Pecel Kriuk Pasar Kembang Unit 9

Selalu ada kisah dari pasar-pasar tradisional, termasuk pasar di Rimbo Bujang. Pasar Sarinah di Unit 2 yang merupakan pasar terbesar di Rimbo Bujang, mbah-mbah penjual nasi rames dan thiwul yang ramah di Pasar Unit 5 lantas lezatnya es candil di Pasar Kemis

Blusukan keliling pasar berlanjut. Kali ini ke Pasar Unit 9. Unit 9 adalah salah satu dari sekian daerah eks-transmigrasi zaman Orde Baru. Ketika awal masa transmigrasi di Rimbo Bujang, daerah yang baru dibuka sebagai pemukiman dinamai Unit. Unit adalah cikal bakal terbentuknya desa persiapan yang akhirnya menjadi desa definitif.

Total ada 13 unit di kecamatan Rimbo Bujang dan daerah pemekarannya yaitu kecamatan Rimbo Ulu dan Rimbo Ilir. Mulai dari unit 1 yang kini disebut desa Perintis, unit 2 yang berkembang menjadi kelurahan Wirotho Agung. Unit 3 hingga unit 7 berada di kecamatan Rimbo Bujang. Unit 8 hingga unit 12 di kecamatan Rimbo Ulu. Unit 13 tidak ada, entah karena faktor apa. Unit 14 ada di Kab. Bungo, dan unit 15 di Rimbo Ilir adalah unit terakhir. Perkembangan berikutnya, dipakai istilah Blok dan SP (Satuan Pemukiman) menggantikan istilah unit. 

Kembali ke unit 9, unit 9 kini dinamai Sukadamai. Sukadamai adalah pusat pemerintahan kecamatan Rimbo Ulu. Dari kantor saya menuju Sukadamai jaraknya 6,7 km di aplikasi gmaps atau 15 menit. Cukup dekat.

Kamis sore, saya bareng bang Ridho motoran ke pasar Sukadamai. Kami tak lewat jalan biasa yaitu jalan 12 dekat kantor melainkan lewat jalan 8 yang dekat kosan. Dari jalan 8 jalannya tak terlalu bagus, habis jalan aspal langsung disambut jalan tanah yang cukup licin, jalan berbatu, hingga tiba di unit 9.

Pasar unit 9 berada di sebuah persimpangan, tidak jauh dari kantor Camat Rimbo Ilir, Polsek Rimbo Ilir, kantor Desa Suka Damai, BRI Rimbo UIu, SMAN 5 Tebo. 

Nama resmi pasar unit 9 adalah Pasar Kembang. Kalau pasar di desa lain buka seminggu sekali, pasar Kembang buka seminggu dua kali. Setiap hari Kamis dan Minggu.

Jalan-jalan di unit 9 ini dinamai menurut nama  bunga atau kembang: jalan Anggrek, jalan Cempaka, jalan Teratai dan lain-lain. Jalan poros atau jalan utama di Unit 9 dinamai jalan Anggrek. Tidak jauh dari kantor camat terdapat sebuah taman bunga yang pernah viral di media sosial kawula muda Rimbo Bujang: taman bunga Celosia Muna. Sayang sekali, waktu kami kesana tamannya tutup karena bunganya layu.

Penamaan nama-nama bunga di unit 9 sepertinya bukan sembarangan dan asal. Di desa tetangga unit 9 yaitu desa Sidorukun atau unit 12 merupakan kawasan habitat bunga langka yaitu bunga bangkai. Di simpang tiga antara jalan Anggrek dan jalan Melati dibangun mercutanda berupa tugu bunga bangkai. 

Habis parkirin motor di sebuah lahan dekat pasar, saya dan bang Ridho keliling pasar. Beda dengan pasar lainnya, tidak ada petugas parkir yang jaga. Saya menangkap ada suara unik di telinga. Masih bahasa Jawa, tetapi … ah, dialeg ngapak, dialeg Jawa Tengah bagian barat yang bagi sebagian orang terdengar jenaka, termasuk bagi saya, meski dialeg ngapak ini sebenarnya bukan hal asing karena istri saya memiliki darah ngapak dari Brebes. Tak hanya dialeg ngapak, dialeg Jawa Tengah bagian timur juga terasa di pasar ini.

Tak ada perbedaan dari segi barang yang dijual antara pasar Kembang dengan pasar lainnya. Pakaian, kebutuhan sekolah, seragam, sayuran dan buah, alat dapur, alat rumah tangga dan lainnya.

Di bagian belakang pasar, melewati penjual sayur dan bumbu dapur, saya berhenti di lapak ibu-ibu penjual jajan pasar. Dialegnya ngapak. Ia menjual gethuk, sayuran siap makan, keripik singkong pedas dan intip singkong.

Gethuk dan intipnya menggoda lidah. Saya mengambil beberapa lembar rupiah dari dompet dan jajajan itu telah berpindah ke genggaman saya. Iseng saya  bertanya dimana penjual pecel. Ibu itu menunjuk sebuah warung dengan telunjuknya. 

Seorang anak perempuan bermain-main di tepi meja panjang sementara sang ibu membuat pecel gendar. Anak ini rupanya cucu dari ibu penjual gethuk.

Sekilas tak ada beda pecel pasar Kembang dengan pecel di pasar unit lainnya. Hanya saja porsinya lebih banyak dan diberi remahan gorengan sehingga menimbulkan sensasi renyah kriuk di mulut. Harganya hanya Rp 5.000,- dijual lebih murah dari harga biasa yaitu Rp 7.000,- karena pasar akan segera tutup. Meski sudah mau tutup, ibu penjual pecel masih memasak gorengan. Pecel dan gorengan panas sungguh sedap.

Sebelum pulang, saya beli sebungkus es cendol dawet. Harganya cuma Rp 3.000,- Es cendol paling murah seantero Rimbo Bujang!

11 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    jalan jalan sambil jajan makanan kampung … benar2 menikmati suasana di daerah tersebut.
    kalau pecel sih …. saya suka banget makan pecel … pecel yang ini beda banget yang biasa ada di Jakarta 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      kalo di jkt pecelnya gimana mas…

      1. bersapedahan berkata:

        pecel yang dekat rumahku pakai sejenis daun … saya lupa namanya .. kata temannku sih beda dengan pecel di Yogya … tapi kalau menurutku sih seperti pecel jawa timur

        1. Avant Garde berkata:

          daun apa mas? hehe.. bentuknya gmn

  2. Indonesia Hebat berkata:

    Peninggalan jaman orde baru yang sepertinya tak lagi dilakukan jaman sekarang ya Mas. “Transmigrasi”.
    Sekarang rata2 daerah transmigrasi sudah berkembang pesat yak. Gak kebayang dulu pas baru datang, ditengah hutan sambil mencoba membangun peradaban.

    1. Avant Garde berkata:

      transmigrasi masih dilakukan sampai sekarang sebenarnya, tapi memang tak semeriah dulu 🙂 Terimakasih…

  3. dzikraalfadhil berkata:

    Waah, Follow Balik ya teman teman agar bisa dapat masukan dari teman teman Terimakasih.

  4. bara anggara berkata:

    kalau mau ngomong ngapak sini sama ane.. walaupun ane orang sunda,, kehidupan sehari2 di sekitar kampung kami menggunakan 2 bahasa, sunda dan ngapak haha..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      masa sih, gak bisa ngebayangin Bara ngomong ngapak 😀

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s