Pameran Filateli, Foto Lawas di Bandara Sultan Thaha

Saya masih bisa mengingat rupa buku itu. Buku kecil bersampul merah dengan banyak prangko kecil di dalamnya.  Buku berwujud album prangko itu milik ibu lantas diwariskan ke saya. Waktu SMA, rumah kami direnovasi. Saya tak tahu dimana gerangan buku-buku saya termasuk album itu dipindahkan. Saya cari-cari, album prangko ibu saya tak tahu kemana perginya. 

Saya baru menyukai filateli sejak tahun 2012. Awalnya iseng mendaftar sebagai member CardToPost, lalu beranjak ke Touch Note, dan terakhir Postcrossing. Semuanya adalah wadah dan saran komunikasi pecinta kartu pos di dunia maya. Namun, saat ini saya hanya aktif di Postcrossing. Sayang sekali karena CardToPost dan TouchNote tak terdengar lagi kabarnya. 

Saya sempat vakum berkirim kartu pos beberapa tahun karena kesibukan kantor. Saya kembali menekuni hobi mengumpulkan kartu pos tahun 2018 hingga sekarang.

Selain kartu pos yang sudah lama saya geluti, saya mencoba “kembali”  dunia filateli sejak bergabung dengan sebuah grup WhatsApp khusus filatelis. Dari grup itu, saya berkenalan dengan grup Keluarga Filatelis Jambi. Grup ini wadah di dunia maya Pengurus Filateli Indonesia Provinsi Jambi. Saya baru tahu kalau filatelis di Indonesia ada organisasi resminya dengan 34 cabang di seluruh Indonesia. Fadli Zon, anggota DPR yang … anu, suka nongol di tv itu ketua umum PFI!

Sekian lama bercuap-cuap di dunia maya, harapan bisa bertemu anggota PFI Jambi membuncah tatkala saya transit di bandara Jambi hendak pulang ke Jogja. Mereka sedang menggelar pameran prangko di area kedatangan bandara Sultan Thaha. Memang saat itu salah satu agenda PFI adalah mengadakan pameran di bandara Sultan Thaha.

Ada belasan figura beraneka ukuran yang menampilkan benda pos seperti kartu pos, prangko, sampul hari pertama. Sayangnya saya tak bertemu satu pun anggota PFI yang menjaga pameran. Yah.. padahal beberapa penumpang tampak antusias melihat koleksi prangko.

Beberapa tema yang dipamerkan antara lain: China dan Zodiak, flora dan fauna, masa kecil, pesawat terbang, Nederland, perhubungan, Long Live the Bat, Christmas, Presiden dan Wakil Presiden. Di kemudian hari, baru saya tahu kalau tiap kali pameran, setiap anggota PFI akan menyiapkan semua koleksi terbaiknya secara mandiri.

Ingin sekali mengamati tiap detik prangko. Sadar saya tak punya banyak waktu karena harus melanjutkan pesawat ke Jakarta, saya hanya bisa menatap prangko itu dari balik layar kamera lantas beranjak keluar menuju keberangkatan.


prangko tema masa kecil

prangko tema Fruits, Flowers, Animals

prangko tema Tokoh Cartoon

prangko tema alat transportasi

Melangkah ke area keberangkatan, saya terkejut melihat panel pameran foto hitam putih Jambi tempo doeloe. Belum hilang antusias melihat pameran prangko, kali ini ada pameran foto. Tumben sekali ada pameran di bandara Jambi. Kalau pameran foto di bandara Soekarno-Hatta mah sering. 

Beberapa foto yang dipanjang tampak tak asing dan pernah saya lihat sebelumnya. Misalnya foto kunjungan Wakil Presiden Bung Hatta ke Bangko tanggal 12 April 1954 pernah saya lihat di Merangin Expo di Bangko. Lantas foto kepala kampung di Mandiangin, Kab. Sarolangun yang ada di Wikipedia tepatnya di halaman Kab. Sarolangun. 


pria menabuh rebana, Hari Raya di Muara Madras, Kab. Merangin

ibu-ibu dan anak suku Anak Dalam menyambut Bung Hatta di Bangko, 12 April 1954


anak laki-laki di Lesung Batu menggunakan pakaian adat dengan mahkota dan bunga di telinga

Btw, saya tak menemukan desa Lesung Batu di Jambi dalam penelusuran google. Hanya menemukan desa Lesung Batu di Musi Rawas, Sumatera Selatan. Melihat mahkota dan bunganya, sepintas mirip pengantin Mandiangin di Sarolangun saat ini.

Di dinding di balik panel foto Jambi tempo doeloe rupanya terdapat pameran proses pemugaran Candi Muaro Jambi oleh BPCB Jambi.

Candi Muaro Jambi sendiri merupakan kawasan cagar budaya nasional seluas 3.981 hektar di hilir sungai Batanghari. Tak heran candi Muaro Jambi merupakan candi terluas di Asia Tenggara. Candi Muaro Jambi sendiri sudah didaftarkan ke UNESCO untuk menjadi daftar warisan dunia sejak tahun 2009.

Wah seru nih, lagi-lagi saya tak bisa berlama-lama karena durasi transit saya di Jambi tidak terlalu lama, sehingga tak semua panel saya baca. Saya simpan semua panel di kamera untuk dibaca nanti di rumah!


candi Tinggi sebelum dipugar (tahun 1978) dan sekarang

Saya sendiri baru dua kali ke candi Muaro Jambi. Pertama bareng bang Madon dan kedua kali bareng Omnduut waktu Omnduut ada acara keluarga ke Jambi beberapa tahun silam. Ah…adi pengen ke Muaro Jambi lagi.


5 respons untuk ‘Pameran Filateli, Foto Lawas di Bandara Sultan Thaha

  1. hobi perangko .. hobi jadul banget … kalau dulu waktu SD tidak koleksi perangko artinya ketinggalan zaman.
    Kids Zaman Now … kalo hobi koleksi perangko .. anak aneh … hahaha

  2. Tahun 2012 baru menyukai filateli ya Mas?
    Saya sudah “mati” dari kegiatan mengumpukan prangko sejak 2001, saat saya tak pernah lagi menerima surat.

    Saya juga belum pernah hadir di pameran filateli seperti foto Mas diatas. Tadinya kan akan digelar pameran menyambut Hari Filateli Nasional, 29 Maret, tapi gagal karena kondisi tidak memungkinkan. Sayang sekali…

    Selamat menekuni hobi filateli, Mas

    Salam,

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s