Menekuni Hobi Lama: Mengoleksi Kartu Pos

Bagi yang sudah lama mengikuti blog ini, mungkin masih ingat kalau saya dulu sempat menekuni hobi berkirim kartu pos dan mengoleksi kartu pos. Kartu pos yang telah saya terima akan saya pajang di blog ini. Awal mula mengenal kartu pos dari blog mas Ari yang rutin menerima kartu pos lucu dari teman-temannya lantas diposting di blognya. Dari beliau saya berkenalan dengan beberapa komunitas penggemar benda pos, baik prangko maupun kartu pos (kecuali meterai yah).

Kartu pos yang saya koleksi disini bukan kartu pos kosong yang dibeli di kantor pos  atau toko buku ya, melainkan kartu pos yang didapat dari hasil bertukar dengan penghobi kartu pos lainnya yang dikirim melalui kantor pos. Artinya, kartu pos yang saya terima sudah ditulis tangan oleh pengirim, ditempel prangko sebagai alat pembayaran dan dicap oleh kantor pos.

Mengapa menerima kartu pos menyenangkan? Pertama kartu pos ini biasanya bergambar pemandangan atau budaya ciri khas suatu daerah atau negara. Kedua, ada sensasi ketika menerima kartu pos yang dikirimkan dari kota lain di belahan dunia. Yang telah menempuh ribuan kilometer dan waktu berhari-hari mulai dari saat dikirimkan hingga sampai ke tangan kita. Ketiga, berkirim kartu pos ini adalah cara lain melihat dunia. Meski hanya gambar, sedikit lebih nyata daripada gambar di gawai karena dicetak di atas kertas sehingga bisa disentuh dan diraba #eh.

Peminat kartu pos ini disebut deltiologis atau deltiolog, bukan filatelis atau korespondensi. Istilah filatelis ditujukan untuk seseorang yang hobi mengoleksi prangko saja, tanpa kartu pos. Korespondensi adalah kegiatan surat menyurat memakai prangko. Istilah kami di Postcrossing adalah snail mail karena berkirim surat ini memerlukan waktu lama dibandingkan dengan mengirim surat lewat ekspedisi atau layanan kilat khusus.

Jika ditarik ke belakang, awal mula saya mengenal benda pos dari ibu. Ibu saya waktu muda gemar mengumpulkan prangko bekas dari hasil kegiatan surat menyurat. Prangko yang didapat dari setiap surat kemudian disimpan rapi pada album prangko. Saya kala itu mengenal prangko sekedar barang lama tanpa nilai, sehingga saya tak berniat meniru jejak ibu saya menjadi pengumpul prangko.

Kembali lagi soal kartu pos, ada beberapa komunitas yang pernah saya ikuti. Pertama saya bergabung  dengan Card To Post. Komunitas lokal dimana setiap member dituntut untuk membuat kartu pos sendiri alias handmade dengan metode apapun, boleh diprint, digambar, kolase atau cara apapun sekreatif mungkin. Kartu pos tersebut lantas dikirimkan ke member lain. Karena saya orangnya tidak telaten membuat kartu pos sendiri, lama-lama saya mundur dari Card to Post. Saya cek di website dan akun medsosnya, komunitas ini sepertinya sedang vakum.

Dari Card to Post saya ‘loncat’ ke Postcrossing. Bisa dibilang Postcrossing ini komunitas penggemar kartu pos terbesar di dunia. Saya kutip dari situsnya, anggota Postcrossing berjumlah 61.894 orang yang tersebar di 214 negara dan wilayah. Peminat Postcrossing ini di Indonesia tergabung pada sebuah wadah berupa grup Facebook bernama Komunitas Postcrossing Indonesia (KPI). Saya beberapa kali mengikuti kegiatan meet-up informal anggota KPI saat berkunjung ke Jakarta. Sampai saat ini, anggota KPI di seluruh Indonesia berjumlah 2.962 orang.

