Kerincimu, Kerinciku, Kincai Kito Galea

Kerinci, satu daerah dengan banyak nama: Kerinci, Korinci, Karinci, Kurinci, Kincai, Kincei, Kinci.

Asal usul nama Kerinci pun hingga kini masih diperdebatkan. Sedikit tabir yang terbuka tatkala saya membaca ulasan tentang Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah, sebuah warisan leluhur orang Kerinci yang ditemukan di Tanjung Tanah, desa kecil di tepi Danau Kerinci menguak misteri itu. 

Kurinci, demikian nama tempat itu disebut dalam kitab. Nama tersebut ditulis pada lembaran kertas kuno. Ditulis menggunakan aksara Melayu Kuno (pasca Pallawa) dan Incung serta berbahasa Sansekerta. Karena ditulis dalam aksara Pallawa dan berbahasa Sansekerta, jelas Kerinci merupakan kosakata yang mendapat pengaruh dari India.

Saya pernah melihat baju pengantin Kerinci model lama. Dimana, baju pengantin pria disebut “baju India”. Berupa baju panjang menyerupai gamis setinggi lutut. Bukan baju depati yang menyerupai baju adat Minang yang dipakai pengantin Kerinci sekarang.

Dari sedikit petunjuk “India” tersebut. Para ahli tiba pada suatu analisis. “Kurinci” berasal dari India. Dan benar, Kurinci merupakan nama sebuah bunga yang tumbuh di pegunungan Tamil di India selatan. Bunga ini hanya mekar sekali dalam waktu 12 tahun. Cocok dengan geografis Kerinci yang terbentang di daerah pegunungan.

Selain buku Safari Budaya: Kerinci Sekepal Tanah Surga karya Yoni Elviandri yang bercerita keelokan alam, pesona sejarah dan budaya Kerinci, saya punya koleksi satu buku lagi yang membahas tentang Kerinci. Kali ini khusus melihat Kerinci sebagai sebuah daerah yang memiliki banyak peninggalan arkeologis.

Buku bertajuk Dataran Tinggi Jambi dalam Perspektif Arkeologi ini sebuah kejutan. Pemberian dari  Gara yang dikirim lewat pos. Gara seorang blogger peminat literasi sejarah yang tinggal di Jakarta. Dalam suatu kesempatan jumpa, rupanya Gara ini adik kelas saya di kampus tetapi beda jurusan. Berawal dari dunia maya, kami berjumpa di Jakarta dan kami banyak berbincang apapun, tentang hidup, kehidupan kampus, termasuk sejarah dan budaya, dua hal yang sama-sama kami sukai.

Buku terbitan Balai Arkeologi Sumatera Selatan (dulu Balai Arkeologi Palembang) ini berjudul Kerincimu Kerinciku. Hm, kalau ditambah Kincai Kito Galea (bahasa Kerinci: Kerinci Kita Semua) mungkin akan terasa seperti semboyan tv haha. Dalam buku setebal ix (sembilan) dan 178 halaman, dari awal hingga habis saya baca tak dijelaskan mengapa judul ini yang dipilih.

Sampul buku berwarna dominan hijau tua menampilkan irisan peta pesisir barat Sumatera. Menampilkan peta persebaran megalitik batu silindrik di Jambi dan Sumatera Selatan. Angan seakan terbang tatkala saya tinggal di Kerinci beberapa tahun silam. Sebuah daerah yang hijau dengan kayu manis dan sawah hijau membentang. Ah…rindu.

Di pulau Sumatera, peninggalan arkeologis berupa megalit dapat ditemukan di seputaran Danau Toba, Mahek di Sumatera Barat, dataran tinggi Jambi (Kerinci, Sungai Penuh dan Merangin), Lahat, Pagar Alam, Musi Rawas (Sumatera Selatan) dan Bengkulu Utara.

Sudah banyak buku yang menulis tentang peninggalan arkeologi di Kerinci. Namun, buku ini merupakan buku pertama tentang peninggalan arkeologi di Kerinci  yang diterbitkan oleh lembaga arkeologi milik negara.

