Museum Juang Bungo-Tebo

Menguak sejarah lokal sedikit banyak ibarat menyusun kepingan puzle yang terkadang tak tentu rimbanya hingga membuat rasa penasaran karena tak kunjung mendapat jawaban.

Pun saat saya mencoba mencari jejak sejarah masa lalu Muara Bungo. Tersebutlah Taman Pusparagam atau lapangan Semagor, alun-alun kota Muara Bungo. Saya sebut alun-alun karena terdapat sepasang beringin seperti alun-alun di Jawa. Tempat ini adalah tempat berkumpul semua kalangan di Muara Bungo, mulai dari anak-anak, remaja, lansia. Pagi relatif sepi, hanya ada pedagang sarapan. Sore mulai ramai dengan kehadiran istana balon, odong-odong, penjual makanan. Kadang tempat ini dipakai sebagai tempat digelarnya acara tingkat kabupaten seperti festival Kopi, festival budaya Baselang Tauh dan pasar malam.

Entah benar entah tidak, kabarnya menjalang tengah malam beberapa waria mulai menampakkan batang hidungnya di sekitaran Semagor. 

Salah satu spot favorit untuk berfoto adalah air mancur berbentuk mangkok di sisi taman yang menghadap jalan Basaruddin atau di depan bank BCA.

Dinamakan Pusparagam mungkin dulu ditanam banyak bunga. Atau sekedar menyesuaikan dengan nama-nama jalan di sekitar pasar bawah Muara Bungo yang dinamai menurut nama bunga: jalan Anggrek, Kamboja, Dahlia, Kecubung. Entahlah. Saat ini, hampir tak ada bunga di Pusparagam selain rumput.

Alih-alih Pusparagam, orang-orang di Muara Bungo kadung menyebut tempat itu lapangan Semagor. Disebut lapangan karena di tengah-tengah taman terdapat area hijau yang ditumbuhi rumput dengan tugu bertuliskan 17 Agustus 1945 dan tombak menyerupai tiang bendera dengan mata tombak berwarna merah.

Setelah beberapa kali menemui jalan buntu, saya berhasil menemukan artikel yang menerangkan tentang arti Semagor. Semagor adalah kependekan dari Semangat dan Gotong Royong yang dicetuskan oleh para pemuda anggota Badan Penjaga Keamanan (BPK), organisasi militer yang dibentuk oleh kolonial Jepang, dua hari sebelum Bung Karno membacakan proklamasi di Jakarta. Tombak sendiri melambangkan perjuangan rakyat Bungo melawan penjajah.

Tugu proklamasi dibangun untuk melambangkan detik-detik pengibaran bendera merah putih untuk pertama kali di wilayah Bungo-Tebo pada tanggal 22 Agustus 1945. Pengibaran bendera dihadiri 35 anggota BPK dan para pejuang. Tak diiringi lagu Indonesia Raya, melainkan dengan teriakan “Merdeka atau Mati bersama Soekarno Hatta”. Tugu ini dibangun saat peringatan HUT RI ke-2 tahun 1947.

Di tempat lain, upacara bendera merah putih dilakukan tanggal 19 Agustus di menara air Benteng setelah mendapatkan berita dari Palembang. Sarolangun mengibarkan bendera tanggal 22 Agustus di SR (saat ini SDN 44/VII Sukasari I). Kerinci mengibarkan sang merah putih pada tanggal 24 Agustus di masjid raya Sungai Penuh. Sedangkan Muara Tebo mengibarkan bendera pada 23 Agustus di kantor Gun Co (kawedanan Muara tebo, saat ini menjadi asrama polres Tebo).

Selain tugu proklamasi, tak ada atribut lain yang mendukung kesejarahan tempat ini. Misalnya tugu pejuang atau prasasti apapun. Museum Juang, bangunan tepat di sisi selatan lapangan Semagor, sejak dibangun hingga diresmikan oleh gubernur Jambi Zumi Zola pada tanggal 17 Januari 2018 tak kunjung dibuka untuk umum. Dengar-dengar, belum ada dana perawatan dan belum ada koleksi sehingga tak ada yang bisa dipamerkan untuk umum. 😦

Bangunan cantik berwarna kombinasi merah dan putih itu terlihat cantik dan mencolok. Dulu bekas markas Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI). Nama salah satu jalan di pasar Muara Bungo seperti Baharuddin Yahya diambil dari nama tokoh BPK yang dulu sering berkumpul di markas ini. Sayang tak ada aktifitas apapun di dalamnya. Juga terkunci dari luar. Tak membiarkan saya masuk untuk menengok halaman dalamnya. Hanya ada papan nama kantor seperti LVRI yang tak membisu, tak bercerita apa-apa.

