Berjumpa Mbah Kemir dan Mbah Kismo di Pasar Unit 5

Lahir dan besar di Jawa Tengah membuat lidah saya akhrab dengan masakan Jawa. Termasuk di antaranya jajanan pasar. Waktu kecil, tiap kali ibu ke pasar untuk berbelanja, pulangnya ibu tak lupa untuk membeli jajan pasar seperti gethuk, jadah atau klepon.

Tinggal di Rimbo Bujang yang merupakan daerah eks transmigrasi membuat masakan Jawa tak susah dijumpai. Atas info dari mas Nyco, ada yang jual nasi jagung di pasar Unit 5 tiap hari Sabtu. Saya agak ragu, tetapi antusias. Bertahun-tahun tinggal di Sumatera, memang saya tak pernah melihat ada yang jual menu langka ini. Di Pasar Sarinah saja saya tak pernah menjumpai nasi jagung. Demi makan nasi jagung, saya harus pulang kampung dulu ke Boyolali atau Salatiga.

Unit 5 adalah nama lama dari desa Tegal Arum, masih wilayah kecamatan Rimbo Bujang. Dari pusat kota jaraknya 16 km. Pasar Unit 5 hanya buka seminggu sekali saat hari Sabtu.

Hari Sabtu tiba, habis sarapan saya berangkat ke Pasar Unit 5. Dari arah Rimbo Bujang menuju Pasar Unit 5 ada dua opsi. Pertama lewat jalan 10 (jalan Wahidin) melalui desa Tirta Kencana, jalan 10 (Teuku Umar) desa Tegal Arum lantas belok ke arah Pasar Unit 5. Opsi kedua lewat Unit 1 (desa Perintis), belok kanan simpang jalan 21, lewat Unit 4 (desa Purwoharjo) lurus ke desa Tegal Arum. Hasil perhitungan di gmaps, baik lewat Perintis-Purwoharjo maupun lewat Tirta Kencana jaraknya sama-sama 16 km. Yasudah, saya akan berangkat lewat Tirta Kencana, pulangnya memutar lewat Purwoharjo.

Melewati jalan 10, ingatan melambung jauh saat pertama kali main ke Rimbo Bujang beberapa tahun silam. Kiri kanan selain rumah penduduk hanyalah kebun karet milik warga. Bedanya, dulu jalannya tak semulus sekarang. Dulu saya tak tahu kalau desa tempat orang tua mas Nyco tinggal bernama Tirta Kencana atau Unit 6.

 

Jalan utama di desa Tirta Kencana dinamai jalan Meranti. Sedangkan jalan kecilnya dinamai berdasar nama pohon: jalan Bulian, jalan Kulim, jalan Tembesu, jalan Sengon dan lain-lain.

Masuk desa Tegal Arum, sebuah tanya terlintas di kepala. Mungkinkah desa ini dulunya dihuni transmigran dari Tegal dan sekitarnya? Tiba-tiba juga saya teringat nama kereta ekonomi jurusan Tegal di Jawa ….

Dari jalan desa Tegal Arum tinggal lurus saja hingga tiba di sebuah simpang tiga. Kalau belok ke kiri ke Rimbo Bujang, belok kanan ke arah Muara Tebo. Saya belok kanan.

Masih di desa Tegal Arum terdapat sebuah masjid beratap susun tiga. Sepertinya masjid Pancasila alias masjid yang dibangun oleh yayasan milik presiden Soeharto.

Jalan ke arah Pasar Unit 5 mulus dan lebar karena ini jalan provinsi. Sebelum tiba di pasar terdapat sebuah Waterboom bernama llliyan dan gereja Kristen yang cukup megah.


tugu belimbing?

Pasar Unit 5 berada di sebelah kiri jalan, sebelum Puskesmas dan kantor Kepala Desa Tegal Arum. Tak seluas pasar Sarinah. Hanya seukuran lapangan futsal. Lapak pedagang sangat sederhana berupa los-los dari kayu. Sebagian beratap seng, sebagian hanya terpal. Berlantai tanah.