Tulisan di buku ini merupakan antologi penelitian oleh para arkeolog yang dilaksanakan hingga tahun 2016 di sejumlah tempat di dataran tinggi Jambi dan Sumatera Selatan yaitu Kerinci, Sungai Penuh, Merangin, Sarolangun dan Musi Rawas Utara di Sumatera Selatan. 

Dari berbagai peninggalan arkeologi di Kerinci, batu silindrik dipilih menjadi topik utama. Mengapa batu silindrik? Inilah keunikan peninggalan arkeologis yang unik di Kerinci (dan sekitarnya).


batu silindrik situs Lolo Gedang

Awalnya para ahli menduga megalitik yang berupa batu tunggal yang banyak ditemukan di Kerinci adalah menhir yang rebah. Rupanya, ditilik dari motifnya yang berorientasi vertikal, dugaan arkeolog salah. Bukan menhir melainkan temuan baru yang ditemukan di Kerinci (Jambi umumnya) dan tidak ditemukan  di tempat lain. Karena bentuknya bulat panjang menyerupai silinder dinamakan batu silindrik.

Batu ini berwujud batu tunggal dengan ukuran panjang 3 hingga 4 meter. Ada yang polos, dan ada yang bermotif. Selain di Musi Rawas Utara, semua batu silindrik ditemukan di lereng bukit. Entah bagaimana dulu manusia purba mengangkut batu berukuran besar tersebut dari bawah hingga ke atas bukit.

Batu silindrik pula yang membawa saya ke petualangan menjelajah berbagai situs batu silindrik di Kerinci. Di Kerinci dan Sungai Penuh dikenal warga lokal dengan batu gong, batu meriam atau batu bedil. Tergantung persepsi masyarakat. Tak semua situs tersebut mudah diakses. Ada yang terletak di tepi jalan seperti dolmen Pulau Tengah, batu gong Muak. Yang harus masuk kebun warga seperti di Jujun dan Lolo Kecil. Hingga yang berada di  lereng bukit seperti situs Lolo Gedang. Semuanya meninggalkan kesan mendalam tentang Kerinci. 


batu silindrik situs Jujun

Kembali tentang buku ini. Dataran tinggi Jambi mengalami 4 fase pembabakan sejarah. Pertama masa prasejarah dengan ciri hunian nomaden. Dimulai dengan ditemukannya bekas hunian manusia purba di Goa Tiangko dan Serampas Merangin (tahun 1400 – 900 SM).

Fase prasejarah dengan ciri hunian tetap (permanen/sedenter) ditandai dengan ditemukannya kubur tempayan di Renah Kemumu antara tahun 800-1100 M.

Masa Hindu-Buddha terjadi pada abad ke-15. Tak terlalu ada peninggalan menonjol di Kerinci, kecuali Kitab Undang-undang Tanjung Tanah yang menurut penelitian Uli Kozok merupakan peninggalan berbahasa Melayu tertua di dunia. Wow.

Pada abad ke-17 Islam masuk ke Kerinci. Bukti piagam dari Kesultanan Jambi bagi depati dan menteri di Kerinci menjadi tanda Kerinci dikuasai kesultanan Jambi. Siapa sangka pernah pecah perang antara wilayah adat Siulak dan Semurup yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban jiwa di antara kedua belah pihak.

Total ada 8 tulisan terpisah dari 8 arkeolog di buku ini. Terdiri dari 1 tulisan tentang ciri tektonik dan situs prasejarah dan sejarah di Kerinci, 6 tulisan masa prasejarah  di Kerinci dan masing-masing 1 tulisan Kerinci masa klasik (Hindu Buddha) dan Kerinci masa Islam.

Saya tak akan membahas mengenai tulisan tentang ciri tektonik dataran tinggi Kerinci dan tulisan kedua yaitu peninggalan batu obsidian sebagai bahan baku alat serpih di Kerinci, Merangin dan Sarolangun. Langsung saja saya akan bercerita tentang batu silindrik, megalit yang menjadi ciri khas peninggalan prasejarah di Kerinci.

Persebaran Batu Silindrik

Batu silindrik tersebar di empat kabupaten/kota di dua provinsi yaitu di Jambi dan Sumatera Selatan. Di Jambi ditemukan di Sungai Penuh (1 situs), Kerinci (8 situs), Merangin (12 situs) dan Musi Rawas Utara (3 situs).

