Rumah Tua Serai Serumpun

Dua tahun silam saya dan pak boss pergi menjalankan dinas ke kantor camat Serai Serumpun. Pulang dari sana tidak banyak kesan yang saya tangkap kecuali daerahnya yang terpencil, sepi dan berada di seberang Batanghari.

Kali ini saya kembali ke Serai Serumpun bersama boss baru. Jika dulu kami hanya bertiga bersama sopir, kali ini kami dinas berempat.

Dari tujuh kecamatan di Kab. Tebo yang menjadi wilayah operasional kantor kami, Serai Serumpun merupakan daerah terjauh. Kecamatan pemekaran Tebo Ulu ini berjarak 46 kilometer dari Rimbo Bujang. Menurut perkiraan gmaps, perlu sekurang-kurangnya 1 jam 15 menit untuk sampai.

Mobil meluncur ke arah Unit 1 Perintis, lurus hingga Simpang Lopon, lantas belok kanan ke arah Muara Tebo. Melewati SMAN 1 Tebo, kantor camat Tebo Ulu, lurus hingga tiba di sebuah simpang tiga dengan jalan rabat beton cukup lebar di sebelah kiri.

Jembatan Keramat Sembilan, namanya cukup menyeramkan. Jembatan beton panjang ini melintasi sungai Batanghari. Menghubungkan desa Tanjung Aur di Tebo Ulu dan Tanjung Aur Seberang di Serai Serumpun. Dari prasasti di ujung jembatan, jembatan ini juga dikenal dengan nama Tebo II. Dibangun pada masa pemerintahan gubernur Jambi Zulkifli Nurdin yang juga ayah dari gubernur Jambi Zumi Zola pada tahun 2009.

Sebelumnya dari Tebo Ulu ke Serai Serumpun harus menggunakan ponton (perahu penyeberangan kendaraan) sebagai satu-satunya transportasi antar kecamatan.

Selamat datang di kecamatan Serai Serumpun, Bumi Sejalar Umpamo Labu Serumpun Umpamo Serai. Demikian slogan daerah ini yang saya baca di kantor camat dua tahun silam.

Rumah di Serai Serumpun ini jarang-jarang. Tidak serapat di Tebo Ulu ataupun Rimbo Bujang. Sepanjang dari jembatan lebih banyak sawah, semak, dan lahan kosong dibandingkan rumah. Kendaraan juga sepertinya jarang lewat. Kami sempat melihat seekor biawak cukup besar rebahan malas di tengah jalan. Mungkin karena sepi orang yang lewat.

Catatan statistik menyebutkan dari 348 ribu jumlah penduduk Tebo yang tersebar di 12 kecamatan, Serai Serumpun hanya didiami oleh 10 ribu jiwa saja. Selain sedikit jumlah penduduknya, juga menjadikan Serai Serumpun sebagai daerah paling sepi dengan kepadatan hanya 33 jiwa/km persegi. Jauh dibandingkan Rimbo Bujang tempat saya tinggal yang memiliki jumlah penduduk 65 ribu jiwa dengan kepadatan 166 jiwa/km persegi.

Serai Serumpun adalah kawasan transmigran lokal yang dihuni oleh pendatang dari berbagai daerah di Jambi. Jika di Rimbo Bujang dan Rimbo Ilir dikenal istilah Unit dan Blok sebagai wilayah rintisan calon desa, di Serai Serumpun dikenal istilah Satuan Pemukiman (SP). Kantor camat berada di desa Sekutur Jaya yang dulu namanya SP 2 dan masih dipakai hingga saat ini.

Dari obrolan dengan orang di kantor camat, kami baru tahu kalau Serai Serumpun dulu disebut Reginas, diambil dari nama sebuah perusahaan sawit yang beroperasi di daerah ini. Orang sekarang pun lebih suka menyebut Serai Serumpun dengan SerSer 😀 haha

 
masih banyak lahan kosong di Serai Serumpun

Sebelum tiba di kantor camat, kami melintasi pasar SP 2 yang tutup. Entah hari apa pasar ini buka. Tiba di kantor camat, pak Camat sedang mengisi acara sosialisasi di aula sehingga kami harus menunggu sekitar sejam kurang. Kantor Camat Serai Serumpun ini tidak sebesar kantor camat di daerah lain. Pun halamannya tidak terlalu luas. 

