Emersia dan Khazanah Kuliner Nusantara

Saya terbangun di pagi hari dan di seberang jendela, di kejauhan sana tampak sebuah gunung berwarna biru kehijauan tiduran di belakang pepohonan. Puncaknya tak runcing, melainkan agak datar dengan beberapa puncak sebelum puncak utama. Sekilas mirip dengan gunung Tangkuban Parahu di Bandung. 

Jelas saya sedang tidak berada di rumah. Rumah saya tak punya view pagi hari semenarik ini. Saya sedang berada di sebuah hotel. Dari segi fasilitas hotel ini tak beda dengan hotel bintang empat lainnya. Dari luar tampak seperti istana  enam lantai. Lobinya megah dan lapang. Terdapat kolam renang, bahkan tempat bermain anak, kamarnya nyaman, furniturnya masih baru.  Ujung atap drop off mobil melengkung ke atas, sebagaimana ciri khas rumah adat khas Minangkabau.

Jika saya bilang saya sedang di Padang atau Bukittinggi mungkin orang akan maklum. Padang menyandang status sebagai ibukota provinsi, kota perdagangan yang sibuk dan metropolitan di pesisir barat Sumatera. Bukittinggi kota wisata utama di Sumatera Barat. Selain alamnya cantik, juga surga wisata belanja dan kuliner. 

Tidak, saya berada di Batusangkar. Sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk tak lebih dari tujuh puluh ribu jiwa. Bahkan lebih sedikit dari jumlah penduduk Muara Bungo. Gunung berbentuk perahu terbalik yang saya lihat adalah Marapi, gunung berapi yang masih aktif.

Batusangkar atau kalau orang Minang menyebutnya Batusangka ibukota kabupaten Tanah Datar.  Orang kebanyakan datang ke Batusangkar untuk mengunjungi Istano Basa Pagaruyung, replika istana Kesultanan Pagaruyung dalam satu hari kunjungan. Tidak menginap di kota ini.

Batusangkar atau lebih luasnya Tanah Datar sejatinya punya banyak potensi untuk dipromosikan selain Istano Basa. Antara lain situs sejarah peninggalan Adityawarman, raja Hindu di kerajaan Pagaruyung, nagari Pariangan yang tahun 2012 dinobatkan sebagai salah satu desa terindah di dunia oleh majalah Travel Budget, danau Singkarak sebagai danau terbesar di Sumatera Barat dan event wisata pacu jawi (lomba pacu sapi).

Emersia, nama hotel yang saya inapi. Namanya bermakna emerald of Asia, atau permata Asia. Dibuka akhir tahun 2017 dan merupakan hotel berbintang pertama dan satu-satunya di Batusangkar. Penelusuran di dunia maya menyatakan hotel ini dibangun putra asli Batusangkar. Menurut saya, agak di luar logika bisnis membangun hotel mewah di kota yang tak terlalu ramai turis seperti Batusangkar ini. Namun, rasa cinta pada tanah kelahiran membuatnya berbuat sesuatu untuk kemajuan kampung halaman. Siapa yang tahu mungkin saja kan beberapa tahun lagi, Batusangkar bisa seramai Padang dan Bukittinggi.

Bagaimana dengan menu sarapan? Inilah sisi menarik yang ingin saya ceritakan. Tempat sarapan di ruangan Saphire Restaurant. Point of interest pada restoran berupa pilar raksasa yang ditutupi ratusan bambu asli. Kesannya unik dan etnik.

Pilihan menunya sangat lengkap, baik western dan tradisional. Untuk menu western ada salad, roti, pastry, bahkan piza. Keistimewaan terletak pada menu tradisional yang cukup banyak. Selama beberapa hari menginap di Emersia untuk acara kantor, menu tradisional cukup dominan. Sangat menyenangkan buat penikmat masakan tradisional seperti saya 😀

Pertama ada bubur ayam, ini menu standar yang ada di semua restoran kan. Selanjutnya snack rebusan yaitu jagung rebus, pisang rebus dan ubi rebus.

Di sebelahnya ada pisang kapik, alias pisang plenet ala Minang. Di daerah lain kadang disebut pisang epek atau colenak. Pisang kapik ini salah satu jajanan favorit waktu merantau di Sungai Penuh.

Makanan beratnya ada nasi kapau, gulai kapau, daging cabe ijo. telur berinda. terong balado, gulai tunjang. Berasa sedang di rumah makan Padang kan? Hehehe.. bedanya lauk tersebut tidak diletakkan di baskom, melainkan di periuk terakota.

 

Apakah rasanya seenak penampilannya? Cukup enak kok, tidak kalah seperti di Sederhana. 

