Whiz, Teh Hijau dan Kereta Api Ranah Minang

[nonAdv]

Sejak kanwil di Padang pindah kantor ke Khatib Sulaiman, saya tak pernah lagi menginap di kawasan Pasar Raya jika dinas ke Padang. Saya memilih untuk menginap di hotel Pangeran atau Ibis. Selain dekat kanwil, cukup dekat ke beberapa tujuan wisata seperti Masjid Raya Sumatera Barat dan Transmart Padang.

Akhir 2017, ada hotel baru di Khatib Sulaiman. Namanya hotel Whiz Prime Hotel. Persis di seberang kantor pajak dan Grapari Telkomsel. Satu deret dengan BPS dan kantor imigrasi Padang. Khatib Sulaiman ini salah satu jalan protokol di Padang. Kantor Gubernur Sumatera Barat, Polda Sumbar berlokasi di jalan ini. Bisa dibilang lokasi hotel sangat strategis. Mau ke Transmart tinggal jalan kaki 1 km. 


panorama di depan hotel

Sebelum menginap disana, saya coba tanya pendapat teman-teman yang sudah menginap di sana. Dan kebanyakan komentarnya adalah :
~ kamarnya kecil
~ kasurnya keras
~ makanannya tidak enak
Nilai plusnya, ke kanwil tinggal lompat, eh..maksudnya tinggal menyeberang.

Sekian waktu berlalu dan anggapan negatif dari teman-teman tentang Whiz itu masih membelenggu pikiran saya. Beberapa kali saya dinas ke Padang tak pernah terpikir untuk menginap di Whiz. Saya selalu mencari hotel lain.

Hingga akhirnya, di tahun ini saya penasaran ingin menjajal menginap di Whiz. Saya tak pasang ekspektasi apa-apa. Saya sudah siap jika hotel itu benar-benar kurang recommended. Untuk itu, saya hanya pesan kamar untuk satu malam dari total dua malam perjalanan dinas di Padang.

Masuk ke lobi yang tidak terlalu luas, saya disambut interior berwarna hijau pupus. Perlahan, penyemprot parfum ruangan menguarkan aroma yang sangat familiar dan saya sukai: green tea alias teh hijau. 

Saya memperoleh kamar nomor 701 di lantai  7. Sesuai permintaan saya untuk menginap di lantai atas. Tak masalah meski nanti harus tidur di kamar twin. 

Fasilitas Masuk ke dalam lift, aroma green tea segar itu tak hilang. Sebuah awal yang manis untuk kunjungan pertama di hotel ini. Kartu kunci sekaligus berfungsi sebagai pintu akses lift. Begitu kartu di-tap ke sensor, lift langsung menuju ke lantai 7.

Hotel ini terdiri dari lantai Ground sebagai lobi. Lantai 1 yaitu meeting room dan mushola. Lantai 2 hingga 8 (tanpa lantai 4) merupakan kamar. Lantai 9 paling atas yaitu Puncak Singgalang Sky Lounge atau restoran.

Keluar lift, aroma green tea itu masih begitu terasa di penciuman. Menenangkan, mendamaikan. Green tea dan matcha ini salah satu aroma dan perisa favorit saya. Nuansa hijau dan abu-abu mendominasi koridor. Lampu kamar yang menyala menandakan okupansi kamar. Saya berjalan ke ujung koridor, tempat kamar saya berada.

Kamarnya memang tidak terlalu luas. Namun, tertutupi dengan WiFi yang mumpuni dan tv dalam kamar yang memakai useetv (Indihome). Wah, baru kali ini saya menemukan hotel dengan tv premium seperti ini. Hotel lain paling tv kabel atau mentok ya Ind#vision hehe.

Sebuah lukisan ikon wisata Sumatera Barat Jam Gadang dalam bentuk kolase tergantung manis di atas kasur.

Kasurnya memang agak keras, bukan jenis springbed. Namun, masih lumayan nyaman kok untuk tidur. Pada label yang diletakkan di atas ranjang, ditulis “Kasur angler dirancang khusus untuk Intiwhiz,  memberikan dukungan maksimal terhadap pembagian tekanan dari berat badan pada saat Anda tidur.” Kata teman saya, kasur ini cocok untuk penderita kelainan tulang punggung dan rematik.

Jug ijak ijuk, nguuuung nguuuung, jug ijak ijuk. Bunyi kendaraan ditimpa sirine cukup nyaring mengagetkan saya. Saya mencari asal bunyi tersebut.

Satu dua gerbong hingga tiga gerbong kereta melintas tepat di belakang hotel. Pagar hotel berbatasan langsung dengan lintasan kereta api dari stasiun Simpang Haru (stasiun Padang) hingga arah Pariaman. Sayang saya tak berhasil memotret dengan cukup baik. Kuda besi itu melintas begitu saja tanpa saya potret.

Tak hanya sekali, kereta api silih berganti melintasi belakang hotel. Baik kereta api Sibinuang menuju Pariaman dan kereta api Minangkabau Express (Minex) ke Bandara Internasional Minangkabau di Padang Pariaman. Saya teringat beberapa tahun silam, saya pernah berencana naik kereta ke Pariaman tapi kehabisan tiket. Semoga suatu saat nanti saya bisa naik kereta ini. Di Sumatera saya baru naik kereta bandara dari Kuala Namu ke Medan dan dari Lubuk Linggau ke Palembang.