Berikut rincian persebaran situs di Jambi:
Kerinci:
1. Situs Pondok, Desa Pondok, Kec. Bukit Kerman
2. Situs Pulau Sangkar, Desa Pulau Sangkar, Kec. Bukit Kerman
3. Situs Talang Pulai/Jujun, Desa Koto Baru Jujun, Kec. Keliling Danau
4. Situs Lolo Kecil, Desa Lolo Kecil Kec. Bukit Kerman
5. Situs Lolo Gedang, Desa Lolo Gedang Kec. Bukit Kerman
6. Situs Lempur Mudik, Desa Lempur Mudik Kec. Bukit Raya
7. Situs Tanjung Batu, Desa Tanjung Batu, Kec. Keliling Danau
8. Situs Muak, Desa Muak, Kec. Bukit Kerman

Sungai Penuh:
1. Situs Kumun Mudik, Kumun Mudik, Desa Ulu Air, Kec. Kumun Debai

Merangin:
1. Situs Nilo Dingin, desa Nilo Dingin, Kec. Lembah Masurai
2. Situs Talang Jambu Abang
3. Situs Rimbo Tembang
4. Situs Pratin Tuo, desa Tuo, Kec. Lembah Masurai
5. Situs Talang Alo,
6. Situs Tanjung Kasri, desa Tanjung Kasri, Kec. Jangkat
7. Situs sun Gedang I dan  Gedang II, desa Koto Baru, Kec. Jangkat Timur
8. Situs Lubuk Mentilin, desa Lubuk Mentilin, Kec. Jangkat
9. Renah Kemumu, desa Renah Kemumu, Kec. Jangkat

Musi Rawas Utara:
1. Situs Batu Ibat Nasi, Desa Napal Licin, Kec. Ulu Rawas
2. Situs Batu Muning Betino, Desa Napal Licin, Kec. Ulu Rawas
3. Situs Batu Batang, Desa Napal Licin, Kec. Ulu Rawas

Para ahli sepakat batu silindrik adalah sarana pemujaan kepada nenek moyang. Menurut wawancara saya dengan Iskandaer Zakaria, seorang sejarawan dan budayawan Kerinci, motif gong pada batu gong di Kerinci bermakna pemujaan kepada matahari. Hampir semua batu gong ditemukan di lereng bukit pada ketinggian minimal 800 meter. Pertanyaannya, bagaimana caranya manusia purba mengangkat batu gong dengan berat puluhan ton dari bawah bukit ke atas?

Legenda Batu Gong dan Batu Larung

Batu silindrik disebut dengan beragam nama. Di Kerinci dan Sungai Penuh disebut batu gong karena memiliki motif spiral menyerupai gong. Sedangkan di Lempur Mudik disebut batu meriam. Disebut batu meriam karena berbentuk bulat panjang menyerupai meriam. Legenda yang menyelimuti batu meriam bahwa dulunya terjadi perang antar nenek moyang bersemayam di gunung Kerinci, gunung Batuah, gunung Gerkah dan gunung Sumbing dengan amunisi berupa meriam. Lontaran meriam itu kini menjadi batu meriam. 

Di Merangin, dikenal batu larung jantan (laki-laki) dan batu larung betino (perempuan) yang menurut legenda merupakan hasil kutukan si Pahit Lidah karena ada dua orang laki-laki dan perempuan yang ingin menikah padahal mereka tinggal dalam satu kampung sehingga mereka dianggap sedarah. Uniknya, dalam ingatan warga lokal, mereka tak ingat lagi mengapa batu tersebut disebut batu larung.

Nekara Perunggu

Masa perunggu dianggap sebagai masa peralihan dari masa prasejarah menuju masa sejarah dengan ciri digunakannya peralatan dari logam, seperti perunggu.

Masa perunggu di Kerinci ditandai dengan ditemukannya bejana perunggu dan miniatur nekara di Lolo Gedang dan nekara. Di Indonesia, bejana perunggu hanya ditemukan di Kerinci dan Madura.

