Menjejakkan Kaki di Kabupaten Terakhir di Jambi

Sore hari, 10 Desember 2009, dengan menumpang kapal Marina, saya tiba di Kuala Tungkal, kabupaten Tanjung Jabung Barat. Lima jam sebelumnya, saya berangkat dari Tanjung Batu, kota kecil yang secara administrasi masuk wilayah  Kepulauan Riau.

Saya tiba di Kuala Tungkal untuk melanjutkan perjalanan ke Kayuagung, menghadiri acara pernikahan Ali, sahabat saya yang tinggal di sana.

Awalnya saya tak berencana hadir ke acara nikahan Ali. Dari Tanjung Batu saya harus ke  Batam, naik pesawat baling-baling ke Palembang (saat itu cuma ada satu pesawat Batam ke Palembang, namanya Linus). Dari Palembang baru lanjut ke Kayu Agung. 

Anggapan saya salah. Info dari petugas pelabuhan, saya bisa pergi ke Palembang lewat Kuala Tungkal, kota pelabuhan dekat Jambi. Dari Kuala Tungkal naik travel ke Palembang. Lebih lama memang, tetapi terdengar sangat menantang. 

Tak berpikir panjang, saya kembali ke rumah, mengemas barang seperlunya lantas membeli tiket kapal tujuan Kuala Tungkal. Dari Kuala Tungkal, saya naik travel ke Palembang dengan terlebih dulu transit di Kota Jambi

Dari Kuala Tungkal ke kota Jambi saya melewati kabupaten Muaro Jambi. Saya pikir saya akan melewati candi Muaro Jambi, paling tidak melihat petunjuk arah ke Candi Muaro Jambi. Rupanya dugaan saya meleset. Hingga tiba di kota Jambi saya tak pernah menemukan tanda-tanda ke arah Candi Muaro Jambi.

Habis acara nikahan sahabat saya, saya kembali ke Tanjung Batu dengan menempuh rute yang sama. Naik travel ke Kuala Tungkal lantas berganti moda kapal ke Tanjung Batu. Begitulah awal perjumpaan saya dengan Jambi. Saat itu, saya tak pernah terpikir suatu saat akan tinggal dan bekerja di Jambi.

***

Awal tahun 2012, saya kembali menyapa Jambi. Kali ini lewat bandara Sultan Thaha Syaifuddin. Selama beberapa tahun ke depan saya akan tinggal di provinsi ini. Lebih tepatnya, saya dipindahtugaskan dari Jakarta ke Bangko, ibukota kabupaten Merangin. Saya bersama seorang kawan yaitu bang Ramadhan mengunjungi candi Muaro Jambi selepas mengikuti diklat di Pekanbaru. Dengan demikian, kabupaten Muaro Jambi saya coret dari daftar kabupaten kota di Jambi. Dari Bangko saya saya mengunjungi teman saya, mas Yadi yang tinggal di Muara Bungo. ibukota kabupaten Bungo. Bangko ke Muara Bungo cukup dekat, 1,5 jam saja. 

18 April 2012, saya pindah kantor dari Bangko ke Kota Sungai Penuh, kota otonom yang merupakan pemekaran dari kabupaten Kerinci.Selama di Sungai Penuh, saya pernah sekali singgah di kabupaten Sarolangun saat pulang dari acara dinas di Palembang. Saya tinggal di Sungai Penuh selama setahun, lantas pindah kantor lagi ke Bangko.

Daerah berikutnya yang saya coret yaitu kabupaten Batanghari. Tiap kali naik travel dari dan ke Jambi, bisa dipastikan akan singgah di Muara Bulian atau Muara Tembesi.

Tak terasa, dari 11 daerah otonom di Jambi telah saya coret 9 kabupaten/kota. Masih kurang Tebo dan Tanjung Jabung Timur. Tahun 2016 saya iseng naik travel dari Jambi ke Muara Bungo, hanya untuk melihat kota Muara Tebo. Kota bersejarah tempat pahlawan nasional dari Jambi Sultan Thaha Syaifuddin dimakamkan. Niatnya ingin turun dari travel sebentar, untuk menjejakkan kaki di Tebo. Sayang, mobil hanya lewat di Muara Tebo tanpa memberikan saya kesempatan untuk turun dari mobil barang sebentar.

Akhir 2018 saya pindah lagi ke Muara Bungo, tetapi kantor saya berada di Embacang Gedang, di luar kota Muara Bungo. Awal 2019 saya pindah kantor lagi ke Rimbo Bujang, hanya dua puluh menit dari Embacang Gedang tetapi sudah masuk wilayah kabupaten Tebo.

Dengan demikian, tinggal 1 kabupaten lagi di Jambi dalam list saya yaitu Tanjung Jabung Timur. Entah kapan rasanya bisa menjejakkan kaki di kabupaten paling timur di Jambi ini.

Iseng saya membuka album foto perjalanan ke Kuala Tungkal beberapa tahun silam. Ada foto sebuah masjid di desa Sungai Toman, Mendahara, kabupaten Tanjung Jabung Timur. Ingatan melayang saat saya singgah untuk beribadah di masjid ini, dalam kunjungan ke Kuala Tungkal dari Jambi. Ah, rupanya saya sudah mencoret kabupaten ini sejak beberapa tahun lalu tanpa saya sengaja.

 

Dengan demikian, resmilah Tebo sebagai kabupaten terakhir yang saya coret dari list. Next, kita kemana?

Iklan

8 Comments Add yours

  1. Faridilla Ainun berkata:

    Candi Muaro Jambi rasanya saya lewati waktu balik dari Riau ke Palembang. Lihat plang petunjuknya aja bang, tapi ga mampir karena sudah malam

    1. Avant Garde berkata:

      Betul. saya terlewat waktu itu hehe… sekarang ada jalur baru ke candi muaro jambi, lewat jembatan batanghari 2 (pulau sijenjang)

  2. Gara berkata:

    Pengen ke Candi Muaro Jambi Bang, hehe…
    lama-lama Bang Isna sudah jadi orang Jambi asli, semua kabupaten/kota di Jambi sudah didatangi dan dijelajahi. Jadi makin sadar bahwa Indonesia itu luas banget, secara satu provinsi saja sudah ada sekian kabupaten ya.

    Jadi besok ke provinsi mana lagi, Bang? Hehehe…

    1. Avant Garde berkata:

      Kalo ada waktu nanti saya temenin keliling Muaro Jambi Gara…
      saya pengen pulang Gara, masih ada 1 tempat di sumatera yg belum saya lihat… Lampung 🙂

      1. Gara berkata:

        Wah makasih banyak Bang… nanti saya tanya2 rute dari bandara ke tempat Abang di Jambi yaa.

        1. Avant Garde berkata:

          Siap Gara 🙂 mudah2an masih di jambi yak hehehe…

          1. Gara berkata:

            Amin, saya doakan.

            1. Avant Garde berkata:

              Terimakasih 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s