Menyapa Jambi dari Infinity

“Lobinya dimana ya pak?” tanya saya kebingungan.
“Di lantai atas pak, silakan.” jawab satpam berbadan gempal sambil mempersilakan saya berjalan menuju lift. Dipencetnya huruf L. Lobi hotel Infinity berada di lantai atas. Lantai barusan merupakan tempat parkir. Tidak terlalu luas, hanya mampu menampung beberapa mobil saja. 

Setelah membayar deposit, saya mendapat kunci kamar di lantai 9. Hanya satu lantai dibawah restoran dan lounge di lantai 10 yang merupakan lantai teratas. Sesuai permintaan saya yang meminta kamar di lantai tertinggi dan pemandangan ke arah sungai. Lantai bawah (Ground) berfungsi sebagai parkir, lantai diatasnya (Lobby) berfungsi sebagai respsionis. Lantai 3 hingga lantai 9 kamar tamu. Lantai 4 tidak ada sebagaimana hotel lainnya.

Saya bergegas keluar dari lift. Tulisan 9 sangat besar berwarna hitam di dinding menyatakan saya sudah tiba di lantai 9. 

Infinity sebuah hotel baru di jantung kota Jambi. Letaknya tepat di depan mall Ramayana. Kanan kirinya dihimpit pertokoan di pusat perekonomian provinsi Jambi. Hanya selemparan kolor dari WTC Batanghari. Dari hotel ke Ramayana tinggal jalan lewat jembatan penyeberangan dekat hotel. 

Dari jendela, tampak jembatan Gentala Arasy dan sungai Batanghari tak jauh dari WTC. Simbol budaya dan tengara alam kota Jambi.

Kamar saya tidak terlalu luas, bergaya minimalis. Kamar mandinya sempit, tidak ada lemari, meja kecil. Nilai plusnya ac kencang, bersih, WiFi lancar, air panas mengalir tak ada masalah.

 

 

Agak lucu menemukan tag pintu berbahasa Jambi seperti “lagi tidok” yang artinya adalah “lagi tidur”.  Beberapa kali menginap di Jambi, baru kali ini menemukan tulisan berbahasa Jambi. “Bersihin woi” sebenarnya bukan bahasa Jambi, tetapi “woi ini kalau di Jambi sama artinya dengan kata “dong”. Kalau “woi” di depan kalimat artinya “hai”.

Rencana malam mau foto-foto pemandangan malam dari lantai teratas. Hanya saja badan sudah terlalu letih setelah seharian acara kantor dilanjut dengan nge-mall dan nonton film.

Pagi hari, habis bersih-bersih saya beranjak ke lantai atas. Strada Coffe Semarang, saya tersenyum melihat nama kota asal terpampang di sebuah restoran hotel di Jambi.  Clover Sky Lounge Resto, nama restoran di Infinity tak hanya menyediakan makanan dan minuman, lebih dari itu ada kopi dari berbagai daerah termasuk Arabika Kerinci yang sedang naik daun. Tersedia berbagai pilihan menu, saya hanya memotret lantas mengambil bubur. Bubur yang saya makan entah kenapa tidak terlalu istimewa, agak hambar. Pilihan makanan tidak terlalu banyak, standar hotel bintang 2 lah. Ada kue basah dan pastry juga.

Di sebelah kanan saya masih pemandangan yang sama dengan kamar saya, hanya lebih tinggi.

Hari Sabtu pagi tak terlalu ramai orang berlalu lalang. Masih banyak toko dan ruko yang terlelap. Simpul keramaian hanya ada di pasar Angso Duo, pasar induk di kota Jambi. Pasar ini akan segera dirobohkan. Seluruh pedagang rencananya akan direlokasi ke Pasar Angso Duo baru yang terletak tak jauh dari pasar lama.

Pandangan saya edarkan ke sebelah kiri. Pemandangan masjid raya Magatsari, masjid dimana saya nebeng sholat saat pertama kali ke Jambi 10 tahun yang lalu. Masjid ini kabarnya masjid tertua di Jambi. Lebih tua dari masjid Al Falah atau masjid seribu tiang. Dibangun pada masa sultan Pangeran Mangkunegara pada tahun 1855. Sekilas tak tampak kekunoan masjid ini karena telah direnovasi berkali-kali.

Di ujung sana, tampak hotel Abadi dan hotel Novita. Keduanya merupakan hotel terbesar di Jambi. Hotel Abadi terdiri dari hotel Abadi Suite berbintang 4 dan Abadi Grand yang berbintang 2. Sedangkan Novita awalnya bernama Novotel. Novita berkembang menjadi superblok dengan ruko-ruko, swalayan Matahari dan Pizza Hut. Tahun 2018 Novita terbakar dan belum beroperasi hingga kini.


hotel Novita (kiri) dan hotel Abadi (kanan)

Iklan

12 Comments Add yours

  1. grace451 berkata:

    Terima kasih tentang artikel nya , semoga bermanfaat, kunjungi my blog agen bandarq

  2. Halo, Ancol hahahaha. Dulu suka nongkrong disini nih kalau lagi main ke Jambi. Suka nongkrong di Pizza Hutnya Novotel juga. Sayang ya ternyata kebakaran tahun 2018 😦

    1. Avant Garde berkata:

      Ya mba, Pizza Hut pindah ke mall Trona, kalo Matahari katanya mau pindah ke bekas mall Kapuk 🙂

      1. Gara berkata:

        Hotelnya lumayan sih ini… dari penataan kamar dan restoran saya pikir cukup memadai. Hotel baru, ya? Unik juga kalau pakai bahasa daerah, kayaknya tidak banyak hotel yang promosi bahasa lokalnya dengan cara sedemikian rupa. Tampaknya bisa jadi alternatif buat jalan ke Jambi… mungkin yang agak menjadi perhatian cuma siaran televisinya saja yang sepertinya minim channel luar negeri… atau saya salah?

        1. Avant Garde berkata:

          saya rekomendasiin odua weston deh hehe… makanannya lebih beragam 😀
          saya lupa, tp kayaknya ada banyak channel sih

          1. Gara berkata:

            Baiklah… yang penting sekiranya ke sana dalam rangka perjadin, harga kamar masih masuk pagu…

  3. rynari berkata:

    Serasa ikut melongok Jambi dari ketinggian Infinity nih Mas. Cakrawala luas dari lantai atas jadi daya pikat.
    Salam hangat buat keluarga.

    1. Avant Garde berkata:

      Betul Bu, nampak panorama sebagian kota Jambi… Terimakasih bu Prih, salam hangat kembali untuk keluarga bu Prih 🙂

  4. zunif berkata:

    Ternyata padat juga ya gan pemukiman daerah jambi, sama seperti di daerah ane, lahan sudah penuh semua dengan rumah 😉

    1. Avant Garde berkata:

      padat kalo di kotanya Zun, rumah kamu dimana emang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s