Legenda Rumah Tuo Tanah Periuk

Waktu saya kecil, saya selalu menganggap dongeng atau cerita rakyat itu kejadian nyata. Misalnya Malin Kundang itu beneran orang yang bisa jadi batu karena dikutuk ibunya. Tangkuban Perahu aslinya kapal yang ditendang sama Sangkuriang. Bahkan saya juga percaya Sinterklas itu beneran ada haha.

Baru pas gede saya sedikit sadar kalau dongeng itu hanya cerita semata yang dibuat untuk menakut-nakuti membuat anak kecil selalu berbuat baik pada sesama.

Pindah ke Muara Bungo, saya kaget mendengar cerita rakyat setempat yang menyatakan bahwa asal usul masyarakat Bungo, khususnya penduduk di desa Tanah Periuk adalah sultan Mataram Islam dari Jawa.  Yang mengherankan, diceritakan bahwa fisik sang raja berbeda dari manusia kebanyakan. Memiliki tinggi sekitar 6 meter dan lingkar pinggang sekitar 3 depa. Sukar dipercaya, tetapi begitulah kisah turun temurun yang dipercaya masyarakat Bungo.

***

Waktu masih di Bangko, saya pernah hunting foto sambil lalu di balai adat Kab. Bungo. Saya jadi penasaran untuk mengenal lebih dekat arsitektur rumah adat yang jadi contoh seluruh kantor dan instansi di Kab. Bungo tersebut.

Rumah perahu, nama model rumah menyerupai lambung perahu tersebut juga bisa ditemui di taman mini Jambi di Taman Rimbo Jambi. Bentuknya panggung. Sekilas mirip dengan rumah adat Melayu lengkap dengan ornamen atap tolak angin. Namun, memiliki ornamen perahu seperti rumah adat Minang.

Penelusuran dunia maya menyebut nama Tanah Periuk dan Lubuk Landai, kampung tua di tepi sungai Batang Tebo, sebagai asal mula rumah perahu. Dua desa ini bisa dianggap sebagai salah satu kampung tertua di Bungo.

***

Di hari Minggu pagi yang cerah, saya pergi ke Tanah Periuk dan Lubuk Landai. Sudah sejak awal pindah ke Muara Bungo saya ingin mengenal lebih dekat desa ini. Tak sendirian sebagaimana biasanya, kali ini saya minta ditemani bang Am, teman kantor saya yang kebetulan anak kampung Lubuk Landai. Saya ajak bang Rian, teman kantor yang baru saya tahu gemar mengunjungi situs bersejarah. Ini akan menjadi trip kedua kami setelah motoran ke Muara Tebo beberapa minggu lalu.

Habis CFD (kulineran sih haha), saya jemput bang Rian di kosan. Boncengan, kami ketemu bang Am di rumahnya di Simpang Somel, dekat kantor lama saya. Sesuai rencana, kami akan menjelajahi empat desa. Desa Tanah Periuk dan Lubuk Landai (Kec. Tanah Sepenggal Lintas). Menyeberang sungai Batang Tebo ke desa Pasar Lubuk Landai dan Empelu.

Tak sulit untuk menuju tujuan pertama. Desa Tanah Periuk ini berlokasi di tepi jalan Lintas Sumatera KM. 24. Kalau dari Simpang Somel tinggal lurus arah ke Padang.

Desa ini sekilas tak ada bedanya dengan desa lainnya. Banyak rumah dari beton. Namun, setelah melewati kantor Rio (kepala desa), rumah-rumah panggung dari kayu nan rapat mengepung kiri kanan jalan. Bang Am menepikan motor. Saya ikut berhenti.

Kampung Balai Panjang, nama yang saya baca dari sebuah rumah. Di depan kami adalah rumah panggung dengan ornamen mirip perahu. Sekilas mirip ornamen rumah gadang. Namun, atapnya tak terlalu lentik. Di ujung atap terdapat hiasan dari kayu berbentuk V khas Melayu yang kalau di Bangko disebut “tolak angin”. Rumahnya dikunci.

Perjalanan kami lanjutkan. Hanya beberapa ratus meter, kami tiba di rumah berikutnya. Dua rumah yang sepertinya sudah lama tidak dihuni. Waktu didekati, rumah ini sudah mengalami kerusakan di dinding belakang yang bolong.

 

Saya perhatikan, di ujung kiri dan kanan ornamen bawah rumah terdapat ornamen kelok paku. Di setiap tiang terdapat ornamen pucuk rebung dengan posisi terbalik. Sebagaimana rumah tradisional Sumatera, rumah ini menggunakan pasak dan tiang hanya diletakkan di atas batu. Tidak ditancapkan ke dalam tanah.

Legenda turun temurun menyatakan leluhur kampung Balai Panjang berasal dari Jawa. Pada abad-17, rombongan sebanyak 40 keluarga datang dari Mataram ke Balai Panjang melalui Selat Berhala dan sungai Batanghari hingga ke hulu sungai Batang Tebo. Rombongan tersebut dipimpin oleh seseorang bernama Sri Pangeran Mangkubuwono.

Konflik di Mataram membuatnya terpaksa meninggalkan kampung halaman menuju Jambi. Atas ijin sultan Jambi, Mangkubuwono memutuskan untuk tinggal dan membuat pemukiman baru di Balai Panjang. Kampung Balai Panjang lantas dikenal sebagai Tanah Periuk karena sebagian penduduknya bekerja sebagai pembuat periuk.

