Solo: Jelajah Hati, Rasa dan Nostalgia

Mudik buat saya tak hanya tentang bertemu keluarga di kampung halaman.  Mumpung sedang di Jawa dimana semua kuliner lezat dan segala tempat wisata ada, rasanya semua tempat, semua kuliner lezat ingin saya coba semua sebelum balik ke Rimbo Bujang.

Sebelum mudik, tempat-tempat wisata dan kuliner berseliweran di Instagram. Berulang kali saya berkeinginan ke tempat-tempat ini kalau mudik nanti. Kenyataannya, saat di rumah, berkumpul dengan keluarga, udara sejuk kampung halaman, rasa malas akhirnya mengurung keinginan saya.

Kali ini saya tidak ingin menghabiskan liburan di rumah saja. Di sela-sela liburan Maulid Nabi ini, saya ingin pergi kulineran ke Solo.

***

Gunung Merbabu tampak anggun di sebelah kanan saya. Dari dalam bus yang melaju ke arah Solo, saya bisa lihat puncaknya yang berwarna biru tua, berlatar langit biru, nirawan. Gunung ini adalah penanda alam yang paling saya ingat tentang kampung saya. Dari halaman rumah, dari jalan menuju kampung, dari halaman SD, SMP dan SMA, gunung Merbabu mewarnai hari-hari saya.

Tepat di sebelah Merbabu adalah Merapi. Berbeda dengan Merbabu yang sudah terlelap lama, Merapi masih aktif hingga kini. Kadang ia cantik, kadang ia bertingkah. Membuat ribuan orangterpaksa menjauhi Merapi saat ia beraktifitas mengeluarkan awan panas.

Saya naik bis sendirian saja. Anak dan istri terpaksa saya tinggal di Tuntang. Quinna tak saya ajak karena masih sekolah. Di Solo, saya mau menemui adik saya yang kuliah di UMS. Kebetulan ia sedang libur kuliah sehingga ia bisa menemani saya keliling Solo. 

—-

Melewati Tugu Kartasura, ingatan melayang ke era 90-an saat  budhe masih tinggal di Kartasura. Menginap di rumah budhe, naik bus besar dari rumah turun di terminal Kartasura,  window shopping bareng ayah ke Mitra, supermarket terbesar di Kartasura saat itu adalah secuil memori yang saya ingat.

Saya turun di gerbang kampus UMS Pabelan. Beberapa saat menunggu, adik saya tiba dengan motornya. Jujugan pertama saya yaitu Pasar Gede. Pasar Gede ini dulunya pasar terbesar di Solo, sebelum dibangun Pasar Klewer. 

Kuliner khas Pasar Gede seperti dawet telasih, cabuk rambak, es gempol pleret, timlo Sastro menari-nari dalam kepala. Incaran saya cuma satu, cabuk rambak, lenjongan dan gempol pleret, eh…tiga dong.

Tak mudah rupanya menemukan penjual cabuk rambak di luar pasar. Sudah dua kali keliling dan belum ketemu. Adik saya mengajak masuk ke pasar. Mata langsung terpaku pada seorang penjual gempol pleret tidak jauh dari gerbang masuk pasar.

  

Saya pesan semangkok gempol pleret. Rasanya masih sama seperti saya kecil. Gempol yang gurih dan lembut berpadu pleret yang manis dan sedikit renyah disiram kuah santan manis dan gurih.

 
pleret (atas) dan gempol (bawah)

Agak terkejut ketika saya harus membayar Rp 20.000,- untuk dua gelas es gempol pleret. Saya pikir awalnya hanya Rp 5.000,- saja. Ah, mungkin saja memang harganya segitu. Saya tak jadi mau nambah.

Habis makan es gempol pleret, saya berkeliling mencari lenjongan. Lenjongan ini kue basah berupa campuran kue-kue tradisional seperti ketan, grontol, thiwul, gathot, gemblong, gethuk, dan lain-lain. Saya bungkus lenjongan seharga Rp 5.000,-. 

Coba keliling pasar untuk mencari penjual cabuk rambak, tetapi tidak ketemu. Selain asyik buat kulineran, Pasar Gedhe juga asyik buat cari foto instagenik karena cukup bersih. Ohya, pengemis dan pengamen dilarang masuk pasar.  Waktu memotret tugu di depan Pasar Gede, sebuah bus wisata berwarna merah, Werkudara tiba-tiba melintas.

Dari Pasar Gede, kami beranjak ke Balaikota Surakarta. Kota Solo memang memiliki nama resmi Surakarta, tetapi lebih sering disebut Solo saja. Rupanya sedang ada bazar dan pertunjukan wayang kulit oleh dalang cilik. Di halaman Balaikota dibangun deretan patung wayang orang. Patung Punakawan, Werkudara, Kresna, Gathutkaca, Hanoman asyik buat berfoto. 

