Lembah Harau, Jam Gadang dan Puncak Lawang

manhole di Bukittinggi

Entah apa yang membuat boss saya tiba-tiba punya keinginan untuk mengajak para pegawai liburan ke Bukittinggi. Boss saya baru pindah dari Jakarta ke Rimbo Bujang. Sepertinya beliau sangat penasaran dengan Bukittinggi.

Ide awalnya bukan Bukittinggi melainkan ‘cuma’ ke Kerinci atau Jambi saat akhir pekan. Terakhir, beliau memutuskan untuk ke Bukittinggi. Dari awalnya hanya mengajak pegawai organik, lantas semua pegawai diajak turut.

“Ini perintah atasan. Nggak ada yang nggak ikut. Boleh ikut kalau lamaran atau nikahan. Kalau nggak ikut harus bikin surat ditandatangani RT, RW dan Camat hahaha…,” tawanya pecah di ujung kalimat. Siapa sih yang tidak mau diajak jalan-jalan gratis. Demi acara jalan-jalan ini, pak boss merogoh kocek pribadi. 

Saya dan Nurul (yang asli Bukittinggi) diberi tugas untuk menyusun itinerary, biaya dan akomodasi. Desti dan Ahfiz sebagai bendahara, survei lapangan ke agen travel dan membeli snack/minuman selama jalan-jalan . Awalnya saya rancang hanya objek di dalam kota Bukittingi saja yang didatangi. Oleh teman-teman, dimasukkan Puncak Lawang dan Lembah Harau ke dalam list. Kelok Sembilan dekat Payakumbuh saya coret karena terlalu jauh dan makan waktu.

Tugas pertama saya adalah mencari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada Hi Ace yang muat sampai 10 orang. Travel pertama yang saya datangi mematok ongkos Rp 6 juta untuk 3 hari perjalanan. Baru di travel kedua, Sumatrans, harganya lebih murah yaitu Rp 4,5 juta. Sudah termasuk sopir dan BBM.

PR kedua, mencari penginapan di Bukittinggi saat akhir tahun bukanlah perkara mudah. Banyak hotel termasuk kelas melati yang penuh. Makin stres karena beberapa mess juga sama. Saya minta info kawan yang orang Bukittinggi dapat info homestay seharga 350rb/kamar/malam. Mahalnya gila!

Iseng buka AirBnB dan ketemu satu guesthouse tak jauh dari Lapangan Kantin. Sewa kamarnya cukup murah, Rp 1,5 juta untuk 4 kamar selama dua malam.

***

Jumat sore mobil jemputan datang. Bang Am, satpam kantor tidak jadi berangkat karena ibunya habis masuk rumah sakit. Jadinya kami berangkat bersembilan. Jumat sore habis absen, kami berangkat. 

Mobilnya single seat, ACnbya kencang. Plus tiap kursi ada colokan untuk mengisi baterai hp. Kami juga dapat bantal dan selimut tebal. Saya duduk di bangku paling belakang. Jatah kursi 3 orang saya pakai sendiri. Bahagia sekali bisa tidur selonjoran haha.

Bakda Maghrib kami mengisi perut di One Gunung, Dharmasraya. Masuk kota Solok, mobil belok kanan ke arah Bukittinggi. Sawah di kiri kanan, pohon rindang di tepi jalan mengingatkan saya pada kampung di Jawa. Sayangnya semua gelap ditelan malam. Ketika  melintasi Singkarak, danau terbesar di Sumatera Barat, hanya tampak bintang-bintang dan pantulan lampu di air danau.

Tengah malam saat kami tiba di Bukittinggi. Berbekal peta dari gmaps, kami tiba di guesthouse, meski sempat nyasar. Setelah mendapat kamar, semua masuk ke kamar masing-masing. Saya bertiga dengan Ahfiz dan driver travel yang bernama bang Indra. 

***

Udara dingin Bukittinggi membuat kami enggan menanggalkan selimut di pagi hari. Untungnya kamar mandinya ada air panas dari gas elpiji. Saya heran melihat pemanas seperti itu untuk pertama kali.

Penginapan ini sebenarnya rumah biasa yang bernuansa tua. Lengkap dengan aroma lembab. Karena hanya perlu tempat sekedar tidur, tak apalah. Bagian depan rumah dipakai sebagai kafe.

Pical sikai di sebelah Taman Panorama menjadi tujuan sarapan. Makanan serupa pecel dengan toping lobak, daun singkong, kol, jantung pisang dan keripik singkong. Unik dan ngangeni. Hampir saja kami tidak kebagian kursi karena terlalu banyak orang di warung yang sempit itu. Pical ini sudah ada sejak tahun 1948.

Meninggalkan Bukittinggi, kami ke Harau yang berjarak satu jam lebih dari Bukittinggi. Masuk ke kawasan Harau disambut hujan deras. Orang-orang berteduh di mobil atau pondokan. Kami keluar Harau mencari makan siang. Ada rumah makan Padang dekat gapura Harau dengan menu belut dan rendang jamur. Nikmatnya.

