Seribu Kisah dari Sumatera


Pakaian tradisional Suku Kerinci, Jambi

Sumatera, pulau di ujung barat Indonesia yang menyandang  sejuta nama dan julukan: titik 0 kilometer Indonesia, pulau emas, pulau Andalas, bumi Melayu, pulau terbesar keenam di dunia, pulau yang pertama kali menganut Islam, pulau dengan kerajaan nasional pertama.

Pulau dengan jumlah provinsi terbanyak ini nyatanya dihuni lebih dari 20% penduduk Indonesia. Dengan keanekaragaman suku, adat istiadat, agama dan kepercayaan membuat Sumatera memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain, misalnya sistem kekerabatan garis ibu (matrilinial) suku Minangkabau. 

Rupa-rupa cerita tentang Sumatera terangkum dalam sebuah buku antologi yang baru saja kelar saya baca. 

Tahun 2020 barangkali menjadi serba pertama untuk semua orang. Setelah semua drama di tahun 2020, di tahun ini, foto yang saya pajang di blog resmi diangkat ke dalam sebuah buku. Saya bukan menjadi penulis, melainkan “kontributor” sebuah tulisan yang dikompilasi menjadi sebuah antologi. Sebelumnya, saya harus merelakan foto-foto saya diambil paksa (di-copy paste tanpa izin) dari blog ke media online, surat kabar, brosur wisata Jambi bahkan buku.

Seorang guru IPS sebuah SMP di Jambi, Dayang Astuti menghubungi saya lewat pesan Facebook. Beliau menanyakan apakah saya mengizinkan foto saya yang ada di blog dipakai sebagai ilustrasi  buku yang akan ditulisnya. Pesan yang ibu guru Dayang kirim rupanya sudah berminggu-minggu masuk di kotak masuk Facebook tanpa saya ketahui karena saya jarang sekali membuka Facebook. Selanjutnya ibu guru Dayang berjanji akan mengirimi saya kopian bukunya jika sudah dicetak.

Meski ini bukan buku saya, semoga ini menjadi langkah pertama bisa menerbitkan buku sendiri. Amien.

Saya teringat pernah berencana menulis buku tentang Kerinci. Draft buku tersebut tak pernah saya selesaikan ditimpa pekerjaan di kantor yang tiada habisnya.

Minggu lalu, paket berisi buku ibu guru Dayang tiba di kantor di Rimbo Bujang. Saya minta bantuan kawan kantor untuk membawanya ke Muara Bungo.

Sampul buku tersebut legam dengan tulisan berwarna keemasan. Bergambar peta Sumatera dengan ornamen pucuk rebung khas Melayu di bagian bawah. Di dalam tulisan, jika diamati baik-baik ada pop art ikon empat provinsi: jembatan Ampera di Palembang, tugu Keris Siginjai di Jambi, rumah gadang istana Pagaruyuang dan patung penari Zapin di kota Pekanbaru.

Segores Pena Seribu Kisah, Jilid Kesatu. Buku ini menceritakan berbagai aspek baik geografi, sejarah,  sosial, wisata, seni dan budaya goresan pena dari sudut pandang seorang guru IPS (semuanya guru SMP) yang mana mereka  tergabung dalam Andalas Socius Writers. Klub literasi para guru IPS se-Sumatera di bawah naungan Forum Komunikasi Guru IPS Nasional organisasi PGRI.

Termasuk buku ini, total ada 3 jilid yang sudah terbit. Jilid pertama tentang Sumatera. Sedangkan buku jilid 2 dan 3 masing-masing mengangkat tema Jawa dan Kalimantan.

Di jilid pertama sebanyak 270 halaman ini, total ada 26 cerita berlatar 4 provinsi yang menjadi tempat mengabdi para guru tersebut: Sumatera Selatan (5 cerita), Jambi (12 cerita), Sumatera Barat (4 cerita) dan Riau (3 cerita). Dua tulisan lainnya adalah pendahuluan berupa pengenalan Sumatera dan ditutup dengan sejarah hubungan antara kerajaan Sunda Kuno  dengan kerajaan Sriwijaya.

Salut dengan bapak ibu guru yang meski sibuk mengajar jarak jauh di masa pandemi, tetap produktif meluangkan pemikiran dengan berkolaborasi menulis buku. Dicetak pertama kali pada Juni 2020, buku ini benar-benar “putra” sang pandemi.

