Kepincut Bandara Baru Semarang

Maaf mau curcol dulu hehe. Mudik Lebaran tahun ini khususnya bagi yang memilih moda pesawat menuju kampung halaman tentu merasakan ujian berat berupa kenaikan tiket yang luar biasa. Misalnya rute Muara Bungo-Jakarta yang  biasanya 900 ribuan sekali jalan, naik hingga 1,7 juta sekali jalan.  Kami sekeluarga 3 orang. Nah, tinggal dikalikan saja berapa totalnya. Itu baru tiket ke Jakarta lho. Sementara kami mudik ke Semarang. 

Keterbatasan jumlah cuti dari kantor, jarak dari perantauan di Muara Bungo ke kampung halaman di Jawa Tengah membuat saya tak ada pilihan lain kecuali naik pesawat.

Sebelum berangkat ke bandara, kami berpamitan ke tetangga dekat. Kami sepakat,  setelah mudik istri saya akan tinggal di Jawa hingga melahirkan.

Di bandara, saya tidak bertemu teman kantor baik yang bekerja di Bangko atau Muara Bungo. Mungkin mereka sudah mudik jauh-jauh hari sebelum Lebaran, sementara saya baru mudik tanggal 1 Juni. Sambil check in, saya juga mengurus surat keterangan hamil. Biayanya Rp 10.000,- termasuk biaya meterai Rp 6.000,-. Surat dari dokter kandungan yang sudah saya serahkan ke Nam Air rupanya dikembalikan lagi.

Penerbangan Muara Bungo-Jakarta tepat waktu dan lancar. Alhamdulillah. Di dalam pesawat, saya sempat membaca tulisan koh Deddy (deddyhuang.com) waktu ke Wae Rebo dalam inflight magazine.


sungai Batang Bungo dan Batang Tebo

Turun di terminal kedatangan 2D, kami singgah di bakmi GM. Saya yang sedang berpuasa terpaksa menahan ludah saat menemani istri dan Ni Shaquinna makan bakmi dan pangsit wkwkw.

Kami lantas bergerak menuju terminal 3 naik skytrain. Bagi yang membawa bagasi banyak, rupanya bisa naik lift tanpa perlu lewat eskalator. Anak saya tak henti melihat ke luar jendela waktu naik skytrain.

Ujian sesungguhnya berada di terminal 3. Turun di lantai 2, kami harus naik untuk check in di lantai 3. Sayang saya tak bisa mendapat kursi di dekat jendela. Dari lantai 3 turun lagi ke gate di lantai 2.

Naik Garuda, untuk mengurus surat keterangan hamil tidak seribet di Nam dan gratis pula. Terminal 3 ini megah dan luas. Saking luasnya, istri saya sempat kelelahan berjalan dan meminta berhenti beberapa kali sebelum tiba di gate tujuan. 

Di dalam pesawat, anak saya sibuk menonton film kartun. Sementara saya menonton film Wiro Sableng. Saya lompati filmnya karena penerbangan ke Semarang kurang dari sejam sementara filmnya 2 jam lebih. Saya berharap mendapat nasi. Rupanya yang diberikan adalah roti dan susu hihi. Serta sepucuk kartu pos ini.

Dulu bandara Semarang lebih kecil dari bandara Solo dan Jogja. Tiba di Semarang, saya melihat terminal bandara baru yang lebih megah, luas dan modern. Jika dulu masuk terminal langsung ambil bagasi, saya harus berjalan ratusan meter menuju tempat bagasi. 

Seingat saya dulu namanya hanya bandara Ahmad Yani, sekarang ditambahi jadi bandara Jenderal Ahmad Yani. 

Sebelum menuju tempat pengambilan bagasi, saya melihat tulisan “Sugeng Rawuh” dan panel warna-warni yang bergambar beberapa tempat wisata di Jawa Tengah: Lawang Sewu, Tugu Muda, Candi Gedong Songo, Menara Kudus, Goa Kreo, Karimunjawa dan kereta api Ambarawa. Bagus nih buat stok foto Instagram.

 

Kelar ambil bagasi, saya mau ambil uang ke atm. Eh, dompet saya ketinggalan di Muara Bungo!


19 respons untuk ‘Kepincut Bandara Baru Semarang

  1. Salah satu bandara yang pengen disambangin karena desainnya. Dilihat dari foto-fotonya keliatannya desainnya rapi dan dalam satu konsep besar. Beda dengan terminal ultimate yang huahahhaha banget. :))

    1. Saya malah kurang suka sama desain bandara-bandara baru. Megah tapi terlalu kaku, nilai tradisionalnya kurang berasa hehe… Semua dibuat etnik kontemporer 🙂

      1. Karena patokan desain dari AP2 rata-rata generik sih mas hehe. Yang agak berani bermain desain itu bandara-bandara di bawah AP1. 🙂

  2. Saya penasaran dengan bandara Semarang, pas ke Semarang awal tahun ini, sengaja masuk ke kompleks bandara tapi cuma muter nggak turun trus keluar lagi hahaha…. Oiya, punya dedek bayi mas? Selamat ya….

  3. Bandaranya bagus, ciamik hiasannya. 2015 dulu check in naik KalStar dari bandara ini, padat dan gak teratur. Senang kalau lihat bandara-bandara sudah berbenah. Semoga attitude penumpangnya juga ikutan berbenah ya hehehe

      1. Naik dari Ahmad Yani, tanggal 4 Januari 2015 mas. Penerbangan jam 2 siang ke Ketapang.

        Itu pertama kali aku naik ATR, cuaca hujan. Ngeri-ngeri sedap. Seminggu sebelumnya, Air Asia QZ8501 jatuh di Teluk Kumai juga, jadi was-was.

        1. sedikit banyak memberikan efek waswas ya soalnya habis ada pesawat jatuh.. sama kayak pas aku udah siap-siap ke bandara mau ke jambi naik wings, denger berita lion jatuh di laut jawa…

  4. Sedikit banyak ikut hepi melihat beberapa bandara udah keren banget sekarang. Macam bandara Yogya, bandara Semarang, Bandara Bandung yang tadinya bikin rentan ketinggalan pesawat mulu hahaha. Itu dompet ketinggalannya jauh juga, ya. I wonder gimana dirimu nunjukkin KTP ketika check in 🙂

  5. Yuup Mas Isna, bandara A Yani kini makin kece banyak spot cantik, mau mbonceng Pak Jokowi, ngopi bareng Pak Ganjar dll. Selamat nunggu kelahiran buah hati ke 2. Salam

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s