Buat yang kurang suka masakan berkuah santan dan pedas ala Minang, menu Nusantara juga tersedia seperti tahu dan tempe goreng, ayam goreng.

Minumannya sangat lengkap. Mulai dari teh, kopi, dan jus. Teh tubruk khas orang-orang di kampung juga ada. Saya agak suprise menemukan minuman wedang jahe, bajigur yang berasal dari pulau Jawa bersanding dengan teh kawa daun. Teh kawa daun ini teh yang terbuat dari seduhan daun kopi. Minuman yang lahir sebagai wujud prihatin orang Minang tempo doeloe yang tak bisa menikmati nikmatnya kopi. Teh kawa daun biasa disajikan dalam gelas dari batok kelapa.

 

Terakhir saya menemukan jamu, minuman obat khas Indonesia. Dikemas dalam botol yang diletakkan dalam wadah bambu yang cantik. Terdapat keterangan khasiat masing-masing jamu misalnya jamu kunyit asem untuk meningkatkan daya tahan tubuh, penghilang rasa sakit saat menstruasi dan panas dalam,  jamu paitan yang terbuat dari campuran brotowali, sambiloto, jahe, temulawak untuk penambah nafsu makan, pegal linu, kembung, jerawat, lantas beras kencur untuk mengurangi batuk, sakit asam lambung dan penghilang rasa sakit.

Iklan

16 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Rekomendasi yang bagus, terima kasih. Ngomong-ngomong kanwilnya Bang Isna di mana deh, sampai menginapnya bisa jauh sekali di Batusangkar?
    Saya tertarik banget dengan kenang-kenangan Adityawarman di barat Sumatera. Ada beberapa prasasti juga jika saya tak salah. Hubungannya erat dengan Jawa, bagaikan sempalan yang nantinya punya jalan masing-masing. Dalam kadar yang berbeda. sebenarnya Adityawarman-Sumatera Barat ini bagus juga sebagai hipotesis pembanding soal bagaimana Hindu di India bisa berbeda dengan Hindu di Bali…

    1. Avant Garde berkata:

      Kanwilnya di padang Gara, wilayah sumatera barat dan jambi 🙂
      saya sudah melihat beberapa prasasti adityawarman di batusangkar, kalau surat tanjung tanah belum karena tidak untuk dipamerkan di muka umum 🙂

      1. Gara berkata:

        Wah… surat tanjung tanah itu saya sepertinya pernah baca telaahnya, cuma belum detail. Setahu saya ada bukunya. Keren, ya.

        1. Avant Garde berkata:

          saya pernah baca sekilas ada pdfnya di wikipedia tentang surat tanjung tanah, penulisnya profesor Uli Kozok kalo nggak salah 🙂 dan surat itu disimpan di satu desa di kerinci sekarang….

          1. Gara berkata:

            Betul, buku yang saya punya juga karangan beliau.

            1. Avant Garde berkata:

              jadi kangen main ke kamar harta karun Gara…. banyak buku bagus yg cuma bisa saya liat sekilas judulnya karena keterbatasan waktu :-v

              1. Gara berkata:

                Banyak buku yang belum pernah dibaca karena kekurangan waktu, bahkan ada yang langsung masuk kardus…

                1. Avant Garde berkata:

                  Wah, dulu saya juga sama sih… belinya semangat, bacanya ogah2an hehe

  2. bersapedahan berkata:

    saya pernah ke Batusangkar dan menginap di kota itu …kotanya kecil .. jadi hebat juga kalau bangun hotel semegah itu disana.
    mudah2-an pariwisata Batusangkar dan bisnis kotanya maju jadi banyak yang menginap disana

    1. Avant Garde berkata:

      Amien pak, semoga makin rame disana, soalnya event yg gede hanya tour de singkarak kalau di batusangkar 🙂

  3. alrisblog berkata:

    Investasi yang berani dari pemodal. Kecintaan akan kampung halaman mungkin yang mengalahkan hitung-hitungan rasional untuk meraup profit secepatnya.

    Salut juga dengan menunya yang menyajikan masakan tradisional.

    1. Avant Garde berkata:

      betul pak, lengkap dan enak

  4. zunif berkata:

    Masakan tradisional ini memang punya ciri khas tersendiri ya gan, jarang ditemui di warung mainstream karena udah jarang yang bikin 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      betul sekali 🙂

  5. Bara Anggara berkata:

    baru sekali nginap di sini,, view pagi memang luar biasa indahnya dengan background gunung marapi yang terkenal dengan legenda manusia harimaunya… kulinernya juga banyak, lengkap banget..

    -Traveler Paruh Waktu

    1. Avant Garde berkata:

      sama, saya juga baru sekali ngnap di emersia 🙂 amazing view sm makanannya luar biasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s