***

Sarapan saya lakukan di lantai 9 yang merupakan Skylounge. Nuansa hijau masih mewarnai tempat duduk.

Pemandangannya kota Padang dari atas cukup menarik, masjid raya Sumatera Barat, Transmart Padang, gunuang Padang, perbukitan yang mengepung kota Padang bahkan pulau-pulau di lautan Hindia bisa diamati dengan baik.

Makanannya sih sangat standar, perlu ditingkatkan lagi varian makanannya. Hanya saja, bagi pecinta kopi tersedia mesin pembuat kopi yang mampu membuat 10 jenis olahan kopi misalnya americano, espresso, latte dan lain-lain secara ala carte

***

Kali kedua saya menginap di Whiz di kamar 501. Saya pilih kamar di ujung koridor agar dapat mengamati jalannya kereta dengan jelas. Kamar ini memiliki lukisan bergambar masjid raya Sumatera Barat.

Di kunjungan kedua kali ini, saya masih terpana dengan keharuman green tea dari lobi, lift hingga koridor hotel.

Berbekal jadwal perjalanan kereta dari Wikipedia, kali ini saya sudah bersiap-siap dengan kamera seandainya Sibinuang dan Minex muncul lagi. Hotel Whiz berada di tengah-tengah stasiun Alai dan halte Air Tawar (Mall Basko). Juk ijak ijuk, kuda besi melintas dari balik jendela. Saya lompat mendekati jendela, kuda besi itu berhasil saya potret.


kereta api Sibinuang


kereta api Minangkabau Express

Kali ini saya bertekad akan menjajal naik kereta ranah Minang, baik Sibinuang atau Minex…

Iklan

21 Comments Add yours

  1. omnduut berkata:

    Baru kali ini liat kereta di Sumbar 😀

    Duh kangen (nasi) Padang, pak hahaha.

    1. Avant Garde berkata:

      Ke palapa bae yan hehe… Masih ado dak, itu nasi padang paling endes dulu di palembang

  2. Aul Howler berkata:

    Whewww
    Berarti yang jumpa aku di Transmart itu pertama nginep di Whiz ya?
    Hihihi

    Baru tau kalo ada resto di puncak Whiz.
    Hmmmm. Menunya lebih enak mana dibanding Ibis, Mas Isna?

    1. Avant Garde berkata:

      Enakan ibis dong, kan beda kelas haha… whiz ini bintang 2 kok…

      Aku lupa jumpa pertama sm aul nginap dimana wkwkw..

  3. rini berkata:

    Bagusnya bisa liat kereta lewat dan Masjid Agung yang unik dari dalam ya, ditambah aroma greentea

    1. Avant Garde berkata:

      betul mba 🙂 hehehehe

  4. aryantowijaya berkata:

    Waaa, saya nginap di situ betah pasti, tiap jam liatin kereta yang lewat.

    Dulu tahun 2014 sy pernah nginap di Whiz Semarang, hotelnya menyenangkan. Harganya 300 ribuan waktu itu, dapat breakfast, dan viewnya juga ciamik. Saya malah baru tahu kalau ada beberapa yang komen negatif ttg brand hotel ini hehe.

    1. Avant Garde berkata:

      next cobain whiz padang kalo ke ranah minang Aryo 🙂

      1. aryantowijaya berkata:

        Mau banget, pengen singgah ke Minang lagi.
        Dua kali ke Minang cuma mampir di Bandaranya aja nih.

        Pengen coba rendang asli Minang hehe.

        1. Avant Garde berkata:

          oh gitu, kemaren dr bandara transit kemana Ri?medan?

  5. bersapedahan berkata:

    ternyata hotel whiz masih oke … tidak seperti omongan teman2 …. mungkin juga karena aroma green tea membuat mood jadi berubah …. j

    1. Avant Garde berkata:

      betul mas, ada sensasi suara kereta lewat hehe

  6. Firsty Chrysant berkata:

    Rate nta brp di sana?

  7. rynari berkata:

    Luar biasa, berburu kamar untuk nyegat si kuda hitam lewat. Pemandangan dari tingkat atas hotel bervariasi ya.
    Makin kangen dolan SumBar lagi.
    Salam

    1. Avant Garde berkata:

      hehehe, agak niat ya bu 🙂 monggo ke sumbar. kalo sekarang lagi musim hujan di sumatera… padahal kemaren di jawa masih kemarau

  8. TERUS MANA FOTO KAMARNYA, ABANG? Jadi penasaran nih 😀
    Lalu apakah betul kamarnya sempit?

    Aku sarapannya nggak ribet. Roti atau nasi porsi ringan sama kopi aja udah seneng. Jadi nampaknya aku bakal happy sarapan di sini.

    1. Avant Garde berkata:

      Ah, lupa ahaha…. Yuk gie nginap disini bareng 😀

      1. Pengen ke Sumbar, tapi tiket lagi mahal 😦

        1. Avant Garde berkata:

          jalur darat kak :=P wkwkwkw #becanda

          1. Aku fakir cuti kak, hahaha

            1. Avant Garde berkata:

              sama dong, mari berdoa semoga tiket domestik cepet turun, amien

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s