 

Tepat di depan kantor camat berdiri kantor desa Sekutur Jaya. Kendaraan yang lewat tiap menitnya bisa dihitung jari. Saya perlu menunggu beberapa saat hingga menemukan momen seperti di bawah ini.

Seingat saya camat Serai Serumpun namanya Ambiar (bukan Ambyar 😀 ). Rupanya beliau sudah pindah tugas dan kini digantikan orang lain.

Saya agak terkejut mendapatkan suguhan air mineral bernama Bening Water. Bukan karena namanya, tetapi karena produk ini buatan Rimbo Bujang. Saya baru tahu ada produk air mineral buatan Rimbo Bujang. Di Rimbo Bujang tidak ada pegunungan atau sumber air mineral alam. Apa dari sumur pompa ya? 

Satu jam lebih kami berada di kantor camat. Setelah data-data yang kami minta dipenuhi dan tugas kami anggap selesai, kami undur diri.

Jam makan siang sudah lama lewat. Mau makan siang di Rimbo Bujang kok ya kejauhan. Lalu teringat tadi sebelum pulang diberi nasi kotak oleh pak camat. Pak boss meminta sopir mencari spot untuk makan siang. Kami akan berhenti di sebuah masjid tepat sebelum jembatan Keramat Sembilan.

Mobil kami parkirkan di halaman warga yang dikelilingi banyak rumah panggung.

Di dekat rumah terdapat sebuah bilik padi (lumbung padi). Kearifan lokal masa lalu mengajarkan untuk membuat tempat penyimpanan padi terpisah dari rumah. Jika sewaktu-waktu rumah yang terbuat dari kayu terbakar, mereka masih punya persediaan beras yang disimpan dalam bilik padi. Mitigasi risiko bencana sudah diterapkan dengan baik oleh nenek moyang. Kerennya lagi, bilik padi dibuat tanpa menggunakan paku.

Mendengar suara mobil, pemilik rumah keluar dari rumah panggung. Kami mohon izin kepada bapak pemilik rumah dan dengan ramah kami diberi izin untuk makan di masjid. Masjid tersebut rupanya sudah lama kosong dan ditinggalkan begitu saja. Sebuah masjid baru dibangun tak jauh dari masjid lama.

Masjid Istiqomah, desa Tanjung Aur Seberang, kecamatan Serai Serumpun, kabupaten Tebo. Demikian nama yang bisa saya baca. Dari penuturan bapak pemilik rumah, masjid ini ditinggalkan karena bantaran sungai semakin lama terkikis air sungai Batanghari.

Kami mencari spot untuk duduk di tepi sungai yang dinaungi niur. Memandang sungai Batanghari yang airnya berwarna susu kecokelatan. Sudah lama sekali saya tidak makan di atas rumput. Terakhir saya melakukannya sepertinya waktu zaman pramuka di SMA. Makan siang yang syahdu.

 

Nasi kotak saya isinya lele. Teman saya ada yang mendapat lele atau ayam goreng. Meski nasinya sudah dingin, sambelnya cukup pedas sehingga sekotak nasi saya tandaskan. Apalagi ditemani suara aliran sungai dan langit yang biru.

Setelah saya perhatikan, tak hanya masjid, beberapa rumah di tepi sungai ditinggalkan warga begitu saja, meski ada yang masih dihuni.

Sebuah rumah tampak masih terpelihara. Namun saat diamati lenih dekat, rumah tersebut tampak sudah lama tidak ditinggali. Kosong, bahkan bahkan kaca jendelanya sudah tidak ada.

Zaman sudah berubah. Tinggal di rumah tradisional mungkin dianggap tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masa kini. Lambat laun rumah-rumah tradisional seperti ini bisa jadi tinggal cerita.

Iklan

2 respons untuk ‘Rumah Tua Serai Serumpun

  1. Desa ini membuka kenangan lama saya tahun 2004 waktu masih bujangan, dulu saya pernah tinggal di sana sempat honorer ngajar di SMP…

    Semoga semua warga serai serumpun sehat selalu, maju kecamatannya dan semua desanya. Wah jembatan nya sudah ada, dulu mau kepasar harus nyebrang sungai pakai gethek 😁

    Oiya salam hangat buat bang Zulkifli

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s