Tampoenek, Bukan Taman Poenya Nenek

“Mas, rumah saya di Perumnas setelah taman Tampoenek ya,” demikian bunyi pesan wa dari teman saya tatkala saya hendak berkunjung ke rumahnya di kawasan Cadika. Saat itu saya masih tinggal di Bangko.

Tiba di depan pagar Taman Tampoenek, saya turun dari mobil, mengambil foto depan taman, lantas kembali ke mobil untuk menuju rumah teman saya.

Di dalam mobil kami berdiskusi mengapa dinamai Tampoenek. “Mungkin dulu disitu ada nenek-nenek. Makanya dinamakan tampoenek: Taman Poenya Nenek,” ujar saya iseng. Teman saya yang mendengarnya bengong sambil mengerutkan dahi.

Pindah ke Muara Bungo, saya beberapa kali pergi ke Taman Tampoenek. Lokasinya berada di jalan RM Taher di kawasan perkantoran Kab. Bungo, tepatnya di depan kantor DPRD Kab. Bungo. Dari rumah saya di kawasan Simpang Drum bisa ditempuh selama kurang dari 10 menit. 

Masuknya sih gratis, hanya bayar parkir Rp 2.000,-

Tampoenek ini nama tanaman, lebih tepatnya tumbuhan yang berada tepat di balik nama Taman Tampoenek. Menurut papan yang ada, tampoenek atau nangka monyet (Artocarpus rigidus) adalah tumbuhan langka yang bisa tumbuh setinggi 40 meter dan diameter dua lingkaran tangan orang dewasa.  Tampoenek berbuah hanya sekali selama setahun sekali dan biasanya pada musim hujan. Bisa dimakan bisa dimakan sebagai buah atau sayur jika masih muda. Jadi bukan singkatan Taman Poenya Nenek yah 😀 .

Menurut wikipedia, nangka monyet ini tumbuh di Indonesia, Malaysia, Filipina  hingga Papua Nugini. Masih saudara dengan buah nangka (jackfruit) dan breadfruit (sukun). Tampoenek sendiri dalam bahasa Inggris disebut monkey jackfruit.

Itulah mungkin alasan kenapa lantai taman dihiasi dengan ornamen berbentuk daun buah sukun.

Dari atas tampak jelas kontur tanah yang miring semakin ke depan semakin rendah. Memungkinkan kita untuk melihat bagian bawah taman yang dikepung pepohonan hijau.

Diresmikan awal 2018, taman Tampoenek dibangun dengan menghabiskan dana 5 miliar rupiah. Di taman ini saya menemukan tempat duduk tapi masih bisa dihitung jari, lampu taman dan tempat bermain anak yang hanya ada satu wahana. Iyah, satu wahana yang terdiri dari satu buah seluncuran dan tiga ayunan. Pernah kesini, justru ibu-ibu yang asyik selfie sambil main ayunan #masakecilkurangbahagia.

Ada beberapa wahana mirip alat fitness, sayangnya satu wahana pijakan kakinya sudah patah sehingga tidak bisa digunakan. 

Dari parkiran atas ke tempat bermain anak lantainya dibuat landai sehingga bisa dilewati oleh para penyandang disabilitas. Tapi mereka hanya bisa stop disini. 

Di sebelah pintu keluar terdapat penjual minuman dingin, es kelapa muda dan pop mie. Untuk menikmati seluruh taman, kita bisa menuruni tangga hingga bagian bawah taman. Sekilas mirip dengan tangga di Janjang Koto Gadang di Bukittinggi yang kontur tanahnya naik turun. Bedanya, pegangan tangga disini tidak diberi ornamen menyerupai Tembok China ala Koto Gadang.

Lantai paling bawah terdapat semacam panggung terbuka atau amphiteater. Di dekatnya langsung jurang dan berbatasan dengan semak dan pepohonan. Suatu waktu, saya pernah mendengar monyet liar bergantungan di atas pohon.

Di sebelah kiri bawah terdapat bangunan kecil dengan bata ekspos yang rupanya sebuah toilet. Belum ada air sehingga belum dapat digunakan. 

Sayangnya, saat ini Taman Tampoenek masih gersang. Tanaman yang ditanam masih belum tumbuh besar. Pergi kesini enaknya pagi sekali atau sore agar tidak terlalu panas. 

Referensi: https://en.wikipedia.org/wiki/Artocarpus_rigidus

Iklan

4 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Sesungguhnya tamannya cukup luas dengan topografi yang bagus. Semoga ketika pohonnya sudah rimbun nanti bisa jadi hutan kota yang memadai. Lumayan, siapa tahu jadi kebun raya juga.
    Saya belum pernah makan buah atau olahan buah tampoenek. Sumatera memang kaya akan kuliner serta buah yang unik-unik. Bukti keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Semoga selalu lestari…

    1. Avant Garde berkata:

      Amien… saya juga belum pernah makan buah tampoenek 🙂 kalo cempedak, sukun sm nangka ya sudah hehe

      1. Gara berkata:

        Cempedak saya belum pernah. Itu yang seperti apa, Bang?

        1. Avant Garde berkata:

          bentuknya mirip nangka hanya saja lebih kecil, buahnya juga lebih kecil tapi baunya lebih tajam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s