Taman Bunga Celosia Muna

Seiring perkembangan teknologi, saat ini foto selfie seakan telah menjadi kebutuhan hidup manusia. Siapapun, tua, muda, laki-laki, perempuan hanyut dalam kegiatan mengabadikan diri dalam foto selfie.

Semasa tinggal di Merangin, ada beberapa tempat selfie yang cukup hits. Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi adalah taman bunga Hesti’s Garden.  Meski cukup terpencil dan berjarak 3 jam dari Bangko, taman ini cukup ramai dikunjungi warga pada awal baru buka. Tren wisata taman bunga makin berkembang di Bangko dengan dibukanya Green Kandis dan Merangin Garden.

Lucunya, di Muara Bungo, dari belasan taman yang ada saya tak menemukan satupun taman bunga. Padahal, daerah ini secara harafiah bermakna ‘bunga’. 

Rimbo Bujang, sebuah kota kecil eks transmigrasi yang menjadi rumah kedua saya sejak tahun 2018. Awal saya dipindahtugaskan ke kota ini, agak skeptis dengan kota ini karena  di dunia maya saya tak menemukan satupun tempat wisata yang bisa saya jelajahi.

Kemana warga kota berakhir pekan? Kata pegawai di kantor saya, orang sini gemar nongkrong di warung bandrek -yang banyak ditemui di sekitar pasar- saat sore hingga malam bersama teman dan keluarga untuk sekedar mengusir jenuh. Kalau ada uang lebih pergi liburan ke Muara Bungo atau Jambi.

Kata penjual sate kambing langganan kantor, dulu Rimbo Bujang lekat dengan stigma negatif. Kota ini akhrab di telinga hidung belang yang datang untuk memuaskan hasrat duniawi. Sekarang stigma tersebut sudah kian pudar. Namun, sejumlah warung remang-remang masih bertahan, meski jumlahnya tak sebanyak seperti dulu.

Perlahan, kota ini memiliki tempat wisata yang benar-benar bisa dinikmati seluruh keluarga. Mulai dari taman bunga Celosia Muna di Unit 9, taman air Rivera Park di Unit 1 dan paling baru taman Rimbo Wisata di Unit 2.   

Taman Celosia Muna dibuka sejak Mei 2019. Taman bunga pertama di Tebo.

Bulan Juli ketika saya datang ke taman ini, bunga celosia banyak yang mati. Entah kenapa. Kata pengelolanya, saat ini sedang ditanam ulang dan kemungkinan bulan Agustus baru akan mekar.


Taman Celosia Muna, Juli 2019 

Bulan Oktober saya ada tugas kantor ke Unit 12 Sidorukun. Ketika melewati taman celosia yang dulu pernah saya datangi, belum juga ada tanda-tanda mekar. Hingga akhirnya di penghujung tahun 2019, dari postingan orang-orang di Instagram saya mendapatkan kabar taman bunga celosia di Unit 9 sudah siap untuk dikunjungi. 

Pagi hari di hari pertama tahun 2020. Motor saya geber ke Unit 9. Dari kosan di jalan 8 Unit 2, perlu waktu kurang dari 30 menit untuk menuju ke Unit 9.

Dari arah pasar Unit 2, lurus ke arah Unit 3. Tiba di Alfamart jalan 12 belok kanan ke arah Rimbo Ulu. Lurus  mengikuti jalan hingga tiba di simpang bunga bangkai, ambil jalan ke kanan.

Taman bunga Celosia Muna berada di sebelah kanan, setelah kantor desa Sukadamai (Unit 9). Lokasinya mudah dikenali dengan pagar berwarna-warni. Parkir kendaraan berada di sebelah kiri, tetapi karena tidak ada orang motor saya parkir begitu saja di dekat pintu masuk.

Dari spanduk yang terpampang, taman ini dikelola oleh Karang Taruna Punarbawa Abhinaya Karya desa setempat.

Melangkah di atas jembatan bambu, loket penjualan tiket kosong tak ada orang. Saya masuk saja. Seorang pria yang sedang menyiram bunga menghampiri saya. Uang sepuluh ribu rupiah saya serahkan sebagai tanda masuk taman. Saya tak tahu apakah tarifnya segitu karena saya tidak diberi potongan tiket.

