Kucumbu Tubuh Indahku (2019)


Poster tidak resmi film Kucumbu Tubuh Indahku. Foto dipinjam dari sini.

Perhatian: Mengandung Spoiler!

Apa yang terjadi jika seorang sutradara merilis film bernuansa homoseksual dan tragedi komunisme di tengah euforia kesadaran beragama. Homoseksualitas dan komunis menjadi barang tabu untuk disentil. Tentu saja film ini memicu perdebatan, kontroversi dan sejumlah penolakan. Meskipun sebenarnya Kucumbu Tubuh Indahku bukanlah film Indonesia pertama yang mengupas masalah cinta sejenis.

Film ini mengangkat kisah tentang penari lengger lanang (tarian khas Banyumas yang dimainkan oleh laki-laki berpenampilan gemulai seperti perempuan) dan gemblak. Dulu gemblak adalah anak laki-laki yang menjadi asisten warok reog Ponorogo dan bertugas membantu segala keperluan warok, termasuk menjadi partner seksual sang warok. Kini praktik gemblak sudah tidak ditemukan lagi.

Di suatu daerah di Pulau Jawa antara era 70-an dan 80-an. Juno (Raditya Evandra), seorang anak usia SD, tampak kebingungan ketika ayahnya yang pergi meninggalkan rumah tak pernah kembali lagi. Ia hanya ingat satu hal. Sebelum pergi ayahnya mengatakan kalau terjadi sesuatu, ia telah meninggalkan pesan kepada tetangga dekat Juno untuk mengurusnya.

Setelah kepergian ayah Juno yang misterius itu kehidupan Juno berubah. Ia lantas tinggal dengan berpindah-pindah rumah. Sejak saat itu, kehidupan Juno tak menentu. Eksplorasi identitas seksual Juno dan proses pencarian jati diri Juno akan “tubuh” dan “rumah” sebagai topik film ini dimulai.

Akting ciamik dari Juno kecil (Raditya Evandra), Juno remaja dan dewasa (Muhammad Khan) berperan penting bagi penonton untuk mengenal tubuh dan rumah Juno. Nantinya, penonton diajak mengamati perjalanan Juno bertemu dengan banyak orang di berbagai tempat. 

Kembali ke cerita, Bibi Juno (Endah Laras) menjemput Juno untuk tinggal bersamanya yang berprofesi sebagai pedagang ayam. Tugas Juno sepulang sekolah yaitu mengecek apakah ayam yang akan dijual sedang dalam kondisi bertelur atau tidak dengan cara memasukkan jari ke anus ayam. Aktivitas Juno mengutak-atik anus ayam membuat ia lalai dengan sekolah. Bibi Juno menghukumnya dengan menusuk jari Juno dengan jarum. Bukannya jera, Juno seolah menikmati hukuman tusuk jarum dari bibinya. Dari hal ini, tentu penonton bisa menebak ada sesuatu yang “lain” dari jiwa Juno.

Juno digambarkan sebagai bocah yang memiliki rasa keingintahuan yang besar. Hal ini yang membuatnya suka mengintip dari balik papan saat para penari lengger lanang sedang berlatih di sanggar. 

Di zaman itu, tari lengger ditarikan oleh laki-laki, bukan perempuan. Tari lengger yang ditarikan oleh perempuan disebut ronggeng (film Sang Penari: 2011).

Juno lantas direkrut sebagai penari oleh pimpinan lengger (Sujiwo Tedjo) yang melihat Juno memiliki bakat menari lengger. Juno yang kepo tak sengaja melihat perselingkuhan antara istri pimpinan lengger dengan seorang penari pria. Ia baru menyadari bahwa sang pemimpin sanggar seorang pembunuh berdarah dingin saat melihat kebrutalan sang pemimpin lengger membunuh penari yang menyelingkuhi istrinya. Juno yang shock melihat kejadian itu kabur dari sanggar.

