Nyanyian Sunyi Minangkabau Ekspres

Tak puas naik kereta Sibinuang kemarin sore, saya ingin menjajal Minangkabau Ekspres atau Minex, kereta bandara dari Padang ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM). Sebelum ada kereta bandara, bagi warga Padang yang hendak ke bandara BIM hanya bisa memakai kendaraan pribadi, taksi dan bus Damri.

Minex diresmikan bulan Mei tahun lalu sebagai kereta bandara ketiga di Indonesia setelah kereta bandara Kualanamu dan Soekarno-Hatta. Sama-sama kereta eksekutif, Minex jauh lebih murah cuma Rp 10.000,- sekali jalan. Kereta ke Kualanamu saja Rp 100.000,- sedangkan kereta ke Soekarno-Hatta Rp 70.000,-

Pagi hari, alarm di ponsel membangunkan saya. Meski mata masih ngantuk habis sahur tadi pagi, saya harus segera bersiap-siap menuju stasiun Air Tawar jika tidak ingin ketinggalan kereta. Biar tidak salah tempat lagi sperti kemarin, saya bilang turun di stasiun Basko ke pengemudi ojek online yang saya pesan.

Sekitar lima menit saya sudah sampai stasiun. Masih sangat sepi, setelah membeli tiket, saya segera menuju peron di belakang loket. Sambil menunggu kereta datang, saya ingin memotret suasana sekitar stasiun yang terletak di sebelah mall dan hotel Basko ini.  

 

Tepat di samping mall Basko di sisi luar pagar stasiun merupakan tugu selamat datang Kota Padang. Leher patung perempuan terlihat patah setelah diterjang gempa besar di Padang tahun 2009. Jika dilihat dengan seksama, di bawah patung terdapat logo sebuah bank pemerintah yang kini sudah tidak ada lagi.

Hingga beberapa saat, hanya ada lima calon penumpang di stasiun Air Tawar. Tak berapa lama, kereta berwarna hijau cerah dengan sirine khas datang menghampiri. Kami bergegas naik.

Hampir sama seperti kereta bandara di Jakarta, tidak ada nomor tempat duduk di tiket sehingga penumpang bebas memilih duduk dimana. Saking sepinya, seperti naik kereta pribadi hehe. Padahal dari kota Padang ke bandara yang notabene di luar kota tepatnya masuk kabupaten Padang Pariaman jaraknya 22 km. Lumayan jauh. Dalam sehari, Minex melayani rute Simpang Haru-BIM 6x bolak-balik.

Jam 6.42 atau satu menit kemudian kereta berangkat. Keretanya jauh lebih bagus daripada Sibinuang. Jok kursinya kulit berwarna hijau segar. AC-nya juga lebih kencang.

Dari stasiun Padang (Simpang Haru), Minex singgah di stasiun Alai, Air Tawar, Tabing, langsung ke stasiun Duku dan berakhir di stasiun BIM. Dengan demikian, kereta tidak berhenti di stasiun Lubuk Buaya yang merupakan halte antara stasiun Tabing dan Duku. Lubuk Buaya ini merupakan stasiun terakhir di kota Padang sebelum masuk wilayah Padang Pariaman.

Di stasiun Tabing, beberapa penumpang naik, tapi bisa dihitung jari. Kurang dari 10 penumpang.

Di luar jendela, warga Padang memulai pagi dengan beraktifitas menuju tempat tujuan masing-masing. Memang tak terlalu ramai. Ini hari Minggu pagi dan bulan puasa. Mungkin lebih banyak warga yang masih terlelap dalam tidur.

Antara stasiun Tabing dan stasiun  Duku terdapat beberapa muara sungai yang berakhir di pantai Padang langsung menuju Samudera Hindia.

Saya tiba di stasiun Duku yang merupakan persimpangan jalur ke arah Pariaman, Kayu Tanam dan BIM. Di stasiun Duku, Minex ‘berjumpa’ kereta Lembah Anai tujuan BIM-Kayu Tanam. Keretanya berwarna merah putih dengan ornamen rumah Gadang dan ukiran khas Minangkabau. Kalau jalur kereta Lembah Anai sudah diaktifkan kembali ke Padang Panjang, saya bertekad akan menjajal kereta ini menuju Padang Panjang.

Stasiun Duku cukup besar dengan pilar-pilar fiber besar berwarna oranye. Di sisi kanan stasiun terdapat mural berlukiskan pemandangan alam Sumatera Barat.

Tak berapa lama, kereta berbelok ke kiri ke arah bandara. Deretan sawah menghijau dan gunung di kejauhan berdiri anggun. Entah gunung apa, yang jelas sepertinya di arah Bukittinggi. Sungguh menyejukkan mata. Tadi saya lihat laut, sekarang gunung. Meski hanya naik kereta api, tak sia-sia saya menghabiskan waktu saya.

