Pelataran See Hien Kiong [Baru]

Hari terakhir saya di Padang dan masih ada waktu beberapa jam sembari menunggu travel pulang ke Muara Bungo. Saya dan Daniel, kawan yang saya kenal dari komunitas CouchSurfing Padang baru saja menyelesaikan sarapan.

“Ke Pondok yuk, liat kelenteng.” ajak saya ke Daniel. Perayaan Imlek bahkan Cap Go Meh telah berakhir, tetapi mungkin saja ada yang masih bisa dilihat disana. Saya beberapa kali pergi ke Padang. Selain pantai Padang, saya sudah ke batu Malin Kundang, museum Adityawarman, gunung Padang, jembatan Siti Nurbaya. 

Daniel mengiyakan ajakan saya. Saya terakhir ke Pondok tahun 2013 bareng Yudi, teman kuliah saya yang bertugas di Padang. Waktu itu rencananya ingin melihat See Hien Kiong, kelenteng yang dibilang merupakan kelenteng tertua di Padang dan satu-satunya di ranah Minang. Sayang, kelenteng masih ditutup karena hancur akibat gempa Padang tahun 2009. Kelenteng See Hien Kiong baru sebagai pengganti kelenteng lama sedang dibangun.

Saya membonceng motor Daniel. Lewat di bawah jembatan Siti Nurbaya, gedung Geo Wehry and Co lantas menuju See Hien Kiong. Kelenteng See Hien Kiong lama rupanya ditutup untuk umum. Kelenteng ini dibangun tahun 1841 oleh para perantau Tiongkok dengan bahan kayu dan atap rumbia.  Tahun 1861 kelenteng terbakar habis. Wujud kelenteng yang sekarang merupakan hasil pembangunan tahun 1893 oleh Kapitan Tionghoa Lie Goan Hwat, Letnan Lie Lien It dan Lim Sun Mo. Tanggal 30 September 2009, gempa dahsyat sebesar 7,6 Skala Richter menerjang Sumatera Barat termasuk kota Padang dengan jumlah korban ribuan orang. Kelenteng bersejarah ini roboh. Setahun kemudian, kelenteng baru dibangun dengan lokasi beberapa ratus meter dari kelenteng lama. Namun, kelenteng baru ini tetap dinamai  See Hien Kiong.

Daniel menepikan motor, dia tak ikut saya masuk kelenteng sehingga saya sendirian masuk ke dalam. 

Lampion berwarna merah seolah menggantung dari langit. Masih doa dan harapan kebahagiaan etnis Tionghoa dalam menyambut tahun baru Imlek.

Lilin berwarna merah dengan beragam ukuran  mulai dari lilin kecil, besar hingga sangat besar diletakkan di halaman. Sepertinya sumbangan dari para jemaat.

Keinginan masuk ke dalam kelenteng harus saya buang jauh-jauh karena terdapat tulisan larangan masuk ke ruangan altar kecuali bagi yang ingin beribadah. Saya harus puas memotret detail ukiran kelenteng dari dekat tangga masuk.

 

See Hien Kiong dibangun sebagai tempat ibadah Tridharma bagi pemeluk agama Kong Hu Chu, Taoisme dan Buddha. Dikutip dari situs resminya, di dalam diletakkan altar untuk memuja Dewi Kuan In Ma dan beberapa dewa dalam kepercayaan Tionghoa.

Patung beberapa anak kecil dengan kepala plontos dengan berbagai ekspresi wajah di sekeliling kelenteng menarik untuk diamati dan difoto.

Tak lama, saya meninggalkan pelataran See Hien Kiong. Meski sudah berada di luar kelenteng nuansa negeri Tirai Bambu masih kental terasa. Tak heran karena kawasan Pondok merupakan Chinatown kota Padang.

Beberapa gedung dan rumah di kawasan Pondok berdiri megah sebagai gedung perkumpulan warga Tionghoa. Diantaranya, perkumpulan Himpunan Tjinta Teman / Hong Tek Tong yang berdiri sejak 1863 dan Himpunan Bersatu Teguh / Hong Beng Tong yang dibentuk tahun 1876. Dalam hubungan pesaudaraan yang lebih spesifik, terdapat beberapa rumah yang difungsikan sebagai kantor perkumpulan marga. Seperti perkumpulan marga Tan, Goh dan Huang. Semuanya unik dan menarik.

Pintu masuk gedung perkumpulan sosial ini terutama HBT saking megahnya lebih menyerupai istana. Pintu besar berwarna coklat legam yang sebenarnya pintu rumah duka. 

Jajaran penjaja kuliner  khas  Tiongkok seperti mie pangsit dan kembang tahu menanti untuk dicicipi di seberang kantor HTT. Ah, kapan-kapan saya akan mencoba wisata kuliner disini lagi.

Referensi: http://seehinkiong.com/

Iklan

4 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Betapa semaraknya! Warna merah begitu mendominasi. Saya baru tahu ada klenteng tua di Padang. Rupanya penduduk kota ini juga heterogen. Menarik juga melihat nama-nama yayasan baru ternyata punya inisial yang sama dengan nama Tionghoa-nya dulu, imbas kebijakan nasionalisasi segala macam nama berbau asing (dan aseng) di masa orde baru. Mudah-mudahan dengan meriah dan semaraknya klenteng ini bisa mencerminkan toleransi keberagaman yang sangat tinggi di Padang, terlebih dengan stigma kurang enak yang mulai muncul pasca pilpres ini.

    1. Avant Garde berkata:

      Gara…. makasih ya udah sempat blogwalking hehehe…. ini sebenarnya bingung mau nulis apa soalnya fotonya cuma dikit, kurang lengkap gak boleh masuk ke dalam 🙂 sebagaimana kota2 tua di indonesia yg banyak dihuni etnis tionghoa, begitu halnya Padang 🙂
      yups, semoga aroma panas pilpres ini segera berlalu yak 😦

  2. zunif berkata:

    Keren jg y pelatarannya 😉

Tinggalkan Balasan ke Avant Garde Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s