Tak tahan dengan siksaan bibinya, Juno yang telah remaja (diperankan Muhammad Khan) kini tinggal dengan pamannya yang berprofesi sebagai penjahit. Pamannya kagum pada Juno yang memiliki keterampilan mengukur badan seorang petinju (Randy Pangalila) hanya dengan mengira-ngira tanpa menggunakan meteran.

Suatu saat Juno bertugas mengantar baju ke sang petinju. Juno jatuh hati pada sang petinju sejak melihat sekilas tubuh sang petinju saat berganti pakaian. Hubungan mereka kandas setelah paman Juno meninggal dan sang petinju menikah dengan orang lain.

Selanjutnya Juno mengembara dan bertemu dengan grup lengger lanang keliling. Juno ditawari untuk bergabung sebagai penari di grup itu dengan syarat  mau menjadi penjahit kostum mereka. Paruh terakhir (meski belum ending), Juno juga sekaligus menjadi gemblak seorang warok di sebuah grup reog Ponorogo. Pada saat yang sama, dirinya disukai oleh warok yang lain dan seorang calon bupati yang sedang berkontestasi pada pemilihan bupati. Kemana cinta Juno akan berlabuh?

Banyak terjadi penolakan di berbagai daerah menjelang rencana pemutaran meski film ini sudah lulus sensor dan diberi kategori dewasa (21 tahun ke atas). Berlanjut hingga saat pemutaran menyebabkan pemutaran film ini dibatalkan.

Sebagian kalangan menilai film ini mempromosikan LGBT di Indonesia. Karakter Juno di film yang kemayu, menyukai laki-laki (petinju) dan menjadi gemblak seorang warok bisa jadi biang keroknya. Sepanjang 100 menit durasi film yang saya unduh dari YouTube (sudah melalui proses gunting sensor LSF), tidak terdapat adegan seksual termasuk adegan sesama jenis. Eksploitasi bagian belakang tubuh misal saat Randy Pangalila berganti baju ditampilkan secara estetik dan tidak vulgar.

Reaksi penolakan atas perilaku homoseksual ditampilkan cukup berimbang di film. Misalnya adegan istri calon bupati yang menyampaikan aspirasi warga yang menolak keberadaan gemblak dan penari lengger lanang karena takut mereka merusak moral masyarakat.

Adegan kebrutalan guru lengger (Sujiwo Tedjo) dalam menghabisi seorang muridnya secara tiba-tiba dan ketika pertarungan antara warok (Whani Darmawan) dengan seorang warok lainnya memperebutkan Juno cukup mengagetkan saya. Uniknya, sebelum membunuh, sang guru lengger menembangkan lagu Jawa terlebih dulu.

Di sisi lain, film ini juga menyoroti korban dari orang-orang yang mendapat stigma dari partai komunis.

Saya teringat pada film Sang Penari (2011) karya Ifa Isfansyah yang sukses menggondol Citra. Sama-sama mengangkat tabu rakyat Banyumas, yaitu tari ronggeng dengan sedikit sentilan pada komunisme. Jika di film Sang Penari Ifa duduk sebagai sutradara, kali ini ia menjadi produser.

Persoalan budaya dan kritik pada pemerintah yang kurang peduli pada kesenian tradisional dan minimnya apresiasi masyarakat dilontarkan pada  salah satu adegan dimana penari lengger lanang mengamen berkeliling desa naik mobil sayur.

Film ini adalah film kedua karya sutradara Garin Nugroho yang saya tonton setelah film Soegija (2012) yang mengisahkan perjuangan uskup pertama di Indonesia yaitu Mr. Albertus Soegijapranata. Saya bukan seorang yang mendukung atau menentang gerakan LGBT. Saya tertarik menulis tentang film ini karena penasaran dengan kontroversinya. Sekaligus ingin tahu apa yang membuat film ini membuat para juri sepakat mengganjar film ini dengan Piala Citra untuk Film Cerita Panjang Terbaik tahun 2019.

