Peguron Kaprabonan dan Keraton Kacirebonan

Saya pikir hanya ada dua keraton di Cirebon: Kasepuhan dan Kanoman. Kota kecil di pesisir Jawa Barat ini rupanya memiliki tiga keraton dan satu perguruan. Cukup “mengenyangkan” bagi para peminat sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara.

Habis dari Keraton Kanoman, kami sebenarnya mengunjungi Kaprabonan terlebih dulu. Dilanjutkan dengan Keraton Kasepuhan, makan nasi jamblang khas Cirebon dan terakhir menuju Keraton Kacirebonan.

Kaprabonan

Mbak Candy, teman saya yang asli orang Cirebon tak paham dimana letak Keraton Keprabonan. Pun ia tak pernah mendengar nama keraton ini sebelumnya. Setelah bertanya kepada seorang pedagang di Pasar Kanoman, diperoleh informasi bahwa Keraton Kaprabonan berlokasi di kawasan Lemahwungkuk, tidak jauh dari Pasar Kanoman.

Saya menjumpai sebuah gerbang kecil bertuliskan Kaprabonan. Dikepung deretan ruko, terdapat sebuah gang yang tidak terlalu lebar. 

 

Di ujung gang terdapat gapura kecil berwarna merah muda dengan tulisan Kaprabonan. Lambang Kaprabonan berupa sepasang sayap berwarna keemasan.

Di balik gapura kecil itu terdapat garasi dengan sebuah mobil terparkir dan mushola.  Di sebelah kanan terdapat rumah bergaya lawas dengan pintu, atap dan jendela berwarna hijau dengan papan nama Ratumas Herni. Di antara mushola dan rumah terdapat halaman kecil dan taman di dinding, relief dan patung berwujud dua ekor singa, lambang kebesaran keraton-keraton di Cirebon.

Di belakang rumah terdapat gapura ketiga dengan ornamen udang di sisi kiri dan kanan. Namun, saya ragu hendak melangkah maju. Tidak ada pengunjung sama sekali, maupun orang yang bisa ditanyai. Saya balik kanan.

Menurut informasi, Kaprabonan  bukanlah keraton seperti Kasepuhan dan Kanoman, melainkan sebuah peguron (perguruan).

Episentrum kegiatan kebudayaan di Kaprabonan bukan pada bangunan menyerupai rumah di sebelah kanan, melainkan langgar agung (mushola) yang berwarna merah muda.

Peguron Kaprabonan didirikan pada tahun 1734 oleh Pangeran Raja Adipati (PRA) Kaprabon dari Keraton Kanoman. Kesalahan dibuat oleh pemerintah Jepang yang menyebut Kaprabonan sebagai keraton otonom. Namun, hingga saat ini baik pihak dari Keraton Kasepuhan dan Keraton Keprabonan tak pernah mengakui legalitas Kaprabonan sebagai keraton.

Saat ini Kaprabonan dipimpin oleh Pangeran Hempi yang memimpin sejak tahun 2001.

Keraton Kacirebonan

Dibandingkan dengan Kasepuhan dan Kanoman yang sejak awal terbentuknya ditetapkan sebagai kerajaan otonom dengan wilayah kekuasaan dan sultan sebagai pemimpin, Kacirebonan awalnya hanya sebuah perguruan sebagaimana Kaprabonan yang berhak atas kepustakaan keraton. Pemimpinnya bukan sultan, melainkan bergelar Pangeran atau Panembahan.

Titik balik Kacirebonan sebagai sebuah keraton dimulai sejak 13 Maret 1808 sejak Pangeran Raja Kanoman naik tahta menjadi Sultan Kacirebonan I dengan gelar Sultan Amirul Mukminin Muhammad Khairuddin II. Dengan demikian, Kacirebonan merupakan pecahan dari keraton Kanoman. Meski sudah berdiri sejak 1808, sang sultan baru pindah ke keraton sendiri sejak tahun 1814. Lucunya, meski sudah memiliki keraton sendiri, Kacirebonan tetap  tidak memiliki wilayah kekuasaan sebagaimana keraton Kasepuhan atau Kanoman.

Berbeda dengan keraton lainnya, Kacirebonan memiliki lambang dengan tiga ikan yang memiliki satu kepala. Tiga ikan melambangkan tiga pola kepemimpinan yaitu silih asah, silih asuh, silih asih.

Keraton Kacirebonan ini lebih kecil dari Kasepuhan maupun Kanoman, pun lebih sepi. 

Alun-alun Keraton Kacirebonan tidak terlalu luas. Seorang pengemudi becak terlelap menunggu penumpang.

 

Terdapat dua gerbang untuk masuk ke Keraton Kacirebonan. Paling luar adalah Lawang Kahagung dan di dalamnya Lawang Paduraksa Selamatangkep, pintu gerbang utama untuk tamu penting keraton. Saya dan pengunjung lain  masuk lewat pintu samping yang juga dipakai sebagai akses keluar masuk keluarga kerajaan dan abdi dalem.


