Di Atas Riak Sungai Tembesi

Perjalanan dari Bangko ke Jangkat adalah perjalanan menghiliri sungai Batang Merangin dan Batang Tembesi. Mereka berdua adalah anak-anak sungai Batang Hari, induk semua sungai di Jambi. Dari Bangko, sungai Batang Merangin tampak saat kita melintasi jembatan Pulau Rengas, kecamatan Bangko Barat. Sedangkan Batang Tembesi tampak di sebelah kiri jalan mulai dari Tiang Pumpung hingga Muara Siau.

Kami tak ada rencana makan siang di Sekancing dalam perjalanan menuju Jangkat. Hanya saja melihat sebuah rumah makan kecil tepat di bantaran sungai Batang Tembesi. Ditambah perut yang mulai keroncongan membuat kami penasaran kira-kira masakan apa yang disediakan di rumah makan tersebut.

Sekancing, sebuah desa sekaligus ibukota kecamatan Tiang Pumpung. Kecamatan yang merupakan pemekaran dari Muara Siau. Desa ini cukup sepi. Tak ada pasar, bank atau ATM. Bupati Merangin saat ini adalah putra asli Sekancing.

Masuk ke dalam rumah makan, tak tampak satu orang pengunjung pun. Hanya meja dan kursi yang membisu. Seorang laki-laki setengah baya berperut buncit tanpa senyum mempersilakan kami memilih meja. Kami duduk di dekat jendela, dengan pemandangan sungai Batang Tembesi. Langit yang kelabu, sungai berwarna kopi susu, dan rimbunnya pohon hijau.

Nasi panas dikeluarkan beserta ayam goreng balado, gulai kepala ikan, ikan goreng dan lalapan ketimun. Tak ada menu lain. Saya memilih lauk ayam goreng yang mengingatkan saya pada menu balado di RM Aroma di Bangko. Sama enaknya.

“Ikannya enak mas, manis.” ucap kawan saya.
Saya coba makan ikan goreng kering berukuran sebesar bandeng. Kulit luarnya kering, tapi daging di dalamnya cukup lembut. Gurih. Di Jambi, rasa manis yang sering dibilang orang sebenarnya adalah substitusi dari rasa gurih atau asin.

Ah, nikmat sekali ikan ini. Belum pernah saya makan ikan segurih ini. Rupanya ini adalah ikan yang ditangkap dari sungai di depan kami. Tuhan Maha Baik, meski sungai ini sudah dicemari manusia. Dia masih menurunkan rizki-Nya. Masih ada ikan yang bertahan hidup di balik air sungai yang keruh ini.

“Kok sepi, Bang?” Tanya kawan saya memulai pembicaraan.
“Yo macam inilah. Dulu ramai. Yang di ateh tu tempat karyawan.” Saya melihat lantai atas yang kosong. Saya membayangkan dulu tempat ini ramai pembeli. Karyawannya cukup banyak. Sejak jalan dari Jangkat ke Bangko mulus, tak banyak lagi orang singgah di tempat ini. Setahu saya, travel dari Jangkat ke Bangko dan sebaliknya hanya singgah sekali di Pasar Masurai. Entah kenapa, saya suka iba melihat sebuah tempat makan yang enak, tetapi sepi pengunjung.

Hidup kadang seperti riak sungai, kadang deras berombak kadang  tenang tanpa riak… 

Tak lama datang satu orang untuk makan siang. Lantas dua orang makan di balkon kecil di sebelah luar yang langsung menghadap sungai. Jika rumah makan ini masih berdiri hingga saat ini, tentu saja masih ada pembeli dan pemilik rumah makan masih mendapat laba. Meski mungkin tak sebesar dulu. Ah, rasa iba saya mungkin terlalu berlebihan.

Setelah membayar makan, saya minta ijin untuk pergi ke toilet yang berada di bawah rumah. Di bawah saya melihat seekor monyet diikat pada sebuah tiang. Mungkin sang pemilik merasa kesepian sehingga memerlukan seorang kawan untuk menemaninya.

Tak  jauh dari toilet tempat saya buang air kecil, mengalir sebuah sungai kecil berair jernih. Saya membayangkan betapa jernihnya sungai di depan saya, sebelum negara api menyerang dompeng alias tambang emas ilegal mengubah wajah sungai-sungai besar di Jambi menjadi berwarna coklat susu.

Jika kamu bepergian ke Jangkat, boleh lho singgah untuk makan atau sekedar ngopi disini. Letaknya di sebelah kiri jalan dekat tikungan. 

Iklan

2 Comments Add yours

  1. aryantowijaya berkata:

    Tempat makannya tampak syahdu mas. Saya jadi ingat dulu pernah makan di tempat seperti ini ketika berada di Kutacane, Aceh. Sambil menyeruput teh panas, di kiri saya ada sungai lebar.

    1. Avant Garde berkata:

      Kutacane dan Takengon salah satu wishlist di Aceh 🙂 betul, sepi sehingga fokus menikmati alam.. Terimakasih sudah singgah berkunjung Aryanto 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s