Pengalaman Naik Wings Air Muara Bungo – Jambi

Zaman dahulu satu-satunya transportasi dari Muara Bungo ke Jambi adalah travel dengan durasi enam jam. Sudah lama, jalannya rusak, banyak kelokan. Satu-satunya yang bikin saya agak menikmati jalan adalah panorama Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera yang tampak di antara Muara Tembesi hingga Muara Tebo.

Sejak ada penerbangan ke Jambi, Muara Bungo ke Jambi terasa sangat dekat. Cukup 30 menit naik Wings Air.  Jadwal tertulisnya berangkat jam 12.05 tiba di Jambi jam 12.50. Kenyataannya, take off jam 12.00, jam 12.30 saya sudah tiba di Jambi. Seperti naik angkot saking cepatnya hahaha.

Selama di Muara Bungo, saya tiga kali naik pesawat ke Jambi karena ada tugas dari kantor. Aturan dari kantor, saya boleh naik pesawat sekali saja, boleh saat berangkat atau pulang. Jika saya berangkat naik pesawat, pulangnya harus naik travel. Tiga kali pergi ke Jambi, dari Jambi ke Muara Bungo saya memilih moda pesawat, pulangnya baru pakai travel.

Pertimbangannya pulang naik travel karena waktu pulang lebih fleksibel karena jadwal travel lebih banyak. Sedangkan kalau naik pesawat hanya 1x penerbangan dalam sehari. Disamping itu pemandangan sungai Batanghari berada di sisi kiri jalan. Lebih enak dipotret saat pulang.

Tiket pesawat Muara Bungo-Jambi ini cukup murah. Mulai dari Rp 250.000,- sekali jalan. Semahal-mahalnya saya mendapat tiket di harga Rp 380.000,- karena beli tiketnya sehari sebelum berangkat. Kalau naik travel ongkosnya Rp 80.000,- atau 3x lipat travel. Saat ini hanya Wings Air yang melayani rute ke Jambi. Rute lengkapnya yaitu Jambi-Muara Bungo-Kerinci. Dari Kerinci balik lagi ke Jambi lewat Muara Bungo. Saya pernah bertanya ke seorang pramugari. Katanya dari Jambi, pesawat ini masih lanjut ke Palembang atau Pekanbaru.

Sayangnya belum ada transportasi umum ke bandara. Pertama kali ke bandara saya berikan selembar uang berwarna biru karena yang mengantar tetangga sebelah rumah. Kedua kali saya minta diantar teman kantor. Kali ketiga, saya naik ojek dan saya cuma dikutip Rp 20.000,- saja. Padahal kalau dari bandara ke pusat kota semua ojek kompak mematok tarif Rp 50,000,-  tanpa bisa ditawar.

Wings Air Muara Bungo ke Jambi memiliki nomor penerbangannya IW-1151. Fasilitas web check in belum tersedia di situs Lion Air sehingga harus datang lebih awal jika ingin memesan kursi. Saya sih paling suka seat A atau F karena gemar melihat pemandangan di luar jendela. Dalam satu baris total ada empat kursi dengan kode AC dan DF, bukan AB dan CD.

Jam 11.30 pesawat IW-1150 dari Kerinci mendarat. Baling-baling berhenti, pintu pesawat yang berfungsi sebagai tangga terbuka. Setelah penumpang turun, sekitar sepuluh menit kemudian saya masuk pesawat. 

Jam 12.10 pesawat meninggalkan Muara Bungo. Jika beruntung bisa menyaksikan pemandangan kota Muara Bungo yang berada di pertemuan sungai Batang Bungo dan Batang Tebo. Jika duduk di kursi F, tampak jembatan Tanjung Menanti, salah satu ikon Muara Bungo.


Sungai Batang Bungo (kiri) dan Batang Tebo (kanan)

Hamparan kebun sawit terbentang di bawah. Beberapa lubang berair berwarna coklat susu hasil penambangan liar menjadi cerita miris tentang kerusakan lingkungan di Jambi yang tak bisa disembunyikan dari pandangan.

Pesawat terbang seolah menyusuri sungai Batang Tebo. Hampir mendekati kota Muara Tebo, saya melihat sebuah pesawat kecil terbang di landasan. Dari penelusuran internet, terdapat air strip atau landasan pacu milik sebuah perusahaan perkebunan di dekat Muara Tebo.

