Toponimi 9 Nama Kawasan di Palembang


Jembatan Ampera, kebanggaan wong kito galo (Foto 2009)

Mendengar kata Palembang dalam benak saya terbayang tiga hal. Jembatan Ampera, empek-empek dan Asian Games. Tiga hal mengenai ikon wisata, kuliner khas daerah serta event olahraga yang sukses digelar di ibukota Sumatera Selatan tersebut.

Dalam lintasan sejarah, Palembang merupakan ibukota dari Kedatuan Sriwijaya yang wilayahnya meliputi sebagian Nusantara dan Asia Tenggara. Pada masa Islam, Palembang berkembang menjadi pusat Kesultanan Palembang Darussalam yang dirintis para bangsawan dari Demak.

Palembang dari Waktoe ke Waktoe, sebuah buku setebal 126 halaman karya Rd. Muhammad Ikhsan, seorang pengamat sejarah Palembang yang juga dosen di Universitas Sriwijaya. Beliau pendiri kegiatan berbagi kisah Palembang jaman bingen bernama Recrea History.

Buku ini saya beli tahun awal tahun lalu. Nitip beli sama Heru (jalanheru.wordpress.com) yang posting tentang buku sejarah Palembang di Instagramnya. Rencana bukunya mau saya ambil kalau ada kesempatan main ke Palembang.

Juni 2019 saya singgah di Palembang habis traveling ke Bandar Lampung. Sayang tak sempat berjumpa Heru yang harus masuk kantor sehingga buku tersebut dititipkan ke Omnduut.

Palembang, kota di tepi sungai Musi tersebut saya tinggal dalam kurun waktu 2006 hingga 2007. Tak lama, tetapi meninggalkan kenangan yang cukup membekas.

Palembang adalah kota dimana saya pertama kali menuntut ilmu selepas SMA. Beberapa kawasan akhrab hingga kini dalam kenangan seumur hidup saya. Sukabangun, pasar Palimo, Benteng Kuto Besak, IP, PIM, PTC, Punti Kayu sebagian tempat yang meninggalkan kesan tentang kota ini. 

Buku Palembang dari Waktoe ke Waktoe seolah mengajak saya bernostalgia sambil menelisik lebih dalam sejarah penamaan kawasan-kawasan di kota Palembang. Ada yang sangat akhrab terdengar di telinga, ada yang sayup, dan ada juga yang tak pernah saya dengar sama sekali.

Puluhan tempat baik nama jalan, lorong, kampung di kota Palembang dibahas dalam buku yang sebagian merupakan nukilan tulisan Rd. Muhammad Ikhsan di media masa. Berikut 9 asal usul nama nama tempat di Palembang yang menurut saya cukup menarik.

1. PALEMBANG

Kita bicara tentang asal usul nama kota Palembang. Pada masa kolonial Inggris, Palembang ditulis Palimbang. (hal 1) Lantas oleh Belanda diubah menjadi Palembang dan bertahan hingga era kemerdekaan. Menurut lidah wong Palembang, Palembang  justru dilafalkan menjadi Pelembang atau Plembang.

Ada beberapa versi asal usul nama Palembang. Versi yang paling masuk akal adalah dari kata “pa” yang berarti tempat dan “lembang” yang bermakna tempat yang penuh air atau rembesan air (Djohan Hanafiah dkk, 2005:121). Sesuai dengan kondisi geografis Palembang yang memiliki sungai Musi dan puluhan anak sungai serta rawa yang menjadikan daerah ini basah.

2. PASAR CINDE

Menyebut pasar Cinde, sejenak teringat dengan pilar berbentuk cendawan yang juga ditemui di Pasar Johar Semarang. Dua pasar ini dirancang oleh orang yang sama yaitu Herman Thomas Karsten. Menggunakan rancangan Karsten, pasar ini dibangun tahun 1958.

Kata Cinde berasal dari nama kecil Pangeran Ario Kusumo Abdulrohim yang memiliki nama kecil Kimas Hindi. Kemungkinan dari kata Hindi menjadi Cinde. Di daerah yang kini menjadi Cinde Welang merupakan lokasi makam Kimas Hindi (hal 40).

3. PALIMO

Palimo adalah sebutan lisan untuk kawasan sekitar Pasar Km. 5. Disebut Km. 5 karena berjarak 5 km dari Masjid Agung Palembang yang ditetapkan sebagai km 0 kota Palembang. Disebut Palimo dari kata Paal (kilometer) dan limo (lima).

Palimo juga merupakan salah satu daerah yang akrab di ingatan saya karena kampus saya di Palembang dulu berada disini.

Dari foto lama zaman Belanda, istilah Paal Limo, Soekarami, Poenti Kayoe adalah nama-nama yang sudah dikenal pada saat itu. Meski Palimo tidak dibakukan sebagai nama tempat, wong Palembang sudah kadung menyebut daerah itu Palimo.

4. LORONG BASAH

Menyebut Lorong Basah berarti menyebut nama Jalan Sentot Ali Basah di kawasan dekat Pasar 16 Ilir. Banyak yang mengira Lorong Basah diambil dari nama pahlawan tersebut.

Menurut sejarawan Raden Husein Natodirajo, penyebutan basah berasal dari tumpahan air yang diangkut sepanjang lorong oleh para pekerja Tionghoa yang bertugas mengangkut air dari sungai Musi menuju kawasan di jalan Masjid Lama (hal. 90).