Di akhir credit title, disebutkan bahwa film dengan nama di luar negeri “Memories of My Body” ini dibuat berdasarkan kisah hidup Rianto, seorang penari lengger sekaligus sahabat Garin Nugroho. Kisah-kisah di film ini juga diilhami dari kehidupan penari lengger. Kebetulan Rianto juga merupakan nama belakang Garin.

Rianto sendiri bertindak sebagai narator yang membawakan film. Ia tampil di setiap “babak”. Menjadikan film ini semacam biografinya. Tak hanya berkisah, Rianto juga menari sesuai dengan “babak” yang ia ceritakan. Menjadikan film ini agak bernuansa teatrikal.

Banyak orang berpendapat film-film karya Garin itu “berat”, bercita rasa festival, anti mainstream dan perlu menonton secara berulang-ulang untuk dapat menangkap makna yang dimaksud sutradara.

Ah, saya teringat dengan Hanung. Hampir sama dengan Hanung Bramantyo, Garin Nugroho adalah “pemain” di film bertema sensitif. Bedanya jika Hanung pernah “bermain” di ranah agama, Garin mengangkat orientasi seksual, budaya bangsa (dalam hal ini tari lengger) dan stigma komunis di film ini.

Hampir seluruh dialog menggunakan bahasa Jawa. Subtitle menggunakan bahasa Inggris. Bisa jadi ini perkara tambahan bagi penonton yang kurang memahami bahasa Jawa dikarenakan banyak dialog dimana pemain berbicara cukup panjang, tetapi diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan cukup singkat.

Garin sebagai orang Jawa dan mantan pemain teater paham betul menyisipkan simbol-simbol ke dalam filmnya. Misalnya karakter Juno kecil yang gemar memasukkan jari ke anus ayam bisa dimaknai sebagai eksplorasi seksual pertama Juno.

Di adegan awal diperlihatkan bapak Juno yang marah-marah tak jelas sendirian di tepi sungai. Di pertengahan cerita, paman Juno bercerita bahwa ayah Juno adalah korban dari stigma partai komunis, mirisnya ia tidak terlibat sama sekali sebagai simpatisan partai itu. Kepergian ayah Juno yang mendadak dan tak pernah ada kabar, guru tari di sekolah Juno (Dwi Windarti) yang digrebek warga karena membuka kebaya hingga belahan dadanya terbuka seolah-olah mengingatkan proses “penjemputan” bagi orang-orang yang diduga menjadi simpatisan partai terlarang tersebut.

Garin seolah-olah mengajak masyarakat melihat sisi lain korban komunisme dari perspektif kemanusiaan. Yang perlu kita musuhi adalah paham komunisme, bukan orang-orang yang dicap komunis.  

Melalui film ini, saya baru tahu jika lengger bermakna leng- (lubang) dan -ngger (jengger). Leng- bermakna alat reproduksi perempuan simbol feminin, sedangkan jengger melambangkan maskulinitas. Penari lengger di kehidupan sehari-hari adalah laki-laki sejati, tetapi di atas pentas mereka adalah perempuan.

Meski cerita dan akting para pemain  sangat bagus, bagi saya yang lahir dan besar di Jawa cukup terganggu dengan dialek Jawa para pemain yang campur-campur nan membingungkan. Juno, ayah dan bibi Juno bertutur dalam bahasa Jawa dialek Solo/Yogya. Sedangkan narator dan guru Juno berdialek ngapak (Jawa Tengah bagian barat).

Menjelang babak akhir, digambarkan warok tinggal di daerah Banyumas (semua kendaraan berplat nomor R), anehnya mantra yang dibaca dukun bupati berdialek Banyuwangi (cmiiw). Kemudian dialek ibu-ibu pemimpin lengger lanang yang nampak seperti orang Jawa Timur, padahal lengger hidup dan berkembang di Jawa Tengah bagian barat (Banyumas dan sekitarnya).

Beberapa detail tampak aneh seperti frame kacamata bibi Endah Laras yang terlalu modern di era 70-an 80-an. Kemudian celana Juno remaja (pensil) yang dikisahkan terjadi di awal era reformasi terasa aneh karena di masa itu celana pensil belum tren.

