Adi Sutjipto: Penerbangan Terakhir ke Jogja

Sejak lahir, tumbuh besar hingga sekolah, saya selalu tinggal dengan orang tua. Tahun 2006, selepas lulus SMA adalah masa dimana saya memulai hidup sebagai perantau. Orang tua meminta saya meneruskan “tradisi” keluarga dengan meminta saya kuliah di fakultas keguruan.

Hati nurani membimbing saya untuk melanjutkan kuliah di sebuah sekolah kedinasan di Yogyakarta. Alhamdulillah saya diterima di kampus tersebut dengan syarat, saya akan ditempatkan di kampus Palembang, meski saya mendaftar di Jogja. Membayangkan tinggal sendirian di kota yang jauh di sebuah pulau terpisah dari Jawa membuat saya risau.

Atas restu orang tua, saya mantap melanjutkan kuliah di Palembang. Sebelum berangkat, saya tak sengaja bertemu dengan Faizal dan Apib. Mereka nantinya akan menjadi sahabat saya di Palembang.

Berangkat ke Palembang, kami naik Adam Air dari bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Segala sesuatu termasuk tiket disiapkan oleh keluarga besar Faizal. Sebelum berangkat kami mendapat banyak tips dari tante Faizal bagaimana naik pesawat untuk kali pertama: pakai baju rapi, check in dan airport tax, makanan di bandara yang super mahal dan makan permen saat take off  bisa mengurangi sakit telinga karena bunyi mesin pesawat.

Dasar tak paham, saat keberangkatan, habis check in dan bayar airport tax, kami membeli asuransi tambahan tanpa tahu kalau itu tak wajib karena sudah ditanggung maskapai. 

Penerbangan Yogyakarta-Palembang via Jakarta berlangsung lancar.  Sedikit guncangan sempat terjadi dalam penerbangan ke Palembang. Itulah pertama dan terakhir kalinya saya naik Adam Air.

***

Februari 2020
Saya berencana mudik pulang kampung. 

Menuju rumah orang tua di Boyolali, saya punya 3 opsi bandara terdekat. Paling murah turun di Semarang. Dalam hal jarak, paling dekat adalah bandara Solo (1jam), paling jauh adalah Yogyakarta (2-3 jam). Soal pemandangan, bandara Yogyakarta juaranya. Merapi dan Merbabu dan beberapa pegunungan di Jawa menjadi spot favorit saya di ketinggian.

Beberapa kali mudik, saya selalu turun di Semarang atau Solo. Sebuah kebetulan saya mendapatkan tiket termurah adalah menuju Yogyakarta. Saya cek di album perjalanan, saya terakhir kali turun di Yogyakarta tahun 2013.

Rute mudik saya kali ini agak panjang: Muara Bungo-Jambi-Jakarta-Yogyakarta. Siang berangkat dari Muara Bungo, Maghrib sampai Jogja. Saya adalah penikmat senja. Menikmati matahari terbenam di ketinggian rasanya akan mengasyikkan. Mudah-mudahan cuaca cerah. Btw, ini akan menjadi penerbangan terakhir saya ke bandara Adi Sutjipto, sebelum akhir Maret 2020 semua penerbangan akan dialihkan ke bandara baru di Kulon Progo, sekitar 40 km dari pusat kota.

Meski saat itu belum ada kasus Corona, beberapa orang termasuk saya sudah memakai  masker. Pesawat menuju Yogyakarta berangkat tepat waktu. Cuaca cukup cerah.  Terbang di atas Nusa Kambangan, matahari perlahan terbenam. Magis!

Langit perlahan gelap, lampu rumah menghiasi penjuru kota. Aspal bandara basah disapu hujan. Ornamen menyerupai keraton Jogja menyambut saya di bandara Adi Sutjipto. Dulu seingat saya atapnya polos saja model Joglo khas Jawa.

Melihat becak dan latar Tugu Yogya di area kedatangan, dalam hati seketika ingin menyanyikan lagu Kla Project: Yogyakarta.

Keluar bandara, riuh sapaan pengemudi taksi. Namun, tak ada kesan memaksa. Nuansa Jawa di bandara ini begitu terasa. Sepasang “prajurit” keraton menjaga sebuah kereta kencana. Pun adanya panel wayang kulit bernuansa modern.

Saya keluar dari gedung terminal bandara, menjumpai patung Buddha dan replika Borobudur. Candi terbesar di dunia itu memang ada di Jawa Tengah, tetapi kadung dikenal sebagai “milik” Yogyakarta.

***

Saya cukup puas bisa menikmati bandara (lama) Jogja sebelum ia pindah ke Kulon Progo. Bandara baru di Kulon Progo terlalu jauh buat saya. Nantinya, saya akan memilih turun di Solo atau Semarang saja. Matur suwun Adi Sutjipto, bandara pertama dalam hidup saya.

 

Mulai hari ini, 29 Maret 2020 seluruh penerbangan dari dan menuju Yogyakarta akan dipindahkan ke Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo (kode: YIA). Bandara Adi Sutjipto (JOG) hanya melayani penerbangan pesawat baling-baling, carter dan pesawat militer.

Adi Sutjipto, selamat tinggal…


18 respons untuk ‘Adi Sutjipto: Penerbangan Terakhir ke Jogja

  1. Siapa bilang YIA jauh? Dekat pakai banget untuk saya, hahaha…
    Sriwijaya buka rute langsung lho mas, Jambi – Jogja. Tapi sementara ini belum beroperasi karena pandemi ini. Mudik lebaran nanti rencana mau coba, eh gagal karena Corona.

  2. sepanjang baca tulisannya, jadi mendendangkan lagi Yogyakarta……
    kalau pakai pesawat baling-baling, mungkin penerbangan dari Bandung masih bisa turun di Adi Sucipto ya….

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s