Menelusuri Jalan Tanah Tumbuh Lamo

Sewaktu saya jalan bareng bang Rian dan bang Am ke dusun Lubuk Landai dan Empelu beberapa minggu lalu, sebenarnya saya masih penasaran dengan interior masjid Empelu dan toko-toko tua di Pasar Lubuk Landai. Namun, karena takut kehujanan di jalan, kami buru-buru pulang. 

Kali ini, saya kembali ke Lubuk Landai. Tidak melewati jalan Lintas Sumatera melainkan akan menjajal lewat jalan Tanah Tumbuh Lamo (lama). Disebut jalan lama karena jalan ini adalah jalan penghubung desa-desa di Kab. Bungo dari  Muara Bungo hingga Tanah Tumbuh sebelum dibangun jalan lintas tengah Sumatera pada masa Orde Baru.

Jalan lama ini melintasi empat kecamatan: Bathin III, Tanah Sepenggal, Tanah Tumbuh dan Bathin II Pelayang. Dibandingkan dengan jalan lintas Sumatera buatan Orde Baru, jalan buatan Belanda ini lebih panjang, tetapi lebih kecil dan lebih berliku-liku mengikuti alur sungai Batang Tebo.

Dari rumah, saya mampir Alf#mart dulu beli Thai Tea. Keluar dari pusat kota Muara Bungo, melewati jalan lintas, setelah melintasi jembatan Batang Tebo, belok kiri di simpang tiga Tanah Tumbuh selepas jembatan Batang Tebo. Jalanan terasa cukup kecil, hanya bisa dilewati dua mobil. Sebuah gapura sangat megah memancing keinginan untuk berhenti sejenak.

Gapura dengan tulisan melengkung ini cukup megah untuk ukuran gerbang desa. Dua gapura batas kab. Bungo dengan Merangin dan Tebo saja tak semegah ini huhu.

Purwobakti, sesuai namanya desa ini adalah kampung transmigran dari Jawa. Gapura beratap limas ini menonjolkan unsur etnik Jawa. Di desa ini banyak ditemui rumah-rumah yang juga difungsikan sebagai workshop dan toko yang menjual keripik pisang, oleh-oleh khas Muara Bungo.

Masuk ke desa Air Gemuruh gapura desanya lebih sederhana. Musim kemarau membuat air surut, sebagian dasar sungai Batang Tebo tampak timbul ke atas.

Sebuah masjid masih memakai alamat lama yaitu Ds. Air Gemuruh, Kec. Muara Bungo. Sekarang Air Gemuruh masuk wilayah Kec. Bathin III. Tak jauh dari masjid ini tampak sebuah rumah tua yang mengingatkan saya dengan rumah-rumah tua di Lubuk Landai.

Desa berikutnya yaitu Teluk Panjang, lantas Lubuk Benteng. Masuk ke desa Lubuk Benteng tidak ada gapura desa, melainkan baliho wisata desa yaitu Alam Kmang. Masuk nggak ya, masuk nggak ya. Saya skip dulu deh, karena tujuan utama saya yaitu Empelu dan Lubuk Landai, mungkin lain kali saya akan masuk ke tempat wisata ini.

Desa berikutnya yaitu Teluk Pandak yang masuk wilayah Kec. Tanah Sepenggal. Desa ini terkenal sebagai sentra kerajinan anyaman pandan. Sayang saya tidak menemukan papan nama dimana tepatnya lokasi pengrajin.

Masuk ke wilayah desa Empelu, saya berhenti di tepi jalan. Melihat sungai yang kering hingga tampak pasirnya membentuk delta.

Jalan sebentar lagi ada tampak danau yang tenang. Setelah diamati bukan danau melainkan masih sungai Batang Tebo.

Jika diperhatikan, hanya gapura desa Purwobakti yang tampak megah. Gapura desa-desa lain begitu sederhana. Itupun hasil karya mahasiswa yang sedang KKN ke desa penari tersebut.

Waktu kunjungan ke masjid Al Falah Empelu beberapa saat yang lalu hanya sempat mengulik bagian luarnya tanpa tahu isi dalamnya. 

Sambil menunggu azan sholat Ashar saya berkeliling desa dulu, berharap menemukan sesuatu yang menarik. Melewati rumah H. Hanafie yang masih bertutup rapat, hingga tiba di sebuah gang dengan nama beliau.

  

H. Hanafi adalah orang besar. Ia pernah menjadi ketua DPRD Jambi pertama. Hampir saja menjadi gubernur Jambi pertama, tetapi gagal dilantik karena alasan yang sampai kini masih menjadi misteri. Namanya kini dijadikan sebagai RS umum di Muara Bungo. 

Saya masuk ke dalam gang, dan rupanya terdapat makam keluarga H. Hanafie, tidak jauh dari pemakaman umum desa Empelu. Dari luar pagar yang terkunci bisa dibaca nama-nama seperti orang tua H. Hanafie yaitu H. Thaher dan Hj. Timah Diah. Dibelakangnya ada nama Hj. Syarifah, H. Hanafie dan Hj. Zuhanni. Makam H. Hanafie bertahtakan bendera merah putih. Saya tak paham siapa Hj. Syarifah dan Hj. Zuhanni yang makamnya mengapit makam H. Hanafie. Apakah saudara atau istri H. Hanafie.

