Rapid Test, Normal Baru di Kala Pandemi

Yeay, akhirnya sudah boleh mudik! ๐Ÿ˜€ Setelah mengalami lebaran Idul Fitri dengan segala drama di tanah rantau, akhirnya saya punya kesempatan merayakan Idul Adha di kampung.

Selain tiket pesawat dan kartu identitas, hal yang wajib dipersiapkan calon penumpang pesawat saat traveling di masa pandemi adalah aplikasi e-Hac (Health Alert Card) dan surat kesehatan hasil Rapid Test atau Swab (Test PCR) Covid-19.

Jika awalnya Rapid Test mempunyai masa berlaku tiga hari dan Swab berlaku tujuh hari, kini baik Rapid dan Swab masing-masing berlaku empat belas hari sejak tanggal pemeriksaan.

Jika Swab yang diambil adalah cairan hidung atau tenggorokan, maka Rapid Test menggunakan darah sebagai pengujian seseorang terkena virus Corona atau tidak. Di luar hasil rapid test yang masih diperdebatkan keakuratannya, karena cara pengambilan sampel yang lebih mudah dan hasil yang lebih cepat diketahui (namanya juga rapid), harganya juga lebih terjangkau. Itulah kenapa lebih banyak orang mengambil Rapid ketimbang Swab jika hendak bepergian.

Sesuai aturan menteri, tarif rapid paling tinggi Rp 150.000,-. Namun, dua hari jelang keberangkatan, tarif rapid di Muara Bungo masih di atas Rp 300.000,- semua (tanggal 15 Juli). Dari tiga rumah sakit dan apotik Kimia Farma, paling murah di RSUD yaitu Rp 315.000,- (rapidย  dan suratnya). Saya berfikir untuk mengambil rapid di Jambi saja. Bandara Muara Bungo masih belum beroperasi sehingga saya harus pulang kampung lewat Jambi.

Informasi dari teman saya , rapid test di bandara Jambi hanya Rp 150.000,- Namun, antriannya sangat mengular. Alternatif lain, klinik Liza di dekat bandara melayani rapid seharga Rp 175.000,- saja. Kalau gitu saya mau ambil rapid di bandara. Saat itu belum ada pihak ketiga yang ditunjuk maskapai singa merah sebagai mitra rapid. Padahal kalau beli voucher rapid di maskapai tersebut lebih murah, hanya Rp 95.000,-. Voucher ini bisa dibeli di bagian Customer Service di bandara.

Sehari sebelum naik pesawat saya berangkat ke Jambi.ย  Tiba di Jambi, saya minta diantar sopir travel ke bandara. Area untuk rapid berada di selasar depan dekat keberangkatan. Gembira rasanya melihat tempat rapid yang dikelola Kimia Farma tampak sepi, tak ada antrian sama sekali. Sialnya, rupanya tes rapid sudah ditutup jam dua siang tadi atau 30 menit sebelum saya datang. Saya mencoba untuk melobi ke petugas. Sayanya tak berhasil karena kata petugas jumlah rapid kit yang mereka sediakan terbatas dan sudah habis terpakai. Tes rapid sendiri dilayani di bandara sejak jam 8 pagi.

Info dari petugas, saya diminta menuju klinik Liza di Talang Bakung, dekat Puskesmas Talang Bakung. Saya cek di maps jaraknya 1,5 kilometer dari bandara. Karena tidak ada ojek online di dalam maupun di luar bandara, saya naik ojek pangkalan dekat bundaran. Saya dipaksa membayar Rp 20.000,- dan saya hanya mau membayar Rp 15.000,- dari perkiraan saya Rp 10.000,-. Inipun sudah termasuk mahal karena di Muara Bungo tarifnya hanya Rp 5.000,-.

Tiba di klinik, usai mendaftar dan meninggalkan KTP asli (saya pakai paspor karena KTP asli sedang dalam perpanjangan), saya menunggu dipanggil untuk ke lab. Tes ini mirip dengan tes gula darah. Jari tangan ditusuk alat menyerupai pena yang di ujungnya terdapat jarum sehingga mengeluarkan tetesan darah. Darah yang keluar ditampung di alat menyerupai tes kehamilan. Setelah diambil darah, saya harus menunggu lagi sekitar 30 menit. Usai membayar Rp 175.000,- saya diberikan hasil test lab, surat clearance kesehatan, surat keterangan (dua lembar) dan rapid kit bertanda satu garis. Alhamdulillah saya negatif/nonreaktif.

ย 
berkas-berkas dari klinik dan rapid kit

Klinik Liza Medika, Talang Banjar, Jambiย 

Setelah punya rapid test, jangan lupa mengisi e-Hac (https://inahac.kemkes.go.id/home/landing) atau unduh di Play Store. Setelah mendaftar, calon penumpang wajib mengisi data pribadi termasuk NIK dan no.hp, data perjalanan (daerah asal, daerah tujuan, hingga no. pesawat dan no. kursi). Setelah mengisi semua data, simpan dan unduh berkas dalam bentuk PDF. Berkas PDF dengan barcode ini akan diperiksa sebelum check in dan akan dicek lagi di bandara tujuan. E-Hac ini tidak perlu dicetak.

