Blusukan ke Pasar Sarinah

Kantor saya di Rimbo Bujang memiliki kebiasaan makan siang bersama. Kami masak nasi di kantor, sedangkan sayur dan lauknya kadang masak sendiri kadang beli jadi di luar. Uang  makan siang dikumpulkan dari patungan seluruh pegawai yang berjumlah 4 orang.

Minggu lalu saya ikut menemani bang Am, satpam yang merangkap chef andalan kantor kami berbelanja sayuran dan bahan masakan lainnya ke pasar. Kami berboncengan naik motor. Dari kantor saya di jalan 12 ke pasar Sarinah cukup dekat. Tak sampai 10 menit kami sudah tiba di pasar.

Motor kami parkirkan di belakang pasar. Kios-kios sayuran, ayam dan daging berkumpul jadi satu di belakang pasar. Agak canggung sebenarnya buat saya pergi ke pasar dengan seragam kantor plus sepatu pantofel. Pasar ini tak jauh berbeda dengan pasar-pasar yang lain. Becek, ramai dan tak terlalu bersih hehe. Tapi itulah kekhasan pasar tradisional. Yang membedakan, hampir seluruh pedagang dan pembeli berbahasa Jawa. 

Rencana bang Am akan memasak ayam goreng balado dengan sayur tumis kacang panjang. Pertama kami membeli ayam potong. Ibu penjual ayam menyapa kami dalam bahasa Jawa. Meski asli Bungo, bang Am mampu berbahasa Jawa.

Dung, dung, dung. Siapa yang iseng membunyikan gong di dalam pasar? Olala, seorang bapak tua penjual es krim. Seketika saya bingung, ini saya sedang di Jawa atau di Jambi. Saya berasa sedang bernostalgia.

IMG_20190304_104817

Selanjutnya kami ke pedagang sayuran membeli seikat kacang panjang. Bang Am tak sengaja bertemu kawannya yang berdagang bawang merah dan putih.

 

Mumpung ada kemumu, saya sekalian membeli kemumu untuk dimasak di rumah. Kemumu ini batang talas, sekilas mirip pelepah pisang. Kalau di Jawa dibilang lompong. Ibu saya biasa memasak daun talas sebagai sayur. Kalau di Sumatera, kemumu biasa dipakai batangnya untuk dimasak sebagai gulai. Tekstur kemumu mirip gabus. Jika dikunyah berbunyi kraus-kraus. Sejak tinggal di Bangko, saya menjadi penggemar berat sayur kemumu.

Selain kemumu, saya juga menemukan jembak atau selada air dan juga sayur paku/pakis. Di Jawa pakis jarang dijumpai sebagai bahan masakan. Kalau jembak biasa direbus sebagai urap atau digoreng jadi bakwan jembak di daerah Senjoyo.

 

Iseng saya bertanya ke seorang mbak-mbak mengapa pasar ini dinamakan Sarinah. Bukannya menjelaskan tentang siapa Sarinah, si mbak justru berkata pasar ini dulunya bernama pasar Klewer. Lokasinya pun berada di dekat masjid agung Al Huda. Bukan berada di lokasi sekarang. Meski belum menjawab pertanyaan saya, saya tetap mengucapkan terima kasih.

Selanjutnya kami menuju kios yang menjual ikan asin. Sayang, teri medan yang kami cari tak ada disitu. Kami beralih beberapa langkah ke penjual ikan asin yang lain. Dari logatnya, ibu-ibu penjual ikan asin ini sepertinya orang Batak. Ikan teri medan kami bungkus.

Sebelum pulang, bang Am mampir ke penjual bumbu halus. Di Jambi, lazim ditemui di pasar penjual bumbu instan. Baskom-baskom besar berisi cabe halus, kunyit halus, bawang putih halus dan lain-lain. Tinggal sebutkan kita mau masak apa, nanti sang penjual akan meramu bumbu sesuai dengan masakan yang kita mau. Porsi disesuaikan dengan seberapa banyak masakan yang akan kita buat. Cukup praktis jika malas menyiapkan bumbu halus.

Kapan kamu terakhir pergi ke pasar tradisional? 

 

Iklan

8 Comments Add yours

  1. Gara berkata:

    Beruntung ibu saya berjualan di pasar tradisional sehingga saya tidak butuh waktu lama kalau mau ke pasar; setiap hari juga bisa. Bagaimanapun barang di pasar tradisional lebih murah dan lebih segar dibandingkan pasar modern, ya. Seru juga kalau ada budaya makan bersama seperti itu, ikatan dalam satu kantor sudah jadi seperti keluarga, hehe.

    Tapi kenapa di pasar itu mayoritas bisa berbahasa Jawa? Apakah dulunya daerah transmigran? Belum lagi namanya ‘Klewer’, wah Jawa banget 😄😄.

    1. Avant Garde berkata:

      betul Gara, Rimbo Bujang ini dulunya lahan kosong terus tahun 1970an dijadikan proyek transmigrasi sama pemerintah dengan mengambil penduduk dari jawa tengah dan jawa timur, kalau sekarang mungkin sudah banyak orang non jawa di Rimbo Bujang 🙂

      1. Gara berkata:

        Hooo demikian…

  2. zunif berkata:

    wah lengkap juga ya kak yang dijual dipasar sarinah 😉

    1. Avant Garde berkata:

      Lumayan kak 🙂 Salam kenal ya, makasih sudah datang dan berkomentar

      1. zunif berkata:

        Ok kak sama sama, 👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s