Habis parkir motor, saya tanya kepada bapak juru parkir dimana yang jual nasi jagung. Bapak setengah baya itu menunjuk seorang nenek-nenek yang menggelar lapak sederhana tak jauh dari tempat saya memarkirkan motor.

Info dari bapak juru parkir, namanya mbah Kemir. Begitu saya datangi, jualan mbah Kemir bukanlah nasi jagung melainkan grontol jagung, gathot, dan thiwul. Grontol ini jagung tua rebus yang dicampur kelapa parut. Sedangkan gathot adalah singkong kering (gaplek) yang difermentasikan hinga warnanya berubah kehitaman. Sedangkan thiwul adalah gaplek yang ditumbuk halus.

Waktu saya tanya harganya, agak kaget karena harganya sangat murah. Mulai dari Rp 2.000,- saja. Hampir tidak percaya masih bisa belanja makanan dengan uang Rp 2.000,- saja. Saya beli grontol, thiwul dan grontol Rp 5.000,- minta dicampur.

Mbah Kemir asli Wonogiri. Beliau adalah transmigran gelombang pertama di Rimbo Bujang yang tiba pada tahun 1977.

Saya tanyakan kemanakah gerangan penjual nasi jagung? Tidak berjualan katanya. Wah, sayang sekali jauh-jauh kesini belum bertemu nasi jagung. 

Di belakang mbah Kemir terdapat lapak sate Padang. Kaki saya langkahkan ke dalam pasar. Macam-macam barang dagangan di pasar desa ini. Baju, tas anak, sendal dan sepatu, sayuran dan buah, ayam potong, daging dan ikan segar. Mendengar semua pedagang dan pembeli bercakap dalam bahasa Jawa, baik ngoko (bahasa kasar) maupun krama inggil (bahasa halus) membuat saya seperti bukan di Sumatera, melainkan sedang di sebuah desa di pelosok Jawa.

Seorang mbak-mbak penjual mangga tampak malu saya abadikan dagangannya dalam gambar. Langkah kembali terhenti. Kali ini di lapak ibu-ibu berusia sepuh penjual nasi. Begitu saya dekati, ibu ini rupanya tak hanya menjual nasi melainkan pecel gendar dan gorengan. Gendar adalah karbo yang terbuat dari nasi dicampur pengenyal (aka.bleng/borax). Dulunya gendar dibuat dari nasi basi. Sekarang, gendar dibuat dari nasi segar sebagai teman makan pecel atau dibuat kerupuk karak.

Nasi yang dijual mbah Kismo, nama si penjual adalah nasi rames. Nasi dengan aneka sayur dan lauk. Kata mbah Kismo yang asli Trucuk, Klaten ini, beliau tak bisa memastikan menu apa yang dijual setiap minggunya. Kadang menjual sayur tumis jantung pisang, tumis bunga pepaya, semur jengkol, semur ayam, dan gorengan. Minggu berikutnya saya kesini ada sayur gori (nangka muda), opor ayam, tahu dan tempe bacem.

Saya minta dibuatkan pecel gendar. Pembeli bisa bungkus atau makan di tempat. Saya memilih untuk makan di tempat. 

Sama seperti mbah Kemir, mbah Kismo adalah generasi pertama transmigran di Rimbo Bujang yang tiba di tanah Sumatera pada tahun 1977. Mbah Kismo ini sangat ramah dan doyan bercerita. Sebagian besar giginya sudah habis diterpa usia. Dari mulutnya, mengalir kisah susahnya memulai hidup baru sebagai warga transmigran dan betapa sunyinya Rimbo Bujang saat itu.

Hampir kaget waktu mau bayar. Seporsi pecel puli dihargai hanya Rp 5.000,- saja. Sedangkan nasi rames plus lauk hanya Rp 10.000,-  Terharu sekali rasanya, di samping mbah Kismo sangat ramah, harganya juga dibilang sangat murah untuk ukuran di Sumatera. Selain air putih (gratis), pembeli juga bisa pesan teh manis hangat. Tehnya harum melati sebagamana kegemaran orang Jawa pada umumnya, bukan vanili.


nasi rames sayur gori dan gorengan


ini kali kesekian ke Pasar Unit 5, bareng Stefanus teman kantor

 

Di sebelah mbah Kismo terdapat lapak jajanan pasar. Bedanya kalau mbah Kemir jualan grontol, thiwul dan gathot, mbah yang ini selain jualan grontol menjual cenil,gethuk, gorengan dan pecel. Saya tertarik mencicipi cenil dan gethuk untuk dibawa pulang.