5. SEKIP

Kawasan Sekip yang dikenal sekarang telah berkembang menjadi beberapa subkawasan yaitu Sekip Pangkal, Sekip Kebon Semai, Sekip Madang, Sekip Bendung dan Sekip Ujung. Sekip Ujung ini lumayan sering saya datangi karena disini berdiri salah satu mall yang paling dekat dengan kampus. Ingat zaman dulu saya pernah jogging dari Sukabangun ke PTC. Sekarang mah ogah haha.

Istilah Sekip (yang juga ada di Salatiga dan Muara Bungo), menurut peta tahun 1924 berasal dari kata Militaire Schiifschietterrein yang berarti target di area lapangan tembak militer (hal. 20). Menurut beberapa sumber, di tempat ini tak hanya berfungsi sebagai lapangan latihan menembak dengan senapan, tetapi juga dengan senjata artileri.

Kini, di kawasan Sekip Ujung di dalam kompleks perumahan perwira TNI dengan nama-nama jalan diambil dari nama senjata seperti Jalan Torpedo, Jalan Meriam, Jalan Keris dan Jalan Tombak.

6. INTERNATIONAL PLAZA

Palembang sudah mengenal bioskop sebagai cirikhas kota modern sejak 1910 dengan nama Flora. Kemudian hari Flora berganti nama menjadi Orientale dan Saga (hal. 101).

Nama bioskop lainnya yaitu Capitol, Intium, Lucky, Merdeka, Persatuan, Rex  dan  Internasional (hal. 107). Internasional Plaza (IP) bisa dibilang mall modern pertama di Palembang. Di kawasan ini dulu berdiri bioskop Internasional (hal. 129). Internasional hanyalah satu dari sekian bioskop di Palembang yang kini tinggal nama selain bioskop Mahkota, Mawar (Pancawarna).

7. DEMANG LEBAR DAUN

Jalan Demang Lebar Daun yang melintasi kawasan markas Polda Sumatera Selatan  diambil dari nama demang pada masa pemerintahan Kedatuan Sriwijaya (Tambo Melayu: Tamar Jaya). Menurut cerita, sang demang memiliki daun telinga yang lebar (hal. 32).

8. “TANGGO” dan “TALANG”

Banyak kawasan di Palembang dinamai dengan awalan Tanggo atau Talang. Tanggo artinya tangga, artinya tempat di tepi sungai yang berfungsi sebagai halte air dan memiliki tangga untuk naik dan turun penumpang yang menggunakan kapal roda lambung (hekwieler). Saat ini beberapa kawasan yang masih memakai nama “tanggo” yaitu Tanggo Buntung, Tanggo Batu, Tanggo Rajo, Tanggo Takat, Tanggo Panjang dan Tanggo Tanah (hal.120).

Sedangkan talang adalah kawasan yang tidak terletak di kawasan tepi sungai. Pada peta tahun 1887, beberapa nama kawasan yang memakai nama talang yaitu Talang Bukit, Talang Lunjuk dan Talang Macan Lindungan (hal. 30). Di kemudian hari Talang Bukit berkembang menjadi Bukit Besar, Bukit Kecil, Bukit Lama dan Bukit Baru.

9. JAKABARING

Siapa tak kenal Gelora Sriwijaya di Jakabaring. Stadion nasional berstandar internasional yang awalnya dipakai sebagai arena PON tahun 2004, lantas menjadi tempat pelaksanaan berbagai acara internasional seperti SEA Games tahun  2011 dan untuk Asian Games tahun 2018. 

Asal usul nama Jakabaring tidak disebut di buku ini. tetapi bersumber dari tokoh yang sama yaitu Rd. Muhammad Ikhsan. 

Tak ada catatan pasti sejak kapan nama Jakabaring dipakai. Versi tidak resmi menyebutkan Jakabaring akronim dari empat suku pendatang pertama disana yaitu suku Jawa, Kaba (Besemah), Batak dan Komering.

Selamat hari buku Nasional 17 Mei

Referensi: https://sumsel.tribunnews.com/2019/07/18/inilah-asal-mula-nama-jakabaring-palembang-bermula-dari-empat-suku-besar


16 respons untuk ‘Toponimi 9 Nama Kawasan di Palembang

  1. baca buku buku historical suatu wilayah kayak gini menarik, nambah ilmu. pembaca di bawa seolah olah bisa merasakan jaman jaman dulu meskipun hanya melalui imajinasi aja

              1. ga ada yang asli Palembang, hanya ikut kerja di sana aja selama bertahun-tahun Mas. Darahku tuh orang Minang =))))

                    1. Seru lho jadi kamu Ra, berdarah Minang lahir di Palembang sekarang di Bandung …. Aaaa..kota2 dengan kuliner enak semua 😀 #puasa jadinya laper

                    2. Hahahaha iya mas, makan enak mulu, tapi jadi pemilih banget buat pempek =)))) . Akibat lidahnya udah kenal pempek yang enak.

                    3. Haha…akupun gitu, kalo nemu pempek yg rasanya aneh pasti suka sirik dalam hati “ini pempek apa tepung rebus sih, aneh” wkwkwk

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s