“Membaca semua orang bisa. Berbicara semua orang bisa. Namun, kalau menulis hanya dilakukan oleh para pembelajar,” Ketua PGRI Dudung N. Koswara

Dari 26 tulisan dikurangi pendahuluan dan penutup, berikut beberapa tulisan yang menurut saya menarik untuk dibahas.

Pertama ada rendang unik dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat, namanya rendang lokan. Tidak seperti rendang pada umumnya yang dibuat dari daging, rendang lokan dibuat dari kerang. Menurut Wahyuningsih, guru SMPN 2 Painan yang menulis, rendang lokan menjadi menu wajib upacara adat di Pesisir Selatan. Dalam tulisan ini dijelaskan juga resep rendang lokan.

Meiliwita Malau, seorang guru di SMPN 2 Teluk Meranti, Riau bercerita tentang fenomena ombak bono di sungai Kampar, Kab. Pelalawan. Bono merupakan gelombang setinggi 6-10 meter yang terjadi pada bulan purnama, terutama bulan November dan Desember. Masyarakat meyakini bono terjadi karena munculnya hantu sungai berwujud tujuh kuda. Sementara para ahli menduga bono timbul karena pertemuan tiga arus dari sungai Kampar, laut China Selatan dan selat Melaka. Yang jelas, fenomena langka ini sekarang dijadikan festival rutin di Riau sebagai tempat wisata selancar.

Upacara adat Besale diceritakan dengan apik oleh  Rizki Mega Saputra dari SMPN Satu Atap Nyogan. Besale digelar oleh suku Anak Dalam di Kab. Muaro Jambi jika ada anggota keluarga yang sakit. Sidi (pawang) akan membaca mantra sambil menari memohon kesembuhan.


ibu suku Anak Dalam

Beralih ke Palembang, ada legenda asal usul penamaan sungai Musi yang diceritakan Triyanto dari SMPN 1 Palembang. Versi pertama menyebut dari nama sungai di India. Versi kedua dari kosakata Tionghoa Mu Ci yang bermakna ayam betina yang melambangkan keberuntungan/hoki.


jembatan Ampera di atas sungai Musi

Berikutnya suka duka Desriyenti, guru SMPN 1 Kota Jambi tatkala mendaki gunung Singgalang sangat menarik disimak. Gunung di perbatasan kabupaten Agam dan Tanah Datar ini ia daki saat bangku kuliah secara diam-diam tanpa izin orang tua. Perjalanan mendaki Singgalang ia ibaratkan perjalanan setahun karena dimulai sejak tanggal 31 Desember dan berakhir tanggal 1 Januari. Gunung Singgalang dikenal karena keindahan Telaga Dewi, bekas kawah purba dan hamparan edelweiss, bunga abadi penghuni Singgalang.


gunung Singgalang dilihat dari kota Bukittinggi

Ani Norita, guru SMPN 23 Muaro Jambi lebih tertarik berbicara tentang daerah tempat beliau mengajar, Sungai Gelam. Meski berada di pinggiran ibukota provinsi, Sungai Gelam dikenal karena masih banyak dijumpai si raja hutan, harimau Sumatera. Pembukaan lahan membuat sang raja hutan meneror warga. Hampir tiap minggu mobil ambulans membawa korban keganasan harimau, lewat depan sekolah. Desa ini dulunya terpencil. Dulunya jalan akses ke desa ini rusak parah, berlumpur saat hujan dan berdebu saat kemarau.

Kembali tentang kuliner tradisional, ada kue cepak kepung atau kembang durian dari Terusan. Yanty Susanty, guru sekaligus kepala SMPN 28 Batanghari melukiskan kue ini terbuat dari terigu dan tepung beras, berbentuk seperti mangkuk dan cekung di tengah, mirip bunga durian. Kue ini hanya dibuat warga desa saat Lebaran. Kue ini terdiri dari mangkuk ibarat akhlak manusia dan isinya adalah ilmu. Manusia harus mempunyai ilmu dan akhlak yang bagus, sebagaimana kue ini harus memiliki mangkuk yang kuat dan isian yang enak agar dapat dinikmati.