Di luar pagar makam keluarga H. Hanafi bisa dijumpai areal tak berpagar yang diberi nama Makam Pl. (Pulau?) Batu. Penelusuran dunia maya belum membuahkan hasil terkait makam ini. Mungkinkah di zaman dulu terjadi musibah atau tragedi di desa ini?

Azan Ashar berkumandang, saya kembali ke masjid Empelu untuk beribadah salat. Tak jelas dimana parkir kendaraan karena sekeliling masjid sudah penuh dengan rumah. Saya letakkan motor di halaman rumah warga di depan masjid.

Masjid Al Falah Empelu didirikan pada masa pemerintahan Pangeran Anom sebagai perwakilan sultan Jambi yang berkedudukan di Lubuk Landai. Bertindak selaku pemimpin proyek adalah Rio Agung Desa Empelu. Masjid ini awalnya sebuah surau kecil dengan dinding kayu, atap rumbia dan lantai dari bambu. Tahun 1827, surau direnovasi menjadi masjid. Dinding diperbarui dengan semen dengan arsitek Abu Kasim dari Kesultanan Mataram. Tahun 1837 bangunan diperbarui lagi dengan mendatangkan arsitek Mangali dari Bukittinggi. Tahun 1850 ditambahkan menara setinggi 19 meter seperti bisa dilihat sekarang. Dulunya, tangga menuju masjid berjumlah 17 melambangkan jumlah rakaat salat dan tangga mimbar berjumlah 5 buah melambangkan jumlah waktu salat.

Masjid Al Falah pernah ditetapkan sebagai benda cagar budaya oleh BPCB Jambi sebagai masjid tertua di Kab. Bungo. Sayang, renovasi besar-besaran mengubah total tampilan masjid. Saya tak terlalu paham siapa yang memulai renovasi ini. Info dari teman saya, renovasi ini sempat mendapat tentangan keras dari sebagian masyarakat desa Empelu.

Saat ini yang tersisa adalah menara masjid dan mimbar. Dulu menara berada di luar, sejak masjid diperluas menara berada di dalam area utama masjid.

 

Selain menara dan mimbar, kini tak ada yang bisa dilihat tentang tentang arsitektur lama masjid ini. Masjid ini sekilas tak beda dengan masjid-masjid kebanyakan yang dibangun pada zaman modern.

Masih di desa Empelu, terdapat SD Negeri 12/II Empelu yang dilengkapi menara dengan ornamen atap  khas Bungo. Bangunan sekolah ini sepertinya sebuah gedung tua. 

Meninggalkan desa Empelu, saya tiba di persimpangan Pasar Lubuk Landai. Jika saya lurus akan tiba di Tanah Tumbuh, Pelayang dan Limbur Lubuk Mengkuang. Sedangkan jika belok kanan akan melewati Lubuk Landai, Tanah Periuk, jalan lintas Sumatera arah ke Padang.

Saya lurus dulu menikmati deretan rumah-rumah tua dari kayu yang juga difungsikan sebagai toko. Rumah bergaya panggung ala Melayu ini dicat warna-warni.

Menurut sejarah, Lubuk Landai adalah ibukota Bungo pada masa kesultanan Jambi. Pada masa kolonial, Bungo digabungkan dengan Tebo menjadi onder afdeling dengan ibukota Muara Bungo.

Pasar Lubuk Landai merupakan pasar mingguan yang hanya buka pada hari Sabtu. Meski saya datang sore hari, tak tampak lagi keramaian di pasar. Sudah banyak ruko yang tutup. Para sapi yang asik jalan-jalan sore sambil memungut sisa makanan di tepi jalan membuat pemandangan cukup absurd.

Di depan pasar terdapat tugu juang dan air mancur.

Dari Pasar Lubuk Landai, saya menyeberangi sungai Batang Tebo. Melintasi Lubuk Landai, Tanah Periuk, masuk ke jalan lintas Sumatera lantas kembali ke Muara Bungo.

8 Comments Add yours

  1. Firsty Chrysant berkata:

    Sayang aja ya, renovasi besar2an enghilangkan model bangunan lama mesjidnya ya…

    1. Avant Garde berkata:

      betul kak … padahal itu masjid tertua di kab. bungo loh….

  2. Monda Siregar berkata:

    jadi status BCB Masjid Al Falah sudah dicabut?
    sayang banget ya rehab malah merubah bangunan kuno

    1. Avant Garde berkata:

      sepertinya begitu mbak, soalnya plang nama BCB sudah tidak ada lagi

  3. bersapedahan berkata:

    Indonesia memang kaya sejarah dan budaya ya. Untung ada mas yang explore di daerah sana … daerah kota kota kecil yang namanya saja saya baru dengar … dan ternyata banyak sekali tempat yang menarik.

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, tiap daerah punya cerita… saya juga menikmati jalan bersepeda ala mas Bersapedahan wkwkwk… berasa dibawa gowes 😀

  4. richotraveling berkata:

    Rumah dibuat warna-warni jadi berseni sekali yah. Jadi penasaran pengen main ke Landai.

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, instagramable! 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s