Adik saya mengajak saya melihat pasar Sekaten, siapa tahu ada yang jual cabuk rambak. Kami beranjak ke alun-alun Kidul untuk melihat keramaian pasar Sekaten dalam rangkaian Grebeg Mulud. Waktu saya kecil, pergi melihat pasar malam Sekaten itu wajib. Sepertinya, terakhir saya ke Sekaten adalah waktu SMP.

Saya minta berhenti sebentar di depan keraton. Kata adik saya, saya tak bisa memotret lama-lama karena nanti akan diminta memindahkan kendaraan ke tempat parkir.

Kami salat zuhur di Masjid Agung Keraton Surakarta. Selain bentuk, atap joglo, warna cat masjid berwarna biru muda, tak berubah dari masjid bersejarah ini sejak saya kecil dulu. Dulu, sehabis melihat keramaian Sekaten, ayah mengajak saya beribadah di masjid agung. 

 

 

Masjid Agung Keraton Surakarta dilengkapi sebuah menara yang dibangun pada masa Sri Sunan PB X pada tahun 1928 setinggi 33 meter. Selesai dan diresmikan tahun 1930 bertepatan pada perayaan ulang tahun PB X ke-64. 

Usai salat, saya beranjak ke samping masjid, tempat digaungkannya bunyi gamelan. Gamelan ini berjumlah dua unit. Masing-masing bernama Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Madu. Diletakkan di sisi kiri dan kanan masjid. Dimainkan oleh abdi dalem keraton secara bergantian. Keraton membunyikan gamelan ini sebagai ucapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Perhatian bukan tertuju pada instrumental gamelan yang mistis tetapi menarik, tetapi pada seorang niyaga (penabuh gamelan). Umurnya sepertinya masih belasan atau maksimal dua puluhan, memakai baju adat Jawa lengkap dengan kacamata, dari rambut yang diikat di belakang dekat blangkon sepertinya rambutnya panjang. Perangai wajahnya tenang.

Mengunyah sekapur sirih dan makan telur asin menjadi ritual bagi sebagian penonton gamelan, kebanyakan kaum tua. Saya tak melihat ada anak muda atau anak-anak yang melihat pertunjukan ini.

Di halaman masjid adek saya melihat penjual cabuk rambak, makanan berupa ketupat disiram saus wijen dan toping karak/kerupuk gendar. Seporsi cabuk rambak ini seharga Rp 5.000,- saja.

Di Alun-alun Kidul, selain kerbau bule peliharaan keraton, saya bisa melihat gerbong kereta tua yang rupanya bernama Kereta Pesiar. Sebuah gerbong kereta yang pernah dipakai  untuk membawa jenazah Raja Paku Buwana X dari Solo menuju Imogiri.

Beranjak ke alun-alun lor, deretan penjual mainan: kapal-kapalan, celengan seolah kembali dari masa lalu. Dulu waktu kecil juga penjual celengan dan kapal-kapalan ini sudah ada. Bedanya, dulu kapalnya tidak memakai layar.

 

Meski sudah makan es gempol pleret, lenjongan dan cabuk rambak, adik saya belum kenyang. Mampirlah kami ke Vien’s, sebuah restoran yang menyediakan menu khas Solo seperti sop manten, timlo, selat dan bestik. Selat dan bestik ini versi Solo dari salad dan beef stik.

 


semangkuk sup galantin

Meski tempatnya bersih dan mewah, harganya sangat terjangkau. Semangkuk sop galantin harganya Vien’s Rp 10.000,- nasi putih Rp 3.500,-. Menu paling mahal yaitu selat daging dobel Rp 14.000,-. Minumannya jangan tanya. Mulai dari Rp 3.000,- sampai Rp 5.000,-. Jus adalah yang paling mahal yaitu  Rp 8.500,-.

Sebelum balik, saya mampir ke SGM untuk nonton film. Kelar nonton kami bertanya dimana musala. Dari atas musala lantai atas tampak Merapi dan Merbabu di kejauhan. Saatnya kami pulang…

Iklan

12 respons untuk ‘Solo: Jelajah Hati, Rasa dan Nostalgia

  1. Beberapa kali ke Solo yang dicicipin ga jauh-jauh dari selat lagi selat lagi. Baru tau ternyata banyak kuliner lainnya selain selat 😀

  2. nama2 kulinernya unik dan lucu .. haha
    waktu itu saya jalan2 ke solo .. kuinerannya yang standar2 aja …
    jadi kalau ke Solo lagi saya mesti coba makanan minuman unik dan khas Solo ini

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s