Es Candil Pasar Kemis Unit 6

Kunjungan ke Pasar Unit 5 di desa Tegal Arum tempo hari membuka mata hati saya tentang bagaimana kaum transmigran dari Jawa bertahan hidup. Bertahan dengan setia mengkonsumsi makanan tradisional  di tengah gempuran makanan Sumatera, melestarikan bahasa Jawa meski tak lagi tinggal di tanah kelahiran, dan bertahan dengan segala kesahajaan dan keramahtamahannya.

Rasa penasaran kembali menuntun saya menjelajahi pasar selanjutnya, pasar Kemis di Unit 6 atau desa Tirta Kencana. Sesuai namanya, pasar ini hanya buka tiap hari Kamis di desaTirta Kencana. Tirta berarti air, kencana adalah emas. Meski demikian, penduduk asli desa ini bukanlah dari Banyumas (banyu=air).

Dari kantor saya untuk menuju Tirta Kencana jaraknya 6 km. Naik motor bisa ditempuh selama sekitar 15 menit.

Pulang kantor, motor saya bawa ke arah pasar. Tiba di simpang jalan 10, saya belok kanan. Masjid berkubah hijau yang dibangun oleh salah seorang pengusaha di Rimbo Bujang menjadi penanda selamat datang di jalan 10 unit 2 atau sekarang namanya jalan Wahidin. 

Menyusuri jalan 10, kiri dan kanan hanyalah kebun karet dan sawit, rumah tak terlalu padat. Ruko dan pertokoan juga bisa dihitung jari. Jalannya naik dan turun. Masuk ke desa Tirta Kencana, karet dan sawit masih mendominasi. Pasarnya berada di sebelah kanan jalan, dengan deretan lapak jualan sederhana dari kayu dan beratap seng. Parkirnya dijaga oleh seorang nenek dan kakek, sepertinya suami istri.

 
pasar Kemis, difoto di hari saat bukan pasaran

Untuk kali pertama, saya diberikan tiket parkir, yang harus dikembalikan seusai berbelanja dan hendak mengambil kembali kendaraan.

Tak beda dengan pasar Unit 5, bahasa Jawa mendominasi percakapan, antar pedagang dan pembeli. Sesekali terdengar bahasa Minang atau Indonesia.

Dekat pintu masuk, sebuah rak buku portabel penuh dengan buku-buku dari relawan Saksi Yehuwa. Dua orang relawan berdiri dekat rak buku tersebut. Tak ada yang mengganggu dan mempermasalahkan aktivitas mereka. Ah indahnya toleransi di desa.

Dekat dengan Saksi Yehuwa ada ibu-ibu penjual jajanan aneka rupa. Ada es candil biji salak, gethuk lindri, ayam goreng dan sayuran siap santap. Saya beli sebungkus es candil yang merupakan campuran candil (kue biji salak), bubur ketan hitam disiram santan segar dan es batu. Harganya bikin kaget karena hanya Rp 5.000,- untuk seporsi es candil yang tidak habis dimakan sendiri. Sampai di rumah, es candilnya enak. Hanya saja karena porsinya terlalu banyak masih ada sisa yang tak termakan 😦


ibu penjual candil

 
candil atau bubur biji salak

 
gethuk lindri

Saya mulai berkeliling, mencari jajanan tradisional lainnya yang mungkin bisa saya temui. Entah pecel gendar atau thiwul dan grontol seperti di pasar Unit 5. Hasilnya … saya tidak menemukan penjual pecel maupun thiwul. Yang ada sapaan ramah dalam bahasa Jawa bergema di telinga.


musisi jalanan

bapak-bapak yang minta difoto

Serupa dengan pasar lainnya, barang-barang kebutuhan sehari-hari seperti pakaian, sepatu, buku tulis, sayuran, bumbu dapur, peralatan dapur mudah ditemui.

Sedang musim durian, si raja buiah ini mudah dijumpai di pasar.

yang jual martabak manis ini didengar dari logatnya adalah orang Minang

Habis keliling sebentar dan tak menemukan pecel dan thiwul, saya memutuskan pulang. Di sisi pasar yang lain saya melihat penjual bakso bakar. Saya ajak bercakap menggunakan bahasa Jawa. Masnya bingung. Dia rupanya bukan orang Jawa melainkan orang Minang yang besar di Medan. Bakso bakarnya cuma seribu pertusuk. Saya beli 10 tusuk.

Petualangan keliling pasar belum berhenti. Saya ingin tahu ada apa lagi di pasar-pasar berikutnya.

9 Comments Add yours

  1. Indonesia Hebat berkata:

    Menarik Mas liputan keliling pasarnya. Serasa ikut berpetualang bersama, menikmati tiap sudut pasar yang tersaji dalam cerita dan foto.

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih sudah singgah 🙂

  2. bersapedahan berkata:

    keliling pasar disini masih banyak nemu jajanan jawa … dan harganya masih murah2 …. orang Jakarta pasti takjub … hahaha

    1. Avant Garde berkata:

      hahaha… saya yg bukan orang Jakarta aja kaget mas hehe

  3. omnduut berkata:

    Kok kepikiran ramadan yo Pak. Dak lamo lagi 🙂
    Makanan dan minuman yang dijual khas makanan untuk bebuko puaso.

    1. Avant Garde berkata:

      hahha…jadi keingat puasa om 🙂

      1. omnduut berkata:

        Bentar lagi 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s