Bu Tejo, Tilik dan Keseharian Kita

Perhatian: Aman kok, nggak ada spoiler kayak biasanya 😀

Bu Tejo hilir mudik dalam banyak perbincangan beberapa hari terakhir. Mulai dari twitter,  grup WhatsApp,  instagram bahkan hingga dibahas di tv nasional. Tokoh sentral di film pendek “Tilik” ini bahkan sampai dibuat meme dan stiker berkat celetukannya yang mengena di hati penonton: solutif, hiih, “Ya Allah” hingga sindiran tentang karir dan kapan kawin.


poster film Tilik, dipinjam dari sini

Tilik adalah film pendek berdurasi 32 menit karya Dinas Kebudayaan Prof. DIY dengan Ravacana Films. Pemenang sejumlah penghargaan Piala Maya 2018, Film Pendek Terpilih Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018 dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019.

Film ini menjadi perhatian sejak diunggah di YouTube tanggal 17 Agustus 2020 sebagai peringatan kemerdekaan. Hingga saat ini (21/08) sudah ditonton 3,5 juta orang bahkan diapresiasi oleh Joko Anwar.

Seluruh dialog menggunakan bahasa Jawa, tetapi tersedia teks dalam bahasa Indonesia.

Bercerita tentang bu Lurah di kampung yang tiba-tiba sakit dan dirawat di rumah sakit. Yu Ning (Brilliana Desy) mengajak ibu-ibu di kampung untuk tilik (menjenguk) naik truk ke kota. Di perjalanan, Yu Ning terlibat dialog hangat dengan Bu Tejo (Siti Fauziah) yang sibuk menggosip tentang Dian, pacar dari anak bu Lurah.

Perjalanan Yu Ning, Bu Tejo di dalam truk diwarnai beberapa kejadian. Ada yang konyol, ada yang bikin penonton jengkel dengan Bu Tejo. Ujungnya sebuah dialog klimaks antara Bu Tejo dan Yu Ning membuat ngakak melihat kelakuan dan aksi koboi emak-emak. Beberapa dialog seperti bagian  “attahiyat”, “ularnya pak Tejo”sukses mengocok perut.

Kebiasaan menjenguk ramai-ramai tetangga yang sakit bahkan dirawat di luar kota masih lestari di kampung saya. Di samping itu beberapa karakter amat lekat dengan keseharian. Tak heran film ini menjadi buah bibir karena ceritanya yang sederhana tapi mudah dijumpai di kenyataan. Bu Tejo yang nyinyir dan suka pamer, Yu Ning yang sembrono tetapi baper, atau Yu Sam yang kepo dengan kehidupan pribadi orang lain.

Bepergian naik truk mengingatkan saya dengan masa kecil: piknik satu TPA (Taman Pendidikan Al Quran) ke makam wali, piknik sekampung ke Solo naik truk. Masa kecil yang menyenangkan hehe.

Untuk Siti Fauziah, ini adalah film kesekiannya setelah Mencari Hilal, Talak 3, Mekah I’m Coming. Sultan Agung, dan terakhir adalah Bumi Manusia.

Habis film Tilik viral, perlahan-lahan film pendek berbahasa Jawa lainnya muncul ke permukaan. Berikut beberapa yang sudah saya tonton. Semua film dilengkapi teks terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Kembalilah dengan Tenang (2018)

Film ini tayang di TVRI bulan lalu garapan Crazyone. Bercerita soal Agung, anak semata wayang Santoso dan Wati yang tewas karena menenggak miras oplosan. Orang tua Agung dilanda kebingungan dengan kematian Agung yang mendadak dan dimana akan memakamkan jenazah anaknya. Persoalan semakin langkanya lahan pemakaman di Jogja serta rasa kemanusiaan manusia yang semakin tergerus zaman disentil di film ini.

Sayangnya di YouTube belum ada versi lengkapnya, baru sekedar trailer. Siti Fauziah tampil di film ini. 

Manuk (2015)

Manuk dalam bahasa Indonesia berarti burung. Sumi (Eny Mijil Sarjono) kesal karena suaminya Darto (Deny Boy) lebih sering mengurus burung peliharaannya ketimbang mengelus istrinya. Bahkan Darto menyepelekan pekerjaan sebagai pegawai kelurahan dan lebih mementingkan burung kicau miliknya.