Postcrossing ini situs online dimana setiap member yang terdaftar bisa berkirim kartu pos ke member lain di seluruh dunia. Mekanismenya, kita diwajibkan mengirim kartu pos ke sejumlah member. Jika kartu pos kita sudah sampai tujuan dan diregister oleh si penerima, otomatis kita akan menerima kartu pos dari member lain secara acak.

Serunya adalah karena siapa yang kita kirimi dan siapa yang mengirimi kita diacak oleh sistem, kita tidak bisa mengetahui asal dan siapa orang yang mengirimi kita kartu pos. Kita hanya bisa mengetahui identitas pengirim begitu kartu pos sampai di tangan kita dan kita register. Dari kartu pos yang telah diregistrasi akan muncul profil lengkap sang pengirim. Sesuai dengan motto Postcrossing yang berbunyi “Send a postcard and receive a postcard back from a random person somewhere in the world!”

Masih bingung tentang Postcrossing? Lebih jelas lagi silakan klik blog Rufindhi

Saya aktif di Postcrossing cukup lama, antara tahun 2012 hingga 2016. Selanjutnya, karena kesibukan pekerjaan, saya juga pelan-pelan melupakan Postcrossing hingga akhirnya berhenti mengirim kartu pos. 

Terakhir ada Touchnote, aplikasi berbasis web dimana kita bisa mengirim pesan ke seseorang, lantas pesan tersebut akan dicetak pada kartu pos. Gambar kartu pos bisa kita pilih sesuka hati. Kartu pos tersebut akan dicetak di atas kertas lantas dikirim ke alamat pos orang yang kita tuju tanpa perlu menempel prangko. Saya dan banyak anggota Postcrossing tertarik pada Touchnote baru berdiri dan membuat promo dengan cara  membagikan puluhan kartu pos gratis, bahkan bisa dikirim ke diri sendiri. Saat promo berakhir, berakhir pula hubungan saya dengan Touchnote hehehe.

Akhir tahun 2018 saya dipindahkan ke Muara Bungo, otomatis saya juga pindah rumah. Dari Muara Bungo saya dipindahkan lagi ke kantor unit di Simpang Sawmill. Awal tahun 2019 saya memutuskan kembali lagi menekuni aktifitas berkirim kartu pos karena kesibukan saya di kantor unit tidak sebanyak dibandingkan kanto Muara Bungo. Sedikit hambatan karena ternyata setelah ditempatkan di kantor unit, kantor saya pindah alamat ke Rimbo Bujang. Agar orang pos tidak kesulitan menemukan alamat saya, sementara saya memakai alamat kantor di Muara Bungo untuk menampung kartu pos. Rumah saya sendiri agak jauh dari jalan besar. Masuk ke dalam gang, saya tidak yakin petugas pos akan mudah menemukan alamat rumah saya. 

Dari statistik Postcrossing, dari bulan Januari sampai Maret total 25 buah kartu pos terkirim. Namun, setelah dua bulan lebih hampir tak ada kartu pos yang sampai ke tangan saya. Hingga awal Maret saya baru menerima 6 buah kartu pos. Rupanya, oleh kantor pos Muara Bungo, kartu pos saya dikumpulkan terlebih dulu baru disampaikan ke kantor saya.

Sebenarnya saya ingin memposting 6 kartu pos yang telah saya terima. Hanya saja postingan saya ini sepertinya sudah lumayan panjang. Kartu pos tersebut akan saya pajang nanti pada postingan berikutnya 🙂

Referensi :
https://www.postcrossing.com/
https://www.facebook.com/groups/PostcrossingID/

Iklan

28 Comments Add yours

  1. Sebelum ada email dll, saya termasuk yang sering sekali berkirim kartu pos. Jadi tertarik lagi hehehe… Terima kasih sudah share info tentang post crossing ya…

    1. Avant Garde berkata:

      sama-sama mbak Jo Christie 🙂 salam kenal yak… terimakasih sudah singgah dan menyempatkan diri untuk berkomentar…
      semoga menemukan kesenangan kembali berkirim kartu pos 🙂 salam hangat…

  2. Gara berkata:

    Saya pikir peminat hobi seperti ini harus telaten dan sabar banget karena kartu pos balasan baru akan diterima saat kartu pos kita sudah ada yang menerima, dan itu lumayan lama, hehe. Kalau tidak sabar sudah pasti tidak mau bersusah-susah mengirim kartu pos, hehe… tapi pasti senang sekali jika dapat kartu pos ya, Bang. Rasa-rasanya punya kenalan baru entah dari mana, hehe.

