Hembusan Nafas Terakhir PG Jatibarang

Jam di ponsel saya menunjukkan pukul 19.30. Sebentar lagi kereta api Kaligung akan segera berangkat. Dengan tergesa-gesa saya mengucapkan terimakasih ke adik saya yang mengantar saya ke stasiun Poncol.

Kebetulan adik saya hari ini masuk kerja shift malam. Sebenarnya jam masuk kerjanya masih beberapa jam lagi. Demi mengantar saya ke stasiun, ia rela menunggu beberapa jam sebelum masuk kerja. Saya bergegas check in lantas masuk kereta. 

Sesaat sebelum masuk kereta, saya melihat lokomotif hendak dipasang ke rangkaian terdepan kereta. Saat lokomotif ditautkan ke rangkaian, biasanya akan ada sedikit hentakan kecil yang dirasakan semua penumpang. Saya tunggu lokomotif terpasang, baru naik ke atas kereta.

Tak terlalu banyak penumpang di kereta terakhir dari Semarang tujuan Tegal ini. Dari Tegal, saya akan melanjutkan perjalanan ke Jatibarang, sebuah kota gula di selatan Brebes untuk sungkeman dalam rangka lebaran ke rumah budhe. Istri dan anak saya tak ikut. Katanya, malas kalau cuma nginap sehari di tempat budhe.

Bisa dibilang perjalanan ini agak mendadak. Saya baru memesan tiket beberapa jam sebelum berangkat ke Jatibarang. Saya hanya membawa satu stel baju ganti, jaket, alat mandi dan sedikit oleh-oleh untuk budhe.

Meninggalkan kota Semarang, di luar jendela tampak gelap. Saya hanyutkan diri dalam dekapan udara dingin ac. Tepat jam 21.50 kereta Kaligung tiba di Tegal.

Biasanya dari Tegal ke Jatibarang yang jaraknya 23km saya naik angkot via Slawi. Sayang angkot tidak beroperasi saat malam hari. Atas saran dari teman CS, saya naik gocar dari Tegal langsung ke Jatibarang. Persoalannya, tak semua driver mau mengambil penumpang dari stasiun. Saya harus kucing-kucingan dengan ojek pangkalan agar tak diketahui mereka. Sekalinya dapat gocar, mobil yang saya pesan rupanya salah memahami posisi penjemputan saya sehingga harus berputar arah agak jauh.

Agak was-was saat pengemudi ojek memilih rute lewat Brebes ketimbang ke Jatibarang lewat Slawi. Kalau lewat Slawi suka macet karena banyak bus besar dan jalannya kecil. Saya hanya berdoa tidak diculik atau dirampok terus dibuang di tepi jalan #lebay.

Saya tiba di rumah budhe dengan selamat. Segelas teh melati panas disajikan tak lama setelah saya datang.  Budhe tinggal dengan pakdhe, mbak Putri (putri semata wayang budhe) dan Andra (cucu budhe). Budhe menawari saya makan malam. Terpaksa saya tolak karena sudah makan malam di Salatiga.

Meski mata sudah agak berat ingin tidur, tak enak rasanya langsung tidur meski sudah dipersilakan budhe untuk beristirahat. Saya bertanya kabar budhe, budhe bertanya kabar saya. Hingga akhirnya pakdhe mengatakan bahwa PG Jatibarang, pabrik tempat beliau pernah bekerja telah tutup sejak awal 2019. Jabatan terakhir pakdhe saya sebelum pensiun adalah mandor sortir tebu. Tugasnya adalah memilih batang tebu dari petani sebelum diolah menjadi butiran gula pasir.

Bisa jadi, anak-anak Jatibarang kini hanya mengenang kejayaan gula lewat peninggalan berupa bangunan pabrik gula, rumah-rumah pegawai PG dan Besaran Hijau. Mereka hanya akan mendengar cerita tentang pesta rakyat saat musim panen tebu.

Setelah masa kemerdekaan, banyak petani tebu di Brebes beralih menjadi peternak bebek atau petani bawang merah sehingga lahan tebu berkurang drastis. Sedangkan PG tak punya lahan tebu sendiri, sehingga harus menyewa dari petani. Hal ini tidak diimbangi dengan besarnya biaya operasional dan perawatan kebun tebu, sehingga banyak pabrik gula di Jawa Tengah tutup termasuk dua pabrik gula di Brebes yaitu di Banjaratma dan Kersana yang tutup 1998. Sejak saat itu hanya PG Jatibarang yang masih beroperasi. itupun hanya 3 bulan dalam setahun jika musim panen tebu datang.