Di Muara Tebo, sungai Batang Tebo bergabung dengan induknya, sungai Batanghari. Pemandangan di bawah selain hijau, air sungai coklat susu, saya melihat hutan yang dibabat dijadikan perkebunan.

Tak lama terdengar pengumuman pesawat akan mendarat di bandara Sultan Thaha Jambi. Di bawah saya sungai Batanghari meliuk-liuk seperti ular besar.

Saya melihat beberapa pulau di tepi sungai Batanghari. Setelah saya cek di gmaps, itu rupanya delta yang terletak di wilayah desa Selat. Masuk kecamatan Pemayung kabupaten Batanghari. 

Danau Sipin yang terletak di tepi sungai Batanghari terbentang luas. Di dekatnya tampak jelas jembatan Gentala Arasy dan masjid agung Al Falah dengan kubah putih yang mencolok.

Terdengar perintah landing position untuk para pramugari. Dapat terlihat gedung pencakar langit di Jambi yang tidak terlalu banyak. Hotel Abadi, hotel Novita yang belum dibuka lagi sejak terbakar tahun 2018,  hotel Odua Weston dan BW Luxury hotel bintang lima satu-satunya di Jambi.


hotel BW Luxury

Pesawat mendarat sangat mulus. Mata saya menangkap sebuah bangunan berwarna coklat legam di pangkal landasan dekat menara kontrol. Apakah itu bunker peninggalan Jepang yang sering disebut-sebut dalam literatur sejarah itu? 


bangunan saya duga bunker Jepang (lingkaran merah)

Jangan kaget jika masuk ke area kedatangan, kamu disambut wallpaper satwa liar seperti jerapah, gajah dan orang utan. Terletak dekat kebun binatang Taman Rimbo, bandara Sultan Thaha mengambil tema airport zoo. Lihat saja langit-langit yang dihiasi ornamen burung, tempat duduk menyerupai badak, karpet berwarna hijau. Dulu sempat diwacanakan melepas rusa di halaman bandara, untung ide konyol tersebut dibatalkan.

Slamat tibo di Jambi, selamat datang di Jambi!

 

Update: dari bandara jika hendak ke pusat kota bisa langsung naik ojek pangkalan atau taksi resmi bandara. Kemarin saya naik taksi online dan harus menunggu di dekat pintu masuk Taman Rimbo yang berjarak 500 meter dari bandara. 

Iklan

11 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Next jelajah bunker Jepangnya juga Bang… siapa tahu menemukan sesuatu yang menarik. Ngomong-ngomong air sungai yang berwarna cokelat itu sesuatu yang bagus atau tidak? Saya khawatir kalau warna begitu berarti kerusakan lingkungan yang makin parah.
    Akan halnya Jambi… berarti menyangkut Zumi Zola, sang gubernur yang sekarang menjadi tahanan. Bagaimana Jambi sepeninggalnya?

    1. Avant Garde berkata:

      itu sungainya keruh karena airnya dikeruk sampai dasar buat sebagian orang cari emas ilegal Gara 😦 sedih yak…
      sayangnya buat ke bunker harus bikin surat ijin ke balai cagar budaya sm otoritas bandara, soalnya di kawasan terlarang …
      jambi biasa aja hehehe

      1. Gara berkata:

        Wah betul saja. Sayang banget ya… tapi memangnya di situ kaya kandungan emas?
        Hoo… harus bersurat. Terima kasih infonya, Bang.

        1. Avant Garde berkata:

          sama-sama Gara 🙂 masih ingat tentang swarnawipa? 🙂 🙂 hehehe

          1. Gara berkata:

            Oh iya! Pulau Emas… tidak heran demikian, ya.

            1. Avant Garde berkata:

              betul.. sayangnya sekarang ditambang secara ilegal ;-( makin rusak bumi jambi ini

  2. rynari berkata:

    Syukurlah makin banyak pilihan transportasi dalam satu propinsi. Naksir sungai Batanghari yg eksotis dari angkasa.

    1. Avant Garde berkata:

      Monggo bu Prih, dipunaturi tindak ke Jambi 😀

  3. zunif berkata:

    Murah juga ya gan 250 ribu sudah bisa naik pesawat 😉

    1. Avant Garde berkata:

      iyes, alhamdulillah ga ikut²an naik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s