Survei Penginapan di Kayu Aro Kerinci

Mobil yang kami naiki menyusuri jalan aspal kecil yang berliku. Di sebelah kanan pepohonan berdiri rapat. Di selah kiri saya jurang dan di bawahnya sungai Batang Merangin yang berarus deras. Tak lama kemudian kami melintasi sebuah jembatan besi yang cukup panjang. Jembatan ini menjadi pemisah kabupaten Merangin dan Kerinci. Kami berfoto sebentar di depan tulisan Kabupaten Kerinci.  

Boss saya memutuskan singgah mengisi perut dan beribadah di RM Pondok Bambu Muara Hemat, desa pertama di Kerinci. Desa ini begitu sepi. Sejauh mata memandang hanya tampak pegunungan Bukit Barisan. Rumah-rumah masih jarang. Beberapa warga kadang bertemu harimau jika berladang.

Sungai Penuh, kota tujuan kami masih dua jam perjalanan lagi. Kami makan siang sambil memandangi sungai di bawah kami. Kami akan menginap semalam di Sungai Penuh. Besok pagi, kami harus menuju Kayu Aro untuk melakukan survei mencari lokasi tempat acara rapat kantor sekaligus penginapan.

Bosan rapat di kantor, kepala kantor menyuruh kami (bagian umum) untuk mencari tempat rapat di Kayu Aro, desa kecil di kaki Kerinci, lima jam perjalanan dari kantor. Udaraya sejuk dengan panormana kebun teh sejauh mata memandang. Entah ini tugas sambil liburan atau liburan sambil bertugas. 

Keesokan harinya kami singgah di kantor Sungai Penuh, lantas berangkat bersama beberapa pegawai dari Sungai Penuh. Rencana ada tiga lokasi yang akan kami survei. Dua penginapan di Kayu Aro dan sebuah penginapan di Gunung Tujuh.

Lokasi pertama yang kami datangi adalah Guest House Aroma Pecco. Berada di luar kawasan  PTPN VI Kayu Aro. Tidak jauh dari pabrik teh.  Tempat ini dikelola oleh PTPN VI. Kami kesini atas rekomendasi salah satu pegawai di Sungai Penuh yang tahun lalu mengadakan family gathering disini.

Lokasinya tidak jauh dari jalan raya Kerinci Padang. Rumahnya sebagian dari batu dan atasnya kayu. Dilihat sekilas mirip rumah-rumah ala FTV dimana ceritanya gadis desa yang sederhana punya kenalan anak Jakarta wkwkw. Nah, ini dalam imajinasi saya rumah si gadis desa.

Dari teras guesthouse tampak perkebunan teh dan TK yang berada di samping penginapan. Di sekitar penginapan banyak ditanam bunga-bunga, ada taman dengan kolam kecil. Pemandangannya juara pokoknya. 

Di dalam penginapan ada satu ruang tamu, beberapa kamar, dapur dan kamar mandi.

Di ruang tamu ada gambar gunung Kerinci dan pabrik teh Kayu Aro yang dicetak pada spanduk mmt. Saya melihatnya kok seperti asal dipasang hehe.

Setiap kamar dilengkapi dengan selimut tebal.  Tak ada ac dan kipas angin. Kalau siang udara sejuk, kalau malam udara sudah cukup membuat orang menggigil kalau tak biasa dengan udara dingin. 

 

Di belakang terdapat dapur dan ruang makan ala tempo doeloe. Agak sulit untuk mengadakan rapat formal di tempat ini karena tidak ada ruangan yang cukup memadai. Entah kenapa dalam hati saya kurang sreg karena di dalam penginapan beraroma lembap khas bangunan lama. Semoga PTPN bisa melakukan sesuatu agar pengunjung merasa nyaman di tempat ini.

Rekan-rekan kantor saya tak berpendapat apa-apa. Hanya melihat-lihat, bertanya harga penginapan lantas keluar. 

Kami melaju ke lokasi berikutnya. Saya dapat info tempat ini dari Luke, kawan saya seorang Amerika yang sudah lama menetap di Sungai Penuh. Namanya Family, sebuah penginapan di desa Lindung Jaya Telp. (0748) 357080 Hp. 0821 8389 7788. Tak jauh dari polsek Kayu Aro.

Tempat ini depannya berbentuk rumah biasa. Perhatian saya tertuju pada jendela kaca yang dipenuhi  tempelan stiker dari berbagai klub pecinta alam, klub motor dan mobil, dan dua stasiun TV  nasional. Medina Kamil dan tim Jejak Petualang kata bapak penjaga bungalow pernah menginap disini.

