Muara Madras, Pagi Itu…

Jambi selama ini hanya mengenal dua kutub pariwisata. Candi Muaro Jambi di sebelah timur kota Jambi sebagai tempat wisata sejarah peninggalan kerajaan Malayu. Kutub kedua yaitu Kerinci, daerah paling barat di Jambi dengan ikon wisata alamnya yaitu Danau Kerinci dan Gunung Kerinci.

Kiblat wisata alam di Jambi seakan bergeser dari Kerinci ke Merangin, sejak situs fosil prasejarah di sungai Batang Merangin ditetapkan sebagai salah satu Geopark Nasional. Apalagi setelah jalan dari Bangko ke Jangkat yang awalnya rusak berat dibuat mulus.

Jangkat, daerah yang dulu hanya bisa ditempuh delapan jam perjalanan darat kini cukup tiga jam saja. Daerah ini pelan-pelan menjelma dari awalnya terisolir kemudian berdenyut sebagai tujuan wisata baru. Ribuan orang rela menempuh perjalanan tiga jam dari Bangko ke Jangkat untuk menikmati surga wisata baru itu. Danau Pauh, gunung Masurai, taman bunga Hesti’s Garden hanyalah sedikit dari permata terpendam di Jangkat. Masih banyak lagi yang bisa dilihat dari daerah terjauh di Merangin ini. Alam, budaya, kulinernya…


Danau Pauh dengan latar gunung Masurai (2015)

***

Saya pertama kali datang ke Jangkat tahun 2015 bersama keluarga menengok seorang kawan yang tinggal di sana. Sejak saat itu entah berapa kali saya pergi ke Jangkat. Baik sekedar melepaskan diri dari penatnya pekerjaan, maupun dinas kantor.

Kali ini saya datang lagi ke Jangkat untuk urusan kantor. Bersama dua orang rekan, kami menginap di Wisma Hazel selama satu malam. Sebuah penginapan bergaya guesthouse di Muara Madras, ibukota kecamatan Jangkat. Berbentuk rumah panggung yang terdiri dari dua kamar tidur, teras sekaligus balkon dan satu ruang tv. Tvnya tidak dilengkapi parabola sehingga tidak bisa melihat tayangan tv. Kamar mandi ada dua buah berada di bawah rumah panggung. Penginapan ini bersebelahan dengan rumah pemilik dan dihubungkan dengan lorong kecil.

Agak susah menemukan tempat makan di Jangkat sehingga jika menginap disini kami minta disediakan makan malam dan sarapan.

                             Lihat juga: Pengalaman menginap di Jangkat

Malam itu Kak Ilma, pemilik guesthouse masak sayur buncis dan gulai ikan. Agak surprise karena masakan bersantan agak jarang saya temui di Jangkat. Udara dingin Jangkat, sambal merah dan nasi panas membuat kami tak berlama-lama menghabiskan hidangan itu. Usai makan berat, kak Ilma mengantarkan nampan berisi minuman panas dan ubi rebus. 

Kabar kurang menyenangkan saya dengar bahwa taman bunga Hesti’s Garden kini kurang terawat. Konon para pekerja taman dipindahkan ke Bangko untuk mengurus taman bunga Merangin Garden yang juga dikelola istri bupati. Beberapa pengunjung yang datang jauh-jauh dari Bangko bahkan Jambi terpaksa menelan kecewa karena taman bunga yang dulu indah kini terbengkalai.

Betul rupanya, ketika kami datangi keesokan harinya, taman bunga itu kini ditumbuhi rumput. Tak ada siapa-siapa termasuk petugas yang dulu berjaga di pintu gerbang. Kondisi pintu terkunci. Atas informasi dari warga, kami masuk melalui pintu samping. Sedih 😦

***

Perut kenyang, udara dingin, dan lelah karena perjalanan ke Jangkat membuat kami segera beranjak ke kamar masing-masing. Karena hanya ada dua kamar, saya dan seorang kawan tidur di dalam kamar. Kawan yang lain terpaksa tidur di ruang tv.

Pagi hari udara masih dingin. Membuat saya malas beranjak untuk mengambil air wudhu. Cess, air sedingin es membasuh muka dan kaki. Usai ibadah Subuh, saya kembali bergumul dalam selimut.