Hujan reda, kami masuk lagi. Pertama ke air terjun Sarasah Aka Barayun. Mau foto disini susah, banyak orang seperti cendol. 

Tak seperti Harau beberapa tahun yang lalu, Harau kini meriah dengan miniatur ikon dunia warna-warni. Mereka menyebutnya Kampung Eropa. Saking ‘meriah’nya, Trinity si blogger kondang itu sedih melihat lokasi wisata yang hanya jualan bangunan warna-warni. Rumah ala Korea itu masih ada, tetapi tak bisa dipakai foto karena buat parkir mobil. Saya ingin foto pakai hanbok, sayangnya tak ada kawan yang berminat. Yang lain pada ke rumah warna-warni, saya duduk aja bareng mbak Ning. Saking malasnya, saya tak ada ambil foto rumah warna-warni itu.

Hari sudah senja ketika kami kembali ke Bukittinggi. Habis salat Maghrib, kami ke Jam Gadang. Selain susah cari hotel, cari parkiran dekat Jam Gadang menjadi PR tersendiri kalau liburan ke Bukittinggi. Kami makan di Pizza Hut sesuai rencana, mumpung di kota hahaha. 

Jam Gadang kini lebih rapi. Ada taman bunga dan air mancur menari. Pasa Ateh,  pasar oleh-oleh yang dulu semrawut sudah selesai dibangun ulang, tetapi belum dibuka. Seniman rebab di pelataran Jam Gadang membuat orang-orang berkerumun lantas melemparkan uang.

Dari panel di dekat Jam Gadang, baru saya tahu jika menara yang dibangun tahun 1926 ini hanya menggunakan material dari kapur, putih telur dan pasir, tanpa besi penyangga. Wow. Mungkin banyak yang bertanya mungkinkah naik ke atas Jam Gadang? Jawabannya adalah mungkin, dengan syarat mengantongi  ijin tertulis dari Walikota, Wakil Walikota dan Kepala Dinas Pariwisata Bukittinggi. Semakin malam, Jam Gadang yang semakin dingin malah semakin ramai.

Sebelum balik ke penginapan, kami mampir ke pasar malam mau naik kora-kora. Karena sudah tak ada pengunjung lagi, teman-teman enggan naik kora-kora. Padahal saya udah semangat mau naik huhu.

***

Pagi hari, habis check out kami sarapan di Lapangan Kantin. Agak surprise menemukan penjual bakso komplit dari Jawa dengan gajih (lemak) di Bukittinggi. Usai makan kami ke Taman Panorama, tempat terbaik untuk menikmati Ngarai Sianok.

Selain jam gadang, wajib hukumnya ke Panorama untuk melihat batas alam antara kota Bukittinggi dan kab. Agam ini. Sudah beberapa kali saya kesini tetapi tetap saja ada nuansa magis melihat ciptaan Tuhan yang spektakuler ini.

Kami beranjak ke menara pandang. Monyet-monyet berkerumun disitu rupanya menghindari keramaian manusia.

Tepat di kaki menara terdapat pemakaman dengan nisan keramik yang berjejer rapi.  Pandangan terpaut pada nisan tua yang sepertinya makam Belanda. Bukan rupanya, melainkan makam atas nama Hadji Mohamad Thaib Singkoean Sianok. “Meninggal Joemaad 2 April 1937 Poekoel 12 1/2 siang”.

Puncak Lawang menjadi tujuan berikutnya sebelum pulang ke Rimbo Bujang. Niat hati ingin menikmati Danau Singkarak dari ketinggian, eh rupanya berkabut, bahkan sempat gerimis. Sudah begitu, foto saya  merem haha. Kebetulan ada yang lagi main paralayang, jadi tontonan seru buat pengunjung.

 

Tempat ini jauh lebih rapi dan terorganisir daripada sebelumnya. Tempat selfienya lebih banyak. Pedagang pop mie berkumpul di satu spot. Ada mobil khusus antar jemput pengunjung dari parkiran ke atas.

Sepertinya Lawang itu pusat gula tebu di Sumatera Barat, dimana-mana ada kebun tebu. Banyak orang jual es tebu. Pabrik gulanya dimana ya?

Kali ini saya mencoba naik flying fox yang malah membuat kecewa karena landai sehingga waktu meluncur agak seret. Untung dibayari kantor jadi ya tidak kecewa-kecewa amat.

Buat ganjal perut, kami pesan pop mie sebelum nanti makan sate di Padang Panjang. Saat kami terlelap, sopir ternyata nyasar. Bukan ke Padang Panjang melainkan ke Maninjau. 

Sate Mak Syukur menjadi ikon kota Padang Panjang.  Presiden saja makan disini. Sate Padang dengan kuah kuning, membayangkannya saja saya sampai ngiler. Saya pikir satenya akan luar biasa, entah kenapa saya merasa biasa saja. 

Kenyang makan sate membuat kami tak berselera lagi makan malam. Hanya ngemil kue dan minum. Di Solok kami berhenti untuk beli oleh-oleh. 

 

Sampai Rimbo Bujang jam 1 pagi!


6 respons untuk ‘Lembah Harau, Jam Gadang dan Puncak Lawang

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s