    Terima kasih juga untuk istilah barunya. Pengetahuan baru untuk saya :)).

    1. Avant Garde berkata:

      sama2 Gara, betul..melatih kesabaran banget 🙂 tp kalo kartu kita udah sampe atau kita dpt balesan, rasanya seneng banget hehehe… 🙂

      1. Gara berkata:

        Iya Bang, pasti rasanya lega kan, hehe.

        1. Avant Garde berkata:

          Bahagia! hehehe… join yuk Gara 🙂

          1. Gara berkata:

            Saya kurang yakin apa saya punya kesabaran yang cukup, Bang, hahaha…

            1. Avant Garde berkata:

              wkwkkw. aku kok sm sekali nggak ngeliat Gara orangnya gak sabaran yah hehehe

              1. Gara berkata:

                Hahaha… padahal bagi saya sendiri itu saya orangnya sangat nggak sabaran banget…

                  1. Gara berkata:

                    Hahaha iya…

                    1. Avant Garde berkata:

                      saya beruntung ya tiap ketemu Gara moodnya lagi bagus terus hehehe

                    2. Gara berkata:

                      Syukurlah, hehe.

  3. rifihana berkata:

    Setuju sama paragraf ketiga. ✨ Lama2 bosen juga sama kecanggihan teknologi. Cuma sebatas lihat di layar kaca aja. Kartu pos ini jadi penawar karena bentuknya nyata (walau nunggunya lama, hehe).

    Terus, saya baru tau kakau ada istilah khusus untuk peminat kartu pos. Jadi nambah kosakata baru. 😁

    1. Avant Garde berkata:

      istilah ini saya baru dengarnya, saya pikir kalo suka kartu pos disebut filatelis, rupanya bukan 🙂

      1. rifihana berkata:

        Saya juga sebenernya mau menyamaratakan semuanya filatelis kok definisi di KBBI juga nggak gitu. Terus ternyata ada istilah khususnya. Menarik! 😄

        1. Avant Garde berkata:

          hehehe… soalnya hobi kartu pos ini agak gak lazim, gak sebanyak peminat surat menyurat atau perangko, gitu sih kayaknya

          1. rifihana berkata:

            Iya, ditambah lagi zaman sekarang makin sedikit peminatnya. :”) Makanya saya nulis banyak tentang kartu pos, dkk. Biar menghasut orang lain untuk punya hobi antik ini juga, hehe.

            1. Avant Garde berkata:

              Nah, lucunya kalo di saya, temen2 yg dulu ngajakin buat kartu pos malah banyak yg udah off karena kesibukan hehehe

              1. rifihana berkata:

                Faktor yang tidak dapat terelakkan, hehe. Ibu saya dulu rajin surat-menyurat, tapi berhenti. Selain udah lost contact sama sapennya, kayaknya karena sibuk kerja juga. Lalu anaknya deh yang disuruh lanjutin hobinya, hahaha. 😅

                1. Avant Garde berkata:

                  Wah, rupanya buah jatuh tak jauh dari pokoknya yah, dan kamu penerus gen korespondensi dari ibunda ya 🙂 Mantap!

                  1. rifihana berkata:

                    Semoga aja bisa langgeng sama hobi ini sampai tua dan bisa mewariskannya juga, hehe. 🙈

                  2. rifihana berkata:

                    Semoga aja bisa langgeng sama hobi ini sampai tua dan bisa mewariskannya juga. ☺

  4. bundadodol berkata:

    Wah dulu jg suka beli klo jalan2 kluar kota..skrg udh pd entah kmn

    1. Avant Garde berkata:

      asik ya bun 🙂

Tinggalkan Balasan ke Gara Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s