Berbeda dengan cerita sebelumnya, Dayang Astuti, guru SMP Islam Al Falah Kota Jambi lebih tertarik bercerita tentang perubahan sosial generasi muda Jambi. Beliau menyoroti perubahan alam di Jambi. Jambi yang dikaruniai alam luar biasa, ibarat gadis yang cantik, kini Jambi tak ubahnya kaleng penyok. Hutan habis dibabat, sungai tercemar, penambangan emas menyisakan danau bekas galian yang tak bisa digunakan lagi.

Di bidang sosial, kebiasaan anak-anak tahun 90-an mengaji di surau kini tak lagi dilakukan. Anak-anak generasi milenial sibuk main gawai. Menurut ibu guru Dayang, hal ini disebabkan dua faktor: kurangnya pemahaman nilai moral dan budaya serta kurang berperannya sekolah dalam hal membentuk pribadi remaja. Beliau menyarankan agar sejarah dan budaya lokal dimasukkan ke dalam mata pelajaran IPS.

Sejarah adalah guru kehidupan: Marcus Tullius Cicero


Foto saya sebagai ilustrasi artikel ibu Dayang, sayang domain blog saya typo 😀

Sedikit tentang ibu guru Dayang Astuti, dari hasil percakapan di WhatsApp. Ibu Dayang rupanya lahir di Langling, Bangko. Beliau cucu dari pasirah/raja terakhir kerajaan Dusun Mudo yang bubar karena dihapus oleh pemerintah sejak diberlakukannya undang undang pemerintahan desa sekitar tahun 1960-an. Pasirah sebagai pemimpin adat dan wilayah di desa dihapus, diganti menjadi kepala desa. 

Cerita lainnya, nenek ibu Dayang sempat bercerita adanya Tembo (silsilah) Dusun Mudo yang diserahkan kepada Museum Siginjai waktu museum ini hendak berdiri. Menurut tembo yang ditulis pada lembaran daun dan beraksara Arab Melayu ini, salah satu keturunan dari warga Dusun Mudo adalah dari sebangsa kera. Kera ini akan datang jika warga Dusun Mudo menggelar acara adat. Sayangnya, beberapa kali ke museum Siginjai, keberadaan tembo ini tak bisa dilacak.

Perkara dimana tembo ini pernah saya tanyakan ke bang Lukman yang pernah mendapat kesempatan menerjemahkan koleksi museum Siginjai. Saat ini saya sedang menunggu jawaban dari bang Lukman, yang mana kawan bang Lukman yang mendapat tugas menerjemahkan koleksi berbahasa Arab Melayu.

Saya penasaran dengan nama ibu Dayang. Setahu saya, dayang adalah panggilan anak gadis di Bangka-Belitung. Rupanya, kakek ibu Dayang mendapat inspirasi nama ini sewaktu tinggal di Tarempa, Anambas.

Kembali ke laptop tentang buku …

Cerita berikutnya tak kalah menyenangkan. Dian Diana dari SMPN 1 Cihampelas bertutur perjalanan menggapai atap Sumatera, gunung Kerinci. Saya pernah tinggal di Sungai Penuh, kota kecil berhawa sejuk di kaki gunung Kerinci. Seketika saya terbuai nostalgia keindahan alam Kerinci. Kota dengan sejuta kenangan.


Danau Kerinci, danau terluas di Jambi

Terakhir, ada sejarah masjid Asy Syuhada tulisan Yanty Susanty dari SMPN 28 Batanghari. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kab. Batanghari yang dibangun tahun 1918 dengan nama Masjid Imam Ahmad.

Tak ada gading yang tak retak. Pun dengan buku ini. Sedikit banyak saya menemukan typo di beberapa tulisan. Penggunaan titik koma, ejaan yang kurang baku. Waktu saya cek di halaman depan, saya tak menemukan editor yang menyunting seluruh tulisan. Akhirnya bisa dipahami jika setiap penulis juga berperan ganda sebagai penyedia foto ilustrasi dan editor.

Dari segi penceritaan ada yang dituturkan bertele-tele sehingga membosankan, agak kaku, ada yang terkesan sekedar copy paste dan kurangnya pengalaman indera penulis yang dituangkan ke dalam buku.

Bisa dimaklumi menulis memang tak semudah berbicara atau mengajar di depan kelas. Meski demikian, hormat untuk seluruh guru yang telah mencurahkan segala perhatian demi terciptanya buku ini.


10 respons untuk ‘Seribu Kisah dari Sumatera

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s