Jika biasanya sebelum pandemi penumpang bisa datang sejam sebelum check in ditutup, selama pandemi penumpang diminta datang dua jam sebelum pesawat take off. Hal ini untuk untuk mengantisipasi panjangnya antrian sebelum check in.

Benar saja, belum jam 6 pagi antrian di selasar kedatangan sudah panjang. Untung saya berangkat ke bandara pagi-pagi sehingga cukup waktu untuk dicek e-Hac, check in hingga menunggu pesawat.

Sebelum check in, penumpang akan dicek membawa masker apa tidak, suhu tubuh, surat hasil rapid/swab dan aplikasi e-Hac oleh petugas KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan). Surat hasil rapid setelah diperiksa, distempel lalu dikembalikan ke penumpang. Saya masih menjumpai beberapa penumpang yang belum mengisi e-Hac. Petugas justru menyuruh penumpang mengunduh e-Hac. Entah kenapa petugas tidak menyuruh mengisi e-Hac di web, padahal lebih simpel dan tidak memakan waktu lama.

Di Jakarta, tidak ada pengecekan lagi baik masker, suhu tubuh, rapid maupun e-Hac. Saya langsung menuju ke terminal transit. Tiba di bandara Semarang, penumpang yang ketahuan belum mengisi e-Hac “ditahan” oleh petugas KKP sebelum mereka mengisi e-Hac. Sebenarnya kasihan dengan penumpang lansia yang masih kebingungan bagaimana mengisi e-Hac, sementara petugas KKP jumlahnya tidak terlalu banyak.

Data e-Hac ini bisa dilihat oleh dinas kesehatan tujuan. Nyatanya, hingga saya pulang dan kembali ke Jambi, saya tidak pernah sekalipun dihubungi baik oleh puskesmas atau dinas kesehatan.

Balik ke Jambi, saya harus mengurus rapid lagi karena saya di kampung lebih dari 14 hari. Saya berencana naik pesawat dari Solo dengan transit di Jakarta.

Pakdhe Muhtar, keluarga dari bapak yang juga dokter membuka layanan rapid di tempat praktiknya. Harganya hanya Rp 150.000,- termasuk suratnya. Berangkatlah kami ke Solo. Hasil rapid keluar setelah 20 menit. Dikarenakan pakdhe yang menjabat sebagai kepala klinik sedang tidak di tempat, surat baru bisa diambil sore. Jika di klinik Liza darah saya diambil sekali, di sini darah saya diambil dua kali untuk tes IgM dan IgG (komponen rapid test) secara terpisah. Katanya lebih akurat ketimbang yang sekali tes.

Klinik Barokah
Jl. Dr. Rajiman No. 66 Pajang, Solo (sebelah timur Tugu Lilin)


Di bandara Adi Soemarmo Solo, penumpang yang akan check in juga dicek masker, suhu, rapid test dan e-Hac oleh petugas KKP. Bedanya, saya harus mengambil nomor antrian. Petugas yang merupakan anggota TNI akan memanggil nomor antrian.

Sehari setelah tiba di Muara Bungo, saya dihubungi petugas puskemas Rimbo Bujang untuk melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Saya salah isi e-Hac. Harusnya saya isi tujuan saya adalah Muara Bungo (alamat kontrakan), bukan Rimbo Bujang (alamat kantor). Saat ini saya sedang menjalani isolasi mandiri di rumah kontrakan di Muara Bungo. Dari dua kali rapid test pada tanggal 28 Juli dan 10 Agustus yang diadakan oleh kantor, alhamdulillah keduanya nonreaktif.

Belakangan, muncul rencana kalau rapid / swab sebagai syarat naik pesawat akan dihapuskan. Salah satu alasannya karena merepotkan penumpang dari segi biaya. Menurut kalian bagaimana?ย 


19 respons untuk โ€˜Rapid Test, Normal Baru di Kala Pandemiโ€™

      1. Sehat mas. Iya, untungnya ga jadi cluster. Karena tertular di luar kantor.
        Aku pun tetep sehari2 hanya otw. kantor-kostan. Tp kalo temen kantor yg udh bebas kemana-mana ya jadi takut jg ๐Ÿ™

  1. Ya mending dihapuskan. Menimbulkan antrian, ribet, mahal, tidak akurat… Kalau bisa diganti dengan yang lebih akurat, cepet, tidak ribet dan murah… Gimana caranya? Pakai metode apa? ya gak tau saya.. ๐Ÿ˜€

  2. hmm sebenernya yang aku perhatiin itu lebih ke surat rapid tes yang berlaku 14 hari. Padahal mungkin aja kan ya diantara 14 hari itu tiba-tiba ketemu sama orang yang positif covid, jadi hasil tesnya jadi ga berlaku lagi.

    1. Oh, itu metode serologi yah ๐Ÿ™‚ Lebih akurat kah?

      Aku yg rapid massal di kantor pake ditusuk nadi di lengan dan hasilnya baru keluar besok. Itu 2x. Kalo yg rapid di klinik biasa pake jarum di jari dan 20 menit langsung keluar. Itu juga 2x aku Ar, jadi total udah 4x hehe. Awalnya ngeri sih, lama-lama jadi biasa

          1. Aku udah coba CLM, selalu hasilnya tidak aman mas wkwk. Soale semua daerah di Jkt kan red zone

            Tp naik angkutan bis dll nggk perlu mas.
            Kereta juga keknya udah nggk perlu clm mas

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s