Makan Durian dan Lobster di Danau Kerinci

Setelah sarapan dan check out dari hotel, pulang ke Bangko saya satu mobil bareng boss saya. Pak bos mau singgah dulu di Sungai Penuh untuk beli oleh-oleh. Kelar beli oleh-oleh, melihat di pasar Sungai Penuh sedang musim durian, boss kepincut untuk membeli durian. Beberapa buah durian sudah berpindah ke bagasi belakang. Boss saya biasa makan durian dengan ketan. Sayang sopir yang disuruh mencari ke dalam pasar tak berhasil menjumpai ketan.

Boss saya menanyakan di mana spot untuk makan durian dengan pemandangan indah. Saya usulkan untuk makan di tepi danau Kerinci. Boss saya setuju. Segera kami meluncur ke arah danau. Kami tak menuju Sanggaran Agung melainkan ke Koto Petai yang lebih dekat, sebuah desa nelayan di tepi danau Kerinci.

Kami menemukan atap seng di sebelah rumah yang sedang dibangun. Sarung Bali pemberian teman saya Danan saya bentangkan di tepi danau. Ditemani angin sepoi dari danau, kami makan durian sambil memandang air danau yang berwarna kecoklatan, tak biru seperti dalam ingatan kami dulu. Apa karena kami datang pada siang bolong sehingga pantulan matahari membuat air danau tidak sebiru biasanya. Pertanyaan yang tak terjawab. Nyatanya dalam beberapa menit durian ludes tak  bersisa.

Danau Kerinci menjadi saksi hidup saya dan istri waktu masa awal merantau ke Kerinci beberapa tahun silam. Sabtu minggu jika bosan di rumah dinas kami jalan ke danau Kerinci atau ke Kayu Aro. Ketimbang pergi ke Sanggaran Agung, kami lebih suka ke Koto Petai yang masih sepi dan lebih dekat dari Sungai Penuh. 

Namun, Koto Petai yang saya lihat sekarang tak seperti yang saya ingat dulu. Dulu air danau jernih, sekarang agak keruh. Dulu ada semacam pulau dari tanaman eceng gondok, sekarang sudah bersih. Bahkan dulu tak ada kapal wisata dan rumah makan terapung di tepi danau. Turisme mengubah desa ini menjadi lebih ramai. 

Mobil meninggalkan Koto Petai, menuju ke sisi danau Kerinci lainnya yaitu desa Sanggaran Agung. Rencananya kami akan makan di sebuah rumah makan yang menyediakan menu gulai lobster dan lobster goreng kering. Saya belum pernah makan lobster, sehingga cukup membuat saya penasaran.

Namanya rumah makan Serumpun. Lokasinya tepat di tepi jalan raya Bangko-Kerinci. Dari arah Bangko kiri jalan beberapa ratus meter setelah jembatan Sanggaran Agung. Sekilas tak nampak ada yang istimewa dari rumah makan ini. Bentuk bangunannnya semi permanen. Berdinding kaca mirip rumah makan padang. Tumpukan lobster goreng di atas wadah berwarna merah menyala memancing perhatian siapa saja yang datang. Kami memilih duduk lesehan di sisi yang menghadap danau Kerinci.

Lokasi rumah makan ini berada tepat di bibir danau Kerinci. Membuat pengunjung betah berlama-lama makan sambil memandang ke arah danau. Lucunya,sang pemilik rumah makan memutar lagu Kerinci yang berirama dangdut. 

Bangunan di depan kami adalah anjungan yang biasanya dipakai setiap tahun sebagai lokasi Festival Danau Kerinci. Dulu namanya Festival Masyarakat Peduli Danau Kerinci. Acara bertaraf nasional yang rutin digelar untuk mempromosikan wisata danau Kerinci. Dibuka setiap hari dengan membayar tiket masuk dan parkir.  Foto danau Kerinci yang sering muncul di kalender biasanya diambil dari sisi ini. Sayang, jembatan pejalan kaki di depan kami agak mengganggu foto yang saya ambil.

Di sebelah kiri dari anjungan wisata danau Kerinci berdiri bangunan dengan atap seng putih ditimpa cahaya matahari. Gedung dua lantai ini yang dikepung pepohonan hijau ini adalah museum Sakti Alam Kerinci. Sudah selesai dibangun hanya saja masih belum ada isinya sehingga belum dibuka untuk umum.