Di belakang rumah penjaga, dibangun beberapa bungalow berbentuk rumah panggung dengan pemandangan atap rumah warga, kebun teh dan langsung ke gunung Kerinci. Antar bungalow tinggi dari tanah tidak sama mengikuti kontur tanah yang miring. Semakin ke belakang semakin menurun tanahnya. Sayang kami datang tatkala gunung Kerinci sedang berselimut kabut. Jangankan puncak Kerinci, badan Kerinci tak tampak sedikitpun.

 

Setiap bungalow memiliki teras. Di dalam kamar tersedia tv dan ranjang. Ada yang 1 ranjang ada yang dua ranjang dan kamar mandi dalam dan air panas. Selimut tebal juga tersedia. 

Penginapan ini menyandang nama resort. Namun, saya tak melihat aktifitas atau fasilitas olahraga apapun yang bisa ditawarkan selain menikmati pemandangan. Meski demikian, pemandangan gunung Kerinci di depan mata ini memang sangat mengagumkan.

Kami diperbolehkan memakai mushola untuk mengadakan rapat. Tanpa ragu, rekan saya langsung setuju untuk memesan beberapa bungalow sebagai lokasi acara kantor. Keuntungan lain, penginapan ini menyediakan makan pagi, siang dan malam berupa kuliner khas Kerinci jika diperlukan oleh tamu. Dengan demikian rencana survei ke lokasi ketiga dibatalkan. 

Sebelum pulang, kami singgah di sebuah kedai makan sederhana di desa Pasar Minggu. Tepatnya dari arah Sungai Penuh sebelum perkebunan teh. Rumah makan ini menyediakan menu spesial yaitu burung punai goreng. Meski bukan satwa dilindungi, spesies burung ini sudah jarang ditemukan di alam liar. Rasanya hampir seperti ayam, hanya saja ukurannya lebih kecil dan dagingnya lebih keras. Mirip ayam kampung. Makan sekali tak cukup karena ukuran dagingnya kecil.

10 Comments Add yours

  1. Sarah berkata:

    Halo.. Bisa tolong beri informasi kontak Guesthouse Aroma Pecco? Dan berapa harga per malam di Aroma Pecco dan Family? Terima kasih

    1. Avant Garde berkata:

      maaf saya sudah tidak simpan kontaknya mba, sila cek di gmaps aja barangkali ada

  2. Gara berkata:

    Penginapan di PTPN VI tampak seperti bangunan kolonial. Saya jadi penasaran bagaimana ya sejarah perkebunan teh di sana? Apa pemainnya sama dengan pengusaha teh zaman dulu di Jawa sini?
    Lima jam dengan kendaraan itu termasuk sangat jauh. Kalau di pusat sini paling jauh untuk “rapat di luar kantor” itu Bogor atau Sentul. Eh, tapi saya pernah juga sih berkegiatan kantor di Lembang dan Kuningan, hehe… tapi tidak sering.

    1. Avant Garde berkata:

      Ini acara terakhir di kantor gara sebelum pindah ke Muara Bungo hehe… dan seumur2 baru sekali ini sih rapat di kerinci… saya kurang paham sejarah perkebunan di Jawa, kalo yg di kerinci ini yg ngelola Namlodse Venotchaaf Handle Veriniging Amsterdam (NV HVA)

      betul, hampir semua bangunan disana masih asli. pabrik, homestay, wisma ria, sama rumah sakit dan kerkhof, sayang yg rumah sakit dan kerkhof saya belum sempat singgah 😉

      1. Gara berkata:

        Oalah perpisahan…
        Ke sana yuk bang, penasaran kerkhofnya hehehe…

        1. Avant Garde berkata:

          Bukan perpisahan sih, maksudnya ini rapat outdoor terakhir 😀
          hayuk Gara, sekarang ke kerinci makin mudah, ada pesawat dr jakarta (via jambi dan muara bungo)

  3. alrisblog berkata:

    Boss nya asyik. Sesekali rapat di luar untuk refresh dan meningkatkan kembali motivasi kerja. Dan pastinya bersyukur dengan nikmat yang didapat.

    Kayo Aro dekat dari kampung saya, lain kabupaten, lain propinsi. Hanya 85 km saja, hehe…

    1. Avant Garde berkata:

      betul, dekat dari solok selatan pak 🙂

  4. bersapedahan berkata:

    kalau punya bos yang seperti ini asyik sekali … sekali kali rapat yang suasananya lain … suasana alam .. udara khas alam yang segar.
    Hasil rapatnya seharusnya lebih produktif bahkan lebih kreatif .. 🙂

    1. Avant Garde berkata:

      hehehe.. agak merepotkan juga sih pak, bawa printer, pc, proyektor layar dll… tp dibuat fun 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s