Pengalaman Menemani Istri Lahiran Normal

Menunggu proses lahiran anak menjadi momen mendebarkan dan harap-harap cemas bagi setiap pasangan. Tak terkecuali bagi kami yang saat itu menunggu kelahiran anak ke-3. 

Anak pertama saya lahir normal di sebuah rumah sakit ibu dan anak di Salatiga. Sayang saya tak bisa melihat detik-detik ia lahir ke dunia karena masih ngantor di Bangko. Mau pulang ke Salatiga saya sudah kadung membeli tiket buat Lebaran. Mau beli tiket pulang harganya cukup mahal. Terpaksa saya memantau keadaan istri lewat telpon dan sms.

Setelah 12 jam sejak masuk rumah sakit, anak saya lahir tepat habis Maghrib. Kami sepakat memberi nama ia Ni Shaquinna. Ayah saya memperdengarkan azan di telinga kiri dan kanan anak saya yang baru lahir. Dua minggu Ni Shaquinna lahir di dunia, saya melihat wajahnya secara langsung untuk pertama kali.

Hamil Anak Ketiga

Habis pulang dari Kerinci akhir tahun lalu, istri saya telat datang bulan. Waktu dicek pakai test-pack rupanya sudah tek dung.  Bulan-bulan pertama kehamilan kami periksa ke dokter Husnul di Pasar Bawah. Dokternya baik, hanya saja agak pendiam. Kami selanjutnya pindah ke dokter Edwin yang buka praktik di kompleks Plaza Serunai. Dokter Edwin ini lebih talkative orangnya dan lebih ramah. Bulan berikutnya, dokter Edwin pindah praktik ke RSIA Moelia, dekat rumah. 

Bulan puasa, usia kandungan istri saya 6 bulan. Alhamdulillah selama pemeriksaan kehamilan, janin dinyatakan sehat. Sebelum pulang kampung, kami minta surat pengantar dari dokter untuk keperluan check in naik pesawat. Menurut perkiraan, istri saya akan melahirkan tanggal 5 September 2019.

Istri saya tetap tinggal di rumah mertua di Semarang hingga melahirkan. Sedangkan saya kembali ke Muara Bungo.

Melahirkan

Sabtu, 31 Agustus saya pulang naik pesawat dengan rute Jambi-Jakarta-Semarang. Esok harinya Shaquinna akan ikut karnaval Tahun Baru Islam di sekolahnya. Anak saya ditugasi sekolah untuk mengenakan pakaian dari bahan bekas yaitu kertas koran. Biar lebih meriah, saya buatkan properti tambahan berupa sayap mandjah dan topi bertanduk khas Minang untuk dipakai esok harinya.

Minggu pagi, jam lima habis Subuh saya dibangunkan istri. Ia merasakan kontraksi di perut. Habis sholat Subuh, saya menyiapkan pakaian, uang untuk segera menuju rumah sakit. Hingga jam 6 pagi, tidak ada driver GoCar yang mau menerima orderan saya. Dua kali dapat driver, dua kali dibatalkan. Jam 6 pagi bapak mertua mencarikan angkot ke depan kompleks. Begitu angkot tiba di depan rumah, saya, istri dan ibu mertua naik ke atas angkot. Melihat kami naik angkot, Shaquinna yang habis mandi histeris dan rewel ingin ikut.

Tiba di rumah sakit, petugas yang piket kebetulan teman sekolah istri saya. Ia langsung mengecek kondisi janin. Hasil pemeriksaan, kontraksi istri saya masih lemah. Artinya, istri saya belum saatnya lahiran. 

Kami diberi dua opsi. Pulang sambil menunggu kontraksi atau tetap di RS. Jika memilih tinggal di rumah sakit, istri akan diobservasi setiap jam sekali. Kami memilih pulang dulu. Istri harus kembali ke RS jika kontraksi terjadi tiap 5 menit sekali atau terdapat bercak darah atau air ketuban.

Jadilah hari itu saya dan istri menemani Shaquinna karnaval. Tidak sepenuhnya mengikuti dari awal memang. Kami hanya menunggui di titik start. Shaquinna dikawani eyang putri dan eyang kakungnya dari start di STAIN dan finish di bundaran Ramayana.

Senin, 2 September 2019
Istri saya menjalankan aktivitas seperti biasa. Mandiin Shaquinna, menyiapkan sarapan dan baju Shaquinna.

Habis Maghrib istri saya merasakan mules yang semakin sering dan tidak berhenti. Ibu mertua telpon adiknya untuk mengantar kami ke rumah sakit. Jam 8 kurang om Teguh, adik ibu mertua datang. Sekitar jam 20.00 kami berangkat ke RS. Empat puluh menit kemudian kami tiba di RS. Saya menemani istri di ruang UGD. Istri saya langsung memakai seragam pasien. Ibu mertua dan Shaquinna di luar. Waktu dicek oleh bidan, istri saya sudah bukaan 2 dari 10. Artinya jalan lahir sudah terbuka 2cm dan sesuai perkiraan akan segera melahirkan dalam beberapa jam lagi. Biasanya, lahiran anak kedua dan ketiga tidak selama anak pertama. Tak berapa lama air ketuban mulai mengucur keluar.