“Dari mana, mas?” tanya si petugas.
“Unit loro, mas,” jawab saya menggunakan bahasa Jawa.

Pandangan mata saya edarkan ke sekeliling. Dimana-mana yang ada hanyalah bunga celosia berwarna merah dan kuning yang menyegarkan mata.

Kata-kata berbahasa Jawa yang dipasang menyiratkan saya sedang berada di taman di sebuah kota di pulau Jawa, bukan di Jambi.

Salut dengan para eks transmigran di Unit 9 yang masih melestarikan bahasa Jawa meskipun kini mereka berada ribuan kilometer dari tanah kelahiran.

Sepasang remaja asyik duduk di gubuk derita. Memang demikian nama yang tersemat pada bangunan kecil di tepi taman. Ah, indahnya masa bercinta. Gubug derita saja bisa menjadi gubug asmara hahaha.

Sepertinya saya orang ketiga setelah mereka, maksudnya pengunjung ketiga pagi itu karena saya belum menemukan siapapun selain saya dan mereka berdua.

Saya melangkah menuju sebuah gardu pandang berlantai 3 dari kayu yang berada di tengah-tengah taman. 

Gardu pandang ini tak terlalu besar. Saya melewati setiap anak tangga dengan perlahan. Takut ada kayu yang lapuk.

Dari atas pemandangan sekitar teramati dengan jelas. Bunga berwarna merah dan kuning dibentuk menyerupai beberapa pola seperti gelombang melingkar, berjajar dan hati di bawah sungguh sedap dipandang!

Saya orang yang tak terlalu suka selfie. Namun, di tempat ini godaan itu sulit dibendung hahaha #maafkan.

 
replika kincir angin

Satu rombongan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak masuk ke taman. Dari logat mereka, sepertinya dari Jambi. Beberapa saat setelah mereka datang, satu per satu pengunjung mulai berdatangan. Saya amati mereka yang sibuk berfoto di beberapa instalasi selfie seperti kupu-kupu, sayap, rumah-rumahan.


di atas gardu pandang

Sekelompok remaja tanggung beranjak menuju gardu pandang yang saya tempati. Saya turun memberikan kesempatan mereka untuk naik.

Sepengetahuan saya, belum ada fasilitas seperti toilet dan mushola di dalam taman. Mungkin sedang direncanakan. Pedagang makanan dan minuman juga belum ada. Bagi pengunjung silakan membawa makanan dari rumah.

Ada banyak tulisan unik yang bisa dipakai untuk berfoto. Seperti hidup yang banyak pilihan, ada banyak pilihan yang harus dipilih meski sulit dan kadang dilematis.

Beberapa kata tampak sengaja menyindir kisah percintaan remaja masa kini. Mantan, perselingkuhan, galau, dan beberapa kata yang akhrab dengan dunia remaja saat ini.

Taman Bunga Celosia Muna
Jl. Anggrek, Sukadamai (Unit 9) Rimbo Ulu 

Update: bulan lalu saya kesini lagi untuk mengantar teman. Sadly, bunganya kembali layu. Sepertinya, taman ini hanya bisa dikunjungi beberapa bulan saja dalam waktu setahun.


9 respons untuk ‘Taman Bunga Celosia Muna

  1. Cakep tuh konfigurasi taman bunganya, mas …
    Ada lope-lopean gitu dibentuknya :).

    Taman bunga yang ditanami celosia ini juga banyak bermunculan di kotaku, mas.
    Cuman ya kendalanya seperti yang di taman celosia ini, bunga kalo layu tamannya jadi taka ada bunga.

    1. Salam kenal mas, terimakasih sudah mampir

      Iya nih, lagi musim dimana2 taman celosia ya..
      jadi celosia ini gampang layu ya mas, tapi bisa bangkit lagi kan? wkwkw

  2. Wah, baru tahu di Sumatra juga ada bandrek :))

    Btw mas, itu tamannya mirip bat sama taman-taman yang ada di sekitaran West Prog alias Kulonprogo, bunga-bunganya sejenis. Tapi ngomong-ngomng kok teks di papannya kok banyak pake bahasa Jawa yaa haha

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s