Baralek di Ranah Minang dan Makan Bajamba

Beberapa saat yang lalu saya menghadiri baralek (resepsi pernikahan) kawan saya Eci dan bang Afdal. Rumah bang Afdal di Baso, rumah Eci di Ampang Gadang. Secara administratif masuk kabupaten Agam meski cukup dekat dengan kota Bukittinggi. Mereka berdua kawan satu kantor di Bangko.

Acara akad dilangsungkan di rumah Eci. Baralek pertama diadakan di rumah mempelai laki-laki yaitu rumah bang Afdal. Lantas esok harinya baralek kedua di rumah mempelai perempuan (Eci). Setelah resepsi kedua ini, pengantin baru ini akan tinggal di rumah keluarga mempelai perempuan. Beda dengan resepsi di Jawa yangmana resepsi pertama  selalu di rumah pengantin perempuan, baru esok atau beberapa hari kemudian diboyong atau ngunduh mantu di rumah pengantin laki-laki.

Konsep baralek di Bukittinggi tak beda dengan baralek di Jambi. Tamu datang, mengisi buku tamu dan kotak angpau, makan-makan prasmanan, baru salaman dengan pengantin. Menu makanannya ada nuansa kuliner Agam-Bukittinggi seperti gulai ayam lado ijau, gulai ayam rebung, rendang, ayam goreng. Selain itu sih standar menu nikahan Sumatera: bihun, gado-gado, kerupuk, air mineral dan buah. Di sebelah makanan berat terdapat gerobak bakso. Usai makan nasi, saya makan bakso.

Yang paling saya suka dari baralek adalah melihat dekorasi pelaminan yang masih memegang teguh nilai-nilai budaya Minang seperti atap bagonjong, tirai berlapis-lapis, kain warna-warni, banta gadang (hiasan menyerupai bentuk perisai terbalik), payung. Pengalaman saya menghadiri pernikahan di Jambi dan Sumbar, hanya acara pernikahan orang Minang yang masih setia memakai pelaminan tradisional. Sedangkan pernikahan suku lain sudah banyak menggunakan pelaminan modern bergaya rustic minimalis atau penuh dengan bunga palsu. 

Busana yang dipakai pengantin Minang biasanya juga masih melestarikan pakaian adat Minang. Pengantin perempuan mengenakan suntiang gadang atau perhiasan kepala bernuansa emas yang sangat meriah. Kata Eci suntiang ini cukup berat sehingga hanya dipakai sampai siang. Dari siang sampai sore ia mengenakan tutup kepala tingkuluak talakuang khas Koto Gadang yang menyerupai kerudung sehingga lebih ringan di kepala. Uniknya pengantin laki-laki selain mengenakan keris juga membawa tongkat kayu.

Baralek kedua dilangsungkan di rumah Eci keesokan harinya. Seperangkat alat musik mirip gamelan ditata di depan rumah. Ini adalah talempong alat musik khas Minang. Bentuknya mirip bonang di Jawa hanya saja jumlah dan cara memainkannya berbeda. Iramanya lebih cepat dibanding bonang yang lebih pelan.

Jika di rumah bang Afdal kami makan prasmanan, di rumah Eci kami makan bajamba yaitu makan ala orang Minang asli. Kami makan bersama di ruang tamu. Makan bajamba ini mengingatkan saya pada tradisi munggah di Palembang dan tradisi makan satu hidang di Karimun. Bedanya pada menu dan tata cara makan.

Konsep makan bajamba yaitu makan bersama-sama dalam satu wadah secara lesehan menggunakan tangan. Walau sekarang sudah disediakan sendok bagi yang tak bisa makan pakai tangan. Demi alasan kepraktisan makan bajamba tak melulu pakai satu piring besar, melainkan pakai banyak piring berukuran normal. 

Menu makanan yang dihidangkan di sisi terluar adalah makanan berat yaitu gulai ayam, gulai jengkol, rendang daging, sambal hijau, sambal merah, sambalado tanak, dan beberapa makanan lagi yang saking banyaknya saya tak hafal. Minuman dan makanan ringan ditata di bagian tengah yang berupa buah pisang, kue basah, dan roti.

Cara makannya, pertama kali kita mencuci tangan dengan air bersih di cawan. Mengambil nasi, lauk pauk dan sayur dan air minum yang biasanya air mineral gelas. Setelah tak tersisa lagi makanan di piring, kita bisa mencuci tangan dengan dengan menyiramkan sisa air minum langsung ke atas piring.

Usai makan berat, kita boleh makan cemilan dan buah. Untuk pertama kalinya saya mencoba bareh randang. Secara harafiah artinya beras rendang. Bareh randang ini bukan lauk rendang, tapi kue manis dari tepung beras ketan. Kata teman saya yang asli Padang, bareh randang dibuat khusus oleh keluarga pengantin perempuan sebagai ungkapan suka cita menyambut pengantin laki-laki.


10 respons untuk ‘Baralek di Ranah Minang dan Makan Bajamba

  1. Kalau di Minang, selain nikah yang memang di pihak perempuan, baralek pertama juga di pihak prempuan. Kalau di atas, aku kira, yg baralek pertama di laki2 dan kedua di perepuan mgkin krn mepet hari. Karena sama2 ngantor di daerah yg jauh dr kampung yg dibatasi cuti, jadi mereka kebut dalam 2 hari. Biasanya untuk baralek pihak prempuan dan laki beda seminggu…

    1. oh gitu, kirain emang nikahannya selalu tempat cowo dulu, baru ke tempat cewe uni 🙂 yups…mungkin karena cutinya gak lama jadinya baraleknya digelar 2 hari berturut2 …. makasih buat infonya uni…

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s