Salabance dan Tempoyak

Masih soal Bangko dan masih tentang kulinernya, karena kuliner Indonesia tak ada habisnya jika dibahas satu-satu ๐Ÿ™‚

Selain nasi gemuk, salah satu kuliner Bangko yang selalu saya ingat sampai sekarang adalah salabance. Namanya unik yah. Kabarnya salabance ini aslinya dari Muara Siau. Dalam bahasa Siau, sala artinya menumis, bance artinya mengancurkan. Jadi salabance ini masakan yang dibuat dengan cara ditumis dan dihancurkan.

Yang biasa dibuat salabance adalah ikan sungai. Cara masaknya sangat simpel. Ikan digoreng tidak terlalu kering, disiram sambel bawang, lalu dihancurkan kecil-kecil pakai cobek alias digeprek. Bedanya dengan ayam geprek, sambel salabance berminyak jadi agak cair. Yang khas dari salabance adalah sambelnya memakai campuran daun kunyit jadi baunya harum.

Pertama kali makan salabance di RM Dapur Merangin. Dapur Merangin tak bernafas lama, lalu tutup. Saya bertemu lagi dengan salabance di RM Pondok Sambel Hijo, sayangnya setelah saya cari-cari fotonya belum ketemu. Cari di gugel belum nemu foto yang sip …..

Selain di Sambel Hijo, rasanya saya belum nemu salabance di tempat lain. Wajar karena salabance ini kata teman saya yang asli Bangko termasuk masakan rumahan. Jadi memang tidak lazim ada di rumah makan.

Kalau salabance agak susah dicari, beda dengan tempoyak. Dulu waktu tinggal di Palembang, saya pikir tempoyak cuma ada di Palembang. Eh rupanya juga ada di Jambi. Bahkan katanya di Malaysia, Kalimantan juga ada tempoyak.

Perkenalan saya dengan tempoyak di Palembang tidak terlalu baik. Buat orang Jawa sangat aneh melihat durian difermentasikan lantas diolah menjadi laukย  atau sayur. Saya suka durian. Tapi konsep tempoyak yang saya ingat dari ibu kos saya adalah durian masak yang didiamkan hingga baunya mirip durian busuk. Sejak saat itu saya agak trauma dengan tempoyak. Meski sebenarnya tempoyak yang saya lihat adalah tempoyak mentah sehingga masih berbau menyengat. Di kemudian hari, saya baru tahu tak ada manusia yang menyantap tempoyak mentah. Selalu dimasak duluย  baru bisa disantap.ย 

Pertemuan kedua dengan tempoyak terjadi di Bangko. Karena banyak durian di Bangko, tempoyak mentah ini mudah didapat di pasar. Tempoyak dalam wujud gulai tempoyak saya temui di RM Lestari, dekat dengan rumah saya di Bangko.ย 

Di tempat ini tempoyak biasanya dibuat gulai. Buat saya yang trauma bau tempoyak, perlu beberapa saat untuk memberanikan diri mencoba gulai tempoyak. Dari baunya sih aman, malah tercium aroma durian. Rasanya juga normal, tidak terlalu aneh yang gimana-gimana. Masih ada rasa durian haha. Karena sudah dibuat gulai jadi rasanya campuran gurih, sedikit pedas, asam dan manis dari durian.

ย 

Beberapa kali makan di Lestari, saya justru lama-lama jatuh cinta dengan tempoyak hahaha. Di RM Lestari ini sebenarnya tak hanya ada gulai tempoyak, menu lain seperti ayam, ikan juga ada, banyak malah. Namun, saya seringnya makan tempoyak. Kalau orang lain makan tempoyak dengan sambel cabe, saya makan tempoyak dengan sayur dan lauk tanpa cabe. ๐Ÿ™‚


25 respons untuk โ€˜Salabance dan Tempoyakโ€™

  1. Unik juga ya, seolah-olah daerah penyebaran tempoyak itu ada di Sumatera bagian timur-selatan, semenanjung Malaya, dan sebagian barat Kalimantan. Khas Melayu, ya?
    Sama, saya juga belum pernah menyantap tempoyak. Di pikiran saya durian itu masih makanan yang nuansanya manis, belum jadi makanan yang bisa dikombinasikan dengan bahan gurih, apalagi hidangan laut yang digulai… tapi kalau ada kesempatan buat mencoba, saya mau saja.

                    1. Yuuuup…. tapi di pasar solok, penjual bilang, ngakunya durian aripan, tapi kata orang aripan, mereka ngga ada yang jual borongan gitu ke pedagang. Mereka jual sendiri di sepanjang jalan di aripan…
                      Kalau mau, ya ke sana, aripan, hehe, tapi dekat kok… ga nyampe 10 km dr Pasar Solok. Mgkin hanya sekitar 7 km an jee

  2. Aku juga suka tempoyak. Dulu di kantin kantor kalau ibu kantin masak tempoyak pasti nelfon ke mejaku buat ngasih tahu kalau menu hari ini tempoyak, hehe. Salabance belum pernah coba. Apa rasanya seenak tempoyak? Jadi inget di Padang ada yg namanya Salabule. Semacam perkedel yg bentuknya bulat dan kulitnya agak keras ๐Ÿ™‚

    1. beda mba, kalo tempoyak kan nano-nano rasanya, manis asem asin pedes, kalo salabance cuma gurih sama pedes aja hehe…mirip geprek pokoknya, cuman ini pake ikan ๐Ÿ™‚
      kalo salabulek aku juga suka, paling suka dimakan sama sate padang kuah merah hihi

Blogger yang baik meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s