Kopi Jambi, Kopi Tempo Doeloe

Zaman terus berganti. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada juga yang tetap masih bertahan dengan cara-cara lama. Salah satunya kedai kopi.

Jam 10 pagi, ketika saya masih asyik bersebelubung selimut, pintu kosan saya diketuk agak keras. Rupanya boss saya. Boss saya perlu air untuk mendinginkan karburator mobilnya. Agak terkejut melihat kedatangan boss saya yang cukup mendadak ketika saya sedang tidak tugas piket di kantor sehubungan dengan pandemi.

Boss saya ingin mengajak saya ngopi di luar sembari ada barang keperluan kantor yang hendak dibeli di Muata Bungo. Saya minta ijin untuk mandi dan bersiap-siap. Work from home membuat sebagian orang malas mandi pagi hehehe.

Saya pikir boss saya mau ngopi di Kafeinisme, Jingga Coffee atau Umah Kopi. Mobil meluncur pelan melewati air mancur Pasar Bawah, lewat Country Seafood dan berhenti di seberang ruko mie pangsit Aroma.


deretan ruko tua di Pasar Bawah

Kopi Jambi, kedai kopi jadul rupanya yang dituju. Berlokasi di kompleks Toko Panjang, kawasan Pecinan di Muara Bungo.

Sesuai namanya, toko ini memang memanjang ke samping. Ada sekitar empat ruko di deretan toko ini. Pertama toko fotokopi “Express”. Di sebelahnya toko kopi “Panjang” dan martabak Malabar “Hidayah” dan paling ujung adalah “Kopi Jambi”.

Toko Panjang salah satu ruko tertua di Muara Bungo. Ia dibangun oleh Loi Si Phau pada tahun 1940 sebagai kedai kopi pertama di Muara Bungo. Pada masa kolonial, pusat kota Muara Bungo berada di sekitaran Taman Pusparagam (lapangan Semagor). Pasar Bungur (Pasar Atas) dan jalan lintas tengah Sumatera belum ada saat itu.

Lihat Juga: Jejak Perantau Tionghoa di Kota Tua Muara Bungo

Seiring dengan pesatnya perdagangan hasil karet di Muara Bungo, serta dijadikannya Muara Bungo sebagai pusat Onder-afdeeling Muara Bungo oleh Belanda, membuat kota ini semakin ramai. Kesempatan ini membuat orang-orang termasuk pedagang asal Tionghoa untuk berniaga. 

Kedai kopi menjadi tempat berkumpul menikmati kopi di pagi hari di masa itu. Baik orang Melayu, Minang maupun Tionghoa berkumpul jadi satu di kedai kopi menjadikan harmoni.


bundaran tugu Kelapa Sawit dan Karet, Pasar Bawah

Setelah Indonesia merdeka, mulai banyak kedai kopi di Muara Bungo. Misalnya Kopi Bunga di Jalan H. Hanafie yang buka sejak tahun 1950 dan masih digemari kalangan tua hingga saat ini.

Kini kopi Panjang tak seramai dulu. Menurut informasi yang saya dapat, sejak pemiliknya meninggal, anak-anak sang pemilik tak terlalu serius menggeluti bisnis kopi. Ditambah kini ada belasan kedai kopi kekinian yang lebih diminati generasi muda.

Meski demikian, bukan berarti kedai kopi jadul ditinggalkan. Kopi Jambi salah satunya. Generasi lawas masih belum move on dari kedai kopi yang sudah ada sejak tahun 1970-an ini. 

Kopi Jambi terletak bersebelahan dengan Kopi Panjang. Interior jadul terasa di indera, termasuk meja bulat marmer putih di antara deretan meja dan kursi dari plastik berwarna merah.  

Saya menemukan papan alamat yang dibuat pada masa Kab. Dati II Bungo-Tebo, sebelum kini menjadi Kab. Bungo.

Saya tanya kepada seorang pembuat kopi. Kenapa namanya Kopi Jambi. Sederhana saja, karena sang pemilik asli Jambi.

Kopi hitam atau kopi o, menjadi menu yang sering dipesan pengunjung. Ditemani dengan kue-kue manis seperti lepek pisang (nagasari), serabi dan cakue. Menu berat yang  tersedia sepertinya mie goreng, nasi goreng, lontong, dan nasi gemuk.

Saya  tak menyukai kopi hitam. Saya memilih milo es saja. Aduh, terlalu banyak susu, terlalu manis sampai mbedhedeg. Lain kali saya akan minta milo saja, tanpa susu.


kabin pembuatan kopi 


akses menuju jalan Kamboja (jalan Merdeka). 

6 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    kedai kopi jadul begini sekarang malah jadi makin digemari … klasik katanya .. haha

    1. Avant Garde berkata:

      Buat generasi baby boomers ini masih jadi tempt nongkrong favorit mas hihi

  2. Ikhwan berkata:

    Selalu suka ruko-ruko tua seperti di foto pertama dan kedua. Semoga bisa terawat dan ga ujug-ujug direnovasi jadi gedung modern hehe.

    1. Avant Garde berkata:

      Sama bang, saya suka penikmat ruko-ruko lama hehehe.. Sepertinya untuk beberapa tahun ke depan masih aman sih 🙂

      1. Ikhwan berkata:

        Wah baguslah, sayang amat kalo dirubuhin hehe.

        1. Avant Garde berkata:

          Beberapa ruko masih bertahan dengan gaya jadul, sementara yg generasi now lebih memilih merubuhkan rukop ortunya dan membuat ruko beton da

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s