Matahari belum tinggi tatkala sinarnya masuk menghampiri di balik jendela. Dari teras saya bisa melihat kesibukan pagi di Jangkat. Anak sekolah pergi jalan kaki. Orang-orang pergi ke sungai untuk mandi. Kehidupan di Jangkat sepertinya amat selow, tidak terburu-buru seperti di kota. Hampir tak ada mobil lewat kecuali beberapa mobil pengangkut sayuran ke kota. Anak sekolah lebih banyak yang berjalan kaki ketimbang naik motor.

Di depan saya, di balik rumah kayu berwarna putih membentang sawah nan hijau. Di belakangnya adalah gunung Masurai. Titik tertinggi di kabupaten Merangin (2980 mdpl) yang masih berselimut kabut.

Rumah di samping kak Ilma rupanya sekarang disewakan sebagai homestay. Pariwisata membuat ekonomi desa ini semakin bergairah. Beberapa orang menangkap peluang itu dengan membuka rumah makan, penginapan tipe homestay dan guesthouse.

Saya melihat kabel listrik dengan tiang-tiang tinggi di tepi jalan. Kata kak Ilma, itu tiang listrik punya PLN. Artinya, sebentar lagi listrik dari pemerintah akan menerangi desa ini. Selama ini, warga desa harus patungan setiap bulan untuk menikmati listrik secara swadaya dari pembangkit listrik dari air terjun dekat desa. Itupun listrik hanya menyala dari sore hingga pagi. 

Kedua orang teman saya berhasil saya ajak untuk mandi di sungai. Sungai yang jernih membuat mandi di sungai masih lazim dipraktikkan di Jangkat. Letak sungai tak jauh dari penginapan. Dari penginapan tinggal jalan kaki lima menit hingga simpang, lantas belok kiri. Di tepi jalan beberapa kali saya melihat bilik padi (lumbung padi). Salah satu bilik padi berukuran besar sehingga bagus untuk dijadikan obyek foto.


Salah satu bilik padi di Muara Madras (2017)

Desa ini masih sangat asri. Tak heran Muara Madras menyabet juara 1 lomba Lingkungan Bersih dan Sehat antar desa se-Provinsi Jambi tahun 2016. Ohya, sampai sekarang saya belum berhasil memecahkan misteri asal mula nama Muara Madras. Adakah kaitan dengan kota Madras di India?

Sebelum sampai sungai, lagi-lagi kami disuguhi panorama alam Jangkat. Sawah dan gunung. Berderet-deret Gunung Masurai yang bersebelahan dengan gunung Nilo dan gunung Sumbing. Masurai tampak paling besar dan gunung Sumbing paling jauh.

Tak jauh dari tepi sungai, aliran sungai melewati bendungan kecil membentuk sebuah air terjun kecil. 

Satu orang kawan saya batal mandi di sungai. Memang airnya sangat dingin. Saya mencelupkan kaki terlebih dulu beberapa saat sebagai permulaan sebelum mandi.

Dalam perjalanan pulang ke penginapan, tampak rumah kak Ilma yang berwarna oranye pucat paling menonjol dari antara rumah yang lain. Di belakangnya adalah perbukitan yang merupakan bagian dari pegunungan Bukit Barisan. Di peta, beberapa kilometer di balik bukit itu adalah provinsi Bengkulu. 

Tiba di hotel kak Ilma telah menyiapkan sarapan di ruang tv. Nasi putih hangat, bihun, perkedel kentang, telur rebus, ayam suwir dan kuah bersantan. Ah, sepertinya soto Padang karena pakai perkedel, tetapi kuahnya soto Betawi. Sedap nian!

Wisma Hazel
Jl. Depati Muncak, Tg. Harapan, Muara Madras, Jangkat
Kontak: Ilma (0852-6668-0112 )

Total pengeluaran selama 1 malam untuk 3 orang :
Sewa kamar : 2 x 200k
Snack (rebusan, teh dan kopi sepuasnya) : 15k
Makan malam : (3 x 20k)
Sarapan:  (3 x 15K)
Total 520k (snack dan makan opsional, silakan hubungi pemilik guesthouse saat memesan kamar).

Iklan

2 Comments Add yours

  1. Bara Anggara berkata:

    sayang banget taman bunganya terbengkalai gitu..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      Iya Bar, jadinya sepi… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s