Kelar bungkus cenil, saya berpamitan pada mbah Kismo dan mbah di sebelahnya (tak sempat bertanya namanya). Meski gagal berjumpa nasi jagung, saya sama sekali tak kecewa. Tak hanya mendapatkan thiwul dan teman-temannya, tetapi juga seperti bertemu keluarga baru yaitu mbah Kismo dan mbah Kemir, meski baru pertama kali bertemu. 

Pulang ke Rimbo Bujang, saya lewat Purwoharjo. Agak terkejut melihat tiruan tugu Jogja di persimpangan jalan Pandawa dengan jalan 6 atau jalan Saptorenggo. Di Purwoharjo, nama-nama jalan dinamai menurut nama kerajaan atau kesatrian di dunia pewayangan seperti Wirotho, Madukoro, Pringgondani dan lainnya.

Tulisan gemilang pada badan tugu rupanya menandakan bahwa di desa ini merupakan hunian warga Yogyakarta dan Magelang. Gemilang sendiri merupakan motto Kab. Magelang. Di pagar rantai keliling tugu uniknya diletakkan gembok kunci yang dibuat sebagai gembok cinta. Unik juga.

Di jalan Wirotho terdapat tugu Monas, awalnya saya pikir ada kaitan dengan kota Jakarta atau suku Betawi. Di kemudian hari, tugu Monas rupanya banyak dibangun di desa-desa di Rimbo Bujang. Saya kemudian membayangkan, apakah penamaan kelurahan Wirotho Agung diambil dari nama kerajaan Wirotho di dunia pewayangan?

Sepanjang jalan dari Tegal Arum-Purwoharjo-simpang jalan 21 desa Perintis cukup baik. Jalannya juga lurus saja. Hanya terdapat beberapa belokan yang tidak terlalu tajam.

Di jalan 23, tidak sengaja saya melihat ada mural 3D di dinding makam desa. Ada beberapa mural: gambar hewan, gambar pahlawan, peta Indonesia. Berhenti sejenak untuk berfoto di salah satu mural yang cukup bagus.

***

Minggu-minggu berikutnya, saya kembali mendatangi Pasar Unit 5. Pecel gendar, nasi rames dan jajanan pasarnya seolah memanggil saya untuk kembali kesini. Pernah juga saya bawa teman saya Stefanus yang asli Jogja karena ia tertarik makan pecel di pasar. Jadi penasaran mencicipi kuliner Jawa di pasar-pasar lainnya di Rimbo Bujang 😀

11 Comments Add yours

  1. Ste berkata:

    Lanjutkan na!

  2. bersapedahan berkata:

    nama areanya pakai unit unit …. ternyata memang daerah ini asalnya dulu area transmigran dari Jawa.
    Kebayang ya .. zaman dulu mereka tinggal di “hutan” … akses pastinya sangat sulit .. dan ngga kebayang kondisi alam saat itu … mereka bener2 perintis … hebattt

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, salut banget sm perjuangan mereka mengubah hutan jadi kota …

  3. andriekristianto berkata:

    Wahhh jadi keingen pas lagi kegiatan di desa bersama nenek.. Setiap pagi dan sore sering kepasar untuk membeli berbagai keperluan masakan dirumah, dan kadang pun langsung makan di pasar itu.. Aaakkkhh kanegn nenek huhuw

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih sudah singgah mas, iya…seneng ya kalo masih punya nenek 🙂

  4. rynari berkata:

    Suasana pemukiman dan jajanan pasarnya mengurai rindu rumah ya, Mas. Salam

    1. Avant Garde berkata:

      Ya nih bu, jajajan yang ngangeni 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s