Tak perlu menunggu lama, nasi panas dan lauk dihidangkan semua ala rumah makan Padang. Tinggal pilih sesuai selera mau makan apa. Tak hanya lobster, ada ayam goreng, ikan goreng dan bakar, rendang dan lain-lain. Namun, kami semua penasaran dengan sang menu unggulan: lobster air tawar. Bukan lobster air laut seperti dugaan saya. Wujudnya lebih kecil dari lobster laut. Kabarnya lobster ini dibudidayakan di danau Kerinci akhir-akhir ini. 

 

Bagaimana rasanya? Hm..silakan datang sendiri ke Danau Kerinci hehehe. Rasanya tidak akan mengecewakan kok, meski dimasak dengan bumbu yang cukup sederhana. Saya saja nambah beberapa kali hehehe.

Makan di tempat ini buat saya cukup istimewa. Meski tempatnya biasa saja, pemandangan luar biasa, makanan yang lezat, teh yang saya pesan memakai teh hitam produksi PTPN Kayu Aro. Salah satu teh hitam terbaik di dunia. 🙂

Iklan

23 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Wah sedapnya… favorit saya banget, makan lobster pedas ditemani teh hangat terbaik pada tepi danau yang sejuk karena ada dataran tinggi… sungguh sebuah nikmat yang tidak bisa didustakan dan tak bisa dilupakan juga. Kalau kuliner enak dan alam mendukung, makan beralas kain di bangunan yang belum selesai juga berasa sekali nikmatnya ya Bang, hehe…. Lobsternya betul-betul bikin lapar, sekarang saya cuma bisa berdoa semoga suatu hari nanti bisa ke sana…

    1. Avant Garde berkata:

      Amien, semoga bisa disegerakan kesana Gara 😉

      1. Gara berkata:

        Amin…

  2. Ew, aku nggak suka durian hehe. Aku suka ke danau, suasananya tenang dan sejuk, cuma sesekali aja ke pantai. Terbayang kok nikmatnya bang, tapi aku nggak tau nih cara makan kepiting dan lobster 😀

    1. Avant Garde berkata:

      nanti aku ajarin wkwkw… kalo di d’cost ada alat kayak tang buat mecahin cangkang kepiting gitu, kalo lobster cukup pake tangan
      sejak divonis punya bakat kolesterol aku no kepiting, tp kalo lobster sama udang masih cheating sih 😀

  3. Faridilla Ainun berkata:

    Lobster, dimasak sederhana saja bisa jadi mewah ya kak…

    1. Avant Garde berkata:

      betul kak, emang udah dari sononya udah manis dagingnya 🙂

  4. Firsty Chrysant berkata:

    makan enak di pinggir danau yg indah luar biasa enak ya…

  5. bersapedahan berkata:

    makan durian sudah enakkk … ditambah makan lobster .. eunak polll … apalagi makannya di tepi danau Kerinci … nikmatnya pol polll-an:D

    1. Avant Garde berkata:

      betul sekali pak 😀

  6. Ata berkata:

    Langsung sakit ga belakang lehernya mas? Udah makan duren, makan lobster pula. Hihi 😅

    1. Avant Garde berkata:

      duriannya cuma icip2 dikit Ta ahaha, lobsternya yg agak banyak, tp gak papa hehe

  7. Bang Harlen berkata:

    Wahhh teh kayu aro… sudah lama aku tidak menyeruputnya… hhehe

    1. Avant Garde berkata:

      main lagi ke kerinci bang! 😀

      1. Bang Harlen berkata:

        Nantilah abis lebaran.. pengen ke danau kaco lagi.. ajak kesana lagi ya.. 😁

        1. Avant Garde berkata:

          asik tuh ke danau kaco, singgah di muaro bungo bang 🙂

  8. Sintia Astarina berkata:

    Foto pemandangan alamnya cantik sekali. Lebih cantik kalau sambil makan lobster, ya! Ueenaakk 😀

    1. Avant Garde berkata:

      hIhihi, betul mba, salam kenal 🙂 terimakasih sudah singgah …

      1. Sintia Astarina berkata:

        Salam kenal juga dan terima kasih kembali. 😊

  9. zunif berkata:

    Wah mantap gan makan durian + lobster sambil menikmati pemandangan indah di danau kerinci. Apalagi sambil ditemani cewek cantik. Lengkap sudah 😁

    1. Avant Garde berkata:

      Alhamdulillah hehehe, nikmat sekali, ceweknya ga ada tapi :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s