Nekara adalah genderang kuno yang berfungsi sebagai alat pembayaran, benda ritual magis dan wadah bekal kubur. 

Nekara di Kerinci bertipe Heger (berdiameter lebar). Ditemukan di desa Siulak Panjang kecamatan Siulak. Dikenal warga lokal dengan nama “tabuh luyang”. Nekara ini disimpan di rumah adat Rumah Gedang Depati Agung Jinda Putih. Benda ini sekarang difungsikan sebagai properti ritual upacar meminta hujan di desa Siulak Panjang. 

Kerinci Masa Hindu Buddha

Masa Hindu Buddha hampir tidak “menyambangi” Kerinci. Di Kerinci hampir tidak meninggalkan peninggalan era Hindu Buddha, kecuali dua buah arca Avalokiteswara dan Padmapani dari Kerinci yang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Kemungkinan berasal dari abad ke-8 dan 9 Masehi. Tak ada keterangan arca  yang dibawa ke Jakarta pada masa kolonial tersebut berasal dari mana. Hanya disebut berasal dari Kerinci.

Menurut perkiraan, kepercayaan asli Kerinci masih bertahan di Kerinci hingga saat Islam masuk Kerinci abad ke-17. 

Epilog

Masih banyak misteri di Kerinci yang menunggu untuk dikuak. Buku ini hanyalah awal dari upaya menguak misteri sejarah Kerinci. Kerinci masa Islam dan kolonial belum terlalu dibahas di buku ini. 

8 Comments Add yours

  1. lenny berkata:

    Kesanku ketika ke Kerinci pertama kali adalah tempat ini beda banget dengan Jambi pada umumnya.. ada aura yang beda aja gitu dan kabarnya mang Kerinci itu adalah melayu tertua. Bisa jadi sih asalnya dari sana.

    Tapi ada pula yang menyebutkan kemungkinan Kerinci itu punya percampuran dengan Tiongkok. Entahlah. Terlalu banyak yang tak pasti.

    Yang jelas emang unik banget itu Kerinci.

    1. Avant Garde berkata:

      Betul, uniknya Kerinci mereka nggak mau disebut suku Melayu Jambi atau orang Minang, maunya disebut orang Kerinci saja 🙂

      Mungkin karena daerahnya dingin, jadi aura mistisnya lebih berasa ce…

  2. deddyhuang.com berkata:

    aku baru tahu sejarah kota Kerinci ini, walau aku belum pernah ke situ. Apalagi masih ada sisa bukti sejarah. Penyebutan kerinci pun lumayan banyak, aku jadi penasaran apa Kerinci juga jadi tempat penyebaran agama dari orang India ya.

    1. Avant Garde berkata:

      Bisa jadi koh, karena ada peninggalan berupa arca dewa di Kerinci 🙂 biarpun nggak banyak…

      Satu yang pasti, Kerinci memiliki persamaan dengan Pagar Alam, baik peninggalan megalitik dan tulisan Kaganga, kalo di Kerinci disebut incung (rencong) 🙂

  3. bersapedahan berkata:

    wah banyak sekali situs bersejarah di sekitaran Kerinci … tapi sepertinya jarang terexposed .. dan khawatir bisa rusak dan hilang.
    btw … saya baru tahu Kerinci berasal dari bahasa India, dulu saya pikir ada hubungannya dengan binatang kelinci … hahaha .. ngarang banget ya

    1. Avant Garde berkata:

      Kerinci dan kelinci hampir mirip sih mas hehe.. Bagi penyuka situs prasejarah, masjid zaman kolonial/islam wajib ke Kerinci mas 🙂

  4. Agung Pushandaka berkata:

    Keren bukunya, juga reviewnya di tulisan ini.
    Semoga masyarakat Kerinci ikut aktif menjaga dan merawat peninggalan sejarah yang banyak tersebar di sana. Itu bukti bahwa masyarakat kuno di Kerinci dan di penjuru Nusantara sudah memiliki peradaban yang maju.

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih mas Agung, setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan dan ciri daerah masing-masing, termasuk Kerinci yang kaya dengan peninggalan prasejarah dan Islam, tetapi tak banyak meninggalkan artefak era Hindu-Buddha 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s