Keraton Kasepuhan Cirebon

Bagi saya Cirebon adalah sebuah median. Ia terletak di tengah-tengah antara Jakarta dan Semarang tatkala saya sering naik kereta waktu saya kuliah di Jakarta dulu. Cirebon juga stasiun persimpangan ke jalur selatan menuju Purwokerto, Yogyakarta dan Solo.

Pusat pemerintahan Jawa Barat ada di Bandung. Namun, denyut nadi budaya Jawa Barat ada di Cirebon dan Banten (sebelum memisahkan diri menjadi provinsi sendiri). 

Secara budaya, Cirebon merupakan caruban (campuran) budaya Jawa, Sunda, Arab dan Tionghoa menghasilkan budaya baru yaitu Cirebon.

Perjalanan ke Cirebon ini kami lakukan di tahun 2015, lima tahun silam dalam rangka menghadiri pernikahan seorang kawan di Bandung. Hanya saya tulis sekilas lalu. Mohon maaf kalau baru saya tulis sekarang. Sangat mungkin sekali sudah terjadi perubahan disana.

Tujuan utama saya adalah Keraton Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan dan Keprabonan. Benar, di kota kecil Cirebon ada empat keraton yang semuanya berakar dari satu keraton: Keraton Cirebon.

 

Keraton Kasepuhan awalnya bernama Keraton Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1430 (lebih tua dari kesultanan Mataram di Yogyakarta ataupun Surakarta). 

Pakungwati sendiri merupakan nama istri Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, sultan pertama Kesultanan Cirebon yang bertahta mulai dari tahun 1479-1568 Masehi. Sunan Gunung Jati merupakan putra dari Nyimas Rarasantang yang merupakan putri dari Raja Siliwangi.

Nama kesultanan Cirebon hanya bertahan hingga 1679 dikarenakan konflik internal keraton.

Oleh Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten, Kesultanan Cirebon dibagi menjadi tiga yaitu Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan.

Keraton Kasepuhan (eks keraton Cirebon) diserahkan kepada Pangeran Syamsudin Martawidjaja dan menjadi Sultan Sepuh I dengan gelar Sultan Raja Syamsudin Martawidjaja. Keraton Kanoman diserahkan kepada Pangeran Kartawijaya dan menjadi Sultan Anom I dengan gelar Sultan Anom Muhammad Badrudin.

Kacirebonan bukanlah keraton yang memiliki wilayah kekuasaan otonom. Namun, merupakan sebuah perguruan (peguron) dimana meski penerusnya bergelar sultan, hanya berhak atas kepustakaan keraton. Sultan Kacirebonan I adalah Pangeran Wangsakerta yang bergelar Panembahan Cirebon atau Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau juga disebut Panembahan Tohpati.  

Tiket masuk ke keraton yaitu Rp 20.000,- perorang untuk dewasa dan Rp 15.000,- untuk anak (2015). Begitu membayar tiket, saya diberi tiket dengan barcode. Tiket itu nanti cukup ditempel di pintu masuk, sehingga pintu akan membuka secara otomatis. Keren. Ketika saya datang, ada rombongan anak-anak pengajian di dalam keraton dan mereka didampingi pemandu dari keraton. Jiwa gratisan saya menuntun untuk dekat dengan mereka agar bisa mendapatkan info menarik mengenai bagian-bagian keraton.

Bangunan keraton Kasepuhan memiliki beberapa kesamaan dengan keraton Solo, yakni memiliki sitinggil yaitu bangunan yang letaknya lebih tinggi dibandingkan tempat sekitarnya. Ciri khas yang mencolok dari keraton Kasepuhan adalah bentuk gapura candi bentar yang merupakan ciri arsitektur Hindu dan banyak sekali ditempelkan keramik berupa piring-piring dari Tiongkok dan Eropa.


selokan pembatas keraton Kasepuhan Cirebon

Sitinggil keraton Kasepuhan dengan gapura menyerupai candi Bentar dengan dominasi bata merah dan keramik dari Tiongkok. Terasa sekali pengaruh Hindu.


lingga dan yoni


keramik naga


Mande Karesmen
, tempat penampilan gamelan keraton. Di tempat ini dimainkan gamelan Sekaten yang hanya dimainkan pada saat perayaan Idul Fitri dan Idul Adha


Buk Bacem, pintu menuju kediaman pangeran dan putri sultan


petilasan Keraton Pakungwati


pedati gede


sumur keramat Keraton Pakungwati, airnya dibotolkan dan dijual kepada pengunjung 


atap Sri Manganti, bangunan beratap joglo sebagai tempat menunggu keputusan raja


taman Dewandaru, area utama keraton Kasepuhan


Kutagara Wadasan, gerbang bangunan utama keraton dengan mahkota berupa awan. Motif batik legendaris Megamendung diambil dari model gapura ini

 

Barang-barang peninggalan sultan terdahulu sekarang disimpan di museum keraton. Ada dua museum yakni museum kereta kencana dan museum pusaka keraton. Sayang sekali, tidak terlalu terawat dengan baik lagi kondisinya. Koleksi paling utama adalah kereta kencana dengan nama Singa Barong yang berkepala naga (pengaruh budaya Tiongkok), belalai gajah (pengaruh India), bersayap buroq (ciri khas Arab). Dengan teknologi mekanik, kereta ini mampu mengepakkan sayap jika dikendarai. Perlu empat kerbau untuk bisa menarik kereta ini.


lukisan tiga dimensi Prabu Siliwangi


gamelan Sekaten


peralatan upacara turun tanah. lembaran uang merupakan sumbangan dari pengunjung


lambang kesultanan Kasepuhan Cirebon

8 Comments Add yours

  1. ainunisnaeni berkata:

    wishlist banget bisa main ke cirebon dan mengunjungi keraton ini
    wisata sejarah dan kulinernya bikin mupeng

    1. Avant Garde berkata:

      Setelah aku ke keraton2 cirebon dan masjidnya, aku cukup sekali aja mbak hehe, agak males sm guide sm yg minta2… agak maksa.. Kulinernya yahut sih di Cirebon, ini yg pengen balik lagi 🙂

  2. bersapedahan berkata:

    kota kecil tapi keratonnya banyak ya ….
    saya hanya pernah jalan2 ke keraton Kasepuhan.
    Kalau ke Cirebon lagi mesti di datangi nih satu2 … 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      Siap mas, ditunggu kedatangan dan ceritanya ya 🙂

  3. Ikhwan berkata:

    Segitu banyaknya kerajaan-kerajaan dan kesultanan di Nusantara jaman dahulu, kadang kepikiran juga, apa ya yang bikin mereka mau bergabung jadi satu di bawah Republik. Padahal begitu gabung, kan raja-raja dan sultan-sultan ini jadi kehilangan sebagian hak-hak istimewanya. hehe.

    1. Avant Garde berkata:

      Karena dengan bergabung menjadi republik akan lebih mudah merdeka hehe… Mungkin sih da, beda kayaknya dengan DIY 🙂 sejak awal menjadi bagian NKRI sudah minta hak-hak istimewa dengan bung Karno

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s