Jalan di depan museum diberi nama jalan Veteran. Di sebelah museum terdapat kantor Lurah Bungo Timur dan sebuah rumah bercat hijau yang diberi papan nama milik Kementerian Hukum dan Ham RI. Kira-kira dulu ini bangunan apa yah?

Sebuah tugu di persimpangan jalan Veteran dan jalan Hanafie ini malah tak ada hubungan sama sekali dengan sejarah perjuangan Bungo. Menggambarkan buah kelapa sawit dan buah-buah kecil berwarna hijau. Buah kelapa?

Sisi sebelah utara lapangan Semagor adalah jalan Mat Keriting. Anggapan iseng saya, mungkin nama orang yang memiliki rambut keriting. Rupanya, Mat Keriting adalah polisi yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda pada zaman revolusi fisik tanggal 5 Juli 1949 di Muara Pelepat. Di jalan ini memang terdapat kantor polisi yaitu Mapolsek Muara Bungo. Di sebelah kantor polisi berdiri kantor Dinas Pendidikan Kec. Pasar Muara Bungo dan Kantor Camat Pasar Muara Bungo.

Saat ini yang menonjol di Semagor adalah pusat kuliner alias gerobak-gerobak jualan pedagang di sekeliling Semagor, mulai dari mie ayam, rujak, bakso, sate padang, tela-tela, pisang nugget dll. Gerobak paling banyak menurut saya justru mie ayam dan bakso, hampir tak ada menu lokal khas Bungo atau Jambi sekalipun.

Fasilitas olahraga yang menonjol di Semagor adalah wahana panjat dinding yang bahkan sampai ada tiga buah. Buat Muara Bungo yang tidak terlalu banyak tempat selfie, cukup menarik berfoto di salah satu tempat panjat dinding yang warna-warni dan instagenik! 😀 

Untuk jogging atau jalan santai kurang memungkinkan karena jogging track sudah banyak yang rusak. Perlu diperbaiki. Tempat duduk banyak yang perlu diperbaiki lagi demi kenyamanan pengunjung.

Referensi:
http://infoteknologidan.blogspot.com/
http://jambi.tribunnews.com/2018/08/16/cerita-pengibaran-bendera-pertama-di-bungo-takbir-tiga-kali-lalu-merdeka
http://museumperjuanganrakyatjambi.blogspot.com/2015/03/minirama-penaikan-bendera-merah-putih.html


5 respons untuk ‘Museum Juang Bungo-Tebo

  1. Bentang sejarahnya lebih ke masa pergerakan kemerdekaan, ya. Sebetulnya kisah Mat Keriting itu menurut saya bisa juga diangkat jadi sejarah lokal yang bernilai patriotik. Maksudnya, kalau di sana ada pertempuran, maka daerah situ dulu merupakan front pertemuan pasukan yang cukup penting. Apalagi sampai ada markas guncho juga. Rasanya sayang banget kalau masyarakat di sana kurang kenal tokoh-tokoh lokal yang ikut berjuang di masa kemerdekaan.

    1. begitulah nasib sejarah dan pahlawan Gara, hampir dilupakan, bahkan nama jalan saja hampir tak diingat karena disini jarang orang pakai nama jalan untuk menunjukkan suatu alamat, biasanya kalau tanya suatu tempat, akan ditunjukkan nama kampung dan bangunan penting di dekat situ..
      terimakasih Gara atas waktunya blog walking kesini 🙂
      kalau museumnya sudah dibuka mungkin akan sedikit membuka wawasan masyarakat soal sejarah perjuangan daerah bungo…

      1. Iya, saya juga punya pengalaman serupa saat jalan ke Makassar kemarin. Indonesia butuh banyak pencerita untuk sejarah lokal agar masyarakat minimal paham asal-usul nama kampungnya.

        Semoga museumnya segera dibuka.

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s