Mendengar salah satu lagu soundtrack yaitu Apatis yang dibawakan Ipank di film Laskar Pelangi, saya pikir ini lagu recycle dari Laskar Pelangi, rupanya ini lagu lama ciptaan Ingrid Widjanarko yang dibuat tahun 1978.

Dengan secuil kekurangan dan segudang kontroversi, film ini rupanya berhasil menggondol banyak penghargaan di FFI 2019 dan berbagai penghargaan di luar negeri.


12 respons untuk ‘Kucumbu Tubuh Indahku (2019)

  1. Begitu ada peringatan spoilernya langsung skip ke komen aja karena belum nonton hehe. Dulu kayanya pernah tayang di bioskop tapi beberapa hari udah turun layar ya, ga sempat nonton dulu. Sepertinya naik daun lagi begitu filmnya menang Citra.

    1. Hehehe… agak banyak spoiler yang saya tunjukkan da. Silakan nonton sendiri di Go play yah 😀 Filmnya Garin emang kontroversial katanya, baru nonton 2 film termasuk ini sih…

      1. Haha makanya saya skip dulu, nanti baca lagi kalo udah nonton.

        Ada di GoPlay ya, baru tau.
        Garin filmnya memang kebanyakan nyeni dan penuh simbol gitu ya. Filmnya yang paling “pop” itu menurut saya Aach Aku Jatuh Cinta dan Cinta dalam Sepotong Roti ya. Tapi sejauh ini paling suka sama Rindu Kami pada-Mu, suka banget syut adegan-adegan pasarnya.

        1. Awalnya sih nggak nyangka kemaren nongol di home, langsung saya download. Beok harinya udah nggak ada, kayaknya udah diblokir sama YouTube 🙂 Nanti komen ya da kalo udah nonton…

          Noted. Nanti mudah2an saya bisa nonton kedua film itu yah….

  2. Reviewnya lengkap. Seperti baca review dari seorang kritikus film.
    Saya sudah pernah dengar kontroversi film ini, tapi belum menontonnya. Beberapa kali tak puas dengan film-film lokal lainnya, jadi membuat saya berpikir 1000x untuk menonton film Indonesia lainnya.

    1. Terimakasih mas Agung, kebetulan saja kemarin nangkring di yutub, sekarang malah udah hilang di yutub dan muncul lagi di go play 🙂

      Film Indonesia ceritanya memang gampang ditebak yah 🙂

  3. Soal latar dan penggunaan bahasa jawa yg berbeda juga cukup menganggu bagiku sih mas. Mungkin kalo bukan org jawa, akan terlihat biasa saja.
    Mengenai latar juga, tanah tandus kapur, pohon jati tipikal Gunung Kidul dan daerah pegunungan karst. Sedangkan tari lengger berasal dari Banyumasan.

    Tapi di sesi diskusi dg mas Garin yg pernah aku ikutin, memang sengaja ga dibuat spesifik sih. Jadi seperti dibuat Jawa itu sama saja.

    1. Jadi sengaja Garin menciptakan Jawa gitu aja ya Gie, tanpa spesifik menyebut Jawa bagian mana.

      Makasih ya Gie buat infonya yg cukup mencerahkan 🙂

  4. Wuih lengkap! Pas ngebahas soal Ronggeng aku baru ngeh hubungannya. Untung dulu nonton Sang Penari jadi sedikit paham (dan yup, lagi² bersisian dengan budaya/seksualitas).

    Aku baru inget mestinya cari lagu² film ini di youtube. Hehe. Bagus!

    1. Terimakasih Yan.

      Betul, sama-sama mengangkat tarian tradisional dari Banyumas dan unsur seksualitasnya. Bedanya ini lebih berani plus tema korban komunisme

      Lagu-lagunya bagus memang, tp paling ngeh sama lagu yang jadi closing itu 🙂

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s