratap limas menandakan bahwa yang dimakamkan adalah anak-anak. Tepat di sebelah pagar (sebelah kanan) adalah makam warga desa Candi.

Model nisan disini beraneka ragam. Dari yang menyerupai peti mati, obelisk, makam Tionghoa (bongpay) bahkan menyerupai rumah joglo khas Jawa. Kecintaan akan budaya Jawa yang menurun kepada keturunan Dezentjé.

 

 


makam menyerupai bong pay (kiri) dan obelisk(kanan)

Makam Tinus Dezentjé dan istrinya sendiri berada di dalam sebuah bangunan berdinding beton dengan pagar teralis tebal. Pintu teralis dulu ada, tetapi sudah lama dicuri orang. Sama kondisinya dengan marmer makam yang semuanya sudah dicuri. Terlihat bekas pembakaran dupa di dalam bangunan.


Pak Susilo (kiri), tengah mengawasi para pekerja 

Catatan: kerkhof Dezentjé sudah diajukan untuk ditetapkan menjadi benda cagar budaya tak bergerak pada tahun 2019. Makam ini sekarang dikelola oleh pemerintah desa. Karena bukan tempat wisata dan masih diziarahi oleh keturunan , mengunjungi makam ini tanpa izin juru kunci dianggap tindakan ilegal. Silakan menghubungi bapak Susilo selaku juru kunci makam.

Referensi:
Biografi Tinus Dezentjé https://de-paula-lopes.nl/lidworden/01c2c498cc144e201/01c2c498cb103cc36/index.html

Istri Tinus Dezentjé https://de-paula-lopes.nl/lidworden/01c2c498cc144e201/01c2c498cc1497b0b/index.htm

Daftar lengkap istri dan anak Tinus Dezentjé https://de-paula-lopes.nl/downloads/dezentje28.htm


11 respons untuk ‘Kerkhof Dezentje – Ampel, Boyolali

  1. L.S. Kata Bong Pay adalah kuburan Cina. Apakah ini satu-satunya di kuburan? Henrietta van de Bergen adalah seorang wanita Tionghoa. Silakan kirim email ke: fofofo1966@gmail.com. Dengan hormat Marnix Alexander de Paula Lopes

    L.S. De genoemde Bong Pay is een Chinees graf. Is dit de enige op de begraafplaats? Henrietta van de Bergen was namelijk een Chinese vrouw. Graag mail naar: fofofo1966@gmail.com. Met respect Marnix Alexander de Paula Lopes

      1. Makam lain dengan pilar yang patah adalah Freemason; empat anak yang saya kenal:

        MASUK ORANG
        Arnoldus Bernardus Christianus Dezentjé
        22-02-1820 / 31-10-1878 LA CONSTANTE ET FIDÈLE & L’UNION FRÉDÉRIC ROYAL
        Adrianus Bartholomeus Dezentjé
        .. -04-1824 / 05-01-1860 LA CONSTANTE ET FIDÈLE
        Agustus Jan Casper Dezentjé
        21-02-1827 / 23-01-1856 LA CONSTANTE ET FIDÈLE
        Johannes Augustinus Dezentjé
        19-08-1832 / 02-10-1903 LA CONSTANTE ET FIDÈLE & THE FRIENDSHIP & DUTCH EAST INDË

        Selanjutnya: anak-anak yang meninggal karena Henrietta van de Bergen [kuburan persegi terkecil]:

        Ampellina Margaretha Albertina Dezentjé 22-01-1825 / 09-07-1825
        Diederik Alexander Dezentjé 31-03-1828 / 04-07-1829
        Diederik Bartholomeus Dezentjé 19-09-1829 / .. – .. 1829
        Johannes Augustinus Dezentjé 18-10-1830 / 25-07-1831

        Dengan sangat hormat, Marnix Alexander de Paula Lopes

      1. salam kenal kembaliiii…(meskipun rasanya udah lama kenal tapi saya jarang blogwalking hihihi..)
        kalo tengah malam kesini, errrrr… kalo gelap gitu yaa bisa dijadikan night tour gitu sekalian ngetes keberanian hehehe

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s