Berburu Sunset: Jembatan Tanjung Menanti

Tanjung Menanti, nama sebuah dusun (desa) yang terletak di pinggiran kota Muara Bungo menuju ke arah Jambi.

Desa ini dikenal dengan jembatan Tanjung Menanti, jembatan megah berbentuk busur panah yang berdiri di atas sungai Batang Tebo. Dengan adanya jembatan ini, bagi warga Muara Bungo yang hendak ke Jambi maupun Muara Tebo tak perlu jauh memutar melintasi Jalan Lintas Sumatera. 

Di sisi jembatan arah ke Perumnas banyak ditemukan lapak penjual jagung bakar dan jagung rebus yang ramai di kala sore hari.

Jambi yang daerahnya di pantai timur Sumatera tak memiliki pantai yang cukup bagus untuk melihat matahari terbenam. Di Muara Bungo, Tanjung Menanti menjadi salah satu lokasi favorit penikmat senja. Baik dari atas jembatan, maupun dari taman Babusek Ayek yang berada di bawah jembatan. Tepatnya di seberang perkampungan dusun Tanjung Menanti.

Saya pernah ke Tanjung Menanti untuk melihat matahari terbenam, tetapi sayang waktu itu kabut asap cukup menghalangi pandangan.

Minggu lalu, terdengar berita penemuan jenazah korban tenggelam di sungai Batang Tebo di Tanjung Menanti.

Kali ini, mumpung cuaca cerah saya ingin pergi kesana. Mudah-mudahan semesta mendukung. Saya tak akan menuju sisi bawah jembatan tempat ditemukannya jenazah, tetapi berhenti di atas jembatan.

Dari rumah saya lewat Perumnas Cadika, belok kiri ke arah bandara. Tiba di bundaran Tanjung Menanti belok kiri lagi, terus ikuti jalan hingga tiba di jembatan Tanjung Menanti. Cukup ramai warga yang berhenti di atas jembatan sekedar berfoto, makan jagung sambil melihat matahari terbenam. Tak ada tempat parkir, semua kendaraan diparkir di sisi kiri dan kanan bahu jalan. 

Tak hanya warga lokal Muara Bungo, jika melihat plat nomor kendaraan bisa diketahui beberapa pengunjung dari kabupaten tetangga.


Jembatan Tanjung Menanti, warna kuning dan hijau mendominasi. Kedua warna ini merupakan warna identitas Kab. Bungo.


Sudut lain


baut raksasa


prasasti peresmian yang berada di sisi arah ke Jambi.

Dari prasasti di ujung jembatan, jembatan ini hanya dinamai menurut nama sungai dan nama dusun. Padahal, jembatan semegah ini cukup layak jika diberi nama pahlawan daerah Bungo misalnya Haji Hanafie, Lebai Hasan atau siapapun.


ABG Muara Bungo

Jembatan Tanjung Menanti bukanlah tempat wisata yang dikelola pemerintah atau warga. Tak adanya fasilitas tempat sampah membuat pedagang seenaknya membuang sampah sisa berdagang seenaknya. Geram melihat pedagang es tebu membuang sampah  begitu saja di atas jembatan.


sisi kiri jembatan, sungai Batang Tebo

Dari atas jembatan tampak aktivitas warga desa. Memancing atau sekedar melewati sungai naik perahu sampan. Sisi kiri dan kanan di tepi sungai ke arah hilir tampak rapat dengan kebun karet. 


memancing ikan, tanpa takut longsor


jalan tanah menuju perkampungan

Dan saat yang dinanti tiba. Matahari perlahan turun, langit merona jingga kemerahan, lukisan karya Yang Maha Kuasa ada di depan mata. Semua orang mengeluarkan kamera dan sibuk mengabadikan momen indah ini.

Hampir gelap, lampu LED di badan jembatan berwarna merah dan putih menyala. Tak terlalu banyak dan berkesan seadanya. 

Pulangnya, saya lurus menuju ke simpang arah Muara Tebo, lantas belok kiri menuju Simpang Jambi, terus ke Jalan Lintas Tengah Sumatera.

Di perbatasan Tanjung Menanti dengan Kelurahan Manggis, saya masih diberi momen ketika hari berganti dari terang menuju gelap. Masyaalloh.

10 Comments Add yours

  1. ainunisnaeni berkata:

    cantik view sunsetnya
    waduhhh kok bisa ya buang mayat kesana, ckckck
    sini yang liat orang mancing juga jadi mikir kok ya bisa mancing disana, padahal bisa aja tanah yang dia pijak tiba tiba longsor . ngeri juga

    1. Avant Garde berkata:

      bukan mayat dibuang mba, tp orang yg gak bisa berenang terus hanyut…
      kayaknya warga +62 santuy banget ya hehe

  2. bersapedahan berkata:

    suasana sunset selalu syahdu dan enak untuk dinimkati …. apalagi ada latar jembatan dan sungai … wah makin asyikkk

    1. Avant Garde berkata:

      Betul sekali mas 🙂

  3. Uchi berkata:

    ooh ini ada jembatan kuning juga ternyata, hihi. Bagiku sunset dan sunrise selalu indah dari sudut manapun

    1. Avant Garde berkata:

      Hehehe… aku juga suka liat sunset dimanapun ci….

  4. Ikhwan berkata:

    Ditaro begitu doang ya ampas tebunya :))) Tapi untungnya ampas tebu terhitung sampah alami yang mudah terurai alam ya, jadi ga kesal-kesal amat ketimbang penjualnya ninggalin bungkus plastik hehe.

    1. Avant Garde berkata:

      Agak heran juga sih, nanggung hehehe… Mungkin mau dibuang di sungai tapi malas 🙂

  5. Ira berkata:

    sunsetnya cantik sekali Mas isnaaa

    1. Avant Garde berkata:

      Aha, iya Ra… cakep…

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s