Perkembangan selanjutnya, Tanah Periuk menjadi pusat pemerintahan Bungo pada masa kesultanan Jambi dengan ditunjuknya Pangeran Anom sebagai perwakilan sultan Jambi di Bungo. Tanah Periuk juga berfungsi sebagai ibukota bathin (setingkat kecamatan) Tanah Sepenggal.

Selanjutnya, pusat pemerintahan dipindah ke Lubuk Landai. Setelah Jambi dikuasai oleh Belanda, pusat pemerintahan dipindah dari Lubuk Landai ke Muara Bungo.

Tidak jauh dari rumah sebelumnya, kami beranjak melewati jalan kecil di belakang kampung. Tampak berdiri kokoh sebuah rumah panggung dengan angka tahun 1937. Terkunci. Sebuah mobil yang datang berhenti di depan. Bapak pengendara mobil menanyakan asal kami dari mana. Kata si bapak, di rumah ini disimpan ikat pinggang peninggalan Sultan Mangkubuwono yang panjangnya tiga depa. Wow. Atap rumah dari genteng mengingatkan saya pada rumah di Jawa. Bisa jadi ini salah satu memori warga Tanah Periuk bahwa nenek moyang mereka dari Jawa. Rumah Melayu biasanya menggunakan atap nipah atau ijuk.

Hanya berjarak beberapa rumah, terdapat beberapa sebuah rumah perahu dengan kondisi yang masih cukup bagus dan masih dihuni. Kesimpulannya sementara saya, hanya sedikit rumah tuo yang dihuni. Selebihnya….merana.

Si bapak lantas mengajak kami menyusuri jalan kecil di tepi sungai Batang Tebo, hingga tiba ke sebuah rumah besar beratap kolonial yang masih kokoh. Lengkungan dekat tiang luar rumah mengingatkan saya pada bangunan stasiun Ambarawa. Rumah ini sekarang dijadikan gudang. Saya pikir ini buatan Belanda, rupanya dibuat oleh saudagar karet asli pribumi.

Pagarnya sangat unik dengan simbol menyerupai obor, tanda kali dan tanda kurang. Di bawahnya ada obor terbalik. Ada yang tahu ini artinya apa? #colek Gara yang paham simbologi Belanda.

Di sebelah rumah ini juga terdapat sebuah rumah tua yang masih dihuni. Nenek-nenek sang penghuni keluar rumah, lantas menyapa kami yang sibuk memotret. Si nenek ngobril dalam bahasa daerah yang tidak kami pahami. Cukup lama kami disini.

Kami kembali ke arah rumah perahu. Kali ini kami hendak menuju tujuan kedua yaitu desa Lubuk Landai. Melintasi depan SMA Negeri Tanah Sepenggal yang kini sudah berubah nama menjadi SMA Negeri 7 Kab. Bungo. Saya berhenti di persimpangan dengan sebuah gerbang beratap khas Melayu yang sudah saya lihat di g-Maps sebelumnya dengan tulisan: Kawasan Tradisional. Saya mengambil kamera untuk memotret gerbang desa tersebut.

bersambung

Iklan

17 Comments Add yours

  1. rynari berkata:

    Jadi dokumentasi kawasan tradisional nih Mas. Foto2 ini akan jadi kenangan dan referensi berharga tuk arsitektura rumah tradisional setempat. Salam

    1. Avant Garde berkata:

      terimakasih bu prih 🙂

  2. bersapedahan berkata:

    rumah rumah kuno begini kerennn …. sayang tidak terawat dan bisa hancur …
    btw … ternyata sudah zaman dulu orang jawa “bertranmigrasi” kesana .. haha

    1. Avant Garde berkata:

      betul, itu legendanya, tp belum ada pembuktian ilmiah sih mas hehe

  3. Firsty Chrysant berkata:

    Kalau di padang, rumah gadang yg atapnya ga bagonjoang, yg cuma lentik sedikit itu di sebut atap kajang padati.

    Waaah, mas djangki paham juga nama2 jenis ukiran lakuak paku dan pucuak rabuang ya…. hebaat.

    ahli simbolis gara udah lama ga muncul di dashboarku,hehe

    1. Avant Garde berkata:

      Betul, kalo rumah yg di tanah periuk ini mirip dengan rumah lontiok di kampar…

      1. Firsty Chrysant berkata:

        Rumah Lontik lebih melengkung daripada atap rumah yang ada di gambar Mas Djangki bukan ya?

        1. Avant Garde berkata:

          mirip dengan rumah di foto pertama uni, sama2 lentik hehe…

  4. Kayaknya beberapa provinsi di Pulau Sumatera bagian selatan memang berasal dari Jawa ya, mas.

    Kalau menurutku legenda itu diceritakan untuk mengajarkan nilai moral tertentu. Atau bisa juga sebagai cara masyarakat saat itu mencari jawaban atas misteri yang ada di sekitar mereka.

    1. Avant Garde berkata:

      Yang dari Jawa ya sumsel dan jambi, kalo orang bangka katanya ada darah melayu dan palembang, kalau orang lampung dan bengkulu katanya ada keturunan minang 🙂

      1. Tapi di Lampung banyak imigran Jawa hehe

        1. Avant Garde berkata:

          Yes, 60% dari total penduduk hihi… banyak yak…

          1. Firsty Chrysant berkata:

            Lampung memang banyak jawa karena transmigran kan ya. Daerah mesuji, Blambangan umpu way kanan bisa dibilang jawa semua dan Bali. lJuga sumatera selatan bagian selatan…

            1. Avant Garde berkata:

              Di sumbar di sawahlunto juga banyak

  5. baraajianggara berkata:

    wow, gede banget dong itu tingginya aja sampe 6 meter..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      legendanya begitu sih Bar, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s