RM Aroma, Wisma Permata dan Cwie Mie Malang

Akhir tahun lalu selain ke Kerinci, kami liburan kilat ke Bangko. Agak aneh juga karena baru dua bulan pindah ke Muara Bungo tapi sudah kangen dengan Bangko. Selain kangen kotanya, orang-orangnya kami juga kangen kulinernya.

Hari Sabtu, habis jemput Quinna di sekolah, kami langsung berangkat ke Bangko naik motor. Dulu biasanya kami motoran bertiga ke Muara Bungo, sore pulang ke Bangko. Jarak Muara Bungo ke Bangko 76 kilometer. Melewati jalan lintas tengah Sumatera yang sepi, bisa ditempuh selama satu setengah jam perjalanan.

Kami berencana menginap semalam di Bangko. Sengaja berangkat jam 10an agar bisa makan siang di Bangko.

Selama perjalanan Quinna tertidur. Baru bangun ketika singgah di Alfamart Sungai Ulak. Kami langsung menuju RM Aroma untuk makan siang. Aroma ini sekilas mirip RM Minang karena yang punya orang Minang. Tepatnya Sumani, nagari di tepi danau Singkarak. 

Aroma berada di depan kantor Dinas Sosial, jalan Pemuda. Masuknya dari sebelah loket travel Family Raya. 

Begitu datang, kita bisa langsung memilih mau makan apa. Makanan baru dimasak setelah kita pesan. Beda dengan rumah makan Padang umumnya dimana begitu kita datang makanan langsung dihidang di meja.

Menunya buanyak banget. Ada ayam, lele, ikan danau, ikan laut, ikan air tawar. Lauk tersebut bisa digoreng, dibakar, dimasak kecap, atau dimasak asam padeh khas Minang. Bisa juga dimasak balado alias digoreng kering lantas disiram cabe. Silakan klik gambar di bawah ini untuk foto lebih jelas.

Masih kurang? Masih ada menu telur ikan, ati ampela, cumi goreng, telur dadar, ikan teri dan pekedel tahu. Sayurnya ada bayam, kangkung, kol, toge, sayur asem. Tersedia sambal lado tambahan seperti sambal tomat,sambal bawang, sambal terasi dan sambal kecap. Minumannya sih standar. Kopi, teh, teh talua (teh telur), dan jus.

Kami memesan nasi putih hangat, nila goreng, telur ikan balado, belut goreng balado dan tumis kangkung. Telur ikan ini menu favorit saya dan belut goreng menu favorit istri saya. Bisa dipastikan kalau pergi ke Aroma selalu pesan menu ini. Beruntung kedua menu ini ada. Dulu pernah mencoba ayam bakar, dibakarnya pakai bumbu merah khas Padang, bukan bumbu kecap. Pernah pesan asam padeh, rasa kuahnya kurang nendang.


asam padeh

Sepuluh menit menunggu, pesanan kami tiba. Rasanya masih sama seperti jaman tinggal di Bangko. Bumbu baladonya tidak terlalu pedas. Enak. Telur ikannya digoreng tidak terlalu kering. Masih juicy dan gurih.

Belut baladonya enak, gurih. Hanya saja porsinya kurang banyak hehehe.


belut balado 

Tumis kangkungnya dimasak tidak terlalu layu. Masih krenyes-krenyes di mulut. Rasanya tidak manis seperti kangkung di Jawa, melainkan gurih sedikit pedas.


tumis kangkung

Kata istri saya tumis kangkungnya cuma berasa Masako. Tapi buktinya tetap ludes tak bersisa ahahaa.

Dari Aroma kami bingung mau nginap dimana. Cek di Traveloka cuma ada hotel Family di wilayah Bangko. Kami putuskan untuk menginap di Wisma Permata, tidak jauh dari kantor saya dulu. Dengan catatan, saya tidak akan langsung membayar melainkan akan survei isi dalam kamarnya dulu.

Saya ditemani petugas hotel masuk ke kamar superior. Cukup luas, bersih, ada tv tabung dan ac. Ada jendela ke arah halaman. Kamar mandinya ada toilet duduk dan bathtub. Dengan tarifnya hanya Rp 220.000,-/malam. Wow, tanpa pikir panjang lagi langsung membayar untuk satu malam. Bayarnya harus tunai karena tak tersedia mesin gesek. Lucunya, kami tak dikenai pajak hotel. Kami tak sempat bertanya ada sarapan atau tidak karena sudah telanjur girang menemukan hotel murah kualitas bagus.

Nilai plus lain, tersedia parkir motor di lantai 1 memanfaatkan sebuah lorong. Sinyal wifinya sangat cepat. Mungkin karena siang itu  tamu tidak banyak. Nyatanya, air yang keluar dari bathtub kurang lancar. Sudah itu, airnya agak berbau logam. Untung dari shower keluar air panas dan mengalir lancar.


motor diparkir di dalam lorong lantai 1

Sore hari kami ke rumah budhe Fitri, ibu kos kami sekaligus mau melihat bekas rumah lama kami. Dari rumah budhe, kami ke Cwie Mie Malang di Sungai Ulak untuk makan malam sekaligus ketemuan dengan teman-teman kantor Bangko. Di Muara Bungo saya belum menemukan tempat makan cwie mie dan bakso Malang seperti di Bangko. Saya memesan mie ayam fillet dan kuah bakso isi bakso goreng, tahu bakso dan pangsit isi. Potongan ayam pada mie ayam sudah difillet, sehingga tidak perlu repot membuang tulang pada ayam.