Kabar baiknya, seiring dengan dibukanya tol Trans Jawa yang melintasi bekas PG Banjaratma, pabrik gula ini sudah direvitalisasi menjadi rest area KM 260 tol Pejagan-Pemalang.

Saya teringat saat kunjungan ke Brebes beberapa tahun silam. Bersama pakdhe, saya mengunjungi Agrowisata Besaran Hijau. Sebuah taman wisata edukasi, hiburan anak dan kolam renang di Jatibarang Lor, tidak jauh dari Pasar Jatibarang. Denyut perekonomian kota Jatibarang. Saat itu pabrik masih beroperasi, meski hanya beberapa bulan saja dalam setahun jika musim panen tebu tiba.

Dulunya Besaran Hijau ini merupakan halaman dan Besaran atau rumah dinas dari sinder alias kepala pabrik PG Jatibarang yang bergaya lawas. Selain itu disini juga bisa dilihat peralatan yang dipakai untuk operasional pabrik gula seperti lokomotif penarik lori tebu. 

   

Lihat juga: sejarah pabrik gula di Brebes 

PG Jatibarang didirikan pada tahun 1842 oleh NV Mij Tot Exploitile Der Surker Onderneming. Tahun 1959 dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia menjadi milik PTPN IX.

Selain Besaran, di PG Jatibarang terdapat Stasiun Remise yaitu stasiun tempat berkumpulnya lokomotif uap maupun diesel. Remise di PG Jatibarang merupakan stasiun terbesar di Jawa Tengah yang mempunyai 9 pintu.

Pagi hari saya sarapan dengan lauk telur bebek khas Brebes. Telur bebek ada dimana-mana. Namun, sensasi makan telur bebek Brebes di Brebes membuat saya menikmati setiap suapan telur bebek pada makan pagi saya. Habis sarapan saya mandi. Niat hati ingin berkeliling ke Besaran, entah kenapa saya hanya berbaring di sofa depan tv.

Saat budhe hendak keluar rumah, saya minta tolong budhe untuk dibelikan telur bebek. Untuk oleh-oleh dibawa ke Salatiga. Sebelum pulang, saya sempatkan sungkeman.

Saya awalnya hendak diantar pakde ke stasiun Tegal, tetapi akhirnya saya memilih naik ojek online menuju stasiun. 

Menuju pasar Jatibarang, kembali saya melewati peninggalan PG Jatibarang. Rel-rel tua yang dulu dipakai untuk mengangkut tebu dari perkebunan ke pabrik, rumah-rumah tua bergaya Belanda yang kini tak dihuni. Kisah manis PG Jatibarang sepertinya hanya tinggal kenangan yang akan diwariskan dari orang tua ke anaknya. Hanya bisa berharap, selain Besaran Hijau yang kini jadi wisata andalan Jatibarang, bekas pabriknya sendiri bisa diaktifkan lagi oleh PTPN IX. Entah jadi museum gula seperti di Klaten, atau jadi museum dan kafe seperti di The Heritage Kartasura dan De Colomadu. Ah, semoga saja.

Dari Jatibarang, saya melewati persawahan sekaligus menjadi penanda masuk ke wilayah kabupaten Tegal. Sawah hijau terbentang dan di ujung selatan tampak gunung Slamet berdiri gagah.

Selamat tinggal Jatibatang, selamat tinggal Tegal.

Kereta Api Ciremai yang akan membawa saya dari Tegal menuju Semarang Tawang. 

Iklan

10 Comments Add yours

  1. bersapedahan berkata:

    saya sudah rencana … sekalian myonain tol trans jawa mau mampir ke rest area 260
    keren … rest area memanfaatkan bangunan kuno seperti ini

    1. Avant Garde berkata:

      ditunggu liputannya ya mas 🙂

  2. baraajianggara berkata:

    Wah, mayan dakek dari kampuang halaman ambo tuh da ahaha..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      Yuhuuu… alah kasiko da 🙂 ?

      1. baraajianggara berkata:

        kalau lewat tantu alah, tapi kalau raun-raun alun lai do..

      2. baraajianggara berkata:

        kalau lewat tantu alah, tapi kalau raun-raun alun lai do…

        1. Avant Garde berkata:

          pengen ke rest area banjaratma di bulakamba, katanya bagus euy 🙂

          1. baraajianggara berkata:

            wah ane malah baru denger wkwk..

            1. Avant Garde berkata:

              itu bekas pabrik gula juga, malah sejak jadi rest area tol pejagan-pemalang, jadi makin ketje Bar… cerita tragis di balik megahnya PG banjaratma juga menarique…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s