Bangunan panjang beratap gonjong semakin lama semakin jelas terlihat. Sebentar lagi saya akan tiba di bandara Minangkabau. Tepat jam 7.20 kereta tiba di stasiun BIM. Tepat waktu sesuai jadwal perjalanan. Bagi yang mengutamakan ketepatan waktu, kereta Minex ini patut dicoba jika hendak bepergian melalui bandara BIM. Murah lagi tiketnya.

Semua penumpang keluar dari kereta. Dari stasiun ke bandara ada jembatan penyeberangan, tetapi sedang dalam perbaikan sehingga penumpang diangkut dengan bus gratis ke terminal keberangkatan.

Setelah membeli tiket balik ke stasiun Air Tawar, saya berkeliling sebentar di dalam gedung stasiun. Masih lengang.

Foto menara kontrol dan terminal bandara di bawah ini saya ambil dari dalam stasiun bandara. Material semen dan pasir tampak di sekitar stasiun.

Di dalam stasiun tepatnya di ruang tunggu stasiun BIM, terdapat mural suku Mentawai, kereta Lembah Anai dan foto-foto pemandangan alam di Sumatera Barat. Bisa buat foto-foto mengisi story atau feed Instagram. Disediakan juga tempat pengisi daya gawai dan toilet.

Balik ke arah Padang, tak terlalu banyak penumpang yang naik sebagaimana waktu saya naik kereta ke bandara tadi. Sama-sama sunyi. 

Saya kembali masuk ke kereta yang sama waktu berangkat tadi. Berangkat dari BIM jam 7.45, saya tiba di stasiun Air Tawar jam 8.17. Total waktu perjalanan 32 menit.

21 Comments Add yours

  1. imyonie berkata:

    Kalo kereta ke BIM sepi bisa duduk walaupun beli on the spot. Beda sama yg Pariaman y, bang.

    1. Avant Garde berkata:

      biarpun ke pariaman kemaren gak dapet tempat duduk, tapi kemaren seru banget satu gerbong sama kalian…. 😀

  2. Firsty Chrysant berkata:

    Ini aku juga belum pernah nyoba juga, hahaha. Seru nih Mas, perjalanannya… 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      yang ini lebih sepi uni hehe…

      1. Firsty Chrysant berkata:

        Mungkin karena interval keberangkatannya yg lama kali ya. Trus stasiunnya ngga ada yg dekat arah pasar atau perkantoran di sudirman – khatib sulaiman.

        1. Avant Garde berkata:

          Iyah, orang lebih suka naik mobil sendiri atau damri 🙂 padahal lebih murah lho, cuma 10rb sekali jaman, adem pula keretanya…

          1. Firsty Chrysant berkata:

            Kalau semisal jadwal jarak keberangkatan lebih dari se jam trus,kereta baru aja brangkat, nunggu lagi ya lama. Mending cari alternatif lain kan. Gitu pendapat penumpang…
            Kalau interval keberangkatan per setengah jam, pasti pada mau nunggu

            1. Avant Garde berkata:

              sepertinya belum memungkinkan uni, jalur kereta di sumbar kan masih 1 jalur, beda sama kereta di jawa yg udah dua jalur…

              1. Firsty Chrysant berkata:

                Oiya, bener juga… Musti gantian ya…

  3. bersapedahan berkata:

    wah iya .. murah bangetttt, sepi begini mungkin belum terbiasa untuk bepergian naik KA ya

    1. Avant Garde berkata:

      betul, mungkin dianggap cukup dekat jadinya byk yg naik kendaraan pribadi 🙂 kalopun naik yg transportasi umum damri sih setau saya

  4. Secara praktis, sebetulnya “kereta bandara” pertama di Indonesia adalah Prambanan Ekspres yang melayani Bandara Adi Sucipto di Jogja.

    Kereta Minex ini persis kereta Solo Ekspres (ulasannya ada di blog juga). Karena kota Padang masih belum menjadi kota metropolitan, menurutku pariwisata Padang perlu digenjot untuk mendatangkan wisatawan luar kota dan luar negeri. Biar ridership kereta Minex bertambah. Ridership kereta bandara Medan dan Jakarta aja kayak gitu. Btw itu tulisan di stasiunnya typo dong, “Shelter Kereta Aip” 😀

    1. Avant Garde berkata:

      betul, kereta bandara pertama di indonesia sebenarnya Prameks ya, tp karena tujuan akhirnya bukan di bandara kali ya makanya gak disebut kereta bandara…

      aku sengaja mengganti kata shelter dengan halte, biar lebih indonesia aja sih hehe…
      makasih masukannya Nugie 🙂

      1. Bukan kamu yang typo mas. Stasiunnya.

        1. Avant Garde berkata:

          Oh, itu “shelter kereta api air tawar” bukan “shelter kereta api aip” hahahaha… coba cek lagi 🙂

          1. Oh “air” toh, oke oke

  5. rynari berkata:

    Makasih mas Isna, diajak piknik nyepur dari Padang ke bandara BIM pp. Wisata transportasi di sela tugas. Salam

    1. Avant Garde berkata:

      Terimakasih kembali bu Prih 🙂

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s