Lawang Kahagung

Di sebelah kanan dinding gapura Lawang Kahagung terdapat prasasti berhuruf Jawa dengan pintu gapura bermotif Megamendung. Tak jelas apa isi prasasti ini.

Paseban atau yang bernama Pancaniti atau Pancaratna merupakan bangunan sebagai tempat tunggu tamu sebelum untuk menemui sultan. Paseban kini menjadi tempat penyimpanan kereta kencana  keraton yang lebih sederhana daripada kereta Singa Barong atau Paksi Naga Liman.

Prabayaksa merupakan pendopo dan beranda tempat menggelar upacara keraton. Sebagaimana keraton lainnya, warna hijau mendominasi bangunan keraton. Mulai dari pintu, jendela, kayu hingga karpet.

Tak terlalu banyak pengunjung di Keraton Kacirebonan saat itu. Tidak seperti di keraton lain, setiap pengunjung wajib ditemani seorang pemandu untuk berkeliling.

Di salah satu dinding Prabayaksa, terdapat foto pernikahan kerabat keraton dan foto layonan (upacara pemakaman) Sultan Kacirebonan tahun 1931.

Gedong Jimat yang berada di sayap barat Prabayaksa berfungsi sebagai museum yang menyimpan pusaka keraton, senjata, kitab kuno, perlengkapan upacara Panjang Jimat dan tempat penyimpanan cenderamata dari kerajaan se-Nusantara.

 

Dari beberapa koleksi keraton, pedang pemberian dari Raja Belanda William merupakan salah satu koleksi utama keraton.


perlengkapan makan untuk upacara Panjang Jimat

Panjang Jimat atau Pelal merupakan upacara pembagian makanan dari sultan kepada keluarga kerajaan, abdi dalem dan rakyat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tanggal 12 Rabiul Awal.

Ruang tengah yang berada di belakang Prabayaksa merupakan tempat singgasana sultan dan permaisuri keraton Kacirebonan. Kunjungan berhenti sampai di sini.

Pangeran Kacirebonan mengenakan tutup kepala bergaya Cireboan. Permaisuri mengenakan sanggul bergaya Cirebonan tanpa sunggar sebagaimana sanggul gaya Surakarta.


Pangeran Abdul Gani Natadiningrat dan permaisuri


koleksi batik Cirebon yang ditata seadanya

Bangunan lain di Keraton Kacirebonan  yaitu Gedong Ijo yaitu dapur, Pringgawati atau Keputren tempat tinggal putri sultan, Keputran kediaman putra sultan dan di paling belakang ada pendopo Pungkursari, yakni tempat latihan tari. Saat ini Keputren dan Keputran berfungsi sebagai kediaman keluarga keraton.

Kesan setelah berkeliling Keraton Kacirebonan yaitu tempat ini lebih sepi, lebih bersih tetapi koleksinya juga tidak sebanyak di Keraton Kasepuhan dan Keraron Kanoman.

8 Comments Add yours

  1. ainunisnaeni berkata:

    aku salfok sama bapak tukang becaknya, demi rejeki sampai ngantuk begitu, apalagi keraton ini sepi pengunjung.
    jadi inget kalo explore daerah jogya yang hampir sama ambience nya kayak solo atau mungkin cirebon, dengan keliling naik becak begitu.
    saking sepinya tempat ini, seandainya pas aku ke sana jangan jangan hanya aku aja pengunjungnya

    1. Avant Garde berkata:

      Kacirebonan ini lebih sepi, jadi memang lebih nyaman mba, tp tetep gak dibolehin eksplor sendiri, harus pake guide

  2. Faisal berkata:

    Saya cuma tahu makam sunan Gunung Jati kalau Cirebon.

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih sudah berkunjung 🙂

  3. bersapedahan berkata:

    meskipun tidak sebesar keraton lainnya, Keraton Kacirebonan ini bagi saya menarik …. bersih resik … asyik untuk di explore … apalagi tidak ramai …. 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, monggo dikunjungi kalo ke Cirebon 🙂

  4. Sukman Ibrahim berkata:

    Saya jadi ingat, mayoritas warga di kampung saya (termasuk keluarga saya) belajar ngajinya di sini. Om saya bahkan pernah nyantri puluhan tahun di Pengguron Cirebon. Sampai saat ini, beberapa dari kami masih kerap berkunjung ke sana. Hanya saja, saya belum pernah ke Pengguron ini Mas?

    Semoga suatu saat bisa ke sana…
    Salam…

    1. Avant Garde berkata:

      Amien mas Sukman, semoga setelah pandemi selesai bisa singgah ke Cirebon yah 🙂 Lebih dekat kalau dari Purbalinggadaripada dari rumah saya mas hehe hehe…

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s