Ngobrol sana-sini hingga tak terasa waktu cepat berlalu. Mau pulang ke hotel hujan deras, istri saya ke hotel di antar bang Refli dan mba Ulfa. Saya naik motor. Anak saya kecapekan dan tertidur begitu sampai hotel. Padahal ia berencana main  ke istana balon. Saya jalan kaki ke tukang bakso bakar depan kantor pajak untuk membungkus bakso bakar.

Paginya kami mau sarapan di hotel. Nyatanya, cuma ada air galon dan teh hangat. Tidak ada petugas hotel yang menampakkan batang hidungnya. Satu keluarga yang saya temui di tempat sarapan mengatakan mereka sarapan dengan membeli lontong sayur di luar hotel.

Agak kecele karena melihat meja dan kursi tempat makan yang sepertinya mubazir. Namun, akhirnya saya bisa memahami. Menurut saya sih wajar karena hanya dengan Rp 220.000,- saya sudah mendapatkan banyak fasilitas. Minusnya cuma bathtub tidak bisa dipakai dan tidak ada sarapan kecuali air minum.

 

Kami sarapan soto Padang Makwo di belakang Rina. Sejujurnya, jauh lebih enak soto Semurup. Saya makan disini sekedar ingin bernostalgia. Sebelum pulang ke Muara Bungo, kami main ke rumah bang Refli habis itu ke mutar-mutar keliling Bangko. Jembatan Layang ikon Bangko kini dicat warna-warni. Simpang rumah bupati Merangin sedang dibangun tugu.

Quinna minta bermain dulu ke Happy World di Melati. Siangnya kami makan di Amazy sebelum pulang ke Muara Bungo. Sampai jumpa lagi Bangko 🙂

18 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Kalau ke Bangko agaknya mesti ke RM Aroma itu. Serius, cita rasa Sumateranya tampak otentik. Meskipun kamar hotelnya bisa dibilang agak zonk, tapi ketemu teman-teman dan kuliner yang seenak itu semoga bisa jadi pelipur lara, hehe. Terima kasih untuk tulisan-tulisannya ya Bang, saya betul-betul bisa membaca bagaimana aslinya Sumatera di daerah-daerah yang jarang dibahas orang-orang. Patut juga rasanya diangkat sebagai niche blog tersendiri Bang, hehe.

    1. Avant Garde berkata:

      Siap Gara… terimakasih buat sarannya, belum jadi niche blog sih hehehe, masih gado-gado isinya 🙂 Yups, ini salah satu tempat makan favorit saya kalau di bangko

      1. Gara berkata:

        Nggak apa-apa Bang, yang penting enjoy, hehe… OK sip, semoga saya suatu hari bisa mencobanya.

        1. Avant Garde berkata:

          Amien 🙂 ditunggu di Jambi hehehe

  2. bersapedahan berkata:

    kalau bayar 220 ribu … dapat ac, air panas, wifi, apalagi kelitahannya bersih … sudah cukup ya … memang kalau dapat sarapan lebih oke lagi .. hahaha ..

    1. Avant Garde berkata:

      Betul, coba kalo bathtubnya bisa dipake, makin mantep hehe

  3. Iwan Tantomi berkata:

    Belut baladonya menggugah selera banget, dan Cwie Mienya sederhana sekali ya, gak kayak aslinya di Malang, wkwkw

    1. Avant Garde berkata:

      hehehe, disini aku belum nemu belut goreng balado, baru di bangko aja 🙂
      yg di foto itu bukan cwie mie kok, tp mie ayam pangsit, sebelahnya kuah bakso hehe…

      1. Iwan Tantomi berkata:

        Iya jarang banget itu belut goreng balado, terakhir makan ya di Padang, di Jawa jarang banget nemu belut mentok yang dibalado ya ayam, paru, ikan dan kadang tempe, wkwkw

        Oh pantesan kayak beda banget dengan rupa cwie mie haha, tapi kalau lapar mah semua nikmat :))))

        1. Avant Garde berkata:

          aku belum pernah makan cwie mie di malang, kalo kata temenku yg orang surabaya, udah mirip di malang, cuman porsi sm kuahnya kurang banyak hehe…

          di jawa belutnya kecil, biasa dibikin keripik.. kalo di sumatra belutnya kayak ular :p

          1. Iwan Tantomi berkata:

            Yaktul porsinya terlalu mini mirip mie ayam.

            Kalau yang kecil belut sawah enak gurih memang, kalau belut ternak sejempol tangan biasanya tapi aku udah gak doyan haha, apalagi yang segede ular haha

            1. Avant Garde berkata:

              belut di padang termasuk di foto itu asliny gede lho Tom, kalo nggak segede ular ya paling kecil seukuran lele… makanya dipotong kecil2 hehe

              1. Iwan Tantomi berkata:

                Wkwkw makanya tadi kubilang terakhir makan belut goreng balado di Padang, enak sih, cuma tetap aja gak sampai habis makannya waktu itu karena ‘ngeri campur jijik’ gitu wkwkwk, tapi karena lama gak makan terus lihat foto itu jadi pengin lagi, kalau bisa sih yang langsing-langsing aja belutnya haha

                1. Avant Garde berkata:

                  hehehehe… ga usah bayangin itu belut, anggap aja lele hehee

  4. zunif berkata:

    Wah makananya kelihatan enak dan gurih, jadi pengen nyicipi kayak apa rasanya

    1. Avant Garde berkata:

      yuk ke bangko hehee

  5. omnduut berkata:

    Kamar yang standar pun jauh lebih murah haha.Aku penasaran pengen liat foto kamarnyo pak.

    1. Avant Garde berkata:

      dak katek yan hehe.. selain kamar mandi sm sarapan, semua oke

Pembaca yang budiman akan meninggalkan jejak berupa komentar :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s