Suatu saat Sumi hamil dan ngidam burung suaminya. Eh, maksudnya ingin menyantap burung kesayangan suaminya. Maukah Darto menuruti permintaan Sumi?

Cerita di film ini bagus. Akting para pemainnya juga cukup bagus. Sayangnya, saat pengambilan gambar kamera sering goyang sehingga cukup mengganggu saat menonton. 

KTP (2017)
Mbah Darsono (Mirkoen Alawi), seorang kakek yang tinggal sebatang kara didatangi Darno (Giras Basuwondo) dari kantor camat yang sedang melakukan pendataan ke para warga yang belum mempunyai KTP. Mbah Darsono belum memiliki KTP karena mengaku beragama Kejawen.

Konflik muncul karena mbah Darsono meminta agama Kejawen dicantumkan di KTP, sementara hal ini tak mungkin diakomodasi oleh Darno selaku pegawai kecamatan (mengatasnamakan undang-undang). Sebuah kritik untuk negara atas agama asli bangsa Indonesia seperti Kejawen, Sunda Wiwitan dan agama lainnya.

Film ini bergenre komedi yang sukses membuat saya tertawa dari awal hingga akhir melihat tingkah polah para pemain misalnya mbah Darsono yang polos serta tingkah polah Darno yang sangat komikal.

Unbaedah (2019)

Sebuah film produksi Bakarasa Film yang diproduseri oleh KPK sebagai kampanye antikorupsi. Siti Fauziah berperan di film ini sebagi Baedah. Ia kembali menjadi antagonis. Di daftar saya kali ini, Unbaedah adalah satu-satunya film horor. 

Di kampung, Baedah dikenal warga sebagai sosok yang terbiasa “ndobel” alias mengambil jatah lebih, termasuk hal-hal receh seperti nasi selamatan. 

Suatu ketika, Baedah mendapat kesempatan membantu menyiapkan konsumsi di acara selamatan tetangganya yang baru saja meninggal. Tanpa sepengetahuan tuan rumah, ia mengambil tiga bungkus nasi dan dibawa pulang. Sejak ia melakukan perbuatan “unbaedah” itu, Baedah merasa diteror oleh makhluk halus. Cukup membuat saya merinding dan berdebar saat hantu itu akan muncul.

Selain film yang sudah saya tonton di atas, film pendek berbahasa Jawa yang banyak direkomendasikan di situs online antara lain Lemantun (2014), Natalan (2015), Anak Lanang (2006).

Ide cerita Lemantun bagus, hanya saja setelah bergulir agak kurang menggigit karena minim konflik. Natalan juga bagus, tetapi ada beberapa pertanyaan yang tak terjawab hingga ending bergulir. Anak Lanang kata teman saya bagus, buat saya kok bikin ngantuk pas ditonton hehe. Apalagi dengan teknik single shoot (kamera mengambil gambar secara berkelanjutan dari awal hingga selesai tanpa berganti sudut pandang).

Kembali lagi, ini soal selera sih. Film itu relatif. Apa yang bagus buat seseorang, belum tentu bagus juga menurut penilaian orang lain. Silakan menonton sendiri ya dan berikanlah penilaian. 🙂


6 respons untuk ‘Bu Tejo, Tilik dan Keseharian Kita

  1. ternyata pemeran bu tejo ini nggak cuman sekali main di film, belum sempet nonton tilik 😀
    padahal pemerannya udah wara wiri di TV

  2. Film ini bikin seketika kangen KKN di Kulonprogo dulu. Dulu nggk naik truk, tapi naik Colt L-300 di Menoreh. Membaur sama bapak-bapak ibu-ibu bersihin longsoran wkwk. tapi film ini juga bikin ngeh, kalau gibah itu dilakuin sama semua orang ya wkwkwk.

  3. Setelah nonton Tilik, akhirnya lanjut ke film² lain seperti Lemantun, Manuk, Singsot, Anak Lanang dan Natalan.

    Yang bikin suka adalah suasana kampung yang khas banget.

    Apalagi detail rumahnya, jadi keingat rumah dan ortu di Jawa.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s