Sejak itu istri saya merasakan sakit yang makin lama makin terasa menyiksa. Semakin lama, bukaan semakin bertambah. Orang tua dan adik-adik saya tiba di rumah sakit. Ibu saya membawa air yang sudah didoakan oleh ustadz, untuk diminum istri saya. Untuk memperlancar proses persalinan kata beliau.

Sekitar jam 23.00 istri saya dipindahkan ke ruang bersalin. Saya bantu ia turun ke kursi roda, menemani ke ruang bersalin dan naik ke ranjang bersalin. Rasa nyeri yang dirasakan istri saya semakin tak tertahan. Tapi bidan melarang untuk mengejan. Sebagai gantinya, istri saya teriak-teriak sambil menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa sakit.

Di dalam hati, saya sebenarnya agak ngeri berada di ruang bersalin. Bau rumah sakit, silau lampu operasi, alat-alat kedokteran sungguh meneror saya yang sebenarnya fobia dengan rumah sakit ini. Namun, saya harus melawan rasa takut itu demi anak dan istri saya.

Beberapa saat kemudian bidan mengecek pembukaan. Sudah bukaan 10 yang artinya jalan lahir sudah terbuka sebesar 10 cm dan siang untuk lahiran. Ia segera meminta bidan lain untuk menghubungi dokter kandungan. Saya diberikan masker. Tak lama dokter datang. Saya, dokter dan tiga bidan mendampingi istri mengejan. Tak seperti di tv, mengejan itu perlu proses yang tampak sangat menyakitkan.

“Ayo buk, dorong terus,” ucap dokter berulang kali. Di dekat perut istri saya dipasang alat pendeteksi denyut jantung. “Buk, jantungnya melemah ini, ayo dorong!” Duh, saya ikut cemas.

Beberapa saat kemudian seorang makhluk mungil berwarna merah keluar. Ia tak langsung menangis. Baru setelah bidan menyedot sisa air ketuban di mulut dan hidungnya dengan selang seukuran isi pena, bayi itu menangis kencang. “Owekkkkkkkkk…….” Ia, seorang perempuan, cantik. Hidungnya pesek, pipinya sangat tembem, mirip kakaknya.

Mata saya berkaca-kaca. Tiba-tiba saya bersujud. Setelah si bayi dibersihkan dari sisa darah dan ketuban, ia ditempelkan di tubuh istri saya. Saya berikan azan dan iqomat di telinga kiri dan kanan. Bidan mencatat waktu kelahiran anak saya, 23.45 WIB, hari Senin tanggal 2 September 2019 (02-09-2019). Sebelum anak saya menjalani inisiasi menyusui dini, dokter membersihkan sisa darah dan ketuban, memotong tali pusar dan menarik ari-ari. Ketika melihat darah sisa melahirkan sebanyak setengah pispot, saya terkejut. Untung tidak pingsan.

Kelar menjalani IMD, anak saya dimandikan, lantas diukur berat dan tingginya. Beratnya 3,8 kg, tingginya 50cm. Anak saya lalu dimasukkan ke inkubator. Ia tak lagi menangis kencang. Ia tampak menikmati detik-detik pertama lahir di dunia.

 

Dari hasil pemeriksaan dokter. Anak saya dinyatakan sehat dan normal, mulai dari pernafasan, peredaran darah dan pencernaannya.  Tak lama, istri saya dibawa ke ruang perawatan naik kursi roda. Anak saya dibawa bidan menggunakan kereta bayi.


anak saya digendong eyang putri

Dua hari dirawat di rumah sakit, istri dan anak saya diperbolehkan pulang.

View this post on Instagram

setiap nama memiliki kisah dan cerita anak pertama made in Sungai Penuh. waktu mau lahir anak pertama lagi suka sama indahnya pantai di laut selatan Eropa, pengen kasih nama tengah Mediterania, habis lahiran malah ga jadi pake nama itu. akhirnya malah jadi Riveramadina, otak-atik kata dari River (Sungai Penuh) Riviera (pantai) Ramadhan (lahir bulan puasa) dan Kota Madinah anak kedua diberi nama I Made Eduardo, biar match sama mbaknya yg pake nama orang Bali (Ni Shaquinna) Eduardo dari nama karakter drama Filipina di tv Edo, Edo made in Bangko. anak ketiga nama tengahnya Kiara, dari nama pohon Kiara yg banyak tumbuh di kota Bandung 🙂 masih pakai nama depan Ni, biar match sama mbak dan masnya 🙂 Kiara made in Muara Bungo

A post shared by Avant Garde (@djangki) on

6 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    bahagia jika bisa menemani istri lahiran … deg deg-an .. h2c .. harap2 cemas .. hehe
    selamat ya mas …semoga menjadi anak yang sehat, membuat bangga orang tua dan membawa kebarokahan ..

    1. Avant Garde berkata:

      alhamdulillah… terimakasih mas 🙂

  2. aryantowijaya berkata:

    Thanks mas, membayangkan nanti kalau saya sudah berkeluarga, mgkin akan mengalami perasaan yang sama

  3. rifihana berkata:

    Nama-nama anaknya bagus, Mas. Unik dan kreatif. 😁 Semoga keluarganya sehat selaluu.

  4. omnduut berkata:

    Ayoyooo belagak nian. Semoga sehat selalu yo.

    Aku kapan ini lahiran yo pak? hahaha

    1. Avant Garde berkata:

      alhamdulillah, eh..Yayan hamil? 😮

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s